Gathering Relawan Hu Ai Perintis, Merawat Semangat Melayani dengan Welas Asih
Jurnalis : Yanti Yunita (Tzu Chi Medan), Fotografer : Gunawan Halim (Tzu Chi Medan)
Wakil Koordinator Bidang Amal, Jenni, menyampaikan materi mengenai misi amal.
Relawan komunitas Hu Ai Perintis Medan menggelar Gathering Relawan Misi Amal di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kompleks Grand Jati Junction, Medan, pada Minggu, 2 Agustus 2026. Kegiatan yang diikuti 38 relawan ini mengusung tema “Menanam Berkah dan Memupuk Kebijaksanaan” sebagai ajang mempererat kebersamaan sekaligus memperkuat semangat pelayanan kemanusiaan.
Gathering ini menjadi ruang bagi para relawan untuk saling menguatkan, merefleksikan perjalanan pelayanan, serta merawat benih-benih kebaikan yang telah ditanam bersama. Melalui setiap senyum, tenaga, dan ketulusan yang diberikan kepada para penerima bantuan, para relawan tidak hanya menanam berkah bagi sesama, tetapi juga memupuk kebijaksanaan dalam diri agar terus melangkah dengan empati dan welas asih.
Selain menjadi sarana mempererat kebersamaan, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi relawan untuk mengisi kembali energi positif, mengenang perjalanan pelayanan yang telah dilalui, serta menumbuhkan harapan baru agar setiap langkah kecil yang dilakukan dapat menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan bagi masyarakat.
Memahami Makna Misi Amal
Dalam sesi pembekalan, Jenni, Wakil Koordinator Bidang Amal Hu Ai Perintis, menyampaikan materi mengenai Misi Amal Tzu Chi. Ia menjelaskan sejarah terbentuknya Misi Amal, tahapan penanganan permohonan bantuan, hingga berbagai jenis bantuan yang diberikan Yayasan Buddha Tzu Chi kepada masyarakat.
"Melalui perhatian yang tulus dan pendampingan yang berkesinambungan, benih welas asih akan tumbuh, bukan hanya di dalam diri orang yang memberi bantuan, tetapi juga di dalam hati mereka yang menerima bantuan," ujar Jenni.

Relawan Misi Amal Huai Perintis menampilkan isyarat tangan “慈濟路上 (Cí Jì Lù Shàng)”
Menurutnya, hubungan emosional yang terjalin antara relawan dan penerima bantuan menjadi sumber inspirasi yang mendorong semakin banyak orang untuk berbuat baik. Sejalan dengan nilai yang diajarkan Master Cheng Yen, "Dengan welas asih menyucikan hati manusia, dengan hati yang suci tercipta masyarakat yang damai dan harmonis."
Suasana gathering semakin hangat saat para relawan menampilkan isyarat tangan 慈濟路上 (Cí Jì Lù Shàng) atau "Menapaki Jalan Tzu Chi". Isyarat tangan tersebut menggambarkan bahwa setiap langkah relawan bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang dipenuhi ketulusan, kepedulian, dan kasih sayang. Dalam pelayanan Tzu Chi tidak ada batas antara yang memberi dan yang menerima; yang ada hanyalah hubungan kemanusiaan yang saling menguatkan.
Belajar dari Kisah Pendampingan Gan En Hu
Sesi berbagi pengalaman menghadirkan dua relawan Misi Amal, Yanti Yunita dan Emelia Purba, yang menceritakan pengalaman mereka mendampingi Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi).
Yanti Yunita berbagi kisah saat mendampingi Imam Hanafi Azra di kawasan Tembung Pasar V yang membutuhkan bantuan pampers. Dari proses pendampingan tersebut, Yanti belajar mengenai kasih sayang orang tua yang tanpa syarat, pentingnya rasa syukur, serta bagaimana menjaga objektivitas, kesabaran, dan tidak mudah menghakimi orang lain.

Yanti Yunita (kanan) & Emelia Purba (kiri) sharing pengalaman sebagai pendamping Gan En Hu.
Baginya, hubungan yang terjalin dengan keluarga Gan En Hu telah berkembang menjadi hubungan layaknya keluarga sendiri.
"Keluarga Gan En Hu ikut membantu dalam Bazaar Amal, bahkan pada Juni 2026 mereka mengikuti donor darah untuk pertama kalinya. Mereka sangat senang bisa ikut bersumbangsih membantu sesama melalui kegiatan Tzu Chi," tutur Yanti.
Pengalaman serupa disampaikan Emelia Purba saat mendampingi Pak Dasuki yang mengalami infeksi kaki cukup parah akibat tertusuk paku dan komplikasi diabetes. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Emelia menyadari bahwa mendampingi penerima bantuan bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan seorang diri.
Menurutnya, setiap proses membutuhkan kerja sama tim, komunikasi yang baik, serta musyawarah bersama relawan lain agar keputusan yang diambil benar-benar memberikan manfaat terbaik bagi penerima bantuan.

Yanti Yunita & Emelia Purba, dua minta bajik sedang dalam proses mengantarkan bantuan ke Gan En Hu.
Emelia juga menceritakan bagaimana ia berkali-kali mengunjungi rumah Pak Dasuki untuk memberikan pendampingan dan edukasi mengenai pentingnya mendapatkan perawatan medis.
"Awalnya Pak Dasuki sangat takut pergi ke rumah sakit karena khawatir kakinya harus diamputasi. Setelah kami memberikan penjelasan bahwa luka tersebut harus segera ditangani, akhirnya beliau bersedia menjalani perawatan. Syukur, kondisinya kini jauh lebih baik dan tidak perlu menjalani amputasi," ungkap Emelia.
Yanti dan Emelia juga mengenang pengalaman mengantarkan bantuan berupa pampers dan beras menggunakan sepeda motor ke rumah-rumah penerima bantuan yang berada cukup jauh dari Kota Medan.
"Momen itu sangat berkesan. Kami bersama-sama mengantar bantuan ke beberapa penerima manfaat menggunakan sepeda motor," kata Yanti.
Sambil tersenyum, Emelia menambahkan, "Untung sepeda motor saya tidak mogok. Biasanya kadang-kadang suka rewel, tetapi saat mengantar bantuan, semuanya berjalan lancar. Mungkin karena kami sedang berbuat baik."
Candaan tersebut pun disambut dengan tawa hangat dari seluruh peserta gathering.

Suasana Ice Breaking dalam kegiatan, relawan bersuka cita mengikuti kegiatan gathering.
Mengutip kata perenungan Master Cheng Yen, "Pohon besar bermula dari sebutir benih yang kecil." Niat baik yang ditanam dengan ketulusan dan ketabahan akan bertumbuh menjadi pohon kebijaksanaan yang menaungi banyak orang.
Melalui Gathering Relawan Misi Amal ini, para relawan kembali diingatkan bahwa setiap langkah kecil, setiap tetes keringat, dan setiap perhatian yang diberikan kepada para Gan En Hu merupakan benih-benih kebajikan yang akan terus bertumbuh.
Dengan terus merawat welas asih dan melangkah bersama di Jalan Tzu Chi, para relawan tidak hanya membantu meringankan penderitaan sesama, tetapi juga menanam berkah, memupuk kebijaksanaan, dan bersama-sama mewujudkan masyarakat yang damai dan harmonis.
Editor: Anand Yahya
Artikel Terkait
Melangkah dengan Cinta Kasih, Menjangkau Mereka yang Membutuhkan
15 Juni 2026Pertemuan relawan Misi Amal Tzu Chi Medan, menjadi sarana bagi relawan untuk memperkuat semangat pelayanan dan pemahaman tentang pendampingan kemanusiaan.
Gathering Relawan Hu Ai Perintis, Merawat Semangat Melayani dengan Welas Asih
07 Agustus 2026Gathering Relawan Misi Amal Hu Ai Perintis Medan menjadi momen refleksi untuk memperkuat semangat pelayanan, menanam berkah, dan memupuk kebijaksanaan.
Belajar Bersama dalam Gathering Misi Amal
20 Februari 2017Tzu Chi Medan kembali menggelar gathering Misi Amal. Gathering
misi amal bertujuan agar para relawan saling menginspirasi dan belajar satu
sama lain. Beberapa relawan menceritakan pengalamannya, termasuk apa saja yang
membuat mereka mencintai apa yang mereka lakukan di Misi Amal.







Sitemap