Sukacita para relawan saat mengikuti gathering budaya humanis yang diikuti 20 relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Petisah di Kantor Tzu Chi Medan.
Zhen, Shan, Mei merupakan tiga kata Mandarin yang tidak asing bagi para relawan Tzu Chi. Zhen berarti benar, Shan berarti bajik, dan Mei berarti indah. Ketiga nilai tersebut menjadi landasan Misi Budaya Humanis Zhen Shan Mei (ZSM) Tzu Chi dalam mendokumentasikan setiap jejak cinta kasih yang diwujudkan oleh para relawan, sehingga kisah-kisah kebajikan dapat terus diwariskan dan menginspirasi lebih banyak orang.
Untuk lebih memperdalam filosofi ini, relawan Zhen Shan Mei Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Petisah menyelenggarakan gathering budaya humanis yang diikuti 20 relawan ZSM pada Minggu, 26 Juli 2026 di Kantor Tzu Chi Medan. Kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan kepengurusan Relawan ZSM Hu Ai Petisah, memberikan pemahaman mengenai Misi Budaya Humanis Zhen Shan Mei, serta membekali para relawan dengan dasar-dasar pendokumentasian yang berlandaskan nilai-nilai Humanis Tzu Chi.
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB ini berlangsung dalam suasana hangat, penuh semangat, dan kekeluargaan. Acara diawali dengan penghormatan kepada Master Cheng Yen yang dipandu oleh Emelia selaku pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan perkenalan pengurus Relawan ZSM Hu Ai Petisah.
Relawan Tzu Chi Medan, Lily Hermanto memberikan pengenalan dan penjelasan tentang Budaya Humanis Zhen Shan Mei.
Vincent Horison, selaku Wakil Koordinator Relawan ZSM Hu Ai Petisah sekaligus koordinator utama kegiatan menyampaikan bahwa gathering ini menjadi wadah bagi para relawan untuk menyamakan pemahaman mengenai Budaya Humanis Tzu Chi dalam setiap proses pendokumentasian. "Melalui gathering ini, kami berharap seluruh relawan Zhen Shan Mei memiliki pemahaman yang sama mengenai Budaya Humanis Tzu Chi. Dokumentasi yang dihasilkan bukan sekadar merekam sebuah kegiatan, tetapi juga mampu menghadirkan nilai cinta kasih, ketulusan, dan keindahan kemanusiaan, sehingga setiap foto, video, maupun tulisan dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak orang," ujar Vincent.
Selanjutnya, Lily Hermanto memberikan pengenalan mengenai Budaya Humanis Zhen Shan Mei. Dalam sesi tersebut, ia menjelaskan sejarah terbentuknya relawan Zhen Shan Mei, prinsip-prinsip dasar pendokumentasian humanis, teknik pengambilan gambar yang mampu menampilkan nilai kemanusiaan, serta hal-hal yang perlu dihindari dalam proses pengambilan foto maupun video.
Agar suasana pembelajaran semakin interaktif, kegiatan dilanjutkan dengan sesi permainan edukatif yang dipandu oleh Vincent. Para peserta diajak mengamati berbagai hasil dokumentasi karya relawan ZSM, kemudian memberikan pendapat mengenai kelebihan maupun hal-hal yang dapat ditingkatkan pada setiap foto. Melalui kegiatan ini, peserta dilatih untuk memahami unsur-unsur dasar fotografi humanis serta cara menangkap momen yang mampu menyampaikan pesan cinta kasih secara lebih bermakna.
Relawan Tzu Chi Medan, Lily Hermanto memberikan pengenalan dan penjelasan tentang Budaya Humanis Zhen Shan Mei.Aristo memberikan kesannya mengikuti gathering budaya humanis yang diadakan relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Petisah.
Memasuki sesi berikutnya, Lily Hermanto dan Vincent Horison berbagi pengalaman sebagai relawan Zhen Shan Mei yang telah mendokumentasikan berbagai kegiatan Tzu Chi. Dalam suasana yang hangat, para peserta saling bertukar pengalaman, menyampaikan tantangan yang dihadapi saat bertugas di lapangan, serta berbagi solusi berdasarkan pengalaman masing-masing. Sesi ini memberikan wawasan baru sekaligus memperkuat semangat para relawan untuk terus belajar dan berkembang dalam menjalankan Misi Budaya Humanis Tzu Chi.
Aristo, salah satu peserta mengungkapkan bahwa kegiatan gathering ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya menerapkan Budaya Humanis Tzu Chi dalam setiap proses pendokumentasian."Gathering ini kembali mengingatkan saya bahwa setiap dokumentasi bukan hanya tentang menghasilkan foto yang baik, tetapi juga bagaimana menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan di balik setiap momen kebajikan. Dalam sesi berbagi pengalaman, para relawan senior memberikan banyak pembelajaran yang dapat diterapkan ketika bertugas di lapangan," ungkap Aristo.
Menjelang akhir kegiatan, seluruh peserta mengikuti doa bersama. Sebelum meninggalkan lokasi, para peserta menerima bingkisan berupa rajutan berbentuk kamera hasil karya tangan Efina Shijie sebagai kenang-kenangan atas kebersamaan yang terjalin dalam kegiatan tersebut.
Souvenir berupa rajutan tangan karya salah satu relawan menjadi kenang-kenangan bagi seluruh peserta gathering budaya humanis.
Melalui gathering ini, para relawan ZSM Hu Ai Petisah diharapkan semakin memahami bahwa mendokumentasikan jejak kebajikan bukan sekadar menghasilkan foto, video, atau tulisan yang baik, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai cinta kasih, ketulusan, dan keindahan kemanusiaan kepada masyarakat. Sebagaimana Master Cheng Yen mengingatkan. "Tzu Chi ada berkat perbuatan. Para insan Tzu Chi semuanya berbuat dahulu, kemudian berkata, dan setelah berkata barulah mencatat." Pesan ini menjadi pengingat bahwa dokumentasi merupakan bagian penting dalam melestarikan jejak kebajikan agar dapat terus dikenang, dipelajari, dan menginspirasi generasi berikutnya.
Editor: Arimami Suryo A