Didampingi relawan pemerhati di Tzu Chi Hospital, Jocelyn berserta ibunya menemui dr. Edi Setiawan untuk melakukan cek kesehatan setelah menjalani Immunosuppressive Therapy.
Memiliki anak yang tumbuh dengan sehat dan ceria adalah harapan setiap orang tua. Setiap proses tumbuh kembangnya menjadi sumber senyum bahagia bagi orang tua. Namun pada kenyataannya, ujian berupa penyakit bisa datang menghampiri buah hati tercinta. Ujian ini datang pada Jocelyn (6), putri tercinta Ibu Bong Li Lie (44) dan Bapak Tjhang Siat Khiong (50) yang berasal dari Singkawang, Kalimantan Barat. Gadis kecil yang periang itu menderita anemia aplastik.
Anemia aplastik adalah kelainan darah langka dan serius, yaitu kondisi ketika sumsum tulang berhenti memproduksi sel darah baru secara memadai. Kondisi ini menyebabkan penurunan drastis pada seluruh jenis sel darah, yaitu sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.
Lulu, salah satu relawan Tzu Chi yang mendampingi Jocelyn menjalani perawatan di Tzu Chi Hospital menemani Li Lie, ibunda Jocelyn, saat menunggu hasil cek kesehatan.
Sejak awal tahun 2025, Jocelyn mengalami memar di beberapa bagian tubuh, seperti kaki dan tangan, hingga berwarna biru keunguan. Orang tua Jocelyn sempat membawanya ke dokter umum dan kondisinya berangsur membaik. Namun pada awal Agustus, gejala tersebut timbul kembali, ditambah dengan demam tinggi serta tangan dan jari yang membengkak. Dokter umum kemudian melakukan pemeriksaan DBD dengan hasil negatif dan leukemia dengan hasil negatif. Karena keterbatasan fasilitas medis, Jocelyn dirujuk ke RSUD Singkawang.
Selanjutnya, orang tua Jocelyn memutuskan untuk membawanya berobat ke Kuching, Malaysia, yaitu ke Borneo Medical Centre untuk pemeriksaan lanjutan pada 26 November. Dari hasil pemeriksaan di sana, Jocelyn didiagnosis menderita anemia aplastik.
Kondisi Jocelyn sebelum menjalani Immunosuppressive Therapy di Tzu Chi Hospital.
Setelah menjalani pemeriksaan dan penanganan medis, tim medis Borneo Medical Centre menyarankan Jocelyn untuk melanjutkan pengobatan ke Tzu Chi Hospital, Jakarta, karena ia disarankan menjalani transplantasi sel punca darah. Saat ini, Tzu Chi Hospital memiliki layanan transplantasi sel punca darah untuk pasien anak dengan dukungan tim dokter, perawat, analis laboratorium, farmasi, dan staf lainnya yang sudah terlatih secara profesional. Layanan ini memberikan harapan baru bagi kesembuhan anak-anak yang mengalami kelainan darah.
Setelah mendapat rekomendasi penanganan medis ke Tzu Chi Hospital, orang tua Jocelyn langsung membawanya menuju Jakarta. Jocelyn tiba di IGD Tzu Chi Hospital pada 7 Desember 2025. Saat itu, kadar trombositnya berada di angka 6.000. Jocelyn kemudian menjalani rawat inap selama tiga hari serta menerima transfusi darah.
Dokter Edi Setiawan menjelaskan kepada Li Lie kondisi Jocelyn pascamenjalani Immunosuppressive Therapy. Menurut dr. Edi Setiawan, kondisi Jocelyn berangsur membaik.
Selama berada di Tzu Chi Hospital, Jocelyn ditangani oleh dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A(K), MHA. Selanjutnya, dr. Edi Setiawan menyiapkan rencana medis untuk Jocelyn. Langkah pertama adalah mencari donor sumsum tulang untuk Jocelyn. Saat itu, yang memungkinkan menjadi donor adalah kakaknya yang berusia delapan tahun. Pendonor dan pasien kemudian menjalani tes Human Leukocyte Antigen (HLA). Jika tingkat kecocokan dengan donor kurang dari 50 persen, maka Jocelyn disarankan menjalani Immunosuppressive Therapy yang akan dipantau selama tiga bulan.
“Untuk penanganannya, yang pertama kita pikirkan adalah transplantasi. Kita periksa kakaknya, ternyata tidak cocok. Akhirnya kita masuk ke skema berikutnya, yaitu Immunosuppressive Therapy,” jelas dr. Edi Setiawan.
Mendampingi Perkembangan Jocelyn
Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan Tzu Chi Hospital hadir untuk membantu kesembuhan Jocelyn. Dengan pendampingan yang dilakukan relawan Tzu Chi dan penanganan medis dari Tzu Chi Hospital, pada 9 Februari 2026 Jocelyn menjalani Immunosuppressive Therapy yang selesai pada 27 Februari 2026.
Setelah menjalani Immunosuppressive Therapy, kondisi Jocelyn berangsur membaik. Namun, ia tetap harus rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan laboratorium yang dipantau langsung oleh dr. Edi Setiawan.
“Hasilnya cukup menyenangkan. Sekalipun belum mencapai kadar yang normal, tetapi melihat tren kenaikan dari hemoglobin, sel darah putih, dan trombositnya, sekalipun masih rendah, kondisi ini tidak mengindikasikan saya untuk melakukan tindakan apa pun, termasuk transfusi. Jadi, bisa dibilang hasil dari Immunosuppressive Therapy yang kita lakukan berjalan dengan baik,” jelas dr. Edi Setiawan.
Relawan Tzu Chi saat melakukan kunjungan kasih ke rumah Jocelyn di Pademangan, Jakarta Utara. Kunjungan kasih dilakukan untuk memantau perkembangan Jocelyn dan memberikan dukungan kepada keluarga.
Lulu, salah satu relawan Tzu Chi yang mendampingi Jocelyn selama perawatan di Tzu Chi Hospital, bercerita bahwa jalinan jodoh yang tercipta dengan keluarga Jocelyn bermula saat ia melakukan kunjungan ke Singkawang.
“Sebenarnya waktu itu saat kami sedang melakukan kunjungan ke Singkawang, ada informasi mengenai anak, yaitu Jocelyn, yang sedang sakit dan membutuhkan bantuan. Saat itu Jocelyn sudah berada di Jakarta, lalu kami melakukan survei ke rumahnya. Mereka hidup cukup prihatin, rumahnya juga bukan milik sendiri,” cerita Lulu.
Kini, setelah Jocelyn menjalani Immunosuppressive Therapy, rasa bahagia dirasakan Lulu melihat kondisi Jocelyn yang kian membaik. Apalagi, Jocelyn tetap menunjukkan semangat dan keceriaannya selama masa perawatan.
“Sekarang sudah lebih baik, trombositnya terus naik. Anaknya memang luar biasa semangatnya. Waktu saya bertemu, trombositnya masih 5.000, tetapi dia masih bisa nyanyi-nyanyi,” tambah Lulu.
Dengan perkembangan kesehatan Jocelyn yang semakin membaik, membawa harapan baru bagi keluarganya.
Hingga saat ini, pendampingan terus dilakukan oleh relawan Tzu Chi, salah satunya melalui kunjungan kasih ke rumah Jocelyn di Pademangan, Jakarta Utara, pada Jumat, 29 Mei 2026. Relawan Tzu Chi terus memantau perkembangan Jocelyn, mulai dari masa perawatan, penanganan medis, kepulangan ke rumah, hingga nanti Jocelyn dapat kembali beraktivitas seperti bersekolah.
Aci, salah satu relawan Tzu Chi yang melakukan kunjungan ke rumah Jocelyn, merasa kagum dengan kondisi Jocelyn saat ini. Aci juga berharap Jocelyn dapat tumbuh dengan baik dan kelak menjadi kebanggaan orang tuanya.
“Saat ini kondisi Jocelyn sedang dalam masa pemulihan, dan kami berharap ke depannya bisa lebih baik lagi. Semoga kelak Jocelyn bisa tumbuh menjadi anak yang baik, mendengarkan orang tua, membantu orang tua, dan sehat selalu,” tutur Aci.
Kunjungan kasih dilakukan oleh relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat. Aci (tengah), salah satu relawan yang mengikuti kunjungan, merasa kagum dengan kondisi Jocelyn saat ini.
Bagi Li Lie, ibu Jocelyn, tidak banyak yang dapat diungkapkan selain rasa syukur serta apresiasi kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan Tzu Chi Hospital. Berkat bantuan dan perhatian relawan, serta penanganan dari tim medis Tzu Chi Hospital, kini ada secercah harapan baru bagi kesembuhan anaknya.
“Sudah lumayan membaik. Dulu mukanya bengkak, mungkin karena limpanya bengkak, sekarang sudah tidak. Dulu setiap lima hari dia perlu transfusi sekali, sekarang sudah enam minggu dia sama sekali tidak transfusi. Terima kasih banyak kepada dokter, kepada Ci Lulu, dan Yayasan Buddha Tzu Chi yang sudah banyak membantu. Pelayanan di sini, di Tzu Chi Hospital, juga bagus,” ucap Li Lie haru.
Editor: Metta Wulandari