Jaga Diri dengan Paham SADARI
Jurnalis : Fanggela Hartono (He Qi Tangerang), Fotografer : Fanggela Hartono (He Qi Tangerang)
Lily Santoso, Ketua Tzu Chi komunitas He Qi Tangerang memberikan kata sambutan dan merasa bersemangat karena seminar SADARI ini memberikan manfaat dan edukasi yang baik dan benar tentang kanker, sehingga peserta bisa mengetahui lebih dini dan mendapatkan pengobatan yang lebih baik.
Pada hari Jumat, 24 April 2026, relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Tangerang bekerja sama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengadakan seminar Sosialisasi Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara di Universitas Pradita Gading Serpong. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan breast awareness, yaitu proses mengenali payudara sendiri agar mengetahui keadaan normal payudara sehingga dapat mengenali apabila ada perubahan dari keadaan normal.
Para peserta yang terdiri dari sebanyak 79 relawan dan umum, 6 orang tim Pradita, 4 orang dari YKPI, 2 dari TIMA mengikuti seminar dengan serius dan antusias. “Bagus seminarnya. Aku sebelumnya pernah denger tentang SADARI (Periksa Payudara Sendiri), tapi belum terlalu memahami. Dengan ikut seminar ini, aku bener-bener dapet banyak pengetahuan baru. Intinya aku dapet banyak ilmu baru. Ditambah lagi, pembicaranya bawainnya menarik, jadi nggak bosen,” ungkap salah satu peserta, Meliani (37).
Peserta seminar lain, Lim Hui Tju (54) juga berpendapat yang sama, “Bagus, penjelasannya pakai bahasa sehari-hari, jadi mudah dimengerti. Cara penyampaiannya humoris. Sering-sering adain sosialisasi lagi.”

Dokter Hardina Sabrina, MARS selaku pembicara berinteraksi dengan para peserta tentang melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri).
Kanker merupakan penyakit yang ditandai dengan tidak terkendalinya pertumbuhan dan penyebaran sel abnormal. Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering dijumpai dan menjadi penyebab kematian kedua pada wanita di Indonesia. Satu dari delapan wanita akan mengalami kanker payudara dan 85% dijumpai tanpa ada riwayat kanker payudara dalam keluarga. Gejala kanker payudara adalah perubahan pada kulit payudara, adanya benjolan, puting susu melekuk atau tertarik ke dalam.
Oleh karena itu, dr. Hardina Sabrina, MARS selaku pembicara menyampaikan betapa pentingnya deteksi dini kanker payudara sebelum terlambat, mulai dari usia 12 tahun dengan cara SADARI setiap bulan. SADARI dilakukan antara hari ke-7 sampai ke 10 setelah hari pertama menstruasi. Apabila sudah menopause atau tidak haid lagi, dilakukan di tanggal yang sama setiap bulannya. Langkah-langkah SADARI adalah 3D, yaitu dilihat, diraba, dipencet. Jikalau ditemukan adanya keluhan saat melakukan SADARI, maka dilanjutkan dengan SADANIS (Pemeriksaan oleh Tenaga Medis). Usia 20 – 39 tahun, minimal 3 tahun sekali, sedangkan usia di atas 40 tahun, minimal 1 tahun sekali.

Prigina memberikan flyer SADARI kepada peserta seminar.
Lebih lanjut, dr. Dina, panggilan akrabnya menjelaskan, bila terdapat benjolan atau perubahan pada payudara, sebaiknya diperiksa menggunakan alat mammografi setahun sekali untuk mengetahui ada tidaknya suatu keganasan. Apabila diperlukan, tenaga medis akan menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan USG payudara.
Dokter Dina pun mengatakan bahwa sampai saat ini, belum diketahui penyebab kanker payudara, tetapi faktor resikonya yang dapat dihindari seperti mengonsumsi alkohol, lemak, obesitas, rokok dan kurangnya mengonsumsi serat. Beliau juga berpesan agar tidak perlu takut dan malu untuk memeriksakan diri ke dokter sedini mungkin sebelum terlambat karena semakin awal penanganan kanker, maka angka harapan hidup akan semakin tinggi.

Peserta seminar menyimak penjelasan dr. Hardina Sabrina dengan antusias.
Untuk mencegah kanker payudara, dr. Dina menyarankan agar melakukan olah raga rutin sebanyak 3 kali seminggu selama 1 jam atau 150 menit/ minggu, pola makan seimbang dan bervariasi, serta menghindari stres. Di akhir seminar, peserta mendapat kesempatan untuk berlatih mendeteksi adanya tanda-tanda kelainan di payudara menggunakan alat peraga yang telah disediakan oleh tim YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia).
Editor: Metta Wulandari
Artikel Terkait
Peduli Masa Depan Bangsa
04 September 2018Jumat 27 Juli 2018, 5 orang relawan dari unit usaha Sinar Mas Downstream Tarjun yang tergabung dalam Xie Li Kalimantan Selatan 1 berkumpul di SMP Terbuka Desa Langadai,
Kabupaten Kotabaru dalam kegiatan sosialisasi kesehatan
penanggulangan HIV/AIDS.
Menanam Kebiasaan Makan Sehat untuk Hidup Lebih Baik
13 Februari 2026Mengingat pentingnya pengetahuan mengenai pola makan dan kesehatan, relawan Hu Ai Perintis Tzu Chi Medan bekerja sama dengan tim TIMA menggelar edukasi mengenai hidup sehat bersama para gan en hu.
Penyuluhan Kesehatan dan Bersumbangsih Kepada Masyarakat
25 Juni 2018Sabtu, 23 juni 2018, relawan Tzu Chi Biak
mengadakan sosialisasi kesehatan dan SMAT (Sosialisasi Misi Amal Tzu Chi) bagi
warga Desa Dofyo Wafor. Selain sosialisasi, para warga desa juga mendapatkan
celengan bambu.







Sitemap