Kamp 4 in 1 2026: Memperkuat Tekad dan Arah Langkah Bersama

Jurnalis : Arimami Suryo A., Indrawati (He Qi Jakarta Pusat), Fotografer : Joelianto (He Qi Jakarta Utara 1), Fikhri Fathoni, Mery Hasan (He Qi Jakarta Barat 2), Pien Ong (He Qi Jakarta Utara 1)
Huang Si Hao Huang Si Hao, Director, Lean Planning Office, Departement of Religious Affairs Tzu Chi Foundation mengajak para relawan menyatukan hati dan kekuatan untuk bersama-sama menebarkan kebajikan di tengah masyarakat.

Selain para Shifu Griya Jing Si yang menjadi pemateri, pada Kamp 4 in 1 (26-27 September 2026) ini para relawan senior Tzu Chi Taiwan juga memberikan materi kepada para peserta. Materi yang disampaikan pun beragam temanya, ada yang memberikan semangat dan motivasi, ada yang mengingatkan tentang niat awal, dan ada juga yang memberikan arah serta langkah relawan dalam menjalankan Misi-Misi Tzu Chi kedepan.
 
Pada sesi materi bersama relawan senior Tzu Chi Taiwan, para peserta Kamp 4 in 1 dibagi ke dalam dua kelas. Untuk relawan Komite Tzu Chi bertempat di ruang Fu Hui Ting, lt. 2, Tzu Chi Center dan untuk relawan Abu Putih Logo (APL) dan relawan AP (Abu Putih) bertempat di Aula Lantai 4, Tzu Chi Center. Dengan penuh ketekunan, para peserta menyimak dan belajar dari pengalaman puluhan tahun para relawan senior Tzu Chi Taiwan.
 
Bersama di Titik yang Sama
Huang Si Hao, Director, Lean Planning Office, Departement of Religious Affairs Tzu Chi Foundation yang berkesempatan menjadi salah satu pembicara dalam Kamp 4 in 1 ini juga memberikan materi dengan tema Kesatuan Hati Bagaikan Bola Kristal yang Berpusat pada Titik yang Sama. Kepada para relawan ia pun membahas tentang bagaimana relawan Tzu Chi harus terus melangkah bersama-sama serta belajar ke depannya.
 
“Dengan belajar, kesempatan kita untuk sadar lebih besar. oleh karena itu kita terjun ke masyarakat untuk belajar setahap demi setahap.  Master Cheng Yen bilang belajar harus sepenuh hati, harus penuh kekuatan,” jelas Si Hao.
 
Lewat materinya, ia juga mengajak para peserta Kamp 4 in 1 untuk belajar memahami apa itu tampilan (luar) dengan sifat (di dalam). Jadi ketika melihat sesuatu hal maka pemahaman akan dua hal tersebut akan membantu kita melihat segala sesuatunya lebih utuh. Selain itu, Si Hao juga mengajak semua relawan agar memahami bahwa setiap orang memiliki kekuatan untuk berbuat kebajikan.
 
“Jadi kita harus memahami bahwa ada kekuatan kecil tapi fungsinya besar, dan sebaliknya kekuatan besar tapi fungsinya kecil. Oleh karena itu orang-orang yang kekuatannya kecil jika bersama-sama melakukan perbuatan yang benar, maka fungsinya akan menjadi besar,” papar Si Hao bersemangat.
 “Sekecil apa pun kekuatan yang dimiliki, jika dihimpun dalam niat yang sama, akan membawa manfaat besar bagi banyak orang,” kata Si Hao.

Dalam kesempatan ini, Si Hao juga mengisi materi untuk kelas relawan Komite Tzu Chi dan kelas relawan Abu Putih Logo (APL) dan relawan AP. Ia pun berpesan ketika para relawan sudah dilantik, maka sejatinya semuanya adalah murid Master Cheng Yen. “Apapun agama kita, asalkan kita insan Tzu Chi maka kita bisa menggali kekuatan semua makhluk supaya mereka punya kekuatan di tengah, seperti bola kristal yang berpusat pada titik yang sama,” jelasnya.
 
Lebih jauh, Si Hao juga mengajak semua relawan Tzu Chi agar bisa membuat semua orang merasa memiliki nilai, memiliki makna, memiliki fungsi, memiliki kekuatan, agar bisa lebih banyak bersumbangsih, menolong lebih banyak orang dari 1 generasi ke 50 generasi. “Baik pengurus atau bukan, sebagai relawan Tzu Chi kita harus terjun langsung, kita merasakan, kita terharu, lalu kita bersyukur. Inilah harapan kita. Dan Hari ini kita kembali di tekad awal kita sesuai dengan tema Kamp 4in1. Inilah yang kita lakukan, berjalan ke arah itu sama-sama bersama dengan Master Cheng Yen,” ungkap Si Hao.
 
Lima Puluh Tahun Mengikuti Langkah Master Cheng Yen
Selain Si Hao, ada juga Li Jing-Qi Shijie, seorang relawan senior Tzu Chi Taiwan yang telah mengikuti langkah Master Cheng Yen selama hampir 50 tahun. Beliau memiliki pengalaman panjang di bidang humaniora dan penyiaran, termasuk membawakan program radio selama lebih dari 38 tahun, menyampaikan ajaran Master Cheng Yen serta berbagai kisah Tzu Chi. “Tahun ini saya telah berusia 75 tahun, saya telah mengikuti jejak langkah Master Cheng Yen selama 51 tahun sejak berumur 24 tahun,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Li Jing-Qi, relawan senior Tzu Chi Taiwan sekaligus praktisi budaya humanis dan penyiar radio selama lebih dari 38 tahun, membagikan keteladanan dari perjalanannya mengikuti langkah Master Cheng Yen selama 51 tahun.

Dalam sharing-nya Jing Qi Shijie mengatakan saat mereka masih di Taoyuan akan naik pesawat, ada yang melihat Shifu dan melihat mereka memakai seragam. Orang itu lalu bertanya, “Apakah kami orang Tzu Chi?” Salah satunya adalah seorang bapak bermarga Zheng, yang sering menonton Da Ai TV, dan sangat suka mendengar Master Cheng Yen membabarkan Dharma. Dia bilang, karena ada ada Tzu Chi di Indonesia sehingga bisa menjadi damai. 
 
Jing Qi Shijie tinggal di Taiwan bagian tengah, kota Taichung. Tiap minggu ia akan pulang ke Hualien. Taichung di barat dan Hualien di timur, di tengahnya dipisahkan oleh Gunung Central. Dia selalu naik Kereta Api Cepat dari Taichung ke Taipei, lalu sambung kereta api biasa dari Taipei ke Hualien. Ketika menumpang kereta api, ia tidak memakai seragam, tapi selalu menekan tombol “Open” di lift, membantu orang lain keluar terlebih dahulu. Suatu saat, ada seorang ibu yang menyebutnya orang Tzu Chi, karena hanya orang Tzu Chi yang mau berbaik hati seperti itu. “Mendengar ini saya agak terkejut dan merasa terharu. Inilah teladan perilaku dari Master Cheng Yen,” ungkapnya.
Melalui pengalamannya, Li Jing-Qi Shijie mengajak para relawan dan staf badan misi Tzu Chi untuk mengamalkan semangat “Hati Buddha, Tekad Guru” dengan menebarkan cinta kasih universal dan menapaki Jalan Bodhisattva melalui tindakan nyata. 

Dalam Mahzhab Tzu Chi, dari dalam kita melatih ketulusan, kebenaran, keyakinan dan kesungguhan. Ke luar diri kita melatih cinta kasih, welas asih, sukacita dan keseimbangan batin. Master Cheng Yen berharap kita bisa membangkitkan Empat Ikrar Agung untuk membimbing para makhluk. Bertekad menghapus noda batin yang tiada habisnya dan berikrar untuk mencapai Kebudhaan. Dengan pikiran benar kita melenyapkan noda batin. Semua ini tidak berwujud namun untuk menjalankan Empat Misi Utama, yakni Misi Amal, Misi Kesehatan, Misi Pendidikan dan Misi Budaya Humanis. Dengan semangat ini diterapkan ke dalam tindakan yang bisa dijalankan.
 
“Perhatikan saat Shixiong-Shijie dilantik, hiasan yang disematkan di dada kita bertuliskan Hati Buddha, tekad guru. Hati Buddha adalah welas asih agung, dimana Master mengajarkan kita menjalankan cinta kasih universal. Lalu tekad guru adalah Master ingin kita menapaki Jalan Bodhisattva di dunia. Hati Buddha tak dapat disentuh namun dapat diamalkan. Bila bersumbangsih dengan cinta kasih universal di kumpulan orang banyak, itulah Hati Buddha. Ini merupakan harapan dari Master kepada kita semua,” jelasnya.
 
Menggerakkan Hati, Menyebarkan Dharma ke Tengah Masyarakat
Materi keempat dalam Kamp 4 in 1 dibawakan oleh Zeng Chun-Yu Shijie, relawan senior yang selama belasan tahun mengemban tanggung jawab sebagai Koordinator (He Xin) Bidang Pengembangan Budaya Humanis Tzu Chi Taichung. Bersama timnya, ia aktif menyebarluaskan nilai-nilai Jing Si Ren Wen dengan memperkenalkan DAAI TV, Majalah Jing Dian, serta berbagai buku Dharma dan ajaran Master Cheng Yen.

Zeng Chun-Yu Shijie, Koordinator (He Xin) Bidang Pengembangan Budaya Humanis Tzu Chi Taichung, berbagi pengalaman menggerakkan penggalangan hati dan menyebarkan nilai-nilai Jing Si Ren Wen kepada para peserta Kamp 4 in 1.


Dalam sharing-nya, Zeng Chun-Yu Shijie membagikan pengalaman para relawan Tzu Chi di Taichung, Taiwan, dalam menggerakkan penggalangan hati. Baginya, kegiatan tersebut merupakan tanggung jawab bersama yang harus terus dijalankan, apa pun tantangannya. “Kita semua adalah pengurus sehingga tidak akan membiarkan penggalangan hati terhenti. Kita harus memikirkan cara agar semua orang tetap menjalankannya,” ujarnya.
Taichung memiliki 32 He Qi dengan perkembangan penggalangan hati yang berbeda-beda. Sebagian He Qi bergerak pesat, sementara yang lain masih memerlukan dorongan. Untuk membangkitkan semangat bersama, perkembangan setiap He Qi diumumkan secara terbuka agar para relawan dapat saling belajar dan memberikan dukungan.
Bagi He Qi yang pergerakannya masih terbatas, para relawan dari tingkat Hu Ai dan Xie Li diberi kesempatan secara rutin untuk membagikan pengalaman serta sukacita Dharma yang mereka rasakan. Sharing dari relawan komunitas tersebut terbukti mampu menggerakkan hati dan membangkitkan semangat relawan lainnya.
Membawa Semangat Celengan Bambu ke Tengah Masyarakat
Upaya penggalangan hati tidak berhenti dalam lingkup komunitas. Para relawan juga turun langsung ke tengah masyarakat dengan mengunjungi toko-toko, memperkenalkan Tzu Chi, serta mengajak para pemilik usaha untuk menanam kebajikan melalui celengan bambu.
Setiap bulan, seluruh He Qi menetapkan satu hari khusus untuk menjalankan kegiatan penggalangan hati. Di He Qi tempat Zeng Chun-Yu Shijie bersumbangsih, kegiatan ini berhasil menggerakkan banyak relawan untuk ikut terlibat.
Ia kemudian menceritakan seorang relawan Abu Putih Logo (APL) yang sejak awal aktif melakukan penggalangan hati. Relawan tersebut telah menjalin jodoh dengan 120 toko dan dijadwalkan dilantik menjadi relawan Komite pada November 2026. Relawan itu memahami bahwa masih banyak orang yang memerlukan pertolongan sehingga dibutuhkan lebih banyak dana cinta kasih untuk menjangkau mereka.
“Jangan melupakan masa-masa celengan bambu,” pesan Zeng Chun-Yu Shijie.
Pada peringatan 60 tahun Tzu Chi, para relawan memang disibukkan oleh berbagai kegiatan. Namun, langkah untuk menggalang hati dan cinta kasih tidak boleh berhenti. Ketika mengunjungi masyarakat, relawan tidak hanya mengumpulkan dana, tetapi juga memperkenalkan Tzu Chi, memberikan perhatian, serta mencari tahu apakah terdapat warga di sekitar yang membutuhkan pertolongan.
Para relawan juga membagikan angpau berkah dari Master Cheng Yen sekaligus menceritakan makna yang terkandung di baliknya. Dengan demikian, kegiatan penggalangan dana menjadi kesempatan untuk menjalin hubungan, menyampaikan perhatian, dan menumbuhkan benih kebajikan. “Di Indonesia tentu juga menjalankannya, bukan? Setiap negara memiliki cara yang berbeda. Saya yakin Indonesia dapat melakukannya dengan sangat baik,” tuturnya.

Menjaga Mazhab dan Mewariskan Nilai Jing Si
Melalui semangat celengan bambu, Zeng Chun-Yu Shijie mengajak para relawan turun ke tengah masyarakat untuk menjalin jodoh baik, memberikan perhatian, dan menghimpun cinta kasih bagi mereka yang membutuhkan.

Selain menggalang hati, Zeng Chun-Yu Shijie mengingatkan para relawan untuk turut menjaga keberlangsungan DAAI TV, ceramah Master Cheng Yen, serta nilai-nilai yang menjadi dasar Mazhab Tzu Chi. “Mazhab kita adalah Mazhab Tzu Chi dan ajaran kita adalah ajaran Jing Si yang berlandaskan Sutra Makna Tanpa Batas,” jelasnya. Sejak Tzu Chi memasuki usia 50 tahun pada 2016, para insan Tzu Chi terus menapaki Jalan Bodhisattva yang luas dengan berpegang pada ajaran Buddha. Perjalanan tersebut perlu dijaga dan diwariskan melalui tindakan nyata sekaligus melalui penyebaran ajaran yang mudah dipahami oleh masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Zeng Chun-Yu Shijie juga memperkenalkan sepuluh jilid buku yang tersedia di Toko Buku Jing Si. Buku-buku tersebut menghimpun ceramah Master Cheng Yen selama 43 tahun, mencakup berbagai persoalan kehidupan sehari-hari yang disampaikan para relawan dan masyarakat kepada Master. Buku tersebut juga menjelaskan cara menjalankan Tzu Chi, latar belakang berdirinya Mazhab Tzu Chi, serta tekad dan misi para qing xiu shi atau praktisi pelatihan diri. Melalui kisah-kisah tersebut, pembaca dapat semakin memahami keteguhan para Shifu Griya Jing Si dalam menjalankan ikrar dan bersumbangsih dengan sepenuh hati. Secara khusus, jilid keenam memuat kisah mengenai Master Cheng Yen sehingga para pembaca dapat merasa semakin dekat dengan beliau.

Zeng Chun-Yu Shijie menegaskan bahwa Tzu Chi merupakan kelompok yang bersumbangsih kepada masyarakat sekaligus menjadi wadah pelatihan diri. Pelatihan diri bukan berarti mengasingkan diri dari kehidupan, melainkan hadir dan terjun langsung ke tengah masyarakat. Di sanalah seseorang belajar menghadapi berbagai rintangan dengan hati yang teguh.

Menikmati Teh, Menyerap Air Dharma
Salah satu cara kreatif yang dikembangkan di Taichung untuk menyebarkan Dharma adalah kegiatan bedah buku yang dipadukan dengan jamuan teh. Dalam suasana yang hangat, para peserta membaca buku bersama, mencatat pemikiran Master Cheng Yen, berdiskusi, dan menikmati teh sebagai simbol menerima air Dharma. Pada awal 2026, Zeng Chun-Yu Shijie mengadakan jamuan teh dan kegiatan membaca buku Master di komunitasnya. Ratusan peserta yang hadir mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh perhatian. “Apakah kegiatan seperti ini juga dapat dilakukan di Indonesia? Ada yang menyeduh teh, sementara yang lain membaca dan membahas isi buku sambil menikmati makanan ringan,” katanya kepada para peserta. Para peserta Kamp 4 in 1 pun kompak menjawab, “Iya.” Kegiatan yang bermula di Taichung tersebut kemudian berkembang dan diselenggarakan di berbagai Toko Buku Jing Si, antara lain di Beijing, Kunshan, dan Xiamen. Para relawan juga bertekad mengadakannya di Toko Buku Jing Si, Griya Jing Si.

Para peserta dengan tekun dan khidmat mendengarkan materi dari para pembicara. Kamp 4 in 1 kali ini diikuti oleh sebanyak 528 orang relawan yang berasal dari Jakarta dan berbagai kota lainnya di Indonesia.

Jamuan teh dan bedah buku itu berhasil menarik perhatian berbagai tokoh masyarakat dan pelaku usaha. Para peserta begitu menikmati kegiatan tersebut hingga tetap melanjutkan membaca dan berdiskusi saat waktu istirahat tiba. Melalui suasana yang sederhana dan akrab, Dharma dapat diterima dengan lebih dekat serta menyentuh hati banyak orang.

Zeng Chun-Yu Shijie menegaskan bahwa setiap insan Tzu Chi memiliki tanggung jawab untuk ikut menyebarkan Dharma. Buddha Dharma mengandung nilai yang mendalam, sedangkan ajaran Master Cheng Yen disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya penyebaran Dharma juga dikemas melalui berbagai kegiatan yang menarik bagi generasi muda, seperti lomba menggambar setelah mendengarkan kisah “Master Bercerita”, lomba bercerita, dan lomba menulis kaligrafi. Dengan cara tersebut, nilai kebajikan dapat dikenalkan sejak dini melalui kegiatan yang menyenangkan.

Sharing Zeng Chun-Yu Shijie mengingatkan bahwa penggalangan hati bukan sekadar menghimpun dana. Di dalamnya terdapat upaya menjalin jodoh baik, memberikan perhatian, dan mengajak lebih banyak orang mengambil bagian dalam kebajikan. Ketika Dharma dibawa ke tengah masyarakat melalui cara-cara yang hangat dan humanis, setiap perjumpaan dapat menjadi awal tumbuhnya cinta kasih.

Artikel Terkait

Kamp 4 in1 yang Istimewa dan Penuh Berkah

Kamp 4 in1 yang Istimewa dan Penuh Berkah

28 September 2024

Kamp 4 in 1 yang digelar pada 28-29 September 2024 kali ini sungguh penuh berkah dengan kehadiran empat Shifu dari Griya Jing Si Taiwan. Ditambah lagi rombongan relawan dari Tzu Chi Taiwan dan Malaysia.

Kamp 4 in 1: Inspirasi dari Taiwan dan Malaysia yang Membuka Kebijaksanaan

Kamp 4 in 1: Inspirasi dari Taiwan dan Malaysia yang Membuka Kebijaksanaan

30 September 2024

Kamp 4 in 1 kali ini menghadirkan pembicara dari Taiwan dan Malaysia. Yang Guan Xin dan Chen Su Xiang, relawan dari Taichung membawakan topik "4 in 1” dan awal terbentuknya sistem 4 in 1.  

Kamp 4 in 1 (2025): Dari Inspirasi Master Cheng Yen hingga Aksi Nyata Relawan

Kamp 4 in 1 (2025): Dari Inspirasi Master Cheng Yen hingga Aksi Nyata Relawan

29 September 2025
Kamp 4 in 1 kali ini menghadirkan banyak kisah inspiratif. Dari banjir Jakarta hingga program Bebenah Kampung, relawan membuktikan makna sejati dari “Kami Selalu Ada.”
Dengan keyakinan yang benar, perjalanan hidup seseorang tidak akan menyimpang.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -