Di balik tawanya, Oma Tan adalah seorang penyintas badai kehidupan. Setelah kehilangan suami dan kedua anaknya, ia menjalani hari dalam kabut katarak di panti jompo. Lewat Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi Indonesia, ia kini kembali melihat dunia yang terang.
Dunia mendadak terasa terlalu jujur bagi Oma Tan Jan Hoa (70). Begitu kataraknya diangkat oleh tim dokter dari TIMA Indonesia dan penglihatannya berangsur pulih, ia terkejut. Ternyata selama ini kulitnya sudah dipenuhi kerutan di sana-sini.
“Pinjam kaca Hera...,” teriaknya pada salah satu pengurus panti.
Melihat pantulan wajahnya di cermin, ia bergumam setengah tak percaya. “Perasaan dulu mulus, kencang, ternyata pada keriput, apalagi tangan…”
Kocak betul ya Oma Tan… hehehe..
Selama bertahun-tahun hidup dalam kabut samar, Oma Tan merasa waktu seolah berhenti. Namun begitu mata kirinya kembali terang, ia tersadar bahwa waktu ternyata diam-diam berlari sembari menggerus masa mudanya. Karena itu bagi Oma Tan, operasi katarak bukan hanya tentang mengembalikan penglihatannya saja, tapi juga tentang berkenalan lagi dengan dirinya yang sekarang.
“Waktu melihat terang, kaget saya. Bisa melihat muka siapa-siapa. Waktu lihat Ivan, ‘loh Van kamu sudah tua, kata saya, kirain kamu anak muda.’ Sekarang saya enggak bisa dibohongi lagi, hahaha…,” kata Oma Tan yang sangat bersyukur dengan perubahan hidupnya kini.
Bagi Oma Tan, bisa ikut operasi katarak di Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-153 yang digelar di Tzu Chi Hospital PIK pada Sabtu 13 Desember 2025 lalu, benar-benar seperti mukjizat yang turun tepat waktu.
“Terima kasih banyak untuk Tzu Chi. Waktu di sana saya juga ucapin terima kasih sama dokter-dokter. Terima kasih juga untuk Koh Acun yang antar saya, apa saja dibayarin, baik banget,” katanya.
Acun mengunjungi Oma Tan lagi pada Sabtu 7 Februari 2026. Bagi Oma Tan, Acun benar-benar merupakan teladan. Kepeduliannya kepada orang-orang di masa lansia sungguh menggugah hati Oma Tan.
Ong Hok Cun atau yang akrab disapa Acun adalah relawan Tzu Chi Tangerang yang mengantarnya operasi katarak. Mulai dari proses skrining, operasi, buka perban, dan juga kontrol.
Sebenarnya, pertemuannya dengan Acun sama sekali tak disengaja. Awalnya Acun hendak mengunjungi teman lamanya yang belum lama ini mendirikan panti jompo, Panti Tiga Mustika Indonesia, di Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Dengan pengalamannya yang sudah malang melintang di misi kemanusiaan, Acun hendak membantu memberi sumbangsih pemikiran bagi panti jompo ini.
Tak disangka, Acun mendapati Oma Tan yang ternyata masih kerabat jauhnya itu telah tinggal di sana selama dua bulan terakhir.
“Loh kok ada di sini,” kata Acun kaget.
Ternyata keponakan Oma Tan lah yang membawanya ke panti karena ia sudah tinggal sebatang kara. Sebelumnya hidup Oma Tan berjalan baik-baik saja. Tiba-tiba anak bungsunya yang duduk di bangku kuliah meninggal dunia. Tak berselang lama, anak sulungnya yang hendak menikah pun meninggal. Dan menyusul sang suami juga meninggal dunia.
Karena tak punya penghasilan, Oma Tan menjual rumahnya dan kemudian mengontrak dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Di usia tujuh puluh tahun dengan kondisi kedua mata katarak, tak mungkin lagi bagi Oma Tan hidup sendiri. Karena itu keponakannya mengantar Oma Tan untuk tinggal di panti.
Kepada Acun, Oma Tan mengeluhkan kondisi kedua matanya yang katarak. Oma Tan bahkan lupa sejak kapan pandangan matanya kabur. Kebetulan sekali, Tzu Chi Indonesia akan menggelar Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-153.
“Saya lalu meminta izin ke pemilik panti untuk membantu oma yang kebetulan enggak punya BPJS ini untuk ikut operasi katarak di bakti sosial Tzu Chi,” kata Acun.
Oma Tan saat proses buka perban mata pada Minggu 14 Desember 2025. Acun kembali menemaninya.
Menyaksikan perubahan pada diri Oma Tan yang kini bisa melihat lagi, Acun merasa sangat bahagia. Ia juga sedang berupaya untuk membantu Oma Tan agar bisa segera operasi katarak untuk mata kanannya agar kedua matanya benar-benar terbebas dari katarak.
“Saya ingat pesan guru kami Master Cheng Yen, bahwa ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain itu, beri yang kita sendiri juga suka. Nah dalam hal melayani pun harus seperti itu, harus tuntas,” kata Acun.
Mendampingi Oma Tan dalam mencari kesembuhan, Acun juga memperoleh banyak pelajaran hidup. “Saya banyak belajar loh dari Oma terutama tentang kesabaran, ketabahan dia menghadapi hidup sampai seperti itu. Kalau saya jadi seperti oma mungkin enggak bisa sekuat itu,” pungkas Acun.
Editor: Metta Wulandari