Dari Pesantren ke Taiwan, Jalan Muhamad Nurfatwa Mengubah Masa Depan Keluarga

Jurnalis : Fikhri Fathoni , Fotografer : Fikhri Fathoni, dok. pribadi

Semasa kecil, Fatwa (kedua kanan) beserta keluarganya tinggal sederhana di Cianjur, Jawa Barat. Ayahnya bekerja sebagai sopir di Jakarta, sementara ibunya membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan menjadi buruh tani.

Di tengah kesederhanaan hidup keluarganya di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Muhamad Nurfatwa (27), yang akrab disapa Fatwa, tumbuh dengan satu keyakinan kuat, yaitu pendidikan dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Ayahnya bekerja sebagai sopir di Jakarta, sementara ibunya membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan menjadi buruh tani. Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, Fatwa memahami bahwa kondisi ekonomi keluarganya tidak selalu memberi ruang yang luas bagi setiap anak untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak pernah memadamkan semangat dan mimpinya.

Dari kehidupan yang sederhana, Fatwa belajar tentang kerja keras, ketekunan, dan keberanian dalam mengambil setiap kesempatan. Baginya, pendidikan bukan hanya tentang memperoleh ilmu, tetapi juga menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan keluarga serta membuka harapan baru bagi masa depan.

Kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik kemudian membawanya meninggalkan kampung halaman. Fatwa melanjutkan pendidikan tingkat SMA di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor. Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.

Selama menempuh pendidikan di pesantren tersebut, Fatwa memperoleh fasilitas pendidikan dan kebutuhan makan tanpa dikenakan biaya. Dukungan ini sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarganya.

Hidup jauh dari keluarga tentu bukan hal mudah. Ia harus belajar mandiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta menjalani kehidupan pesantren dengan disiplin. Namun, dari sanalah Fatwa mulai memahami bahwa setiap kesempatan selalu datang bersama tanggung jawab.

Mengenal Bahasa Mandarin Melalui Tzu Chi
Di lingkungan pesantren, Fatwa mulai menaruh minat pada bahasa asing. Selain mempelajari bahasa Arab yang menjadi bagian dari kurikulum pesantren, ia juga mulai mendalami bahasa Inggris dan Mandarin. Ketertarikannya terhadap bahasa Mandarin berawal dari sebuah kesempatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

“Memang di pesantren ada kerja sama dengan Tzu Chi, dan Tzu Chi tidak hanya memberikan bantuan terhadap pendidikan saja, bahkan mengedukasi juga. Di situlah saya menemukan bahwa ada kursus bahasa mandarin,” cerita Fatwa.

Pertemuannya dengan para relawan Tzu Chi menjadi awal ia mempelajari bahasa Mandarin. Setiap dua minggu sekali, para relawan datang ke pesantren untuk mengajarkan bahasa Mandarin kepada Fatwa dan teman-temannya.

Bahasa Mandarin yang awalnya terdengar asing justru membangkitkan rasa ingin tahunya. Bentuk huruf, cara pengucapan, dan susunan bahasanya terasa berbeda dari bahasa yang selama ini ia pelajari. Alih-alih merasa takut, Fatwa melihatnya sebagai tantangan baru.

Semakin dipelajari, bahasa tersebut semakin menarik perhatiannya. Ia mulai menyadari bahwa kemampuan bahasa asing dapat menjadi jembatan menuju dunia yang lebih luas. Dari sebuah kelas sederhana di pesantren, muncul harapan bahwa bahasa Mandarin suatu hari dapat membawanya menuju kesempatan yang lebih besar.

Pertemuannya dengan para relawan Tzu Chi semakin memperkuat tekad tersebut. Setiap dua minggu sekali, para relawan datang ke pesantren untuk mengajarkan bahasa Mandarin kepada Fatwa dan teman-temannya.

Kehadiran para relawan tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga memperlihatkan kepadanya bentuk kepedulian yang nyata. Para relawan datang dengan kesabaran, mendampingi para santri belajar dari tingkat dasar, dan membantu mereka memahami bahasa yang saat itu masih terasa asing.

“Saya diberi pengetahuan banyak tentang bahasa mandarin, tentang budaya-budaya yang ada di Tzu Chi, salah satunya budaya isyarat tangan Tzu Chi, itu luar biasa banget,” tambahnya.

Dengan bekal materi dan pembelajaran bahasa Mandarin yang ia dapatkan, Fatwa (kanan) beserta teman-temannya berhasil memenangkan beberapa perlombaan bahasa Mandarin yang mereka ikuti.

Semangat belajarnya terus bertumbuh. Selain mengikuti kelas bersama relawan Tzu Chi, Fatwa juga bergabung dalam lembaga pembelajaran bahasa Mandarin di pesantren untuk meningkatkan kemampuannya. Ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk berlatih, menghafal kosakata, memperbaiki pengucapan, dan membangun keberanian berbicara.

Dari sana, Fatwa mulai mengikuti berbagai perlombaan bahasa Mandarin bersama teman-temannya. Perlombaan menjadi ruang bagi dirinya untuk mengukur kemampuan sekaligus melatih kepercayaan diri.

“Waktu itu memang dari Laoshi (guru) kita itu suka cari-cari info lomba. Kita dari pesantren juga enggak mau kalah nih, yaudah kita coba masuk daftar. Sainganya juga lumayan dari sekolah-sekolah yang luar biasa bagus, dan ada beberapa yang kita juara,” kata Fatwa.

Mengikuti perlombaan dengan peserta dari sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas lebih baik tidak membuat Fatwa merasa rendah diri. Sebaliknya, pengalaman tersebut semakin membuktikan bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk berprestasi.

Menembus Batas, Meraih Mimpi
Kesempatan yang lebih besar akhirnya menghampiri Fatwa. Pada tahun 2019, ia berhasil memperoleh beasiswa penuh dari Tzu Chi University di Hualien, Taiwan, untuk menempuh pendidikan pada Program Studi Marketing and Distribution Management.

Beasiswa tersebut mencakup biaya pendidikan sekaligus biaya hidup. Bagi Fatwa dan keluarganya, kabar itu terasa seperti pintu besar yang tiba-tiba terbuka. Namun, perjalanan menuju Taiwan tetap membutuhkan perjuangan. Meski biaya pendidikan dan kehidupan telah ditanggung, keluarganya masih harus mempersiapkan biaya dan bekal awal keberangkatan.

Untuk menyelesaikan tugas akhir di Tzu Chi University, Fatwa (kedua kiri) dan teman-temannya membuat produk makanan berbahan dasar quinoa merah, yaitu biji-bijian sehat pengganti nasi yang kaya protein.

“Pada saat itu orang tua masih agak sedikit terpikirkan biaya seperti pesawat, visa, dan lain sebagainya. Untuk biaya di awal itu tabungan orang tua dan saudara digabungin untuk saya pergi ke Taiwan,” kenangnya.

Di balik kebahagiaan itu, kedua orang tuanya juga menyimpan kekhawatiran. Taiwan adalah tempat yang jauh, dengan bahasa dan budaya yang berbeda. Melepas seorang anak belajar di luar negeri bukanlah perkara mudah, terutama bagi keluarga yang belum pernah mengalami situasi serupa.

Fatwa memahami kecemasan itu. Ia berusaha menenangkan orang tuanya dengan menjelaskan bahwa lingkungan pendidikan di Tzu Chi menjunjung tinggi perbedaan dan memperlakukan setiap mahasiswa dengan penuh penghargaan.

“Orang tua terkadang masih khawatir, tapi ternyata di Tzu Chi ini sangat menjunjung tinggi perbedaan. Saya selalu cerita ke orang tua ‘mamah enggak perlu khawatir, di Tzu Chi ini pendidikannya luar biasa bagus, kita semua itu tidak ada perbedaan,’ itu yang selalu saya cerita ke orang tua,” ungkapnya.

Sesampainya di Taiwan, lingkungan kampus yang hangat dan penuh kepedulian membuat Fatwa merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar.

Sebagai wujud pelestarian lingkungan yang menjadi salah satu Misi Tzu Chi, Fatwa (kiri) dan teman-temannya membuat produk pupuk dari proses penguraian sampah organik oleh maggot di Tzu Chi University, Taiwan.

Pada masa awal, ia masih harus menghadapi tantangan bahasa, kebiasaan baru, dan kehidupan yang berbeda dari Indonesia. Namun, ia tidak dibiarkan menjalani semuanya sendirian. Berbagai kebutuhan awal dibantu dan dipersiapkan, sementara proses adaptasinya didampingi hingga ia mulai merasa nyaman.

“Di sana ramah banget orang-orangnya, sangat welcome banget sama kita yang jauh-jauh dari Indonesia. Bahkan semua keperluan kita di awal dibantu persiapkan. Kita untuk bahasa masih bingung di awal-awal, itu dibantu dan dibimbing sampai benar-benar kita merasa nyaman di sana,” ungkapnya.

Kesempatan Datang kepada Mereka yang Mempersiapkan Diri
Kemampuan bahasa Mandarin yang dulu mulai dipelajari dari kelas di pesantren kini menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Bahasa tersebut bukan lagi sekadar mata pelajaran atau keahlian tambahan, tetapi menjadi bekal yang membuka jalan menuju pendidikan tinggi dan dunia kerja.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Fatwa kembali ke Indonesia. Perjalanan dari Cianjur, Bogor, hingga Taiwan akhirnya membawanya pada profesi yang selaras dengan kemampuan dan pengalamannya.

Kini Fatwa bekerja sebagai guru bahasa Mandarin di Pijar Preschool & Purrfect Learning, Tangerang Selatan. Profesi tersebut menjadi ruang baginya untuk meneruskan ilmu yang dahulu ia terima kepada murid-muridnya.

Kini Fatwa bekerja sebagai guru bahasa Mandarin di Pijar Preschool & Purrfect Learning, Tangerang Selatan. Profesi tersebut menjadi ruang baginya untuk meneruskan ilmu yang dahulu ia terima. Jika sebelumnya ia adalah seorang santri yang dibimbing dengan sabar oleh para guru dan relawan, kini ia berdiri sebagai pendidik yang membantu generasi berikutnya mengenal bahasa Mandarin.

Pekerjaan itu juga memungkinkan Fatwa membantu perekonomian keluarga dan membiayai pendidikan adik-adiknya. Dengan demikian, manfaat pendidikan yang ia peroleh tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Bagi Fatwa, tidak semua orang memulai perjalanan dari garis yang sama. Ada yang lebih dulu memperoleh kesempatan, ada pula yang harus menunggu lebih lama. Namun, penantian itu bukan alasan untuk berhenti bertumbuh, melainkan waktu untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih siap.

“Jangan berkecil hati, karena saya sendiri percaya setiap orang itu memiliki potensi yang sama hanya peluangnya saja yang berbeda. Sebelum peluang itu datang dari kita sendiri harus mempersiapkan diri,” pesannya.

Pesan tersebut lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Fatwa pernah berada dalam situasi ketika masa depan terasa terbatas. Namun, ia terus belajar, berusaha, dan mengambil setiap kesempatan yang hadir di hadapannya.

Berkat bantuan yang ia dapatkan, Fatwa menyampaikan rasa syukur yang mendalam kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sejak masa pesantren hingga pendidikan tinggi.

“Untuk Yayasan Buddha Tzu Chi, saya berterima kasih sekali untuk semua, baik itu saat saya berada di pesantren dengan materi dan pendidikan yang diberikan. Baik saya dan keluarga menerima dampak yang luar biasa dari kebaikan Yayasan Buddha Tzu Chi,” ungkapnya haru.

Setelah melewati perjalanan panjang yang tidak mudah, kini membuka harapan Fatwa dan keluarga menuju masa depan yang lebih baik.

Perjalanan Muhamad Nurfatwa menunjukkan bahwa sebuah kesempatan dapat mengubah arah kehidupan seseorang. Dari seorang anak desa di Cianjur yang tumbuh dalam keluarga sederhana, ia berhasil menempuh pendidikan hingga Taiwan, kembali ke Indonesia, dan kini menjadi pendidik yang menyalakan harapan bagi generasi berikutnya.

Ketika seseorang diberi ruang untuk tumbuh, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Perubahan itu dapat mengalir kepada keluarga, murid-murid yang dididiknya, dan masyarakat di sekitarnya. Dari sebuah pesantren di Bogor hingga kampus di Taiwan, langkah Fatwa menjadi bukti bahwa mimpi yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dapat menemukan jalannya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Menjawab Budi dengan Prestasi

Menjawab Budi dengan Prestasi

06 September 2017

Sebagai lulusan terbaik di Akper Husada, Agatha, seorang penerima program beasiswa karir Tzu Chi berkesempatan menyampaikan pidato sambutan saat wisuda tanggal 16 Agustus 2017. Rasa syukur ia ungkapkan kepada orang tua, insan Tzu Chi, dan sahabat yang telah mendukungnya.

 

Pendidikan, Bekal Maria Meraih Cita-Cita

Pendidikan, Bekal Maria Meraih Cita-Cita

10 Agustus 2020

Bukan sesuatu yang mudah bagi Maria untuk bisa terus kuat dan mandiri. Apalagi ia beberapa kali melihat orang merendahkan keluarganya karena mereka hidup sangat sederhana. Sedih, namun bukannya terpuruk, Maria memilih menunjukkan bahwa walaupun berkekurangan ia bisa meraih prestasi yang membanggakan. 

Dari Pesantren ke Taiwan, Jalan Muhamad Nurfatwa Mengubah Masa Depan Keluarga

Dari Pesantren ke Taiwan, Jalan Muhamad Nurfatwa Mengubah Masa Depan Keluarga

24 Juli 2026

Berkat ketekunan belajar bahasa Mandarin, mengantarkan Fatwa meraih beasiswa penuh ke Tzu Chi University, Taiwan. Kini, Fatwa mengajar sebagai guru bahasa Mandarin.

Orang yang selalu bersumbangsih akan senantiasa diliputi sukacita. Orang yang selalu bersyukur akan senantiasa dilimpahi berkah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -