Internasional : Pohon Kebajikan di Afrika Selatan
Jurnalis : Da Ai News, Fotografer : Da Ai News|
|
| ||
| Zakhele Dumisa yang berasal dari suku Zulu menerima lencana bersama dengan lima wanita suku Zulu lainnya yang telah dilantik sebagai relawan komisaris. Sebelum seminar, mereka mengunjungi pasien di Rumah Sakit Tzu Chi. Selama 15 tahun terakhir ini, pada mulanya Tzu Chi di Afrika Selatan diperkenalkan oleh relawan dari Taiwan yang menetap di Durban. Upayanya ini telah menarik lebih dari 5.000 anggota dari suku Zulu. Mereka merawat pasien AIDS dan memberikan makan siang setiap hari untuk lebih dari 5.000 anak yatim penderita AIDS. Bagi anak-anak penderita AIDS ini makanan yang diberikan merupakan makanan paling lengkap bagi mereka dalam sehari. Afrika Selatan merupakan negara di dunia dengan kondisi penderita AIDS terburuk dan KwaZulu-Natal adalah salah satu provinsi yang terkena dampak paling buruk dengan Durban sebagai kota terbesar di dalamnya. Penghasilan rata-rata penduduk di Durban adalah sebesar NT 3.000 per bulan (sekitar Rp 900 ribu –red), lebih kecil 2 kali lipat dibandingkan Taiwan. Masih banyak suku Zulu yang tinggal di garis kemiskinan, meskipun begitu mereka siap untuk melangkah maju dan membantu bangsa mereka. Tanggal 4-8 Desember lalu, 12 relawan suku Zulu menghadiri seminar ditemani oleh 3 relawan dari Taiwan. Mereka adalah Michael Pan Ming-shui, Huang Chun-kai dan ibunya Liao Mei-ling. Menurut relawan suku Zulu, Hualien adalah rumah rohani mereka. Pada pagi hari tanggal 6 Desember, Chun-kai, Dumisa, dan dua rekan wanita, Tolakele Mhkize dan Brenda Matebula, memberikan presentasi tentang pekerjaan mereka merawat anak yatim penderita AIDS. Mereka juga kemudian mereka menyanyikan 'Ukitatala', sebuah lagu dalam bahasa Zulu. Chun-kai sendiri saat ini berusia 29 tahun dan merupakan lulusan bidang matematika dari Universitas Cambridge, Amerika Serikat. Ia berimigrasi dengan keluarganya ke Afrika Selatan saat ia berusia 11 tahun dan mulai bekerja sebagai sukarelawan Zulu dengan ibunya. Dalam presentasinya, ia mengatakan bahwa Afrika Selatan adalah 2 dunia di dalam satu negara. Pada bulan Juni tahun 2010, Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia dan menjadi obyek perhatian semua orang. Pada saat yang sama, banyak suku Zulu yang hidup di rumah kumuh dari seng - tetapi masih bersedia untuk bangkit dan membantu sesama. Master Cheng Yen mengatakan bahwa mereka telah bangkit dari titik terendah kehidupan dan naik menuju ke kecemerlangan menjadi Bodhisatwa. Di Durban, para relawan Tzu Chi di sana juga telah membuat lebih dari 120 kebun sayur 'Cinta Kasih'. Kebun sayur itu mereka rawat sendiri dan hasilnya mereka gunakan di 120 pusat makanan untuk memberi makan siang bagi 5.000 anak yatim piatu penderita AIDS. Mereka juga menyediakan beras, tepung maizena, dan makanan lain untuk melengkapi sayuran. Apa yang telah dilakukan oleh relawan perempuan Tzu Chi dari suku Zulu yang tetap bekerja dalam kondisi sulit telah menginspirasi para relawan Tzu Chi lainnya di saat seminar. (Sumber: www.tzuchi.org, diterjemahkan oleh Rosaline Lora) | |||
Artikel Terkait
Bertambahnya Satu Titik Pelestarian Lingkungan
24 April 2019Satu lagi titik pemilahan barang daur ulang bertambah. Berada di Taman Palem Lestari, Jakarta Barat, tempat para relawan memilah barang daur ulang ini diresmikan penggunaanya pada Minggu, 21 April 2019.
Malam Keakraban DAAI TV
11 September 2012 Sabtu, tanggal 8 September 2012, DAAI TV Indonesia mengadakan acara malam keakraban DAAI TV. Acara ini dimulai sejak pukul 18.30 hingga 21.00 WIB. Acara malam keakraban tidak hanya memberikan kesenangan di hati para penonton tetapi juga kebanggaan karena dapat hadir di acara yang indah ini.Membangun Karakter yang Baik Melalui Kelas Saji Teh
30 September 2019Siswa Tzu Chi Secondary School belajar membangun karakter humanis yang penuh dengan rasa syukur, hormat, dan cinta kasih melalui kelas saji teh pada term pertama tahun ajaran.








Sitemap