Gema Doa Sejuta Insan di Singkawang

Jurnalis : Budi Handoyo/Eko Candra (Tzu Chi Singkawang), Fotografer : Ricka Yalanda (Tzu Chi Singkawang)


Seorang relawan sedang memperkenalkan peralatan makan ramah lingkungan kepada pengunjung pameran.

Minggu, 11 Mei 2014 merupakan salah satu hari istimewa bagi Yayasan Buddha Tzu Chi Singkawang karena pada bulan tersebut diadakan perayaan tiga hari besar sekaligus, yaitu Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia. Tujuan dari perayaan besar yang selalu diadakan setiap tahun oleh insan Tzu Chi di berbagai daerah ini adalah untuk bersyukur atas jasa Buddha yang telah hadir ke dunia sebagai penuntun jalan kebenaran bagi semua makhluk dan bersyukur akan budi luhur orang tua dan para leluhur yang menjalin jodoh kelahiran bagi kita, serta untuk bersyukur akan budi semua makhluk yang secara langsung maupun tidak langsung telah mendukung kehidupan kita.

Melihat begitu banyaknya bencana yang terjadi dan penderitaan manusia yang tiada henti, maka tema yang diusung untuk perayaan tahun ini adalah “Doa Sejuta Insan”. Harapan dan doa jutaan orang dalam waktu yang bersamaan di seluruh daerah diyakini mampu menghalau berbagai bencana dan penderitaaan yang akan terjadi. Esensinya adalah melalui doa kecil yang tulus demi mewujudkan perdamaian dan ketentraman semua makhluk yang ada di dunia ini.

Antusiasme para pengunjung dalam memburu stan makanan disambut hangat oleh relawan penjaga stan.

Suasana khusyuk  sebelum proses pemandian Rupang Buddha dimulai.

Persiapan untuk tiga perayaan besar ini telah dilakukan satu bulan sebelumnya. Suka dan duka pun telah dilalui oleh para relawan, mulai dari pembagian tugas masing-masing, survei lokasi acara, latihan shou yu yang akan ditampilkan, persiapan peralatan logistik, pembagian undangan ke masyarakat, sampai dengan dekorasi tempat acara diselenggarakan. Tahap persiapan acara berjalan lancar tanpa kendala yang berarti berkat dukungan dari para relawan yang berdedikasi tinggi demi kesuksesan acara tahunan ini.

Para peserta prosesi sedang melakukan pradaksina (meditasi berjalan) dengan tertib dan khidmat.

Pada hari perayaan, senyuman yang ramah dan tulus mengiringi kehadiran masyarakat umum di Gedung Sun Moon, Jalan Kalimantan, Singkawang, Kalimantan Barat. Pandangan hadirin yang baru memasuki gedung menusuk tajam ke empat penjuru gedung, mencoba mencari aktualisasi diri. Aktualisasi diri pun ditemukan setelah mereka melangkahkan kaki ke stan tempat pameran Jing Si digelar. Pada pameran kali ini terdapat beragam produk yang dijual, antara lain: buku-buku dari Jing Si Publication, kaset-kaset lagu dan cerita inspiratif dari DAAI TV, peralatan makan ramah lingkungan (huan bao can ju), dan makanan olahan vegetarian yang tidak sekedar lezat tetapi juga bergizi tinggi sesuai standar produksi Tzu Chi. Semua produk yang dijual pada pameran ini merupakan hasil karya dari Master Cheng Yen dan murid-muridnya sebagai salah satu cara menyebarkan cinta kasih dan ajaran Jing Si ke seluruh pelosok dunia.

 

Dari atas kursi, seorang Bodhisatwa Kecil sedang menuangkan isi celengan yang dikumpulkannya selama ini.

Keluhuran Ajaran Buddha
Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB, prosesi pemandian Rupang Buddha pun dimulai. Diiringi dengan panduan dari pembawa acara yang mengucapkan aba-aba tiga kalimat (li fo zu, jie hau xiang, zhu fu ji xiang), para peserta berjalan beriringan dengan khidmat dan tertib menuju altar yang berhiaskan Rupang Buddha kristal. Sesampainya di depan altar, mereka membungkukkan badan sembari diikuti kedua tangan untuk menyentuh air yang telah disediakan di atas altar. Setelah itu mengambil sepetik bunga dan badan ditegakkan kembali. Makna dari prosesi yang sederhana ini adalah membersihkan batin yang keruh dan kembali pada kemurnian hati sebagaimana pada saat dilahirkan, menerima harumnya keluhuran ajaran Buddha untuk membangkitkan keyakinan dan ketulusan, serta dengan hati yang murni turut bersumbangsih dalam kebajikan.

Selesai prosesi pemandian Rupang Buddha, para hadirin kembali menikmati pameran Jing Si dan menyantap makan siang yang telah disajikan. Adapula dari pengunjung yang menuangkan isi celengan yang dikumpulkan selama ini. Wajah sumringah terpancar dari Dedi, Kepala SMP Barito Singkawang, yang merupakan salah satu peserta prosesi. “Peringatan tiga hari besar sekaligus yang jatuh pada bulan Mei ini disajikan sangat berbeda oleh Tzu Chi. Di sini kita dilatih untuk selalu berada di jalan kebenaran, menyucikan batin pribadi yang selama ini keruh karena lika-liku duniawi. Saya harap kegiatan yang dilakukan Tzu Chi mendapat dukungan yang luas dari berbagai kalangan supaya lebih cepat terwujud dunia yang damai sesuai pedoman Sang Buddha dan semua makhluk,” ujarnya.


Artikel Terkait

Hari Tzu Chi di Santa Rosa

Hari Tzu Chi di Santa Rosa

28 Mei 2014
Untuk pertama kalinya relawan Tzu Chi menyelenggarakan perayaan hari Waisak di wilayah Distrik Manhattan yang sibuk dan ramai. Lokasinya berada di Jalan Howard yang bertetangga dengan China Town, New York, juga berada di depan Kantor Penghubung Tzu Chi Manhatan, dan di persimpangan antara Jalan Broadway dengan kawasan perbelanjaan mewah di Soho.
Waisak 2558: Keharmonisan Nilai Ajaran Buddha

Waisak 2558: Keharmonisan Nilai Ajaran Buddha

14 Mei 2014 Para relawan dan pesertapun sudah meninggalkan Jing Si Tang, acara sudah berlangsung dengan hikmad dan lancar berkat dukungan dari berbagai pihak, semoga dukungan dari berbagi pihak akan disusul dengan penerapan filosofi Budhis dalam kehidupan nyata tiap harinya.
Perayaan Waisak Tzu Chi: Partisipasi Sekolah Buddhis Melantunkan Doa

Perayaan Waisak Tzu Chi: Partisipasi Sekolah Buddhis Melantunkan Doa

04 Juni 2014 “Doa Jutaan Insan” merupakan tema yang diusung oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dalam perayaan Waisak 2014. Agar Waisak dapat dijalankan sesuai dengan tema yang ditentukan, segenap relawan dari semua lini terus bekerja keras untuk menggalang lebih banyak para Bodhisatwa. Sekolah-sekolah Buddhis di bawah pengawasan Badan Koordinasi Pendidikan Buddhis Indonesia (BKPBI) turut serta dalam kegiatan perayaan ini.
Kita sendiri harus bersumbangsih terlebih dahulu, baru dapat menggerakkan orang lain untuk berperan serta.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -