Gunarto melayani pasien dalam pemeriksaan kesehatan pada bakti sosial yang digelar di SDN Giling 03.
“Manfaatkanlah waktu dengan baik dan hargai kesempatan yang ada. Kita semua hendaknya bersikap saling bersyukur, menghargai, dan mengasihi antar sesama.”
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)
Berawal dari bantuan beasiswa yang pernah diterima, Gunarto, Jumiah, dan Rustini membalasnya dengan turut mendukung bakti sosial kesehatan umum di SDN Giling 03, Desa Giling, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, pada Sabtu (7/2/26). Bersama dengan relawan lainnya, ketiganya bukan sekadar membantu, tetapi menghadirkan cerita syukur yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Bagi Gunarto, tahun 2007 menjadi awal jalinan jodoh dengan Tzu Chi. Dimulai saat ia menempuh pendidikan di STIKES St. Elisabeth Semarang yang dulunya masih bernama Akademi Keperawatan St. Elisabeth Semarang. Bantuan beasiswa ini menjadi dukungan yang membuka jalan bagi pengabdiannya di dunia kesehatan. Selepas lulus, Gunarto mengabdikan diri di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi di Jakarta. Kariernya berlanjut di RSUD Cengkareng, hingga akhirnya ia kembali ke Pati dengan bekerja di RS Sebening Kasih, Tayu.
Gunarto berfoto bersama anak dan istrinya, Silia Tri Satyani yang merupakan seorang bidan.
Di sela tugasnya sebagai tenaga kesehatan, Gunarto juga menjalani peran lain yang tak kalah penting, mendampingi dan merawat ayahnya yang menderita gula darah.
“Saya berdua sama adik. Dan dia sekarang harus mengikuti suaminya yang mengajar di STIAB Raden Wijaya Wonogiri. Jadi tidak bisa merawat orang tua. Jadi atas pertimbangan banyak hal, saya dan keluarga yang memutuskan pulang untuk merawat bapak,” ungkap Gunarto.
Selain itu, Gunarto juga membantu merawat pasien Tzu Chi yang belum lama menjalani operasi hernia. Secara berkala ia berkunjung untuk mengganti perban, memastikan kesehatan pasien terpantau agar lekas pulih. Baginya, merawat keluarga dan melayani masyarakat adalah satu tarikan napas yang sama, keduanya berakar pada kepedulian.
“Saya bisa sampai saat ini karena Yayasan Buddha Tzu Chi. Bagaimana saya membalas budi Yayasan Buddha Tzu Chi ini dengan kegiatan kayak gini. Berhubung saya masih aktif berada di TIMA Indonesia, jadi setiap ada kegiatan yang termasuk kegiatan hari ini atau kegiatan yang kemarin-kemarin saya ikut juga. Jadi kaya kemarin pembagian kupon saya juga ikut, jadi termasuk untuk merawat pasien yayasan yang dibiayai Tzu Chi, saya yang merawat,” terang Gunarto.
Gunarto saat bekerja di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi.
Ketika masih bekerja di Jakarta, Gunarto kerap terjun langsung dalam berbagai bakti sosial Tzu Chi hingga ke berbagai daerah. Dalam kegiatan kali ini, ia bersyukur bukan hanya kembali bisa melayani, tetapi juga dipertemukan kembali dengan rekan sejawat yang dahulu bersama-sama menjalankan bakti sosial.
“Saya bersyukur bisa menolong sesama, juga bangga karena saya sudah lama sejak pindah ke Pati baru memakai baju TIMA sekarang. Ketemu Dokter Gani, dan temen-temen yang lain juga, istilahnya kayak reuni lah,” pungkasnya.
Jumiah kala membantu mengukur tekanan darah seorang warga.
Jumiah kala masih bekerja di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi.
Sementara itu, jalinan jodoh Jumiah dengan Tzu Chi tak jauh berbeda, meski dengan rentang waktu yang lebih panjang. Sejak SMP pada tahun 1998, ia menjadi anak asuh Tzu Chi hingga melanjutkan kuliah di Akber Elisabeth Semarang pada 2007. Setelah lulus, Jumiah mengabdikan diri di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi selama tiga setengah tahun. Masa pengabdian itu menjadi fondasi kuat dalam perjalanan profesinya, sebelum akhirnya ia melanjutkan karier di Keluarga Sehat Hospital (KSH) Pati. Bagi Jumiah, pengalaman sebagai anak asuh bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, empati, dan tanggung jawab sosial.
“Ya saya dari hati itu sangat senang dan berterima kasih karena masih diberikan kesempatan untuk bisa berbagi kepada sesama dalam ilmu yang dulu pernah saya dapat. Bisa membantu sesama, dan saya masih bisa itu masih ada jodoh sama Tzu Chi sampai sekarang. Saya senang banget,” terang Jumiah.
Gunarto dan Jumiah, bertemu kembali dengan drg. FX Ganny, dan Suster Weni Yunita yang pernah terlibat bakti sosial kala masih bekerja di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi.
Rustini saat membantu proses pemeriksaan kesehatan warga dengan penuh ketulusan dan semangat berbagi.
Rustini memulai jalinan jodohnya dengan Tzu Chi lebih dini. Sejak kelas 5 SD hingga lulus SMA pada 2007, ia tumbuh sebagai anak asuh Tzu Chi. Dukungan yang konsisten itu menjadi bekal penting dalam hidupnya, menumbuhkan keyakinan bahwa kebaikan yang diterima suatu hari akan menemukan jalannya untuk kembali dibagikan. Meski latar perjalanan mereka berbeda, Rustini membawa semangat yang sama yaitu hadir untuk sesama dengan ketulusan.
“Sangat senang, sangat bersyukur sekali karena masih diberi kesempatan, masih diberi kesehatan, masih bisa membantu sesama. Paling tidak kita bisa membantu tenaga dan saya senangnya mereka turut senang karena adanya kegiatan ini,” ucap Rustini.
Ketika bakti sosial kesehatan umum digelar di SDN Giling 03, ketiganya hadir bukan sebagai sosok yang ingin dikenang, melainkan sebagai relawan yang siap bekerja. Di tengah antrean warga, pemeriksaan kesehatan, dan interaksi sederhana yang sarat makna, mereka menyatu dengan para relawan lain, menjadi bagian dari roda pelayanan yang bergerak senyap namun berdampak.
Editor: Khusnul Khotimah