Internasional: Sekolah Darurat di Haiti
Jurnalis : Da Ai News, Fotografer : Da Ai News
|
| ||
Lakukan Sesuatu Bulan lalu, tim pendidik Tzu Chi dari Amerika Utara dating mengunjungi sekolah-sekolah di Haiti, untuk melihat bagaimana mereka bisa membantu. Salah satunya adalah Keshini Wijegoonaratna, Kepala Sekolah Yayasan Cinta Agung, sebuah taman kanak-kanak di Los Angeles. Seorang penduduk asli Sri Lanka menghabiskan waktu selama tiga minggu pada tahun 2004 untuk membantu korban tsunami di Asia tenggara.Tergerak oleh semangat yang sama, ia pun datang ke Haiti. "Ibuku selalu berkata bahwa hidup ini tidak hanya tentang bangun dan pergi bekerja. Lakukan sesuatu - seperti yang Master Cheng Yen katakan,” katanya. Pada hari kunjungan mereka, kebetulan hari itu merupakan hari kemerdekaan Haiti, sehingga anak-anak pun diberi bendera kenegaraannya dan dapat menyambut para donaturnya dengan sebuah hadiah kecil. Gempa bumi yang mengerikan membuat banyak gedung sekolah menjadi puing-puing namun hal itu tidak menghentikan para siswa dan guru untuk kembali berdiri. Cinta yang Yayasan Buddha Tzu Chi terus berikan adalah menabur benih-benih kebaikan, selalu memberi, dan cinta kasih. (Sumber: www.tzuchi.org, diterjemahkan oleh: Riani Purnamasari/He Qi Utara) | |||
Artikel Terkait
Mengajak Para Lanjut Usia Mengenal Aula Jing Si
22 Juni 2017Untuk mengenal lebih dalam dan lebih dekat tentang Tzu Chi, Tan Guan Nio (69) mengajak 83 umat gereja Santo Yoseph Matraman berkunjung ke Tzu Chi Center, Sabtu, 17 Juni 2017. Umat gereja ini berasal dari komunitas Adi Yuswo atau lebih dikenal dengan komunitas para lanjut usia.
Berbagi Berkah, Berbagi Hidup
08 April 2013 Pasien diberikan obat dan saran perihal cara-cara hidup sehat dengan penuh pengertian dan kesabaran. Apabila pasien harus dirujuk ke rumah sakit, maka penjelasan yang diberikan kepada mereka disampaikan dengan tenang agar tidak berujung pada suasana yang tegang.Pengalaman Membuat Sebuah Pembelajaran
10 Juli 2014Walaupun tidak ada korban jiwa namun kerugian yang timbul mencapai ratusan juta dan untuk sementara warga yang tidak mempunyai sanak saudara di Palembang harus tinggal di tenda pengungsian.








Sitemap