Dengan khidmat, para peserta Kamp 4in1 dari seluruh wilayah di Indonesia melakukan pradaksina di Aula Jing Si, Tzu Chi Center, Jakarta Utara.
Memasuki hari kedua Kamp 4in1 yang berlangsung 26-27 September 2026 di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara kegiatan sudah dimulai sejak pagi hari. Dengan penuh kehidmatan, para peserta melakukan Kebaktian (37 Faktor Menuju Pencerahan, Ceramah Master Cheng Yen, Pradaksina, Tiga Perlindungan dan Pelimpahan Jasa) yakni melangkah dalam iringan doa dan rasa syukur menapaki jalan Bodhisatwa.
Setelah kebaktian, para peserta kemudian mengikuti sesi talkshow bersama ke empat Shifu dari Griya Jing Si, Huailen, Taiwan, yaitu De Ju Shifu, De Kan Shifu, De Fa Shifu dan De Wei Shifu yang bertajuk “Cinta Kasih Tanpa Rintangan”. Dalam sesi talkshow yang di moderatori oleh Jing Qi Shijie (relawan Tzu Chi Taiwan), para peserta di ajak mendengarkan kisah perjalanan para Shifu dalam menyebarkan cinta kasih kepada semua makhluk.
Saat membahas Griya Jing Si di Hualien, Taiwan, para Shifu bercerita tentang kehidupan di sana yang dipenuhi kesibukan, namun tetap berjalan harmonis. Meski berasal dari berbagai daerah dan negara, setiap orang saling mendukung dan menghormati satu sama lain, sehingga berbagai kegiatan dapat terlaksana dengan penuh kebersamaan dan keharmonisan.
Dalam kesempatan ini, De Ju Shifu membahas kondisi saat menghadapi situasi dan rencana yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dalam menghadapi semua kendala itu tentu teladan yang paling dekat adalah cinta kasih yang diajarkan Master Chen Yen. “Cinta kasih itu adalah perwujudan dari welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Dalam mengatasi ketidak seimbangan batin, senansiasa kita menggunakan Dharma Buddha, Dharma Master Cheng Yen untuk menghadapi semuanya. Kalau kita percaya bahwa cinta kasih kita lebih besar dari kendala kita, maka kita bisa melewatinya,” ucap De Ju Shifu.
Selanjutnya De Kan Shifu, juga memutar kembali ingatannya ketika pertama kali berkenalan dengan Ketua Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei. Termasuk ketika ia diminta membimbingnya terkait berbagai proyek yang sedang dijalankan. De Kan Shifu mengenang pengalaman tersebut sebagai proses pembelajaran yang sangat berarti. “Ketulusan, menjadi kunci untuk mewujudkannya. Dengan ketulusan, Tzu Chi Indonesia dapat terus berjalan dengan harmonis selama lebih dari 30 tahun,” kenang De Kan Shifu.
Sesi talkhsow dengan tema “Cinta Kasih Tanpa Rintangan” bersama keempat para Shifu yaitu De Ju Shifu, De Kan Shifu, De Fa Shifu dan De Wei Shifu (kiri ke kanan) yang dipandu langsung oleh Jing Qi Shijie (kanan baju biru).
Para peserta tampak bersemangat dan penuh perhatian mendengarkan sesi Talkshow yang dibawakan para shifu.
Begitu pula dengan De Fa Shifu yang juga mengingat saat pertama kali ke Griya Jing Si Taiwan di tahun 1998. Ia ingat di tahun itu, ada tugas di mana semuanya bekerja sama terutama untuk membantu penggalangan dana. Walaupun sebenarnya saat itu De Fa Shifu tidak inging mengikuti kegiatan itu, namun demi ajaran Buddha dan semua makhluk, ia mengingat kembali tidak boleh hanya mengikuti keinginan diri sendiri.
“Rintangan akan lebih mudah dilewati ketika kita bersedia melepaskan ego dan melihat ke dalam diri. Berani mengemban tanggung jawab serta bersedia bekerja sama merupakan bagian dari cara kerja Tzu Chi,” tegas De Fa Shifu.
Terakhir pembicaraan dalam sesi itu disampaikan oleh De Wei Shifu, yang juga membagikan pengalamannya saat pertama datang ke Griya Jing Si, Taiwan. Banyak hal yang belum pernah ia lakukan, salah satunya memasak untuk ratusan orang. “Dalam setiap proses hidup tentu ada rintangan. Namun, rintangan sering kali muncul, bisa di atasi dari cara kita menyikapinya. Jika hati dipenuhi rasa syukur dan terima kasih, kita tidak akan melihat perbedaan cara sebagai hambatan,” ucap De Wei Shifu.
Menjaga Kehidupan, Kesehatan dan Mencintai Diri
Selanjutnya, para peserta diajak untuk menyimak materi yang bertema “Menyehatkan Diri Sendiri dan Menjaga Orang Lain” yang dibawakan oleh Wakil Direktur RS Tzu Chi Tai Chung, Zhuang Su Ting.
Wakil Direktur RS Tai Chung, Zhuang Su Ting, memberikan materi “Menyehatkan Diri Sendiri dan Menjaga Orang Lain” kepada peserta Kamp 4 in 1.
Berawal dari niat untuk melepaskan penderitaan manusia dan telah meyaksikan serta merasakan sakit menjadi miskin dan karena miskin menjadi sakit, Master Cheng Yen berniat mendirikan rumah sakit untuk mengurangi penderitaan. Pada tahun 1986 saat didirikannya Rumah Sakit Tzu Chi Tai Chung, relawan bergantian untuk menjadi seorang relawan medis. Peran relawan medis bukan hanya mendampingi tetapi juga mengambil banyak peran yang dapat dilakukan. “Relawan harus menggunakan hati dalam mendampingi pasien,” ujar Zhuang Su Ting.
Dalam materi yang disampaikannya, Zhuang Su Ting juga memberikan arahan. “Kita sebagai relawan medis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bahwa sebagai relawan kita harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami, disampaikan dengan tenang, tidak terburu-buru, tegas namun lembut,” ucapnya.
Zhuang Su Ting juga menyampaikan bahwa menjadi relawan medis juga perlu memahami untuk menjaga beberapa hati yang penting yaitu hati pasien, hati keluarga pasien, hati tim medis dan hati kita sendiri.
Tetap Bersungguh Hati Dalam Kebajikan
Di dalam suasana Aula Jing Si yang penuh kehangatan, kegiatan dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh De Ju Shifu, bertema “Berpegang pada Hati Buddha dan Mengemban Tekad Guru.”
De Ju Shifu dengan kelembutannya menyampaikan materi yang bertajuk “Berpegang Pada Hati Buddha dan Mengemban Tekad Guru” kepada para peserta Kamp 4in1.
De Ju Shifu juga mengingat kembali Ceramah Master Cheng Yen saat Tzu Chi Indonesia memperingati ulang tahun ke-33 yang menyampaikan bahwa insan Tzu Chi dapat menjadi Bodhisatwa dunia melalui kebajikan. Ia juga menyinggung pencapaian relawan Tzu Chi Indonesia dalam menjalankan Misi-Misi Tzu Chi terwujud berkat para murid yang menanamkan “Hati Buddha, Tekad Guru” dalam diri mereka.
Dengan cinta kasih, mereka para relawan Tzu Chi dapat mengatasi kebencian, menumbuhkan kebajikan demi memberikan manfaat bagi masyarakat luas. “Mari saling memotivasi. Berapa pun lamanya waktu dan sejauh apa pun perjalanan yang ditempuh, dalam kondisi apa pun yang dihadapi, kita harus tetap teguh pada niat awal,” ucap De Ju Shifu.
Bersyukur dan Tumbuh Bersama
Setelah mengikuti dan mendengarkan sesi talkshow bersama para shifu, serta materi dari relawan Tzu Chi Taiwan para peserta juga berbagi pengalaman dan kesan yang mereka rasakan selama dua hari mengikuti Kamp 4in1.
Salah satunya pengalaman yang dirasakan oleh relawan Tzu Chi Medan, Yanti Yunita (37). Dalam kesempatan ini, ia hadir untuk melatih diri sekaligus memantapkan niatnya menjadi relawan Komite Tzu Chi. Pesan-pesan yang disampaikan para Shifu begitu melekat di hatinya. Rasa syukur juga ia rasakan selama mengikuti Kamp 4in1 kali ini.
“Saya sangat bersyukur atas bimbingan para senior dan kehangatan keluarga Tzu Chi yang senantiasa mendampingi saya dalam proses belajar. Melalui kamp ini, saya bertekad untuk menjadi komite tahun depan,” ucapnya Yanti Yunita penuh harap.
Relawan Tzu Chi Medan, Yanti Yunita, berbagi pengalaman dan kesan yang dirasakannya selama mengikuti Kamp 4 in 1 tersebut (kiri). Salah satu peserta, Christine Yuliana, relawan Tzu Chi Palembang, turut membagikan pengalaman dan kesan yang diperolehnya selama mengikuti Kamp 4in1 selama dua hari (kanan).
Hal serupa dirasakan relawan Tzu Chi Palembang, Christine Yuliana (41). Sebagai pribadi yang introvert, ia sebelumnya tidak terbiasa mengikuti organisasi. Namun, ia merasa hidupnya penuh berkah sejak menemukan Tzu Chi sebagai tempat untuk belajar dan melatih diri.
“Saya sangat beruntung tiga tahun lalu bertemu Tzu Chi. Bagi saya, Tzu Chi menjadi jawaban atas doa-doa saya. Saya selalu berdoa, ‘Tuhan, semoga dalam kehidupan ini saya bisa menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat, yang hidupnya tidak sia-sia,’” ucapnya dengan menahan air mata.
Ia pun semakin mantap menjalani perjalanan bersama Tzu Chi. “Saya percaya kepada Master Cheng Yen dan insan Tzu Chi. Saya yakin ini adalah jalan yang diberikan Tuhan kepada saya. Semoga saya dapat terus melangkah dan mewujudkan tekad untuk menjadi relawan Komite Tzu Chi pada tahun 2027 nanti,” ucap Christine.
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, memberikan pesan cinta kasihnya kepada peserta Kamp 4in1.
Rangkaian acara Kamp 4in1 ini kemudian ditutup dengan pesan cinta kasih dari Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei. Ia mengingatkan bahwa perjalanan Tzu Chi kini telah memasuki enam dekade, sementara Tzu Chi Indonesia telah hadir selama 33 tahun. Jika diibaratkan seperti manusia, usia tersebut merupakan masa yang produktif dan penuh harapan.
Dalam Kamp 4in1 yang telah berlangsung selama dua hari, Liu Su Mei juga menyampaikan terima kasih kepada para Shifu dan relawan Tzu Chi Taiwan yang terus mendampingi serta memberikan bimbingan kepada relawan Tzu Chi Indonesia.
“Selama dua hari ini kita telah banyak belajar. Kini kita harus berani memikul tanggung jawab dan tidak melupakan silsilah Dharma yang perlu terus diwariskan. Saya mendoakan semoga kita semua dapat menjadi murid yang membuat hati Master Cheng Yen merasa tenang dengan menjalankan apa yang telah kita pelajari,” harap Liu Su Mei.
Editor: Arimami Suryo A