Seni Menata Hati Serta Merawat Kebersamaan dalam Misi Amal

Jurnalis : Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Indra Gunawan (He Qi Jakarta Barat 4)

Suasana reflektif di Guo Yi Ting saat moderator Philip (paling kanan) bersama enam narasumber dari berbagai He Qi membedah tema "Menjaga Hati, Menapaki Jalan Kebajikan" pada Gathering dan Training Relawan Amal Tzu Chi.

Pernahkah Anda membayangkan melangkah masuk ke sebuah rumah megah di kawasan elite, namun di balik pintu kamarnya, justru ditemukan sisa terakhir beras bantuan yang disembunyikan rapat di bawah tempat tidur?

Pemandangan menyesakkan itulah yang dihadapi Suherman saat melakukan survei kasus di Jakarta Barat. Secara fisik, bangunan itu tampak kokoh dan mentereng, membuat siapa pun berpikir penghuninya hidup dalam kemapanan. Namun, kenyataan di dalamnya sungguh di luar dugaan. Sang ibu pemilik rumah sengaja menyembunyikan plastik beras tersebut di dalam kamar tidur demi menjaga harga diri keluarga agar tidak terlihat susah di mata orang lain. Momen itu menjadi pelajaran berharga bagi Suherman yang mengemban tanggung jawab sebagai Koordinator Bidang Amal He Qi Jakarta Barat 1, bahwa misi amal bukan sekadar urusan membagikan logistik.

"Penting sekali bagi kita untuk mengosongkan gelas batin terlebih dahulu. Dengan mendengar secara tulus dan melihat data yang lengkap, barulah kita bisa memutuskan bantuan dengan cinta kasih sekaligus kebijaksanaan," ungkap Suherman saat berbagi dalam sesi talkshow Gathering dan Training Relawan Amal di Guo Yi Ting, Aula Jing Si lantai 3, Tzu Chi Center, PIK, pada Minggu 23 Agustus 2026.

Sembari menceritakan sisa beras yang tersembunyi, Suherman mengingatkan pentingnya mengosongkan gelas batin agar bantuan hadir membawa kebijaksanaan dan ketulusan cinta kasih.

Kemampuan untuk menjaga kejernihan batin seperti ini membutuhkan waktu dan sering kali diawali dari keberanian untuk jujur pada perasaan sendiri. Hal inilah yang diakui secara terbuka oleh Mau Lan, Koordinator Bidang Amal He Qi Pusat. Sebagai pembuka sesi talkshow, Mau Lan bercerita bahwa perjalanannya di dunia amal justru dimulai dari sebuah ketidaksengajaan.

"Pertama kali sebenarnya saya merasa agak terpaksa, tapi seiring berjalannya waktu, saya justru jatuh cinta dengan misi amal," kenangnya yang disambut senyum hangat 294 relawan yang hadir. Bagi Mau Lan, jatuh cinta pada misi amal adalah proses pendewasaan batin karena penderitaan yang ia temui di lapangan memberikannya banyak wawasan baru.

Semangat untuk mempraktikkan kebajikan secara nyata juga menjadi dorongan bagi Budi Permana, Koordinator Bidang Amal He Qi Cikarang. Budi memilih berkomitmen di misi amal karena kerinduan untuk mengubah teori-teori kebajikan menjadi tindakan nyata yang menyentuh langsung kehidupan orang lain. Lebih jauh lagi, Budi memandang setiap langkah yang diambilnya sebagai bentuk investasi spiritual bagi diri sendiri. Ia memegang teguh prinsip bahwa sumbangsih hari ini adalah pelindung untuk hari esok. "Setiap praktik kebajikan yang kita lakukan, karma baik itulah yang akan menolong kita ke depannya," tambahnya dengan mantap.

Keyakinan akan kekuatan kebajikan ini menemukan pembuktiannya saat relawan hadir secara utuh mendampingi batin para penerima bantuan. Hal inilah yang dibagikan oleh Collie Juang, Koordinator Bidang Amal He Qi Utara 4. Ia mengisahkan seorang ibu di Aceh yang nyaris menyerah pada keadaan, namun perlahan bangkit kembali berkat perhatian tulus dari relawan. Bagi Collie, pendampingan batin terkadang jauh lebih mujarab daripada bantuan finansial semata.

“Memberi semangat, perhatian, atau sekadar kata-kata sederhana, ternyata itu bisa menyembuhkan mental seseorang,” ungkapnya penuh keyakinan. Collie menekankan bahwa pemulihan fisik sering kali berawal dari jiwa yang kembali memiliki harapan. "Ketika batinnya mulai tenang dan bisa menerima kenyataan, secara perlahan kondisi fisiknya pun ikut membaik," tutur Collie menggambarkan hubungan erat antara kesehatan mental dan pemulihan raga pasien.

Pendampingan rujukan medis hingga ke pelosok Riau memberikan pelajaran empati mendalam bagi Anita Dradjat. Melihat senyum dan perkembangan fisik pasien anak menjadi pendorong semangatnya untuk terus melayani penuh ketulusan.

Ketulusan yang sama dalam merawat harapan juga dirasakan oleh Anita Dradjat, Koordinator Bidang Amal He Qi Sinar Mas, melalui pendampingan rujukan medis hingga ke pelosok Indragiri, Riau. Ia menyadari bahwa bagi warga di tempat terpencil, akses pengobatan adalah perjuangan besar. Momen paling berkesan bagi Anita adalah saat melihat kemajuan kecil dari seorang anak yang sebelumnya hanya bisa terbaring lemas. Perjuangan rujukan medis yang melelahkan terbayar lunas ketika sang anak mulai bisa duduk dan memanggil "Mama", sebuah gaji batin yang menguatkan hatinya untuk terus melangkah di jalan kebajikan.

Namun, jalan kebajikan ini tidak selamanya berisi haru dan bahagia. Ia juga menuntut keberanian untuk mengambil keputusan paling sulit. Hal inilah yang dialami oleh Setiawan, Koordinator Bidang Amal He Qi Jakarta Barat 2. Sebagai relawan paling muda, Setiawan sering dihadapkan pada dilema moral yang berat, terutama saat menangani kasus kritis di ruang ICU.

"Cinta kasih harus berjalan beriringan dengan kebijaksanaan untuk merelakan," tuturnya menggambarkan beratnya alokasi bantuan demi menyelamatkan nyawa lainnya. Sebuah bantuan sederhana senilai 400 ribu rupiah yang ia antarkan justru menjadi titik balik yang menyadarkannya bahwa tindakan kecil bisa sangat berarti bagi mereka yang sedang terjepit keadaan.

Merawat Harmoni di Tengah Perbedaan
Jika sesi pertama memperlihatkan potret nyata penderitaan orang lain di lapangan, sesi kedua mengajak ratusan relawan untuk melihat jauh ke dalam batin mereka sendiri. Diskusi ini menyadarkan bahwa menapaki jalan kebajikan tidak selamanya berjalan indah. Ada kalanya muncul gesekan, perbedaan pendapat, hingga rasa jenuh. Hok Lay, Koordinator Bidang Amal He Qi Utara 3, mengawalinya dengan pengakuan jujur bahwa relawan Tzu Chi sebenarnya belum menjadi malaikat.

“Kita ini manusia biasa, masih bisa merasa dongkol, kesal, atau sebal saat ada perbedaan pendapat,” ungkap Hok Lay yang sudah 19 tahun bergabung. Baginya, kunci untuk bertahan adalah melatih kelapangan hati melalui prinsip Xin Kuan Nian Chun. “Jika hati kita lapang dan pikiran kita murni, maka tidak akan ada orang atau kata-kata apa pun yang sanggup menyakiti hati kita,” tambahnya mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan tim.

Nova Lia (paling kanan) memandu Sesi 2 Talkshow yang menghadirkan enam relawan koordinator amal. Lewat pengalaman para narasumber, relawan diajak melatih kejernihan batin dan menjaga keharmonisan di atas ego pribadi.

Hok Lay menegaskan bahwa relawan Tzu Chi belum menjadi malaikat yang bebas dari emosi. Melatih kelapangan hati melalui prinsip Xin Kuan Nian Chun menjadi benteng utama dalam menjaga keharmonisan tim.

Pentingnya melapangkan hati ini bukan sekadar teori, melainkan bekal utama saat relawan harus membedah kasus-kasus penuh dilema. Tjoeng Sioe Fong, Koordinator Bidang Amal He Qi Utara 2, selalu menggunakan kacamata empati sebagai penengah dalam kasus pendidikan. “Saya selalu bertanya pada diri sendiri, jika saya di posisi mereka yang sudah tidak punya jalan lain demi masa depan anak, apa yang akan saya lakukan?” tuturnya. Baginya, misi amal adalah sarana belajar bersyukur karena menyadarkan bahwa beban hidup sendiri tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan orang lain.

Namun, menjaga kejernihan hati juga menuntut keberanian untuk tetap bijaksana meskipun perasaan iba sedang menguasai batin. Lian Jiu Yan, Koordinator Bidang Amal He Qi Jakarta Barat 3, menegaskan bahwa bantuan yang diberikan tanpa pertimbangan matang justru berisiko mematikan keinginan seseorang untuk berusaha mandiri. “Kalau kaki dan tangannya masih sehat dan bisa bekerja, kenapa kita harus manja dengan bantuan cuma-cuma? Berbuat baik itu harus tetap bijaksana,” tegasnya.

Prinsip mendidik kemandirian ini nyatanya telah lama menjadi pegangan bagi Anna Tukimin, Koordinator Bidang Amal He Qi Jakarta Barat 4. Selama 25 tahun mengabdi, Anna pernah berada di posisi sulit saat harus memutuskan mengurangi bantuan bagi keluarga yang anak-anaknya sudah mulai bekerja. Meski sempat dimusuhi rekan relawan lain, ia tetap teguh.

“Tangan jangan di bawah terus, harus bisa ditarik ke atas agar mereka bisa mandiri,” ujarnya. Buah dari ketegasan itu berujung manis saat ia melihat mantan pasien gangguan jiwa yang dulu ia dampingi kini sudah sembuh total dan mampu berjualan kue secara mandiri di Pasar Taman Duta Mas. Momen keberhasilan seperti inilah yang menjadi energi baginya untuk terus bertahan di jalan kebajikan meski fisik mulai merasa lelah.

Menekankan bahwa 60 persen keberhasilan amal terletak pada kesucian hati, Viona Angelia mengajak para relawan bijak mengelola emosi agar setiap langkah kebajikan senantiasa dipenuhi rasa syukur dan sukacita.

Kebahagiaan yang dirasakan Anna rupanya sejalan dengan cara menjaga hati yang juga dipegang teguh oleh Viona Angelia, Koordinator Bidang Amal He Qi Tangerang. Agar semangatnya tidak mudah padam, Viona selalu ingat bahwa membantu orang lain bukan sekadar soal memberi materi. Ia membagikan sebuah prinsip berharga yang terdiri dari 10 persen bantuan materi, 30 persen pendampingan, dan porsi yang paling besar serta terpenting, yaitu 60 persen, adalah untuk mensucikan hati sendiri.

Bagi Viona, menjaga ketulusan adalah komitmen seumur hidup. Dengan suara tenang, ia menceritakan bahwa dirinya bahkan sudah menyiapkan foto terbaik berseragam Tzu Chi untuk pemakamannya kelak sebagai bentuk kesetiaan hingga napas terakhir. Ia juga mengingatkan pentingnya mengelola pikiran agar relawan tidak merasa stres karena beban kasus di lapangan. “Semua kerisauan harus kita buang di lokasi survei atau di ruang rapat. Pulanglah ke rumah dengan sukacita setelah mengucap Amituofo,” tambahnya.

Pesan untuk tidak membawa pulang beban penderitaan ini menjadi benang merah yang kuat dengan penuturan Benny Salim, Koordinator Bidang Amal He Qi Utara 1, yang sekaligus menutup seluruh rangkaian sesi talkshow hari itu. Telah bergabung dengan Tzu Chi sejak tahun 2010, Benny menyadari bahwa keharmonisan keluarga adalah fondasi utama dalam setiap pelayanan. Melalui prinsip Nei Xiu Wai Zhuang, ia mengingatkan agar semangat membantu di luar tidak sampai mengabaikan kebahagiaan orang-orang di rumah sendiri.

“Jangan sampai kita terus berprogres di luar, tapi keluarga kita di dalam justru terbengkalai. Jika ada keluhan dari pasangan atau orang di rumah, itu adalah alarm bagi kita untuk introspeksi diri,” tutur Benny. Baginya, dukungan penuh dari keluarga adalah kunci pelengkap yang menutup diskusi batin hari itu, sebuah energi yang memastikan setiap relawan sanggup terus melangkah di jalan kebajikan tanpa ada rasa bimbang di hati.

Melalui pesannya yang hangat, Benny Salim mengajak setiap relawan menyelaraskan progres di lapangan dengan keharmonisan keluarga, agar langkah di jalan kebajikan senantiasa mendapat restu dan kedamaian.

Rangkaian talkshow di Guo Yi Ting hari itu berakhir dengan sebuah pelajaran berharga, bahwa setiap langkah kita di jalan kebajikan adalah proses untuk mendewasakan diri. Sebanyak 294 relawan kini melangkah pulang dengan semangat baru. Mereka sadar bahwa saat berusaha menjahit kembali harapan orang lain yang sempat patah, batin mereka pun ikut bertumbuh. Dengan hati yang lebih sabar, mereka siap kembali menebar kehangatan bagi siapa pun yang membutuhkan di luar sana.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Menjadikan Amal Sebagai Jalan Hidup dan Transformasi Batin

Menjadikan Amal Sebagai Jalan Hidup dan Transformasi Batin

28 Oktober 2025

Acara Gathering Relawan Misi Amal Tzu Chi Surabaya menjadi ruang pembelajaran batin bagi para relawan untuk memahami makna sejati beramal lewat kisah nyata penerima bantuan dan refleksi pribadi.

Gathering Relawan Hu Ai Perintis, Merawat Semangat Melayani dengan Welas Asih

Gathering Relawan Hu Ai Perintis, Merawat Semangat Melayani dengan Welas Asih

07 Agustus 2026

Gathering Relawan Misi Amal Hu Ai Perintis Medan menjadi momen refleksi untuk memperkuat semangat pelayanan, menanam berkah, dan memupuk kebijaksanaan.

Melangkah dengan Cinta Kasih, Menjangkau Mereka yang Membutuhkan

Melangkah dengan Cinta Kasih, Menjangkau Mereka yang Membutuhkan

15 Juni 2026

Pertemuan relawan Misi Amal Tzu Chi Medan, menjadi sarana bagi relawan untuk memperkuat semangat pelayanan dan pemahaman tentang pendampingan kemanusiaan.

Beriman hendaknya disertai kebijaksanaan, jangan hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain hingga membutakan mata hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -