Jangan Lupakan Tekad Awal di Lautan Formasi Waisak

Jurnalis : Metta Wulandari, Pien Ong (He Qi Jakarta Utara 1), Fotografer : Arimami Suryo A, Anand Yahya, Raymond (He Qi Jakarta Utara 2), Stephen Ang (He Qi Jakarta Utara 3), Pien Ong (He Qi Jakarta Utara 1)
Minggu 10 Mei 2026, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia memperingati tiga hari besar, hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia. Tahun ini 1.500 orang bergerak selaras membentuk formasi aksara “Mo Wang” dan “Chu Xin” yang bermakna “Jangan Lupakan Tekad Awal”.

Di tempat yang sama, pada momen Waisak yang sama, semangat itu kembali menyala. Dua belas tahun lalu, ribuan insan berkumpul di Lapangan Teratai Tzu Chi Center untuk menyalakan harapan dan menyatukan hati dalam semangat cinta kasih universal. Kini, pada 10 Mei 2026, langkah itu kembali terulang dalam suasana yang lebih mendalam dan penuh makna.

Setelah 12 tahun sejak terakhir kali formasi Waisak berskala besar digelar di lapangan tersebut, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kembali menghadirkan lautan manusia yang bergerak selaras membentuk aksara “Mo Wang Chu Xin” yang bermakna “Jangan Lupakan Tekad Awal”, yakni tekad awal ketika bergabung ke Tzu Chi. Di bawah langit senja Waisak, setiap gerakan yang tertata menjadi simbol perjalanan batin setiap insan yang hadir.

Persembahan bunga dan air menandai dimulainya prosesi Waisak.

“Mo Wang” menjadi pengingat agar setiap orang tidak melupakan niat awal ketika melangkah di jalan kebajikan. Sementara “Chu Xin” mengajak semua kembali menjaga hati yang murni dan tulus seperti saat pertama kali tergerak untuk berbuat baik. Dalam keheningan yang penuh keteraturan itu, 1.500 peserta seolah melebur menjadi satu kesatuan, menghadirkan keindahan yang tak hanya terlihat oleh mata, tetapi juga menggetarkan hati.

Momentum Waisak tahun ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan 60 tahun Tzu Chi Taiwan sekaligus ulang tahun Master Cheng Yen ke-90. Enam dekade perjalanan Tzu Chi bermula dari tekad sederhana Master Cheng Yen bersama 30 ibu rumah tangga di Taiwan yang menyisihkan uang belanja mereka demi membantu sesama. Dari langkah kecil penuh ketulusan itu, cinta kasih terus berkembang hingga menjangkau berbagai penjuru dunia.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, mengungkapkan rasa syukurnya karena setelah sekian lama prosesi pemandian rupang Buddha kembali dapat dilaksanakan secara khidmat di ruang terbuka. Ia juga mengenang bahwa 17 tahun lalu, tepatnya 10 Mei 2009, Aula Jing Si melakukan peletakan batu pertama di lokasi yang sama. Hari ini, Lapangan Teratai kembali menjadi saksi perjalanan panjang nilai-nilai kebajikan yang terus diwariskan lintas generasi.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, mengungkapkan rasa syukurnya karena setelah sekian lama prosesi pemandian rupang Buddha kembali dapat dilaksanakan secara khidmat di ruang terbuka.

Menurut Liu Su Mei, tema “Jangan Melupakan Tekad Awal” bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pengingat agar setiap orang mampu menjaga niat baik yang pertama kali muncul saat tergerak membantu sesama. Sebab dalam perjalanan menapaki Jalan Bodhisatwa, keyakinan dan tekad perlu diwujudkan melalui praktik nyata. Ketika seseorang mampu mempertahankan niat awalnya, maka seluruh perjalanan hidup sesungguhnya menjadi proses belajar sekaligus melatih diri.

“Master Cheng Yen pernah berkata, dalam “belajar” kita juga harus “tersadarkan”. Di jalan Tzu Chi, kita perlu memiliki keyakinan, tekad, dan praktik nyata. Kita harus yakin kepada Master. Setelah memiliki tekad, kita juga harus melaksanakannya dan mewujudkannya dalam tindakan. Dengan demikian, Tzu Chi dapat terus berkelanjutan. Kita juga harus menghormati dan memahami semangat serta silsilah Dharma Tzu Chi. Dengan begitu, saat menghadapi rintangan di Jalan Bodhisatwa, kita dapat perlahan-lahan mengatasinya,” ungkap Liu Su Mei.

Intan (empat dari kanan), relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 2, merasa bahwa menjadi pembawa persembahan bukan hanya tentang berjalan membawa persembahan, melainkan juga membawa rasa syukur, ketulusan hati, dan doa yang tulus bagi semua makhluk.

Getaran makna itu juga dirasakan oleh para relawan yang terlibat langsung dalam prosesi pembawa persembahan. Intan, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 2, mengaku awalnya diliputi keraguan ketika diminta mengikuti barisan persembahan. Ia takut tidak mampu berdiri lama dan khawatir tidak dapat mengikuti rangkaian gerakan dengan baik. Namun perlahan, melalui latihan demi latihan, hatinya mulai tersentuh.

Pada gladi resik terakhir, ketika musik mulai mengalun dan doa dilantunkan bersama, Intan merasakan suasana batin yang berbeda. Saat melangkah menuju altar membawa persembahan, lalu menyentuh air dan bunga sambil memanjatkan doa, ia merasakan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Hembusan angin di Lapangan Teratai seolah melengkapi kesejukan suasana yang menyelimuti seluruh prosesi. Baginya, menjadi pembawa persembahan bukan hanya tentang berjalan membawa persembahan, melainkan juga membawa rasa syukur, ketulusan hati, dan doa yang tulus bagi semua makhluk.

“Pengalaman ini membuat saya merasa lebih dekat dengan nilai-nilai kebajikan dan kebersamaan. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari momen suci dan indah ini,” tutur Intan haru.

Kesan serupa juga dirasakan Benny Salim, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 1. Meski cuaca siang itu sangat panas, ia justru merasakan sukacita melihat begitu banyak relawan hadir dengan tulus demi menyukseskan Waisak. Baginya, tema kembali ke tekad awal menjadi pengingat penting di tengah berbagai tantangan yang muncul selama menjalani Jalan Bodhisatwa.

Benny Salim, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 1 menyadari bahwa Tzu Chi merupakan ladang besar untuk melatih diri. Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, ia selalu mengingat kembali alasan pertama kali bergabung di Tzu Chi.

Ia menyadari bahwa Tzu Chi merupakan ladang besar untuk melatih diri. Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, ia selalu mengingat kembali alasan pertama kali bergabung di Tzu Chi, yakni untuk berbuat kebajikan bagi orang lain. Benny juga merasakan suasana Waisak tahun ini begitu khidmat karena bukan hanya relawan yang hadir, tetapi juga ada 98 anggota Sangha serta masyarakat umum yang ikut ambil bagian dalam formasi. Antusiasme dan kebersamaan yang tercipta membuat semua orang merasa bersatu hati dalam semangat cinta kasih universal.

“Saya merasa kesatuan hati dan bersyukur bisa ikut andil di dalam perayaan hari, Di hari ini saya berpesan mari kita semua bisa bersumbangsih, bersatu hati, jangan pernah menyerah untuk berbuat kebaikan,” tuturnya.

Kembalinya formasi Waisak di Lapangan Teratai setelah belasan tahun menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kebajikan tidak pernah benar-benar padam. Ia hidup di dalam hati setiap insan yang terus berjalan bersama menjaga harmoni. Di tempat yang sama, pada momen Waisak yang sama, semangat itu terus tumbuh lebih matang, lebih luas, namun tetap berakar pada ketulusan yang sama seperti saat pertama kali dinyalakan dahulu.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia Irene Umar juga turut hadir dalam perayaan ini. Ia mengungkapkan bahwa prosesi Waisak di Tzu Chi terasa damai, hangat, dan penuh makna. Menurutnya, setiap orang dapat menjadi “lilin kecil” yang membawa terang dan kebaikan bagi sekitar.


Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia Irene Umar juga turut hadir dalam perayaan ini. Ia mengungkapkan bahwa prosesi Waisak di Tzu Chi terasa damai, hangat, dan penuh makna. Menurutnya, setiap orang dapat menjadi “lilin kecil” yang membawa terang dan kebaikan bagi sekitar.

“Dengan kondisi dunia yang seperti sekarang, masing-masing dari kita itu seperti lilin-lilin kecil. Tapi kita harus nyalain. Jadi Waisak ini menurut aku , ya mengingatkan aku pada hal-hal yang mendasar, yang kita capai, kesuksesan, segala sesuatu yang duniawi, itu mulai dari (cahaya) kita sendiri juga,” kata Irene Umar.


Perayaan ini pun menjadi momen refleksi untuk kembali mengingat tujuan hidup, sekaligus menumbuhkan harapan dan kedamaian bersama.


Artikel Terkait

Waisak Tzu Chi 2018: Kerja Sama Dalam Kemanusiaan

Waisak Tzu Chi 2018: Kerja Sama Dalam Kemanusiaan

14 Mei 2018
Sebanyak 106 umat Gereja St. Fransiskus Xaverius, Tanjung Priuk, mengikuti perayaan Tiga Hari Besar Tzu Chi: Hari Raya Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia pada Minggu, 13 Mei 2018.
Waisak Tzu Chi 2018: Merayakan Waisak Dalam Kesederhanaan

Waisak Tzu Chi 2018: Merayakan Waisak Dalam Kesederhanaan

14 Mei 2018
Peringatan Hari Waisak, Hari Tzu Chi Internasional, dan Hari Ibu Sedunia di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Tanjung Balai Karimun berjalan dengan baik dan lancar. Semoga doa yang tulus yang telah dipanjatan oleh setiap orang yang hadir dapat menjadikan dunia bebas dari bencana, masyarakat aman dan damai, serta hati manusia dapat tersucikan.
Waisak Tzu Chi 2018: Keharmonisan Dalam Keberagaman

Waisak Tzu Chi 2018: Keharmonisan Dalam Keberagaman

14 Mei 2018

Selain relawan Tzu Chi, kegiatan ini juga selalu dihadiri para tokoh dari berbagai agama di Indonesia. Doa jutaan insan kali ini dihadiri sebanyak 43 pemuka agama di antaranya pemuka agama Buddha, Katolik, Hindu, dan Konghucu. Ini menunjukkan suatu keharmonisan dalam keberagaman.


Beramal bukanlah hak khusus orang kaya, melainkan wujud kasih sayang semua orang yang penuh ketulusan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -