Kamp 4 in 1 2026: Belajar, Bertumbuh, dan Bersumbangsih

Jurnalis : Widosari (He Qi Jakarta Pusat), Triana Putri (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Arimami SA., Joelianto (He Qi Utara 1), Mery Hasan (He Qi Jakarta Barat 2), Widosari (He Qi Jakarta Pusat), Dok. Tzu Chi Palembang


Kehadiran empat Shifu dari Taiwan, De Ju Shifu, De Kan Shifu, De Fa Shifu dan De Wei Shifu (Dari kiri ke kanan) dan relawan Tzu Chi Taiwan menambah motivasi para peserta kamp dalam mendalami Dharma.

Kamp 4 in 1 yang berlangsung pada Sabtu dan Minggu, 26–27 September 2026, diikuti oleh 528 orang peserta yang merupakan relawan Tzu Chi dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Medan, Pekanbaru, Batam, Biak, Papua dan lainnya. Bagi para peserta, kegiatan ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperdalam Dharma, tetapi juga ruang untuk mengingat kembali niat awal, memperkuat tekad, dan mengisi batin dalam menapaki jalan kerelawanan.
 
Salah satunya adalah Juliana, relawan dari He Qi Cikarang, Xie Li Bekasi. Juliana bergabung dengan Tzu Chi pada tahun 2022 dan sesekali turut bersumbangsih sebagai relawan pemerhati di Tzu Chi Hospital. Pada akhir tahun 2024, Juliana dilantik menjadi relawan Abu Putih Logo (APL). Saat ini, ia juga mengemban tanggung jawab sebagai Wakil Misi Amal di Hu Ai Bekasi.
 


Juliana, relawan He Qi Cikarang (Hu Ai Bekasi) yang aktif sebagai relawan pemerhati di Tzu Chi Hospital dan Wakil Misi Amal Hu Ai Bekasi, memantapkan tekad untuk menjadi relawan Komite agar dapat terus bersumbangsih melalui tenaga dan pikiran.

Juliana mengikuti Kamp 4 in 1 karena ia ingin belajar lebih banyak sekaligus memantapkan tekadnya untuk dilantik menjadi relawan Komite Tzu Chi tahun 2026 ini. “Saya ingin menjadi relawan menjadi Komite Tzu Chi adalah agar dapat lebih banyak lagi membantu orang lain. Mungkin secara materi saya kurang mampu, tetapi saya masih bisa bersumbangsih melalui tenaga dan pikiran,” ungkapnya.
 
Keinginan Juliana untuk menjadi relawan sebenarnya telah tumbuh sejak tahun 2008. Saat itu, ia sering menyaksikan kisah-kisah nyata yang menyentuh hati melalui tayangan DAAI TV. Namun, karena anak-anaknya masih kecil, saat itu ia belum memiliki kesempatan untuk bergabung menjadi relawan Tzu Chi. “Keinginan itu akhirnya terwujud pada tahun 2022, dan terus mengalir sampai saat ini dan nanti,” katanya.
 
Menemukan Jalan Setelah Melewati Keraguan
Pengalaman berbeda dirasakan oleh Putri Millenia Hadinata, relawan asal Palembang yang menempuh perjalanan menuju Jakarta (untuk mengikuti kamp) dengan menggunakan bus. Putri bergabung dengan Tzu Chi sejak tahun 2022 dan dilantik menjadi relawan Abu Putih Logo (APL) pada tahun 2023. Saat ini, ia aktif mengemban tanggung jawab di bagian Sekretariat Xie Li Sako, Palembang.

 

Sempat merasa ragu dan ingin mundur, Putri Millenia Hadinata (tengah) akhirnya memantapkan tekad untuk dilantik menjadi relawan Komite setelah menyadari bahwa kesempatan berharga tidak selalu datang dua kali.

Putri mengikuti Kamp 4 in 1 setelah diajak oleh temannya, Mega. Ia ingin kembali mengisi dan menyegarkan batinnya karena sudah cukup lama tidak mengikuti kamp. Terakhir kali ia mengikuti kegiatan serupa adalah pada tahun 2023. “Kamp tahun 2023 dulu sangat berkesan bagi saya. Kali ini, saya ingin kembali mengisi batin agar tidak hanya sibuk menjalankan kegiatan, tetapi juga memahami makna di balik setiap kegiatan tersebut,” ujarnya.
 
Perjalanan Putri menjadi relawan tidak berjalan mudah. Setelah ayahnya meninggal dunia pada Mei 2022, sang ibu mendorongnya untuk mengikuti kegiatan Tzu Chi. Saat itu, Putri sebenarnya ingin berfokus pada karier dan pekerjaan. Ia sempat merasa terpaksa, tidak nyaman, dan kesulitan beradaptasi karena sebagian besar relawan berusia lebih tua darinya. “Apalagi belum ketemu teman yang dirasa cocok,” ungkapnya. Titik baliknya terjadi ketika Putri diberi tanggung jawab sebagai penanggung jawab Sekretariat di Xie Li (komunitas relawan) karena belum ada relawan lain yang dapat menangani tugas tersebut. Kepercayaan itu perlahan membuatnya semakin terlibat dan menemukan tempatnya di Tzu Chi.

Melalui kegiatan perhatian dan pendampingan, Putri belajar memahami kesulitan hidup orang lain serta membangun kedekatan dengan seorang penerima bantuan berusia 78 tahun layaknya seorang nenek sendiri. 

Putri sendiri bertekad untuk menjadi relawan Komite tahun ini karena terinspirasi setelah menyaksikan acara pelantikan relawan. Di sesi terakhir, para relawan yang dilantik menyanyikan lagu “Janji Bakti”. Lirik lagu tersebut menyentuh hatinya karena mengandung tekad untuk menjadi murid Master Cheng Yen. “Ketika mendengar lagu itu, hati saya benar-benar tersentuh. Saat itu, saya merasa bahwa saya harus menjadi relawan Komite,” kenangnya.
 
Namun semua tak berjalan mulus, meskipun seluruh persyaratan telah dipenuhi, Putri sempat goyah dan ingin mundur.  Namun, ia kembali mengingat bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali. “Perjalanan ini memang tidak mudah. Saya sempat ragu, tetapi kemudian berpikir, ‘mengapa saya tidak menggenggam kesempatan ini’? Usia Master Cheng Yen sudah tidak muda lagi dan tahun depan belum tentu ada kesempatan yang sama. Karena itu, saya memutuskan untuk dilantik tahun ini,” jelasnya.
 
Putri juga pernah menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pekerjaan dan kegiatan Tzu Chi. Sang ibu bahkan sempat mempertanyakan kesibukan serta banyaknya tanggung jawab yang ia emban. Namun, seiring berjalannya waktu, ibu Putri mulai melihat perubahan positif dalam diri Putri. Setelah aktif di Tzu Chi, Putri menjadi lebih sabar dan dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan. Perubahan tersebut akhirnya membuat sang ibu mendukungnya untuk terus berkegiatan.

Mulai dari kunjungan kasih hingga kegiatan pelestarian lingkungan semua dilakukan Putri dengan penuh sukacita.  

Dan di dalam kamp kali ini, salah satu materi yang berkesan baginya adalah materi yang disampaikan Huang Si Hao, Director, Lean Planning Office, Departement of Religious Affairs Tzu Chi Foundation mengingatkannya untuk selalu bersumbangsih dengan sepenuh hati. Tumbuh dalam lingkungan yang berkecukupan membuatnya dahulu tidak banyak memahami kesulitan hidup orang lain. Namun, setelah mendampingi seorang penerima bantuan berusia 78 tahun, ia belajar merasakan kedekatan seperti memiliki seorang nenek sendiri.
 
Hubungan yang terjalin melalui kegiatan perhatian dan pendampingan itu memberikan kesan mendalam baginya. Kini, penerima bantuan tersebut bahkan mulai aktif mengikuti kegiatan dan rajin datang ke depo pelestarian lingkungan. Hal-hal seperti inilah yang menginspirasinya.
 
Dari Rasa Kagum Menjadi Seorang Murid
Keinginan untuk menambah pengetahuan dan memperdalam jalinan jodoh dengan guru yang sangat dikaguminya membuat Suwarni, relawan Tzu Chi asal Batam, bersemangat mengikuti pelatihan 4 in 1 yang diadakan di Tzu Chi Center Jakarta. “Belajar lebih banyak dan mengikuti langkah para relawan senior dalam mengemban tanggung jawab juga menjadi motivasi saya,” kata Suwarni.
 
Di kamp kali ini, Suwarni mendapatkan banyak inspirasi dari para pemateri, khususnya bagaimana melatih kesabaran dalam mendampingi pasien penerima bantuan Tzu Chi. “Kita belajar melatih diri untuk mencapai kesadaran dan mengikis emosi ketika memberikan bantuan. Dalam memberikan bantuan, kita pasti bersentuhan dengan banyak orang. Kita bukan hanya memotivasi orang yang sakit, tetapi juga harus memberikan motivasi kepada pendampingnya, bertukar pikiran, dan mendengarkan mereka agar memiliki kekuatan untuk merawat orang yang sakit sehingga kesehatannya dapat membaik,” ujar Suwarni.

Melihat kehidupan para Shifu di Griya Jing Si menumbuhkan keinginan Suwarni untuk merasakan langsung praktik kemandirian dan pelatihan diri. 

Walaupun memiliki keyakinan yang berbeda, sebagai seorang murid Master, Suwarni mempunyai keinginan untuk merasakan langsung kehidupan di Griya Jing Si. “Kehidupan di Griya Jing Si menarik minat saya untuk menjalaninya. Walau hanya beberapa hari, saya ingin merasakan kehidupan para Shifu (biksuni), baik ketika bekerja di ladang, berada di dapur untuk menyiapkan makanan, maupun melakukan pekerjaan lainnya,” ungkapnya.
 
Panggilan Jiwa
Semangat yang sama datang dari Dewi Susanti, relawan Tzu Chi Sinar Mas. “Menjadi seorang Bodhisatwa harus mempunyai landasan dalam diri, seperti berdana atau memberi dalam segala hal, menjalankan sila, memiliki kesabaran, motivasi, dan kebijaksanaan. Sebagai seorang murid, kita juga harus mempunyai tekad yang kuat,” kata Dewi Susanti.
 
“Belajar dan sadar. Kalau kita belajar, belum tentu kita bisa langsung sadar. Namun, apabila kita terus belajar, mungkin akan tumbuh kesadaran bahwa inilah perbuatan baik yang kita lakukan. Inilah perbuatan penuh cinta kasih yang membuat kita selalu berada di jalan Bodhisatwa,” ungkapnya.

Bagi Dewi Susanti, relawan Tzu Chi Sinar Mas, menjadi relawan berarti meneruskan cinta kasih Master Cheng Yen kepada sesama sekaligus membina diri agar dapat menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat.

 
Bagi Dewi, menjadi relawan seperti sebuah panggilan jiwa. Tidak semua orang dapat memberikan waktunya. Karena itu, ia berusaha untuk selalu menyediakan waktu guna mengikuti kegiatan Tzu Chi. “Master Cheng Yen selalu memberikan cinta kasih kepada kita. Saya merasa menjadi perantara cinta kasih Master bagi sesama yang membutuhkan,” kata Dewi. Melalui pelatihan ini, Dewi semakin menyadari bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang berbuat baik, tetapi juga tentang melatih diri dan berusaha menjadi teladan bagi diri sendiri, keluarga, serta orang lain. Dengan demikian, ia dapat terus membina diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Kamp 4 in 1: Mengaplikasikan Dhamma Menjadi Bodhisattva dalam Melenyapkan Penderitaan

Kamp 4 in 1: Mengaplikasikan Dhamma Menjadi Bodhisattva dalam Melenyapkan Penderitaan

01 Oktober 2024

Kamp 4 in 1 pada 28-29 September 2024, menghadirkan 4 biksuni dari Griya Jing Si, di antaranya ada De Man dan De Jian Shifu yang juga membawakan materi pelatihan.

Kamp 4 in1 yang Istimewa dan Penuh Berkah

Kamp 4 in1 yang Istimewa dan Penuh Berkah

28 September 2024

Kamp 4 in 1 yang digelar pada 28-29 September 2024 kali ini sungguh penuh berkah dengan kehadiran empat Shifu dari Griya Jing Si Taiwan. Ditambah lagi rombongan relawan dari Tzu Chi Taiwan dan Malaysia.

Kamp 4 in 1 yang Istimewa dan Penuh Berkah

Kamp 4 in 1 yang Istimewa dan Penuh Berkah

07 Oktober 2024

Kamp 4 in 1 yang digelar pada 28-29 September 2024 kali ini sungguh penuh berkah dengan kehadiran empat Shifu dari Griya Jing Si Taiwan. Ditambah lagi rombongan relawan dari Tzu Chi Taiwan dan Malaysia. 

Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -