Jalinan Jodoh yang Menumbuhkan Harapan

Jurnalis : Ardi Wijaya, Vinson Theodoric (Tzu Chi Medan), Fotografer : Ardi Wijaya (Tzu Chi Medan)
Pertama kali relawan Tzu Chi Medan komunitas Petisah datang melakukan survei ke rumah Wisnu, dimana kondisinya saat itu kesakitan dengan matanya selalu tertutup.

Di Minggu pagi yang cerah, langkah-langkah penuh kepedulian mengiringi perjalanan para relawan Yayasan Buddha Tzu Chi komunitas Petisah, Medan. Dengan hati yang tulus, mereka berangkat menjalankan misi kemanusiaan, mengunjungi sebuah permohonan bantuan pengobatan atas nama Wisnu Fitra Pranaya.

Sesampainya di kediaman sederhana Wisnu yang terletak di Jalan Pasar V Sei Mencirim, Jalan Baru Komplek Lentera Mencirim, suasana haru langsung terasa. Relawan mendapati Wisnu dalam kondisi lemas, terbaring dengan kedua mata yang tertutup rapat, seakan menahan rasa sakit yang tidak lagi mampu ia ungkapkan.

Awalnya, sekitar awal bulan Juli 2025 lalu, semua bermula dari hal yang tampak sepele. Debu yang masuk ke mata kanan membuatnya memerah dan sedikit gatal. Wisnu pun menganggapnya sebagai iritasi biasa. Setiap hari ia hanya meneteskan obat mata yang dibelinya dari apotek, berharap akan segera membaik. Namun, harapan itu perlahan berubah menjadi kekhawatiran. Dua minggu berlalu, kondisi matanya justru semakin parah rasa nyeri yang tak tertahankan muncul, disertai terdapat infeksi pada bagian bola mata, hingga membuat kedua matanya sulit untuk dibuka. Sebagai seorang kepala rumah tangga dengan dua orang anak, Wisnu harus tetap bertahan di tengah keterbatasan.

Wisnu sendiri bekerja sebagai buruh bangunan dan berjualan barang pecah belah secara keliling. Namun, dalam dua bulan terakhir, ia tidak mendapatkan panggilan kerja, sementara dagangannya pun sepi pembeli. Penghasilan yang biasanya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari kini bahkan tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan dasar keluarganya.

Dalam kondisi sakit yang semakin parah, Wisnu hanya bisa menahan rasa sakitnya. Bukan karena tidak ingin berobat, tetapi karena keterbatasan biaya yang membuatnya tidak memiliki pilihan. Hingga akhirnya, sebuah harapan datang dari kepedulian tetangga yang menyarankan untuk mengajukan bantuan kepada Yayasan Buddha Tzu Chi cabang Medan.

Tjendra Dermawan mendampingi Wisnu menjalani beberapa kali konsultasi dengan dr. Michael Je, Sp Mata untuk memastikan bagaimana kondisi mata Wisnu.

Melihat langsung kondisi Wisnu, hati para relawan pun tergerak. Mereka menyadari bahwa ini bukan sekadar keluhan biasa, melainkan kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Tanpa menunda, relawan langsung melakukan koordinasi melalui rapat daring bersama pengurus amal Tzu Chi Medan komunitas wilayah Petisah.

Dari hasil musyawarah tersebut, diputuskan bahwa pada hari Senin, 14 Juli 2025, Wisnu dibawa untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis mata. Pada hari itu, relawan yang merupakan koordinator kasus yakni Tjendra Dermawan, bersama beberapa relawan lainnya mendampingi Wisnu Fitra Pranaya untuk menjalani pemeriksaan dengan dr. Michael Je, Sp. M di Rumah Sakit Siloam Medan.

Dari hasil pemeriksaan, dr. Michael Je, Sp. M menyampaikan bahwa kondisi mata kanan Wisnu kemungkinan sudah mengalami infeksi sejak kurang lebih dua minggu dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Hal ini menyebabkan bagian kornea sudah infeksi dan berisiko serius. Bahkan, dokter menjelaskan bahwa dalam kondisi tersebut, mata dapat mengalami kerusakan berat hingga berujung pada kebutaan. Untuk tahap awal, Wisnu diberikan terapi berupa obat tetes dan obat minum, dengan harapan infeksi dapat dikendalikan dan mata masih bisa diselamatkan.

Selanjutnya 17 Juli 2025, relawan Tzu Chi kembali mendampingi Wisnu untuk kontrol kedua. Kabar baik mulai terlihat mata kanan Wisnu sudah bisa dibuka. Meskipun masih tampak kemerahan, nanah mulai berkurang. Dokter juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, seperti mencuci tangan sebelum memberikan obat, serta menghindari paparan debu dan asap rokok. Pengobatan pun terus berjalan dengan kontrol rutin dua kali dalam seminggu, didampingi oleh relawan Tzu Chi.

Relawan melakukan kunjungan kasih dan mengantarkan bantuan biaya hidup untuk Wisnu yang sudah sudah melakukan aktivitas karena kondisi mata yang memburuk.

Di tengah proses tersebut, relawan mulai menyadari perubahan pada diri Wisnu yang tampak lesu dan kurang bersemangat. Setelah diberi perhatian dan diajak berbicara, Wisnu pun akhirnya mengungkapkan kegelisahannya Ia merasa terbebani oleh kondisi ekonomi keluarganya yang semakin sulit. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari pun terasa berat, terlebih karena hingga saat ini ia belum dapat kembali bekerja. Mendengar hal tersebut, relawan tidak tinggal diam. Kepedulian yang muncul dari perhatian sederhana itu kemudian dibawa ke dalam rapat. Melalui musyawarah, diputuskan untuk memberikan bantuan tambahan berupa biaya hidup, agar Wisnu dapat menjalani proses pengobatan dengan lebih tenang, tanpa harus diliputi kekhawatiran akan kebutuhan dasar keluarganya.

Pada 21 Juli 2025, Wisnu kembali kontrol ke tempat praktik dr. Michael Je Sp. M di Jalan Singa. Dokter menyampaikan bahwa infeksinya sudah mulai berkurang, namun proses penyembuhan membutuhkan waktu yang cukup panjang, sekitar 5 hingga 6 bulan, tergantung daya tahan tubuh pasien. Dokter juga menganjurkan pemeriksaan lanjutan berupa tes darah (FBC) dan HIV rapid test. Relawan Tzu Chi pun segera sigap mendampingi Wisnu untuk melakukan pemeriksaan tersebut di RS Malahayati Medan.

Seiring membaiknya kondisi, jadwal kontrol pun diperpanjang menjadi setiap 10 hari sekali. Bahkan, dr. Michael Je Sp. M dengan penuh welas asih tidak memungut biaya konsultasi bagi Wisnu karena ia merupakan penerima bantuan Tzu Chi. Namun, pada 31 Juli 2025, kondisi Wisnu kembali menurun. Ia mengeluhkan rasa sakit yang muncul kembali seperti sebelumnya. Dari hasil pemeriksaan, dokter menemukan bahwa infeksi mulai menyebar dan kondisi mata semakin memburuk. Hasil laboratorium menunjukkan bahwa Wisnu negatif HIV, namun terdapat infeksi bakteri pada mata kanannya.

Pengambilan darah Wisnu untuk cek FBC dan HIV rapid tes di Rumah Sakit Malahayati Medan sehingga bisa dilakukan tindakan lanjutan.

Dokter menjelaskan bahwa kondisi mata Wisnu sudah cukup serius. Meskipun terapi obat masih diupayakan, risiko tetap ada. Bahkan, jika infeksi terus menyebar, mata dapat mengalami kerusakan permanen dan berpotensi mengganggu mata sebelahnya.

Keesokan harinya, kondisi Wisnu semakin mengkhawatirkan. Ia bahkan sempat pingsan akibat menahan rasa sakit yang luar biasa. Mendengar hal tersebut, relawan segera bergerak cepat membawa Wisnu untuk mendapatkan penanganan medis. Dalam pemeriksaan tersebut, dokter menyarankan agar tindakan pengangkatan bola mata bisa dipertimbangkan guna mencegah risiko yang lebih besar.

Menyikapi kondisi darurat ini, relawan turut membantu proses pembuatan BPJS Kesehatan agar Wisnu dapat menjalani tindakan medis dengan biaya yang lebih terjangkau. Karena tindakan tidak dapat dilakukan di tempat sebelumnya dengan menggunakan BPJS, relawan kemudian mengarahkan Wisnu untuk melanjutkan pemeriksaan di RS SMEC Medan bersama dr. Yurizal, Sp.M.

Kondisi Wisnu setelah operasi pengangkatan mata kanan.

Wisnu menjalani USG mata pada 15 Agustus 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa infeksi belum menyebar ke bagian belakang bola mata, sehingga dokter menyarankan untuk tetap melanjutkan pengobatan terlebih dahulu sambil menunggu BPJS aktif. Setelah BPJS aktif Wisnu kembali menjalani kontrol secara rutin. Kondisi sempat membaik, bahkan nanah hampir hilang. Namun, pada pertengahan September, muncul keluhan baru, bola mata mulai menonjol keluar. Setelah pemeriksaan lanjutan, dokter menyatakan bahwa mata kanan Wisnu sudah tidak dapat diselamatkan dan harus segera dilakukan operasi pengangkatan bola mata.

Awalnya, Wisnu merasa ragu dan takut. Namun, dengan perhatian, pendampingan, dan penjelasan penuh empati dari relawan, akhirnya Wisnu bersedia menjalani operasi. Hingga pada 18 September 2025, operasi pengangkatan bola mata kanan dilakukan di RS. SMEC Medan. Operasi berjalan dengan lancar. Relawan pun hadir memberikan kunjungan kasih, memastikan kondisi Wisnu dalam keadaan baik.

Pasca operasi, dokter memasang lensa bening untuk menjaga struktur bagian dalam mata. Wisnu juga diingatkan untuk menjaga kebersihan dan memastikan proses penyembuhan berjalan dengan baik. Terakhir, 30 November 2025, kontrol menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kondisi luka telah kering dan tidak diperlukan kontrol lanjutan.

Meski pengobatan telah selesai, pendampingan relawan tetap berlanjut. Wisnu mulai beradaptasi dengan kondisi barunya. Perlahan, semangat hidupnya kembali tumbuh. Senyum yang sempat hilang kini kembali menghiasi wajahnya. Wisnu pun mulai kembali berjualan secara keliling, meskipun masih bertahap demi menjaga kondisi kesehatannya. Kondisi fisiknya semakin membaik, berat badan meningkat, dan semangatnya untuk menafkahi keluarga kembali bangkit. Bahkan, istrinya pun telah mendapatkan pekerjaan, sehingga kehidupan keluarga mereka perlahan menjadi lebih mandiri.

Kunjungan kasih relawan Tzu Chi setelah Wisnu menjalani operasi pengangkatan mata kanan. Kondisi Wisnu sudah jauh membaik dan ceria.

Pendampingan selama sembilan bulan membuahkan hasil yang penuh syukur. Tjendra Dermawan selaku koordinator mengungkapkan rasa syukurnya karena dapat menjalin jodoh baik dengan Wisnu. Ia merasa bersukacita dapat mendampingi sejak tahap awal pengobatan hingga Wisnu menjalani operasi pengangkatan mata kanannya. Pendampingan ini pun masih terus berlanjut hingga Wisnu benar-benar pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sediakala.

Dalam proses pendampingan tersebut, Tjendra merasakan berbagai suka dan duka bersama Wisnu dan keluarganya. Ia juga semakin memahami bahwa bantuan pengobatan tidak hanya berfokus pada penyembuhan penyakit, tetapi juga pada meringankan beban batin penerima bantuan.

“Saya semakin mengerti bahwa dalam bantuan pengobatan, kita bukan hanya mengobati penyakitnya saja, tetapi juga harus meringankan kerisauan penerima bantuan dengan memperhatikan kondisi keluarganya. Dengan begitu, mereka bisa menjalani pengobatan dengan lebih tenang dan penuh semangat,” ungkap Tjendra. Ia pun merasa sangat bahagia melihat kondisi Wisnu yang kini berangsur pulih dan sudah dapat kembali bekerja untuk menjalankan perannya sebagai kepala rumah tangga.

Bantuan untuk Wisnu telah berakhir dengan baik di bulan Maret 2026. Wisnu pun tidak merasa keberatan atas hal tersebut. Ia mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas bantuan yang telah diterimanya selama ini. “Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah membantu pengobatan mata saya hingga sembuh. Terlebih kepada para relawan yang selama ini sudah banyak membantu saya, hingga saya bisa kembali bekerja dan berjualan,” ucap Wisnu.

Wisnu kini sudah sehat dan kembali mencari nafkah untuk keluarganya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa memiliki tubuh jasmani yang sehat merupakan berkah yang tak terhingga. Meskipun seseorang memiliki kecukupan secara materi, kondisi tubuh yang tidak sehat akan membuat kehidupan terasa berat untuk dijalani. Sebaliknya, ketika kondisi ekonomi terbatas, sakit yang dialami pun dapat menjadi beban yang semakin sulit karena keterbatasan akses terhadap pengobatan yang layak. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menjaga dan merawat tubuh jasmani ini dengan sebaik-baiknya, serta memanfaatkannya untuk terus berbuat kebajikan dan menolong sesama. Seperti Kata Perenungan Master Cheng Yen “Hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk memberi manfaat bagi sesama.”

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Sahabat Jiwa Bagi Oma Siana

Sahabat Jiwa Bagi Oma Siana

15 Juli 2020

Oma Siana Loande (78) beranjak dari kursinya dengan tertatih-tatih ketika Rita Malia, dan Wey Alam relawan Tzu Chi dari He Qi Tangerang tiba di depan rumahnya. Saking bahaginya menyambut mereka, hampir saja ia lupa kalau kakinya bengkak akibat infeksi di jari kaki. 

Jejak Kebaikan yang Tak Terhapus Waktu, Kisah Penerima Bantuan Tzu Chi

Jejak Kebaikan yang Tak Terhapus Waktu, Kisah Penerima Bantuan Tzu Chi

23 Februari 2026

Waktu boleh berlalu belasan tahun, namun bagi Andi Gunawan, kebaikan relawan Tzu Chi kepada ia dan keluarganya di awal tahun 2014 akan selalu terkenang dan terpatri di hatinya.

Bangkit dari Keterpurukan, William Optimis Menatap Masa Depan

Bangkit dari Keterpurukan, William Optimis Menatap Masa Depan

21 September 2023

Bantuan yang diberikan Tzu Chi, juga pendampingan relawan rupanya memberi dampak yang begitu besar bagi William (23) untuk bangkit dari rasa putus asa pasca kecelakaan yang menimpanya. Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) itu kini lebih optimis menatap masa depan.

Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -