Dari Tangan yang Menolong, Tumbuh Kembali Cinta Kasih di Selatpanjang

Jurnalis : Candera (Tzu Chi Selat Panjang), Fotografer : Candera, Hardy (Tzu Chi Selatpanjang)

Hardy Shi Xiong  memandu sesi berbagi pengalaman bersama Ibu Soleha, salah satu orang tua penerima bantuan. Ibu Soleha mengutarakan bahwa  perhatian relawan Tzu Chi selama dua tahun telah memberikan perubahan yang lebih baik dalam keluarganya.

Senyum dan sapaan hangat memenuhi ruangan pada Rabu malam, 12 Agustus 2026. Para penerima bantuan khusus Tzu Chi (Gan En Hu) dan relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Selatpanjang duduk bersama dalam suasana akrab. Tidak ada jarak antara mereka. Malam itu, mereka hadir bukan sekadar sebagai pemberi dan penerima bantuan, melainkan sebagai satu keluarga yang saling menguatkan.

Sebanyak 34 Gan En Hu bersama keluarga hadir dalam kegiatan Ramah Tamah Penerima Bantuan Khusus Tzu Chi. Mereka didampingi 18 relawan Tzu Chi dan delapan Tzu Shao (remaja Tzu Chi). Kegiatan yang dimulai pukul 18.30 WIB itu diawali dengan makan malam bersama. Sambil menikmati hidangan, relawan dan Gan En Hu berbincang serta berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.

Satu jam kemudian, kegiatan berlanjut di lantai dua. Acara dibuka dengan penghormatan dan laporan perkembangan Misi Amal yang disampaikan oleh Mery Shi Jie, PIC Misi Amal.

Bagi Mery, pertemuan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan rutin. Melihat para Gan En Hu berkumpul, tersenyum, dan menikmati kebersamaan menghadirkan rasa bahagia sekaligus syukur.

“Gathering GEH bukan sekadar acara berkumpul biasa, melainkan momen berharga untuk saling menyapa, berbagi cerita, dan merasakan kehangatan sebagai satu keluarga besar,” ujar Mery.

Mery Shi Jie menyampaikan bahwa pertemuan ini memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan rutin. Melihat para Gan En Hu berkumpul, tersenyum, dan menikmati kebersamaan menghadirkan rasa bahagia sekaligus syukur.

Selama menjalankan Misi Amal, Mery semakin memahami bahwa bantuan tidak selalu berbentuk materi. Sering kali, seseorang hanya membutuhkan kehadiran orang lain yang mau mendengarkan dan memberikan semangat.

Ia masih mengingat momen ketika melihat penerima bantuan yang semula terpuruk perlahan kembali tersenyum dan bangkit. Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa kebahagiaan dapat tumbuh dari perhatian sederhana.

“Relawan Tzu Chi tidak hanya hadir saat penyerahan bantuan, tetapi juga menyempatkan waktu untuk berkunjung, menanyakan kabar, serta mendengarkan keluh kesah mereka dengan empati,” tutur Mery.

Pendekatan dari hati ke hati itulah yang perlahan mengubah hubungan antara relawan dan Gan En Hu. Hubungan yang semula terbentuk karena bantuan berkembang menjadi ikatan kekeluargaan.

Dalam mendampingi berbagai kasus, Mery menyadari setiap keluarga memiliki persoalan dan dinamika berbeda. Karena itu, relawan belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi. Mereka mendengarkan, memahami akar persoalan, kemudian berdiskusi mencari jalan keluar bersama.

Pengalaman tersebut juga membuat Mery semakin meresapi ajaran Master Cheng Yen untuk selalu bersyukur dan menghargai kehidupan. Baginya, membantu orang lain bukan hanya memberikan manfaat kepada mereka yang dibantu, tetapi juga menjadi proses mengasah kebijaksanaan dan menumbuhkan cinta kasih dalam diri relawan.

Hal yang paling menggembirakan adalah ketika sebagian Gan En Hu mulai tergerak untuk bersumbangsih dan menjadi relawan. Bagi Mery, perubahan itu menunjukkan bahwa benih cinta kasih telah tumbuh.

“Tujuan akhir Misi Amal bukanlah membuat seseorang terus-menerus menjadi penerima, melainkan mendampingi mereka hingga mampu bangkit dan menjadi pelita bagi sesama,” ucap Mery.

Para murid Tzu Shao memperagakan bahasa isyarat tangan pada acara ramah tamah penerima bantuan khusus Tzu Chi yang berlangsung di kantor Tzu Chi Selatpanjang.

Suasana semakin hangat ketika delapan Tzu Shao memperagakan isyarat tangan melalui lagu “Kita Satu Keluarga”. Gerakan sederhana itu mengajak seluruh hadirin merasakan kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar Tzu Chi.

Pesan mengenai kesehatan dan makna kehidupan kemudian disampaikan oleh Hardy Shi Xiong. Para Gan En Hu diajak menjaga kesehatan, tetap tabah, serta memiliki harapan dalam menjalani kehidupan. Acara ditutup dengan tayangan video ceramah Master Cheng Yen yang mengingatkan pentingnya kebajikan dan rasa syukur.

Perhatian yang Menguatkan
Bagi Ibu Soleha, salah satu orang tua penerima bantuan, perhatian relawan selama lebih dari dua tahun telah memberikan perubahan besar dalam keluarganya. Ia merasa bahagia dapat berkumpul dengan para relawan dan Gan En Hu dalam kegiatan tersebut.

Sesi mengenai makna kehidupan menjadi salah satu bagian yang paling berkesan baginya. Dari sana, ia semakin menyadari bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dan belajar untuk lebih mensyukuri kehidupan.

Hardy Shi Xiong memberikan motivasi dan semangat kepada para penerima bantuan untuk menjalin jodoh baik dengan berbuat kebajikan bersama relawan Tzu Chi.

Perhatian relawan juga dirasakan langsung oleh putrinya, Dwi. Tidak hanya memberikan bantuan, relawan dengan tulus mendampingi keluarga mereka, mulai dari mengantarkan ke pelabuhan, memberikan motivasi, hingga mengingatkan Dwi mengenai jadwal makan.

Ketika Dwi mengalami alergi dan demam setelah transfusi darah, relawan tetap hadir memberikan perhatian. Kalimat sederhana seperti “Bagaimana kabar Ibu dan Dwi? Sehat-sehat ya. Kalau ada apa-apa, tolong kabari kami, ya.” menjadi sumber kekuatan bagi Ibu Soleha.

Pendampingan tersebut perlahan mengubah karakter Dwi. Anak yang sebelumnya pendiam dan sulit percaya kepada orang lain kini tumbuh lebih ceria, terbuka, dan mulai tergerak untuk berbuat baik. Ibu Soleha berharap Yayasan Buddha Tzu Chi terus berkembang dan menjadi jembatan kebaikan bagi banyak orang.

Belajar dari Keteguhan Gan En Hu
Roziyatul Halipah juga merasakan pengalaman yang mendalam selama mendampingi Gan En Hu. Baginya, melihat para penerima bantuan hadir dalam keadaan sehat, tersenyum, dan bersemangat menjadi kebahagiaan tersendiri.

Saat pertama kali melakukan survei, Roziyatul melihat kondisi mereka yang sakit dan lemah. Kini, perubahan itu terlihat dari raut wajah yang lebih ceria serta hubungan yang semakin dekat antara Gan En Hu dan relawan Tzu Chi.

Dalam membangun kepercayaan, Roziyatul memilih untuk hadir dengan “hati yang kosong”, menjadi pendengar yang baik, dan memberikan perhatian tulus kepada penerima bantuan beserta keluarganya.

Tantangan tetap ada. Ada keluarga yang belum kompak, saling menyalahkan, bahkan ada Gan En Hu yang kurang ramah. Namun, Roziyatul memilih menghadapi semuanya dengan sabar dan komunikasi yang baik. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah melihat seorang Gan En Hu yang meski sedang sakit dan harus beraktivitas dengan kantong urin, tetap bersemangat bekerja.

“Melihat GEH yang meski sakit tetap bersemangat untuk bekerja menjadi tamparan bagi diri saya sendiri yang kadang mudah menyerah hanya karena masalah kecil,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut membuat Roziyatul lebih banyak bersyukur, mengurangi keluhan, dan semakin menyadari bahwa kesehatan, rezeki, serta keluarga adalah titipan yang harus dihargai.

Para keluarga penerima bantuan khusus Tzu Chi disediakan makan malam bersama relawan dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan.

Malam itu, pertemuan pun berakhir. Namun, kehangatan yang tercipta tidak berhenti ketika acara selesai. Ada harapan yang dibawa pulang oleh setiap orang: agar para Gan En Hu terus memiliki semangat untuk bangkit dan suatu hari dapat menjadi pemberi bantuan bagi sesama.

Sebab bagi Tzu Chi, cinta kasih tidak seharusnya berhenti pada tangan yang menerima. Kebaikan yang diterima adalah benih yang kelak diharapkan tumbuh menjadi kekuatan untuk menolong orang lain.

Seperti pesan yang disampaikan Mery, relawan tidak perlu merasa bahwa apa yang dilakukan terlalu kecil. Sebuah kunjungan, perhatian tulus, atau sepatah kata penyemangat dapat menjadi kekuatan besar bagi seseorang yang sedang menghadapi kehidupan.

Dan malam itu, di Selatpanjang, benih cinta kasih kembali ditanam. Dari tangan yang pernah menerima, perlahan tumbuh tangan-tangan baru yang siap mengulurkan bantuan.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Gathering Gan En Hu untuk Lebih Mensyukuri Hidup

Gathering Gan En Hu untuk Lebih Mensyukuri Hidup

06 Juli 2023

Relawan Tzu Chi Pekanbaru pada Minggu 2 Juli 2023 mengadakan ramah tamah untuk para Gan En Hu (Penerima bantuan) yang berlangsung di kantor Tzu Chi Pekanbaru. 

Gan En Hu Hui Jia: Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran

Gan En Hu Hui Jia: Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran

19 November 2015

Pada Minggu siang, 1 November 2015, relawan Tzu Chi Batam mengadakan Gan En Hu Hui Jia (Gan En Hu Pulang ke Rumah) di posko daur ulang Tzu Chi Batam. Kegiatan hari itu juga diisi dengan penyuluhan mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batam Bidang Pemadaman Kebakaran (Damkar) kepada para gan en hu.

Penerima Bantuan Bahagia, Relawan pun Bersukacita

Penerima Bantuan Bahagia, Relawan pun Bersukacita

09 Maret 2023

Relawan Tzu Chi Tangerang memberikan bantuan secara rutin kepada para penerima bantuan Tzu Chi Tangerang. Kali ini, kegiatan dilaksanakan pada 4 Maret 2023.

Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -