Para siswa SMP Eka Tjipta Foundation 02 Kongbeng menggalang donasi untuk masyarakat NTT yang terdampak gempa bumi.
Ada banyak cara untuk membantu sesama. Bagi sebagian orang, bisa dengan memberikan waktu, tenaga, atau perhatian. Ada pula kepedulian diwujudkan melalui setetes darah untuk menyelamatkan kehidupan orang lain.
Suasana penuh kepedulian terasa di Klinik Central Muara Wahau Estate (MWHE) Kongbeng pada Sabtu, 22 September 2026. Sebanyak 40 relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas, Xie Li Kalimantan Timur 1 bergotong royong mendukung pelaksanaan donor darah yang bekerja sama dengan PMI Sangatta.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak kegiatan dimulai. Sebanyak 121 peserta mendaftarkan diri untuk menjadi pendonor, dan setelah melalui proses pemeriksaan, 76 orang berhasil mendonorkan darahnya. Jumlah ini meningkat dibandingkan kegiatan donor darah pada bulan Februari yang berhasil mengumpulkan 59 pendonor.
Pada kegiatan donor darah ini, sebanyak 121 peserta mendaftarkan diri untuk menjadi pendonor, dan setelah melalui proses pemeriksaan, sebanyak 76 orang berhasil mendonorkan darahnya.
Bertambahnya jumlah pendonor bukan sekadar angka. Di balik setiap kantong darah yang terkumpul, ada niat baik seseorang untuk membantu orang lain yang bahkan mungkin tidak pernah mereka kenal.
Salah satu cerita yang membuat kegiatan kali ini terasa istimewa datang dari seorang bidan bernama Husnul. Ia datang dari Desa Marga Mulia, yang cukup jauh dari lokasi kegiatan. Husnul sehari-hari memiliki rumah bersalin dan melayani masyarakat di desanya.
Ia tidak datang seorang diri. Husnul ditemani uami dan anaknya. Mereka meluangkan waktu untuk ikut mengambil bagian dalam kegiatan donor darah.
“Saya tahu ada baksos donor darah di sini dari bu Bidan Fevy. Kemarin Februari kami tidak tahu, jadi tidak bisa ikut. Jadi sangat senang kali ini bisa donor darah,” cerita Husnul.
Senyum bahagia salah satu relawan Tzu Chi yang turut mendonorkan darahnya.
Bagi Husnul, kesempatan untuk mendonorkan darah bukan hanya tentang datang, duduk, lalu pulang. Ada keinginan sederhana untuk melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Jarak pun tidak menjadi penghalang ketika hati sudah memiliki niat untuk berbagi.
Kisah Husnul menjadi pengingat bahwa kebaikan bisa datang dari mana saja. Ada yang datang dari dekat, ada pula yang menempuh perjalanan dari jauh. Ada yang sudah sering menjadi pendonor, ada juga yang mungkin baru pertama kali mencoba. Namun semuanya dipertemukan oleh satu niat yang sama: ingin membantu sesama.
Di tengah kegiatan, kepedulian juga hadir dari siswa SMP Eka Tjipta Foundation (ETF) 02 Kongbeng, Kutai Timur. Mereka mengajak para peserta untuk memberikan donasi bagi saudara-saudara kita di NTT yang terdampak gempa bumi. Dengan keberanian dan semangat mereka, anak-anak tersebut belajar bahwa membantu sesama tidak harus menunggu dewasa dan tidak harus menunggu memiliki banyak.
“Kebetulan saat ini ada donor darah di klinik Central Muara Wahau Estate, jadi kami ingin memanfaatkan kesempatan ini menggalang donasi untuk masyarakat NTT yang terdampak bencana. Semoga donasi yang kita lakukan bisa membantu pemulihan warga di sana secepatnya,” ucap Rina, salah satu siswa.
Salah satu pendonor dari Desa Marga Mulia, Husnul, dengan ditemani anaknya datang untuk mendonorkan darah.
Dua bentuk kepedulian hadir dalam satu kegiatan. Ada yang mendonorkan darahnya, ada yang memberikan sebagian rezekinya. Semuanya berawal dari hati yang tergerak untuk berbagi.
Para relawan pun terus mendampingi para peserta selama proses donor berlangsung. Bagi sebagian pendonor, kegiatan seperti ini mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Namun bagi mereka yang baru pertama kali mencoba, kehadiran relawan yang memberikan perhatian dan semangat menjadi sesuatu yang berarti.
Hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai, hari itu juga terkumpul banyak cerita tentang kepedulian. Mulai cerita dari para pendonor, cerita Husnul yang datang dari jauh bersama keluarganya, cerita anak-anak ETF 02 Kongbeng yang belajar berbagi untuk saudara di NTT yang sedang mangalami musibah, serta cerita para relawan yang dengan sukacita melayani.
Editor: Fikhri Fathoni