Gempa Lombok: Kearifan Lokal

Jurnalis : Yuliati, Fotografer : Yuliati
 
 

foto Sebagian besar warga Kabupaten Lombok Utara yang berprofesi sebagai petani merupakan penghasil padi terbesar di Lombok bagian Utara dengan tanah yang subur dan asri

Udara yang sangat sejuk, pemandangan asri, bebas polusi, hektaran lahan hijau yang memberikan keindahan pesona pegunungan. Inilah Kabupaten Lombok Utara, sebuah daerah yang merupakan penghasil padi terbesar di Lombok, NTB. Gempa berkekuatan 5,4 scala ricter tiga minggu yang lalu telah merusak tempat tinggal warga di Desa Tanjung yang merupakan daerah terparah, namun tidak dengan hasil pangan mereka. Tanah yang subur mengantarkan warga kabupaten Lombok Utara sebagian besar sebagai petani.

Toleransi antar warga pun terjalin dengan baik, sebagai contoh jika terdapat salah satu warga yang tidak memiliki beras untuk makan maka keluarga akan memberikan bantuan. Sehingga di Kota Lombok khususnya Kabupaten Lombok Utara ini tidak pernah mengalami kekurangan bahan makanan pokok beras.

Melihat kondisi demikian, warga mengaku sangat membutuhkan bantuan untuk perbaikan rumah yang sebagian besar rata dengan tanah akibat gempa. Seperti yang dituturkan oleh Sekretaris Daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Polda setempat bahwa kebutuhan prioritas warga adalah pembangunan kembali rumah mereka yang rubuh. “Di Kabupaten Lombok Utara (KLU) merupakan daerah yang tidak kekurangan makanan. Soal makan mungkin tidak terlalu membutuhkan sehingga dari hasil survei itu lebih dibutuhkan bantuan untuk membangun rumah mereka,” terang Suwarto, Direktur Pembinaan Masyarakat Polda NTB.

foto  foto

Keterangan :

  • Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi bekerjasama dengan polda NTB melakukan survei di beberapa titik-titik lokasi gempa (kiri).
  • Suwarto selaku Direktur Pembinaan Masyarakat Polda NTB berharap dengan kehadiran yayasan Buddha Tzu Chi bisa membantu meringankan beban warga korban gempa (kanan).

 

Demikian juga yang disampaikan oleh relawan Tzu Chi yang selama lebih kurang tiga hari telah melakukan survei dan koordinasi dengan pihak pemerintah setempat, bahwa kebutuhan warga berupa bantuan mendirikan rumah. Adi Prasetyo, relawan Tzu Chi kembali menuturkan bahwa kebutuhan prioritas warga berupa pembangunan kembali rumah mereka akan didiskusikan kembali dengan pimpinan Yayasan Buddha Tzu Chi di Jakarta untuk melangkah ke tahap berikutnya. “Mudah-mudahan kita bisa membantu mereka sesuai yang mereka butuhkan. Mudah-mudahan ikatan jodoh ini bisa berjalan dengan baik,” harapnya.

Bukan hanya sikap toleransi antar warga dalam hal pangan saja yang dikembangkan oleh warga di Kabupaten Lombok Utara ini, melainkan juga tindakan-tindakan kriminalitas yang tidak pernah terjadi di daerah ini. Bahkan pasca bencana dengan kondisi rumah yang rata dengan tanah, barang apapun milik warga tidak ada yang kehilangan. Seperti yang disampaikan kembali oleh Polda Nusa Tengga Barat, bahwa sampai sejauh in, kondisi kriminalitas Kabupaten Lombok Utara masih dalam kategori aman. “Alhamdulilah situasi kriminal tidak terjadi. Warga tidak mengungsi. Hal ini terjadi karena adanya tradisi kearifan lokal bahwa setiap rumah memiliki berugak (bangunan dari kayu untuk melakukan cengkrama bersama keluarga yang dibangun di luar rumah),” tutur Suwarto. Broga yang dimiliki setiap rumah tidak ada yang terkena dampak gempa, sehingga warga bisa tinggal di bangunan tersebut sebelum mendapatkan bantuan tenda sembari menjaga barang-barangnya yang masih tersisa. Suwarto berharap dengan kehadiran Yayasan Buddha Tzu Chi bisa membantu meringankan beban warga korban gempa. “Tzu Chi merupakan yayasan sosial yang sangat membantu sehingga apresiasi kami sangat baik. Kami dan masyarakat sangat berterima kasih atas perhatiannya,” ucapnya mengakhiri pembicaraan.

  
 
 

Artikel Terkait

Berbagi Kasih Bersama Anak-anak Panti Asuhan

Berbagi Kasih Bersama Anak-anak Panti Asuhan

24 Juli 2014
Kegiatan yang berlangsung pada hari Selasa (15/7/14) dari pukul 10.00-14.00 WIB ini, melibatkan 11 relawan Tzu Chi bersama anak-anak panti asuhan yang berjumlah 200 orang dari 5 panti asuhan yang berada di sekitar kota Padang.
Kewajiban Kita Melestarikan Bumi

Kewajiban Kita Melestarikan Bumi

09 Februari 2011 Tepat pukul 11.00 siang, usai pemilahan sampah daur ulang, Adenan Shixiong mempresentasikan kepada warga tentang keadaan bumi yang semakin kritis akibat ulah manusia. Dalam presentasinya Adenan mengumpamakan bumi seperti  tubuh kita.
Benar, Bajik dan Indah untuk Tzu Chi

Benar, Bajik dan Indah untuk Tzu Chi

14 Januari 2011 Sudah sejak akhir bulan Desember 2010 lalu, penyebaran informasi akan adanya gathering relawan dokumentasi di bulan Januari telah dilakukan. Semakin gencarnya para relawan dokumentasi He Qi Utara dalam memberitakan kabar gembira ini terlihat di awal bulan Januari.
Saat membantu orang lain, yang paling banyak memperoleh keuntungan abadi adalah diri kita sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -