Hidup Sederhana dengan Vegetarian

Jurnalis : Sutar Soemithra, Fotografer : Sutar Soemithra
 
foto

Para relawan Tzu Chi yang selama bulan Mei 2008 sibuk memasak makanan vegetarian untuk dibagikan kepada masyarakat umum, mendapat jamuan makan malam vegetarian oleh Tzu Chi.

Sepanjang bulan Mei 2008, di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta, sering terlihat relawan Tzu Chi membagikan makanan vegetarian kepada para pengunjung pusat perbelanjaan. Mereka membagikannya sebagai menu makan siang. Makanan tersebut dibungkus dalam sebuah kotak makan plastik yang diharapkan agar dikembalikan lagi kepada Tzu Chi. Kotak makan plastik sengaja dipilih sebagai wadah karena ramah lingkungan. Wadah tersebut masih bisa dipergunakan kembali, berbeda dibandingkan menggunakan pembungkus kertas misalnya yang hanya sekali pakai. Setiap hari selama bulan Mei itu, relawan Tzu Chi membagikan 1.000 paket kotak makan.

Bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk menyiapkan 1.000 paket setiap hari. Oleh karena itu, tugas memasak digilir berdasarkan he qi (komunitas relawan Tzu Chi) masing-masing. Wilayah Jakarta terdiri dari 4 he qi: barat, utara, timur, dan selatan. Tempat memasaknya di dapur Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat. Tiap he qi rata-rata mendapat jatah memasak selama satu minggu.

Setelah selama sebulan penuh para relawan tersebut memasak bagi orang lain, maka pada Jumat malam, 13 Juni 2008, mereka memasak untuk diri mereka sendiri. Semua relawan yang bekerja keras selama bulan vegetarian tersebut berkumpul di kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di gedung ITC Mangga Dua, Jakarta. Mereka mendapatkan jamuan makan malam dari pimpinan Yayasan Buddha Tzu Chi. Mereka juga ditemani oleh para karyawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang kebetulan baru saja selesai jam kantor.

Sebanyak 12 meja tertata rapi di ruang rapat. Di atasnya, sebuah kompor gas kecil siap memasak shabu-shabu vegetarian yang menggoda selera: hijau dan segar. Karena dimakan masih dalam kondisi panas, shabu-shabu tersebut nikmat disantap. Sayur pun terasa lebih tebal dan empuk.

foto  foto

Ket : - Relawan komite Tzu Chi menyuguhkan makanan bagi para relawan konsumsi Bulan Vegetarian Tzu Chi.
           (kiri)
         - Kerja keras relawan yang setiap hari harus menyiapkan 1000 paket kotak makan vegetarian memang layak
           mendapat penghargaan. (kanan)

Dessy malam itu sangat menikmati jamuan makan tersebut. Perempuan muda yang tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan ini adalah salah satu orang yang tidak hanya ikut menjadi relawan memasak, namun juga berubah menjadi seorang vegetarian. “Saya menjadi vegetarian sejak 4 Mei,” kata Dessy. Ia memang sudah lama punya keinginan menjalani gaya hidup vegetarian, namun kurang mengerti bagaimana caranya. Setelah mengikuti sosialisasi Tzu Chi tentang vegetarian tanggal 3 Mei, tiba-tiba tekadnya menjadi bulat untuk menjadi vegetarian. “Gak ada pikiran apa-apa. Gak mikir mesti gimana-gimana. Just do it!” ujarnya mantap.

Kini sudah lebih dari sebulan ia menjadi seorang vegetarian. Perubahan yang paling ia rasakan adalah emosinya menjadi lebih stabil. Ia mengakui sebelumnya, “Saya orangnya emosional untuk hal-hal sepele. Saya gampang marah.” Kini ia menjadi lebih mudah mengendalikan emosi. Pola makan vegetarian memang berpengaruh langsung terhadap kesehatan kardiovaskuler. Gangguan kardiovaskuler ini sangat mempengaruhi tingkat emosi seseorang. Konsumsi daging berlebih bisa menimbulkan penyakit kardiovaskuler seperti kanker, jantung, stroke, diabetes, osteoporosis, hingga obesitas.

Ketika ia menjadi relawan memasak di dapur, ia sering bertemu dengan relawan lain yang kadang kelepasan mengucapkan kata-kata yang keras kepadanya. Maklum, suasana panas di dapur akibat api kompor kadang mudah memantik emosi orang. Namun Dessy bisa menerimanya dengan tanpa rasa melawan sedikitpun, sesuatu yang tidak mungkin terjadi ketika dirinya belum menjadi vegetarian.

foto  foto

Ket : - Shabu-shabu vegetarian yang dimasak langsung di atas sebuah kompor gas kecil rasanya tidak kalah
           dengan shabu-shabu berbahan daging. (kiri)
         - Dessy kini menjadi lebih mudah mengendalikan emosi setelah menjadi vegetarian sejak tanggal
           4 Mei 2008. (kanan)

Kini ia juga menjadi memahami anjuran Master Cheng Yen tentang upaya membersihkan hati dan pikiran melalui vegetarian karena ia telah mengalami sendiri maksud anjuran tersebut. Gaya hidup vegetarian adalah gaya hidup yang identik dengan kesederhanaan karena membentuk kebiasaan untuk mengonsumsi makanan yang sederhana dan harganya relatif tidak mahal. Kebanyakan makanan dari daging lebih mahal dibandingkan makanan nabati. Kebiasaan sederhana ini ternyata menular kepada hasratnya akan barang-barang bagus. Dulu, jika ia berjalan-jalan di mal dan melihat barang-barang bagus dipajang, ia tertarik dan ingin memilikinya walaupun belum tentu bisa karena harganya tidak terjangkau. “Kini hanya tertarik tapi tidak ingin memiliki,” tutur Dessy.

 

Artikel Terkait

Berbagi Cinta Kasih Kepada Opa Oma

Berbagi Cinta Kasih Kepada Opa Oma

22 Maret 2012 Pada tanggal 4 Maret 2012, Hu Ai Sunter kembali mengadakan pengobatan gratis kepada Opa Oma di Pademangan Barat. Beberapa hari ini, Jakarta Utara selalu diguyur hujan.
Berbagi Kebahagiaan di Desa Warbon, Biak

Berbagi Kebahagiaan di Desa Warbon, Biak

16 Juni 2016
Dalam rangka peringatan HUT Bhayangkara ke-70, Polres Biak Numfor bekerja sama dengan Tzu Chi Biak mengadakan Baksos Pengobatan Umum di Desa Warbon, Distrik Biak Utara, Sabtu, 4 Juni 2016.
Suara Kasih: Bahagia dan Tidak Tersesat

Suara Kasih: Bahagia dan Tidak Tersesat

02 Agustus 2012 Pada saat berusia 29 tahun, dia didiagnosis menderita penyakit itu. Meski kini sudah berusia 33 tahun, dia sangat berpuas diri, berpengertian, dan hatinya selalu penuh rasa syukur. Kehidupannya sudah berubah. Jadi, di dunia ini, tiada hal yang tak bisa dicapai.
Kebahagiaan berasal dari kegembiraan yang dirasakan oleh hati, bukan dari kenikmatan yang dirasakan oleh jasmani.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -