Sebanyak 35 anak mengikuti hari pertama Kelas Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi Bandung Tahun Ajaran 2026–2027.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat, pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada pencapaian akademik. Pembentukan karakter, empati, dan kepedulian terhadap sesama menjadi bekal penting bagi anak-anak dalam menghadapi masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, Tzu Chi Bandung kembali menyelenggarakan Kelas Bimbingan Budi Pekerti, sebuah program pendidikan karakter yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan sejak usia dini.
Kelas Bimbingan Budi Pekerti merupakan salah satu wujud nyata misi pendidikan Tzu Chi yang menitikberatkan pada pembentukan karakter melalui pengalaman belajar yang menyenangkan. Melalui program ini, anak-anak diajak mengenal arti bersyukur, menghormati orang lain, saling mengasihi, bertoleransi, serta peduli terhadap lingkungan dan sesama. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi yang utuh dan berakhlak baik.
"Hari ini merupakan hari pertama tahun ajaran 2026–2027 untuk Kelas Bimbingan Budi Pekerti. Anak-anak belajar bahwa kebajikan tidak harus berupa hal yang besar. Meski kecil, jika dilakukan setiap hari dengan hati yang tulus, maka akan menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan mereka," ujar Intan Vandhery, relawan Tzu Chi Bandung.

Pada pertemuan perdana, para murid diperkenalkan dengan Budaya Humanis Tzu Chi serta berbagai nilai kebajikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak pagi, Aula Jing Si Tzu Chi Bandung dipenuhi senyum ceria 35 anak yang datang bersama orang tua mereka. Kehadiran para relawan yang menyambut dengan hangat membuat suasana terasa akrab dan penuh semangat. Anak-anak pun mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan antusias.
Kegiatan diawali dengan pembagian kelompok belajar yang terdiri atas kelas kecil, kelas besar, serta kelas Tzu Sho bagi remaja tingkat Sekolah Menengah Pertama. Setelah melakukan penghormatan kepada Master Cheng Yen, para peserta mengikuti berbagai aktivitas interaktif yang mengajak mereka belajar melalui cerita inspiratif, permainan edukatif, diskusi kelompok, hingga praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari.
"Dalam kegiatan ini kami juga mengenalkan budaya humanis Tzu Chi, seperti cara berjalan, cara makan, hingga bagaimana menyapa orang lain dengan sopan. Kebiasaan-kebiasaan sederhana ini diharapkan dapat mengasah karakter dan membentuk kepribadian anak menjadi lebih baik sehingga mereka dapat membawa manfaat bagi masyarakat," tambah Intan.

Anak-anak belajar mempraktikkan Budaya Humanis Tzu Chi, mulai dari cara berjalan, berbaris, hingga tata krama saat makan.
Bagi Tzu Chi, pendidikan terbaik bukan hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing anak menjadi pribadi yang memiliki hati penuh cinta kasih. Oleh karena itu, setiap materi tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang mengajarkan anak untuk berbagi, menghargai orang lain, serta bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan.
Tidak hanya anak-anak yang belajar, para orang tua juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan karakter ini. Melalui sesi khusus, mereka mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya menjadi teladan di rumah. Sebab, pendidikan budi pekerti tidak berhenti ketika kegiatan di kelas selesai, tetapi terus bertumbuh melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang diterapkan dalam kehidupan keluarga.
"Anak jadi belajar tata krama, mengenal teman-teman baru, dan memahami bagaimana bersikap dengan baik. Dia juga belajar menghargai aturan. Menurut saya, pendidikan karakter seperti ini sangat penting karena belum tentu didapatkan di sekolah. Kami sebagai orang tua juga mendapatkan banyak pelajaran tentang bagaimana membentuk karakter anak," ujar Selvi Imelda Yulianti, salah satu orang tua murid.

Kelas Bimbingan Budi Pekerti tidak hanya menjadi sarana belajar bagi anak-anak, tetapi juga melibatkan orang tua dalam setiap sesi pembelajaran sebagai bagian dari pembentukan karakter di lingkungan keluarga.
Keceriaan tampak dari wajah para peserta saat mengikuti berbagai permainan yang dirancang untuk melatih kerja sama, kejujuran, rasa percaya diri, dan kepedulian. Dalam setiap aktivitas, anak-anak diajak untuk saling membantu, menghargai teman, serta belajar menyelesaikan masalah bersama. Tanpa disadari, nilai-nilai luhur tersebut tumbuh melalui pengalaman belajar yang menyenangkan.
"Di sini kita belajar bagaimana bersikap baik, menghormati orang lain, dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kalau di sekolah lebih banyak belajar pelajaran, tetapi di sini kami belajar bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," ungkap Derel, salah satu murid Kelas Bimbingan Budi Pekerti.
Selain mempelajari nilai-nilai kehidupan, para murid juga diajak berdiskusi, mengikuti permainan edukatif, dan beragam aktivitas interaktif yang menyenangkan.
Melalui Kelas Bimbingan Budi Pekerti, Tzu Chi Bandung berharap setiap anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, di masa depan dunia membutuhkan lebih banyak generasi yang memiliki hati penuh cinta kasih, menghormati sesama, serta mampu menjadi pembawa kedamaian di mana pun mereka berada.
Sejalan dengan ajaran Master Cheng Yen, pendidikan karakter bukan sekadar mengajarkan mana yang benar dan salah, melainkan menumbuhkan hati yang tulus untuk terus berbuat kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, setiap anak diharapkan dapat menjadi benih kebajikan yang kelak membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan dunia.
Editor: Metta Wulandari