HUT Tzu Chi Ke-30: Kebahagiaan Menjadi Relawan Tzu Chi Selama Puluhan Tahun

Jurnalis : Khusnul Khotimah , Fotografer : Arimami S.A, Agus DS (He Qi Barat 2)


Hong Tjhin merasa sangat terharu jikalau mengenang perjuangan para relawan Tzu Chi dalam mewujdukan tempat tinggal yang layak bagi warga yang 20 tahun lalu masih tinggal di bantaran Kali Angke, Jakarta.

Hong Tjhin, Sekretaris Umum Tzu Chi Indonesia meneteskan air mata saking terharunya saat Chia Wen Yu membawakan kilas balik perjalanan 30 tahun Tzu Chi Indonesia dalam rangkaian acara HUT Tzu Chi Indonesia. Bagian yang paling membuat Hong Tjhin terharu adalah saat Chia Wen Yu menceritakan fase 2003, saat Tzu Chi membangun Rusun Cinta Kasih Cengkareng. Hong Tjhin seolah diajak kembali ke masa itu.

Saat itu Hong Tjhin bersama para relawan Tzu Chi menjalankan proyek kemanusiaan ini dengan niat yang tulus membantu warga yang tinggal di bantaran Kali Angke agar dapat hidup di pemukiman yang layak. Juga agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang baik dan tumbuh sehat di lingkungan yang sehat.

“Selama tahun 2003, kami banyak interaksi dengan warga. Waktu pembangunan, kami sensus door to door dan sebagainya,” ujar Hong Tjhin.

Apa yang diupayakan Hong Tjhin bersama tim relawan Tzu Chi kala itu dengan segenap perjuangan itu pun berbuah manis. Warga yang dulu hidup di bantaran Angke dapat meraih kehidupan yang jauh lebih baik. Anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang berbudi pekerti dan membanggakan.

Dua Puluh Lima tahun menjadi relawan Tzu Chi tentu bukan waktu yang sebentar. Dan Hong Tjhin punya rahasianya dalam merawat rasa bahagia dalam bersumbangsih.

“Jadi kalau mau awet, mau tahan banting, bagi saya, saya lihat ke dalam esensinya sendiri, fundamentalnya, why I am doing it. Karena saya ingin coba membantu meringankan penderitaan dari yang sedang menderita. Simple as that,” sambungnya.

Hong Tjin sangat bersyukur dan menghargai apa yang sudah dilakukannya selama menjadi relawan Tzu Chi. Perjalanan masih terus berlanjut, karena itu sebagai relawan, tetap harus menjaga hati, tetap harus menjaga kerja sama tim karena masih banyak yang perlu dibantu.



Like Hermansyah sungguh bersyukur bisa menghabiskan banyak waktunya selama 25 tahun sebagai relawan Tzu Chi.

Like Hermansyah yang juga sudah menghabiskan 25 tahunnya menjadi relawan Tzu Chi pun dipenuhi rasa syukur. Bagaimana tidak, di Tzu Chi ia mendapat banyak sekali pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang amat penting baginya adalah tentang arah kehidupan, tentang pandangan yang benar. Ia merasa sebelum menjadi relawan Tzu Chi banyak sekali cara pandangnya yang keliru. Dulu ia merasa uang adalah segalanya.

“Dulu saya jadi budak uang, dari pagi sampai malam itu yang saya kejar. Tapi setelah itu saya tahu bahwa dalam hidup ini saya hanya punya hak pakai, tak punya hak milik. Saat turun ke komunitas (menjadi relawan Tzu Chi) saya baru tahu betapa banyak saudara-saudara kita yang kurang mampu. Saya pun kemudian penuh syukur rupanya hidup saya penuh berkah,” tutur Like.

Selama 25 tahun, banyak sekali peran yang sudah Like jalankan. Ia pernah dipercaya menjadi ketua komunitas relawan He Qi Utara, lalu menjadi ketua komunitas He Qi Pusat. Saat ini ia fokus mendampingi komunitas relawan di luar Jakarta untuk berkembang. Salah satu yang membuat Like terus bersemangat dalam bersumbangsih melalui Tzu Chi adalah memahami niat awal.

“Jadi memang saya tahu tujuan datang ke Tzu Chi jelas adalah melatih diri. Namanya melatih, kita harus melatih kesabaran, latar belakang relawan kan berbeda-beda. Semua masalah yang timbul sebenarnya adalah satu proses. Kalau kita sadari ini adalah jalan untuk melatih diri, jadi kita mestinya menganggap semua masalah tidak lagi menjadi masalah, kita harus ubah itu menjadi tantangan untuk maju ke depan,” tambahnya.



Linda Awaludin berharap jumlah relawan Tzu Chi terus bertambah sehingga kerja kemanusiaan semakin banyak yang bisa diwujudkan.

Sama seperti Like, Linda Awaludin yang sudah 27 tahun menjadi relawan Tzu Chi juga mendapatkan banyak perubahan yang baik dalam cara pandangnya. “Kadang kalau kita baru masuk, kita berpikir kita membantu Tzu Chi. Tapi ketika kita sudah terjun di dalamnya, kita bisa melihat bahwa ada perubahan dalam diri kita, sifat dan pendirian kita ada perubahan (yang lebih baik),” ujarnya.

Linda yang dulu pernah menjadi Ketua He Qi Timur itu saat ini menjadi tim relawan He Xin di bagian konsumsi, sebuah peran yang mampu menghidupkan suasana dalam kegiatan-kegiatan besar Tzu Chi. Ia juga terus menjadi relawan pendamping He Qi Timur.

Salah satu bantuan kemanusiaan Tzu Chi yang pernah ia ikuti adalah bantuan untuk warga di Manado yang diterjang banjir bandang tahun 2014. Waktu itu dalam satu bulan ia bolak-balik setiap pekan ke Manado. “Jadi hari Jumat ke Manado, Senin balik lagi ke Jakarta karena ada pekerjaan,” kenangnya.

Di usia Tzu Chi Indonesia yang ke-30 tahun ini, tak ada yang Linda harapkan melainkan semakin banyak jumlah relawan Tzu Chi sehingga kerja besar untuk kemanusiaan terus dapat diwujudkan. “Kalau kita tanya cukup tidak relawan saat ini? Ya tidak cukup, seperti yang Master Cheng Yen bilang, itu tidak seimbang dengan besarnya kita Indonesia. Jadi kita tetap harus bergerak bersama,” pungkasnya.



Sarpin Lie dipenuhi rasa syukur bisa membaktikan hidupnya untuk masyarakat yang membutuhkan melalui Tzu Chi.

Bisa dibilang, para relawan Tzu Chi yang terbilang sudah senior umumnya menjalankan kegiatan Tzu Chi dengan hati yang gembira. Salah satu relawan yang begitu enjoy bersumbangsih adalah Sarpin Lie yang sudah 21 tahun lamanya menjadi relawan Tzu Chi. Ia lebih banyak berkecimpung dalam pembangunan gedung atau perumahan untuk membantu warga yang dilanda bencana. Salah satunya di Aceh untuk warga penyintas bencana tsunami Aceh tahun 2004.

“Jadi Tzu Chi itu paling awal memasuki lokasi bencana, dan paling akhir keluar dari lokasi bencana. Jadi dalam lima tahun itu akhirnya kami bangun cuma 2.500-an unit," kata Sarpin.

Selama lima tahun proses pembangunan itu, ia pun bolak-balik Aceh-Jakarta hingga 80 kali. “Sampai selesai dan penghuni sudah masuk, baru saya keluar,” kenangnya.

Sarpin punya nasehat bagi relawan Tzu Chi yang masih terbilang baru agar awet dan dipenuhi dengan spirit ketulusan. “Kita kalau sudah ada di satu perkumpulan, seperti di Tzu Chi ya harus saling menghargai, saling menghormati, jangan anggap diri sendiri wah saya paling lama di sini, saya paling berjasa, itu jangan. Itu pasti akan menjadi konflik dan di Tzu Chi enaknya itu apa, yang cocok itu lakukan saja. Lakukan saja itu sudah, selesai pasti tidak bermasalah. Tapi jangan ada pamrihnya. Tzu Chi ini kan satu yayasan yang universal. Jadi semua orang boleh bergabung, tidak ada pilih kasih,” katanya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

HUT Tzu Chi Ke-30: Kebahagiaan Menjadi Relawan Tzu Chi Selama Puluhan Tahun

HUT Tzu Chi Ke-30: Kebahagiaan Menjadi Relawan Tzu Chi Selama Puluhan Tahun

19 September 2023

Para relawan Tzu Chi yang terbilang sudah senior umumnya menjalankan kegiatan Tzu Chi dengan hati yang gembira. Beberapa relawan ini punya resep supaya dapat konsisten bersumbangsih di Tzu Chi dan menjalaninya dengan sukacita dan ketulusan.

Kamp 4in1: Menyongsong 30 Tahun Tzu Chi Indonesia dengan Rasa Syukur

Kamp 4in1: Menyongsong 30 Tahun Tzu Chi Indonesia dengan Rasa Syukur

17 September 2023

Di Kamp 4in1 yang digelar pada 16-17 September 2023, topik yang diangkat adalah Mengenang Sejarah Perjalanan 30 Tahun Tzu Chi Indonesia. Para relawan diajak untuk flashback perjuangan para relawan 20 hingga 30 tahun lalu dalam menjalankan misi-misi Tzu Chi.

Kamp 4in1 2019: Tekad, Tanggung Jawab, dan Keyakinan dalam Bertindak

Kamp 4in1 2019: Tekad, Tanggung Jawab, dan Keyakinan dalam Bertindak

31 Juli 2019

Sabtu 27 Juli 2019, di paruh hari kedua pelatihan Kamp 4in1 2019, berlanjut dengan materi bertemakan tekad dan tanggung jawab insan Tzu Chi. Relawan senior dari Tzu Chi Taiwan, Gan Wan Cheng membagikan pengalaman hidupnya selama 18 tahun menjalani Misi Pelestarian Lingkungan.

Kebahagiaan berasal dari kegembiraan yang dirasakan oleh hati, bukan dari kenikmatan yang dirasakan oleh jasmani.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -