Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026: Memperkuat Tekad dan Semangat Sebagai Fondasi Dalam Menebar Kebajikan

Jurnalis : Arimami Suryo A, Clarissa Ruth, Widosari Tjandra, Indrawati Widjaja (He Qi Jakarta Pusat) , Fotografer : Fikhri Fathoni, Kasun (He Qi Jakarta Utara 2), Tjin Men Hao (He Qi Jakarta Pusat), Pien Ong (He Qi Jakarta Utara 1)
Tzu Chi Indonesia mengadakan Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 Sesi 1 yang digelar dua hari pada 11-12 April 2026 di Tzu Chi Center dengan mengusung tema “Setiap orang memiliki potensi; ketika bersatu hati, potensi besar itu dapat terwujud.

Sebanyak 475 relawan Tzu Chi dari wilayah Jabodetabek dan Tzu Chi Cabang Sinar Mas mengikuti Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 Sesi 1 yang digelar dua hari pada 11-12 April 2026, di ruang Gou Yi Ting, Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Mengusung tema “Setiap orang memiliki potensi; ketika bersatu hati, potensi besar itu dapat terwujud.”, kamp ini menjadi momentum untuk memperkuat niat serta tekad bersama menjadi relawan Tzu Chi.

Pada kamp kali ini, para peserta diajak untuk melihat kembali sukacita para relawan dalam berbuat kebaikan, memahami arah dan tujuan, melihat gambaran besar misi, menyadari peran diri, memperkuat nilai di dalam hati hingga akhirnya bertumbuh menjadi pribadi yang berani memikul tanggung jawab. Karena setiap relawan memiliki fungsi dan peran yang sangat penting. Bukan dilihat dari besar kecil atau penting tidaknya, tetapi justru ketika setiap relawan mau menjalankan fungsinya dengan sepenuh hati, maka akan membawa manfaat bagi masyarakat luas.

“Semua rangkaian dalam kamp ini disusun agar pada akhirnya kita dapat mencapai tujuan yang sama yaitu membentuk relawan yang memiliki pengalaman dan keyakinan hati untuk menjalankan fungsi masing-masing demi perkembangan serta pertumbuhan komunitas dan misi Tzu Chi,” ungkap Wakil Ketua He Xin Indonesia 1, Wie Sioeng dalam sambutannya mengawali kamp.

Wakil Ketua He Xin Indonesia 1, Wie Sioeng dalam sambutannya mengatakan tujuan dari kamp ini untuk membentuk relawan yang memiliki pengalaman dan keyakinan hati untuk menjalankan Misi-Misi Tzu Chi.

Menumbuhkan Kebijaksanaan dan Tanggung Jawab

Untuk lebih memahami tekad menjadi relawan, pada materi pertama dan kedua para peserta kamp diajak untuk mendengarkan sharing yang dikemas dalam bentuk talkshow dari para relawan senior di Tzu Chi. Serta sharing dari para relawan junior di Tzu Chi yang memantapkan hati belajar untuk mengemban tanggung jawab di Tzu Chi.

Talkshow pertama dibawakan oleh Anie Widjaja, Denasari, dan Nilawaty yang telah bertahun-tahun menjalankan misi-misi Tzu Chi. Dalam kesempatan ini salah satu pembicara, Anie Widjaja berbagi kepada para peserta bagaimana sukacita 27 tahun menjadi relawan Tzu Chi. Awal bergabung di Tzu Chi, ia berniat ingin berbuat baik. Tapi seiring berjalannya waktu dan sering mendengarkan Dharma yang disampaikan Master Cheng Yen, Anie Widjaja menyadari bahwa yang diinginkan Master Cheng Yen adalah bukan hanya berbuat baik, tapi diri sendiri juga harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

“Jadi bukan hanya mengkoordinasikan kegiatan dari a-z, tapi lebih ke belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Bila dalam suatu kegiatan kita hanya ingin menyelesaikan saja kegiatan itu, maka kita sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar itu,” ungkap Anie Widjaja dalam sharingnya.

Relawan Tzu Chi Anie Widjaja, Denasari, dan Nilawaty membagikan pengalamannya bertahun-tahun menjalankan berbagai misi di Tzu Chi dan dipandu oleh Christine Tjen sebagai moderator.

Anie Widjaja juga mengajak para peserta agar terus belajar dari hal-hal kecil di Tzu Chi dan jangan takut salah saat diminta untuk mengemban tanggung jawab dan peran dalam kerelawanan. “Di Tzu Chi itu selalu ada pendampingan dan semua dilakukan bersama, jadi tidak sendirian. Tidak perlu takut salah, yang ditakutkan adalah kita tidak mau melangkah. Seperti Kata Perenungan Master Cheng Yen. Jika tidak pernah kita mengalaminya, maka kita tidak akan pernah bertumbuh kebijaksanaan kita,” jelasnya disambut tepuk tangan para peserta kamp.

Berlanjut ke relawan-relawan junior Tzu Chi yang menyampaikan sharingnya dalam talkshow kedua. Ada Hengking (relawan Tzu Chi Bandung), Ita (relawan Tzu Chi Palembang), dan Linda (relawan Tzu Chi Pekanbaru). Mereka bertiga menceritakan pengalamannya belajar memantapkan hati untuk mengemban tanggung jawab di Tzu Chi.

Ita, relawan Tzu Chi Palembang bercerita tentang pengalamannya waktu awal bergabung di Tzu Chi kemudian diajak untuk ikut menjadi tim penerjemah Xun Fa Xiang. Awalnya ia merasa ragu dan takut karena menerjemahkan Dharma yang ada dalam Xun Fa Xiang tentu berbeda kosa katanya dengan percakapan sehari-hari. Ita juga harus bangun pagi-pagi sekali

“Satu waktu di awal-awal bergabung saya ditawari untuk bergabung menjadi tim penerjemah Xun Fa Xiang. Pas di awal sedikit shock karena harus menterjemahkan Ceramah Master Cheng Yen secara live. Sempat ragu, tetapi berkat kegigihan dan pendampingan, serta perhatian dari relawan senior yang berusaha meyakinkan saya, akhirnya ya bisa,” cerita Ita.

Ita (relawan Tzu Chi Palembang) bersama Hengking (relawan Tzu Chi Bandung) dan Linda (relawan Tzu Chi Pekanbaru) membagikan pengalamannya saat talkshow tentang bagaimana sukacita mengemban tanggung jawab di Tzu Chi.

Ia juga teringat dengan salah satu Kata Perenungan Master Cheng Yeng yaitu Jangan menganggap remeh diri sendiri karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga. Itu menjadi salah satu faktor yang mendorongnya serta dukungan keluarga. “Keluarga terutama suami mendukung dengan memberikan lampu hijau untuk terus berkegiatan. Bahkan dia juga berkata ‘kamu punya potensi bisa mandarin, jangan dong disimpan. Coba bantu sebisanya, ini Dharma kan bagus, Xun Fa Xiang juga disiarkan, itu kan pahala’. Kata suami saya begitu,” lanjut Ita bercerita.

Akhirnya Ita pun menerima berkah menjadi penerjemah Xun Fa Xiang sampai saat ini. “Ternyata saya bisa dan sangat bersukacita sampai hari ini,” ungkapnya singkat.

Para pembicara lainnya satu per satu juga berbagi kisahnya, dari mulai perubahan diri hingga bagaimana belajar mengemban tanggung jawab di Tzu Chi. Dari awalnya yang merasa tidak bisa dan tidak mampu, tetapi setelah dilakukan dan dijalani bersama relawan Tzu Chi lainnya segala tanggung jawab dapat dijalankan dengan baik.

Semua adalah Bagian yang Membangun Tzu Chi

Dalam dunia Tzu Chi, semua relawan memiliki peran masing-masing. Besar atau kecil perannya, semua adalah bagian penting yang terus membangun Tzu Chi hingga tumbuh dan berkembang hingga saat ini. Melanjutkan sukacita yang dibagikan oleh relawan senior dan junior, sesi berikutnya mengajak peserta melihat lebih dalam makna kontribusi dalam kerelawanan melalui talkshow bertema “Peranan relawan: besar atau kecil, semua memiliki arti.” Pada sesi ini, relawan Wie Sioeng, Miau Djung, dan Koerniawan membagikan pengalamannya.  

Saat memasuki materi, para peserta diajak untuk melihat kembali, apakah selama ini kita terlalu menilai peran dari besar kecilnya, bukan dari ketulusan yang menyertainya. Miau Djung kemudian membagikan perjalanannya dengan penuh kehangatan. Ia mengingat masa awalnya menjadi relawan, ketika tugas-tugas yang diberikan terasa sederhana, namun justru di sanalah ia menemukan kebahagiaan.

“Sekecil apa pun tugas yang diberikan, kalau dijalankan dengan rasa syukur, itu akan membuka peluang bagi kita untuk menerima peran yang lebih besar,” ungkapnya.

Melalui talkshow bertema “Peranan relawan: besar atau kecil, semua memiliki arti.”, relawan Wie Sioeng, Miau Djung, dan Koerniawan membagikan pengalamannya membersamai para relawan Tzu Chi di komunitas masing-masing.  

Baginya, setiap kesempatan adalah ruang belajar. Tidak ada penolakan, tidak ada perbandingan hanya keinginan untuk terus bertumbuh. Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa peran bukanlah tentang besar atau kecil, melainkan tentang hati yang menjalankannya.

Sebuah kisah sederhana yang ia bagikan pun meninggalkan kesan mendalam. Dalam sebuah kegiatan bakti sosial, seorang relawan dengan sukarela membersihkan toilet tugas yang mungkin dihindari banyak orang. Namun dilakukan dengan kesungguhan dan tanpa keluhan. Hasilnya mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya terasa luas: kenyamanan bagi banyak orang, dan pelajaran tentang kerendahan hati yang tak terlupakan.

“Kontribusinya mungkin terlihat kecil, tapi sebenarnya tidak sepele dan bisa memberikan manfaat bagi banyak orang.” Ia pun mengibaratkan peran relawan seperti matahari dan bulan. “Keduanya mungkin muncul di waktu yang berbeda, tetapi sama-sama memberikan cahaya. Seperti relawan, perannya berbeda, tetapi saling melengkapi,” cerita Miau Djung.

Sharing yang dibagikan narasumber lainnya juga menjadi sebuah pengingat bagi seluruh relawan. Karena dalam sebuah komunitas, sering ada pemahaman bahwa peran kecil tidak terlalu penting. Padahal komunitas tidak dibangun oleh satu atau dua orang, tetapi oleh banyak orang yang menjalankan perannya masing-masing.

Tekad Baru, Semangat Baru

Para peserta Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 Sesi 1 yang mengikuti rangkaian materi juga mendapatkan pengetahuan serta pengalaman baru dari sharing para narasumber. Mereka seperti mendapatkan tekad baru serta semangat untuk terus belajar mengemban tanggung jawab di Tzu Chi dan menjadi prbadi yang lebih baik lagi.

Dengan penuh sukacita, sebanyak 475 relawan Tzu Chi dari wilayah Jabodetabek dan Tzu Chi Cabang Sinar Mas bersama-sama mengikuti Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 Sesi 1.

Seperti yang dirasakan oleh Heni Rosita, relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Cikarang (Hu Ai Bekasi). Dari sharing para relawan yang menjadi narasumber, ia dapat pelajaran serta wawasan yang baru. “Tadi saat sharing relawan yang senior juga sudah dijelaskan bahwa di Tzu Chi kita tidak dibiarkan sendiri dan terus didampingi. Waktu saya dipercaya untuk menjadi Ketua Hu Ai Bekasi, saya awalnya tidak mau, tapi Denasari shijie berkata ‘jagan takut, nanti banyak relawan yang akan mendampingi’. Itu yang membuat saya menjadi semangat dan yakin. Dan benar saja, setelah berjalan saya tidak sendiri, tapi terus didampingi,” ungkap relawan yang dilantik menjadi Komite Tzu Chi pada 2024 ini.

Bagi Heni Rosita, dalam dunia kerelawanan kita harus memberi contoh baik dan pendampingan kepada relawan baru. “Supaya regenerasi terus berjalan di Tzu Chi, istilahnya seperti mendidik anak sendiri,” jelasnya.

Peserta lainnya yang bersemangat mengikuti Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 Sesi 1 ini adalah Tina, relawan Tzu Chi dari komunitas Jakarta Barat 3 (Hu Ai Bogor). Sejak pukul 05.00, ia sudah berangkat dari Bogor menuju Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara. Semenjak dilantik menjadi relawan Abu Putih Logo (APL) di tahun 2025, Tina rajin dan bersemangat mengikuti pelatihan relawan, salah satunya kamp kali ini.

“Dalam kesempatan ini saya ingin terus belajar melatih diri,” ungkap relawan yang menjadi Wakil Korbid Pengobatan di Hu Ai Bogor ini.

Tina pun mengungkapkan dari pengalaman para narasumber talkshow hari ini, ia banyak mendapat pelajaran penting khususnya dalam pelatihan diri. “Pengertian dan memaafkan orang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hal atau masalah kecil kita besar-besarkan. Dan tentunya sekecil apapun kemampuan kita jika kita bersatu hati bisa menjadi kekuatan yang besar. Jadi saya belajar sesama relawan harus saling bekerja sama sehingga terjalain hubungan yang harmonis,” ungkap Tina bersemangat.

Dr. Santoso Kurniawan yang aktif menjadi relawan di Xie Li Tzu Chi Hospital merasa bersemangat setelah mendengar sharing dari para relawan.

Begitu pula dengan dr. Santoso Kurniawan yang sejak tahun 2019 bekerja di Tzu Chi Hospital. Dalam dunia kerelawanan, ia aktif menjadi relawan di Xie Li Tzu Chi Hospital dan He Qi Jakarta Barat 2. Saat mengikuti sesi talkshow, ia merasa relawan senior maupun junior sama-sama bersukahati, karena punya pengalaman yang dapat memberi motivasi dan menambah semangat untuk menjalankan kegiatan di Tzu Chi.

“Sangat menarik dan memotivasi sharingnya. Tentunya menambah semangat serta membuat kita jadi lebih berani mengemban tanggung jawab. Intinya jangan menunda-nunda untuk berbuat baik,” jelas dr. Santoso Kurniawan.

Lebih lanjut dr. Santoso Kurniawan juga menyoroti tentang talkshow yang membahas tentang peran masing-masing relawan di Tzu Chi. “Ini sangat menarik karena mengingatkan kembali akan tujuan menjadi seorang relawan dan selalu mengingat Visi Misi Tzu Chi, yang disampaikan Master Cheng Yen. Ini me-refresh kembali tekad dan tujuan awal kita menjadi relawan,"paparnya.

Dua Sesi untuk Lebih Memotivasi

Dengan terus bertambahnya barisan relawan Tzu Chi menjadi tantangan tersendiri bagi Tim Training Tzu Chi Indonesia. Untuk itu, pelaksanaan Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 dibagi menjadi 2 bagian. Sesi pertama untuk relawan He Xin 1 (Jabodetabek) dan sesi kedua yang akan dilaksanakan pada 18-19 April 2026 mendatang untuk relawan He Xin 2 (luar kota).

Salah satu relawan Tzu Chi mempraktikkan tata krama makan di Tzu Chi dalam sesi kelompok-kelompok kecil.

Wakil Ketua Tim Training Tzu Chi Indonesia, Yuli Natalia Cheng pun bersyukur karena barisan relawan Tzu Chi semakin bertambah banyak. Jadi berdasarkan pengalaman beberapa tahun kemarin, karena banyak relawan luar kota yang hadir dan menginap, jadi relawan khususnya Jakarta dan sekitarnya banyak yang tidak menginap karena domisilinya dekat dengan Tzu Chi Center.

“Makanya saat ini jadi kita bagi menjadi dua sesi pelatihannya agar semua shixiong dan shijie mendapatkan pengalaman seperti menginap dan menerapkan tata krama pelatihan di Tzu Chi. Jadi sebelum mengikuti pelatihan di Tzu Chi Taiwan, para peserta kamp ini harus bisa menerapkan dengan baik dulu di sini,” ungkap Yuly Natalia Cheng.

Dalam pelatihan hari pertama ini, selain mendapatkan pencerahan dari para relawan Tzu Chi senior para peserta juga dibagi menjadi grup-grup kecil seperti dalam materi Tata Krama Tzu Chi serta interaksi grup pada malam hari yang mengambil materi dari cerita-cerita Master Cheng Yen. Bukan tanpa tujuan, selain mendekatkan antar sesama relawan, kegiatan ini juga untuk mendekatkan para peserta dengan sosok Master Cheng Yen dan memaknai hal dalam setiap ajarannya bagi kehidupan.

Wakil Ketua Tim Training Tzu Chi Indonesia, Yuli Natalia Cheng (tengah) bersama panitia Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 Sesi 1 lainnya membahas tentang pembagian kelompok-kelompok peserta.

“Sebagai contoh materi Tata Krama Tzu Chi, kan biasanya peserta hanya mendapat materi satu arah saja, kali ini mereka mempraktikkan dan membawakan materi sendiri untuk kelompoknya. Harapannya agar materi dapat langsung meresap karena langsung dipraktikkan dalam kelompok kecil. Selain itu mereka juga bisa lebih saling mengenal dan bisa menjalin kerjasama dengan baik,” tutup Yuli Natalia Cheng.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Kamp 4in1 2019: Tekad, Tanggung Jawab, dan Keyakinan dalam Bertindak

Kamp 4in1 2019: Tekad, Tanggung Jawab, dan Keyakinan dalam Bertindak

31 Juli 2019

Sabtu 27 Juli 2019, di paruh hari kedua pelatihan Kamp 4in1 2019, berlanjut dengan materi bertemakan tekad dan tanggung jawab insan Tzu Chi. Relawan senior dari Tzu Chi Taiwan, Gan Wan Cheng membagikan pengalaman hidupnya selama 18 tahun menjalani Misi Pelestarian Lingkungan.

HUT Tzu Chi Ke-30: Kebahagiaan Menjadi Relawan Tzu Chi Selama Puluhan Tahun

HUT Tzu Chi Ke-30: Kebahagiaan Menjadi Relawan Tzu Chi Selama Puluhan Tahun

19 September 2023

Para relawan Tzu Chi yang terbilang sudah senior umumnya menjalankan kegiatan Tzu Chi dengan hati yang gembira. Beberapa relawan ini punya resep supaya dapat konsisten bersumbangsih di Tzu Chi dan menjalaninya dengan sukacita dan ketulusan.

Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026: Memperkuat Tekad dan Semangat Sebagai Fondasi Dalam Menebar Kebajikan

Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026: Memperkuat Tekad dan Semangat Sebagai Fondasi Dalam Menebar Kebajikan

11 April 2026

Tzu Chi Indonesia mengadakan Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 Sesi 1 yang digelar dua hari pada 11-12 April 2026 di Tzu Chi Center dengan mengusung tema “Setiap orang memiliki potensi; ketika bersatu hati, potensi besar itu dapat terwujud.

Dengan keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -