Peserta gathering penerima bantuan menyimak dengan saksama tayangan inspiratif DAAI TV tentang keteguhan hidup seorang pengemudi ojek online wanita.
Selama ini, mungkin banyak yang beranggapan bahwa berdonasi di Tzu Chi harus menjadi orang berada atau memiliki banyak uang. Padahal, berbuat kebajikan tidak perlu menunggu kita berkecukupan. Di Tzu Chi, banyak cerita mengharukan dari orang-orang yang hidupnya sederhana, namun tetap menyisihkan rezeki untuk membantu sesama. Memberi tidak membuat kita berkekurangan, justru memperkaya jiwa kita dengan kebahagiaan sejati.
Semangat kebajikan ini terasa begitu nyata dalam Gathering Gan En Hu (pertemuan penerima bantuan) yang digelar oleh relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 3 di Lantai Basement, Gedung DAAI, PIK, Jakarta, pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Kegiatan yang rutin diadakan setiap bulan ini bertujuan untuk merajut tali silaturahmi, menyalurkan bantuan khusus jangka panjang, serta menguatkan batin para penerima bantuan agar tidak merasa sendirian menghadapi ujian hidup. Pada pertemuan kali ini, suasana terasa semakin istimewa melalui sesi talkshow bertajuk "Menembus Keterbatasan: Mengubah Mimpi Menjadi Nyata".
Dalam suasana yang akrab, sesi talkshow tersebut menghadirkan Suparman (51). Sehari-hari ia bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan swasta. Di balik kesederhanaan hidupnya, Suparman adalah donatur rutin Tzu Chi yang juga tekun menyantuni anak yatim dan mendirikan tempat mengaji bagi anak-anak dhuafa di kampungnya. Di sampingnya, duduk Rini, rekan kerja sekaligus relawan Tzu Chi yang telah mengenal perjalanan hidup Suparman selama puluhan tahun.
Berbagi pesan tentang kekayaan hati, Suparman (kiri) menjawab setiap pertanyaan dengan penuh ketulusan dalam sesi talkshow yang dipandu oleh Hok Lay (kanan).
Membuka perbincangan, Hok Lay sebagai moderator, menyapa para penerima bantuan yang sebagian besar tengah berjuang melawan penyakit berat maupun himpitan ekonomi.
"Hidup ini memang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh," buka Hok Lay memantik semangat hadirin. "Kalau kita hanya menengadahkan tangan dan terus meminta, jiwa kita lama-lama akan menjadi lemah. Berserah kepada Tuhan itu harus, tetapi doa yang tulus wajib dibarengi dengan tetesan keringat dan ikhtiar nyata," tambahnya.
Sosok Suparman menjadi teladan nyata dari prinsip yang disampaikan Hok Lay. Suparman sempat divonis lumpuh dan tidak bisa berjalan hingga usia empat tahun. Di masa sulit itu, seorang kakek tabib keturunan Tionghoa dengan tulus mengobati kakinya setiap habis salat Jumat tanpa memungut biaya hingga ia bisa berjalan normal.
Kehilangan ibu di usia lima tahun membuatnya harus mandiri sejak kecil. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah berjualan kantong kresek di pasar dan menjadi kuli panggul demi membayar uang sekolah.
Ketika lulus SD dan ayahnya tak mampu membiayai sekolah ke jenjang SMP, Suparman tidak patah arang. Uang tabungan dari hasil mengangkat barang belanjaan di pasar justru ia kumpulkan untuk mengikuti kursus menjahit.
"Saya sadar sekolah saya tidak tinggi, hanya tamat SD. Karena orang tua tidak mampu, saya berpikir saya harus punya kepandaian tangan agar bisa bertahan hidup. Makanya uang tabungan hasil kuli panggul di pasar tidak saya pakai buat jajan, melainkan saya kumpulkan untuk bayar kursus menjahit," tutur Suparman mengenang masa remajanya.

Kehangatan satu keluarga besar terpancar saat keluarga Suparman berfoto bersama para relawan Tzu Chi dan peserta gathering penerima bantuan.
Berbekal keterampilan menjahit tersebut, pintu rezeki perlahan terbuka saat ia melamar ke sebuah pabrik garmen. Di sana ia merintis langkah dari posisi tukang kebun, berkembang menjadi operator jahit, hingga dipercaya menjadi teknisi mesin. Ujian kembali datang ketika krisis moneter 1998 membuat pabriknya tutup hingga ia harus kembali bekerja serabutan. Ketekunan membawanya diterima menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta, tempat ia bertahan dan setia mengabdi selama 28 tahun hingga kini.
Di tempat kerja itulah, ketulusan Suparman disaksikan langsung oleh Rini. Selama 26 tahun mengenal Suparman di lingkungan kantor, Rini melihat rekannya itu sebagai pribadi yang selalu mendahulukan orang lain meski hidupnya sendiri pas-pasan.
"Saya kenal Pak Suparman sudah lebih dari dua puluh enam tahun," ungkap Rini. "Beliau ini contoh nyata pejuang hidup dari nol. Yang membuat saya selalu kagum, di saat kehidupannya sendiri serbapas-pasan, hatinya tidak pernah berhenti memikirkan kesulitan orang lain."
Kekaguman Rini berakar dari tindakan nyata Suparman sehari-hari. Suparman pernah pontang-panting mencari jalan bantuan agar mata keponakannya bisa segera dioperasi dan terhindar dari kebutaan. Begitu pula saat keponakannya yang lain terancam putus sekolah karena ketiadaan biaya transportasi, Suparman turun tangan menyisihkan rezekinya, padahal saat itu istrinya sendiri baru saja melahirkan. Kebaikan hati itu menemukan wadah yang lebih luas ketika Rini mengenalkannya pada dunia kerelawanan.
"Tahun 2022, ketika saya mulai aktif di Tzu Chi dan mengenalkan celengan bambu serta prinsip berdana, Pak Suparman langsung mendaftar menjadi donatur bulanan tanpa berpikir dua kali. Kata beliau, berbuat baik itu bukan soal punya uang banyak atau sedikit, tapi soal niat dan keikhlasan hati. Sampai hari ini, beliau tidak pernah terpikir untuk berhenti berdonasi,” kenangnya.
Semangat memberi tersebut benar-benar mendarah daging dalam keseharian Suparman. Setiap pagi sebelum jam tujuh, ia menyempatkan diri berjualan sayur di pasar Bogor selama setengah jam sebelum naik kereta ke Jakarta. Seluruh keuntungan jualan di hari Jumat ia belanjakan sembako dan dibagikan waktu subuh untuk dua puluh anak yatim. Dari sisa tabungannya, ia bahkan berhasil mendirikan majelis taklim sederhana di atas tanah ukuran 4x6 meter agar anak-anak dhuafa di lingkungannya bisa belajar mengaji secara gratis.
Ruangan seketika bergemuruh oleh tepuk tangan saat Suparman mengucapkan prinsip hidup yang menjadi kompas jiwanya. "Saya tidak mau mengejar kaya harta di dunia. Saya hanya ingin kaya hati," ucapnya.
Suasana khidmat dan hening saat seluruh peserta gathering penerima bantuan memanjatkan doa bersama menjelang penutupan kegiatan.
Menjelang akhir sesi talkshow, Suparman menatap hangat ke arah para penerima bantuan yang hadir dan menitipkan pesan yang menguatkan jiwa.
"Bagi Bapak dan Ibu yang saat ini sedang sakit atau diuji kesusahan, pesan saya tetaplah tabah, sabar, dan jangan pernah putus asa. Teruslah berbuat baik semampu kita tanpa mengharapkan balasan, karena pertolongan dan berkah Tuhan itu pasti ada jalannya," ucap Suparman dengan tulus.
Membangkitkan Martabat dan Semangat Berbagi
Kata-kata tulus Suparman merasuk ke sanubari para penerima bantuan di hadapannya, salah satunya Lily. Sebagai putri yang ibunya menerima bantuan khusus jangka panjang dari Tzu Chi, Lily merasa dikuatkan sekaligus tergerak untuk mengubah cara pandangnya dalam memandang kesulitan keluarga.
Relawan dengan teliti mencatat donasi yang diberikan oleh penerima bantuan sebagai wujud cinta kasih yang terus bergulir.
"Mendengar cerita Pak Suparman, hati saya benar-benar tersentuh dan merasa malu kalau masih mengeluh. Beliau membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti peduli. Walaupun kondisi keluarga saya saat ini masih dibantu oleh Tzu Chi, saya terinspirasi untuk mulai menyisihkan sedikit uang. Sekecil apa pun nominalnya, saya ingin tangan saya bisa berada di atas dan ikut meringankan beban orang lain,” ungkap Lily.
Transformasi batin seperti yang dirasakan Lily inilah yang menjadi muara utama dari seluruh pendampingan relawan, sebagaimana ditegaskan oleh The Hany, relawan Tzu Chi yang bertugas di lapangan. Menjalani peran sebagai orang tua tunggal yang membesarkan dua orang anak, The Hany sangat memahami getirnya perjuangan hidup seorang diri. Namun baginya, jalan kerelawanan justru menjadi sumber kekuatan terbesar untuk terus melangkah.
"Misi amal Tzu Chi pada hakikatnya bukan sekadar menyalurkan bantuan materi, melainkan menyalakan lentera harapan dan rasa percaya diri di hati para penerima bantuan. Sebagai orang tua tunggal, saya tahu betul rasanya menghadapi masa-masa sulit. Namun seperti yang ditunjukkan Pak Suparman, kebahagiaan sejati justru hadir saat kita tidak terfokus pada kekurangan diri, melainkan berani mengulurkan tangan bagi sesama," tutur The Hany.
Dengan senyum hangat, relawan Tzu Chi menyalurkan bantuan biaya hidup kepada salah seorang penerima bantuan.
Selanjutnya, beberapa penerima bantuan, termasuk Lily, melangkah perlahan menuju meja donasi. Dari dompet mereka, tangan-tangan itu dengan rela mengeluarkan beberapa lembar uang kertas untuk diserahkan kepada relawan untuk dicatat.
Bagi mereka, uang yang disisihkan itu bukan sekadar lembaran rupiah, melainkan wujud rasa syukur dan martabat diri bahwa mereka pun berdaya untuk ikut meringankan beban orang lain yang mungkin lebih menderita.
Editor: Fikhri Fathoni