Jing Si Talk: Budaya Humanis Buddhis

Jurnalis : Dina (He Qi Utara), Fotografer : Stephen Ang (He Qi Utara)

foto“Humanistic and Socially Engaged Buddhism” (Budaya Humanis Buddhis dan Terlibat Secara Sosial) ini merupakan tema yang dibawakan Agus Hartono, Wakil Pemimpin Umum Majalah dan Buletin Tzu Chi dalam acara Jing Si Talk.

 


Jing Si Talk untuk pertama kalinya menghadirkan pembicara dari yayasan yang bergerak di bidang misi budaya kemanusiaan (3 in 1), yaitu Agus Hartono Shixiong, yang merupakan Wakil Pemimpin Umum Majalah dan Buletin Tzu Chi. Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Jing Si Books and Café Pluit pada tanggal 14 Agustus 2011 ini, Agus Hartono Shixiong membawakan materi tentang “Humanistic and Socially Engaged Buddhism” (Budaya Humanis Buddhis dan Terlibat Secara Sosial).

 

 


Sebelum memasuki topik lebih dalam mengenai tema dari sharing yang dibawakan, Agus Shixiong mengatakan bahwa setiap ajaran apapun  adalah kebenaran, seperti yang Buddha katakan bahwa banyak sekali jalan menuju pencerahan. “Siapapun yang ingin belajar dharma sang Buddha walaupun memiliki keterbatasan dalam hal interlektual dan latar belakang apapun, namun apabila memiliki ketekunan maka pencerahan akan dapat dicapai. Dengan beraneka ragamnya aliran dan ajaran di dunia maka akan memperkaya wawasan seseorang,” ujar Agus Shixiong.

Agus Shixiong mengatakan bahwa Master Cheng Yen merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di Buddhis, seperti halnya dalam sejarah Tzu Chi yang dimulai dari tahun 1966, yang didasari dari kata “Demi ajaran Buddha dan demi makhluk hidup” yang diwariskan oleh guru Master Cheng Yen, yaitu Master Yin Shun. Untuk menwujudkan hal ini maka dalam Tzu Chi terdapat 4 misi dan 8 jejak langkah.  Sedangkan untuk muridnya Master Cheng Yen mewariskan sesuatu yang sangat luar biasa, yaitu “Hati Buddha tekad guru”.

foto  foto

Keterangan :

  • Agus Shixiong mengatakan bahwa Master Cheng Yen merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di Buddhis, seperti halnya dalam sejarah Tzu Chi yang dimulai dari tahun 1966, yang didasari dari kata “Demi ajaran Buddha dan demi makhluk hidup”.(kiri)
  • Sebanyak 25 relawan dan masyarakat umum mengikuti kegiatan Jing Si Talk yang diadakan di Jing Si Books and Cafe Pluit, Jakarta Utara.(kanan)

Master Yin Shun di kenal sebagai pengusung dari Humanistic Buddhism (HB) di Taiwan, yang mana perintis utama dari HB adalah Master Taixu di Tiongkok. Menurut Master Yin Shun, agama Buddha yang humanis adalah inti dari ajaran Buddha dan harus bermanfaat bagi orang banyak. Agama Buddha bukanlah agama yang menyembah berhala dan Master Tai Xu ingin meluruskan persepsi orang terhadap agama Buddha, maka terciptalah Humanistic Buddhism yang kemudian Master Chen Yen melanjutkan budaya humanis ini. Humanistic Buddhism ini juga berkembang pesat di sejumlah daerah di Taiwan.

Ada beberapa karakteristik Humanistic Buddhism: berorientasi pada kemanusiaan, penekanan pada kehidupan sehari–hari, bersumber pada kebaikan, memberikan kebahagiaan, tak lekang oleh waktu, dan bersifat universal tanpa perbedaan. Inilah karakteristik dari HB. Sedangkan untuk Socially Engaged Buddhism (SEB) lebih berkembang di negara barat. Tokoh Buddhis dunia yang menciptakan SEB adalah Bikkhu Ven Thich Nhat Hanh yang terinspirasi dari Master Taixu dan Master Yin Shun. Untuk Socially Engaged Buddhism juga memiliki beberapa karakteristik, yaitu keseimbangan antara meditasi dan ajaran Buddha, terlibat secara sosial kemasyarakatan dalam upaya melenyapkan penderitaan, dan terlihat ke dalam persoalan sosial, ekonomi, lingkungan, perdamaian, dan ketidakadilan. Agus Shixiong memperkenalkan beberapa tokoh–tokoh yang mempraktikkan Humanistic dan Socially Engaged Buddhism, antara lain YM Dalai Lama, Maha Ghasananda, dan Bikkhu Ven Thich Nhat Hanh,

Memperkaya wawasan, menjernihkan pikiran dan mencari sumber dari setiap ajaran merupakan tujuan dari Agus shixiong dalam memperkenalkan tokoh–tokoh Buddhis, karena setiap tokoh mempunyai ciri dan kekhasannya masing- masing, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menerapkan inti dari ajaran Buddha: melenyapkan penderitaan manusia.

  
 

Artikel Terkait

Menyemai Bibit Cinta Kasih, Memanen Kebahagiaan

Menyemai Bibit Cinta Kasih, Memanen Kebahagiaan

03 April 2013 Kunjungan kasih menjadi ajang menjalin hubungan cinta kasih antara relawan dan mantan pasien. Tujuannya adalah memastikan kesehatan pasien pascaoperasi.
Anak-anak dan Pelestarian Lingkungan

Anak-anak dan Pelestarian Lingkungan

17 Juni 2011
Satu set tempat sampah sumbangsih relawan Tzu Chi langsung diletakkan di sekolah sehingga langsung dapat dimanfaatkan oleh anak-anak serta orang tua mereka juga akan menjadi lebih tahu pentingnya pemilahan sampah.
Mengajak Dokter dan Tenaga Medis

Mengajak Dokter dan Tenaga Medis

18 Maret 2014 TIMA berfungsi mendukung kegiatan Tzu Chi Indonesia di bidang kesehatan. Dengan banyaknya kegiatan rutin Tzu Chi Indonesia, TIMA pun dituntut untuk semakin memiliki dokter-dokter yang humanis.
Memiliki sepasang tangan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, sama saja seperti orang yang tidak memiliki tangan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -