Andriani Permata Sari mengikuti pembelajaran Shou Yu dengan antusias. Ia mengaku tertarik mengikuti kelas setelah sering menyaksikan penampilan Shou Yu dalam berbagai kegiatan Tzu Chi.
Budaya humanis Tzu Chi tidak hanya diwariskan melalui kata-kata, tetapi juga melalui gerakan yang sarat makna. Salah satu bentuknya adalah Shou Yu atau isyarat tangan, yang selama ini menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan Tzu Chi sebagai media untuk menyampaikan pesan cinta kasih, rasa syukur, dan kebajikan.
Sebagai upaya regenerasi sekaligus memperkenalkan budaya humanis Tzu Chi kepada lebih banyak relawan, He Qi Jakarta Barat 1 menyelenggarakan Kelas Shou Yu pada Sabtu, 13 Juni 2026, di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Kegiatan yang berlangsung pukul 14.00–16.30 WIB ini diikuti oleh 21 peserta dan didampingi oleh 10 orang relawan panitia dalam suasana hangat, akrab, dan penuh semangat.
Sejak awal kegiatan, para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi pembelajaran. Mereka tidak hanya mempelajari rangkaian gerakan isyarat tangan, tetapi juga memahami makna yang terkandung di balik setiap gerakan sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai kebajikan.

Stania bersama relawan memperagakan gerakan Shou Yu di hadapan peserta. Melalui contoh gerakan yang selaras dengan lirik lagu, peserta diajak memahami makna yang terkandung dalam setiap isyarat tangan sehingga pesan cinta kasih dan kebajikan dapat tersampaikan dengan lebih mendalam.
Koordinator kegiatan, Stania, mengajak para peserta untuk memandang Shou Yu lebih dari sekadar gerakan tangan yang indah dan seragam. Menurutnya, setiap gerakan memiliki makna yang selaras dengan lirik lagu yang dibawakan sehingga mampu menyampaikan pesan cinta kasih dengan lebih mendalam dan menyentuh hati.
“Melalui kelas ini, kami berharap semakin banyak relawan yang tertarik mempelajari Shou Yu dan kelak dapat menjadi generasi penerus yang melestarikan budaya humanis Tzu Chi. Setiap peserta tidak hanya belajar menghafal gerakan, tetapi juga memahami makna di baliknya agar dapat menghayati serta menerapkan pesan-pesan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari maupun kegiatan Tzu Chi,” ujar Stania.
Pada pertemuan perdana ini, peserta mempelajari Shou Yu untuk lagu Cinta Kasih Universal. Sebelum mempraktikkan gerakan, peserta terlebih dahulu mendapatkan pengenalan pelafalan bahasa Mandarin yang dibawakan oleh Surya.

Surya membimbing peserta untuk mempelajari pelafalan bahasa Mandarin agar dapat memahami pengucapan dan makna lagu yang dibawakan dalam Shou Yu.
Menurut Surya, bahasa Mandarin sering kali menjadi tantangan bagi sebagian relawan sehingga membuat mereka ragu untuk mengikuti kelas Shou Yu. Karena itu, sesi pengenalan pelafalan menjadi bagian penting agar peserta dapat belajar dengan lebih percaya diri.
“Banyak relawan sebenarnya tertarik belajar Shou Yu, tetapi merasa kesulitan karena belum memahami pelafalan bahasa Mandarin. Melalui kelas ini, kami ingin membantu peserta mengenal cara pengucapan yang benar sekaligus memahami arti lagu yang dibawakan, sehingga mereka dapat belajar dengan lebih percaya diri dan penuh sukacita,” tutur Surya.
Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap pelafalan dan makna lirik akan membantu peserta menghayati setiap gerakan dengan lebih baik. Dengan memahami pesan yang terkandung dalam lagu Cinta Kasih Universal, peserta dapat menampilkan gerakan yang tidak hanya selaras, tetapi juga penuh penghayatan.
Peserta mengikuti latihan gerakan dengan penuh perhatian untuk memahami keselarasan antara gerakan isyarat tangan dan pesan yang terkandung dalam lagu “Cinta Kasih Universal”.
Suasana belajar yang hangat dan menyenangkan membuat para peserta semakin bersemangat mengikuti setiap sesi. Hal ini dirasakan oleh Andriani Permata Sari, salah satu peserta yang baru pertama kali mengikuti Kelas Shou Yu.
Ketertarikannya muncul setelah beberapa kali menyaksikan penampilan Shou Yu dalam berbagai kegiatan Tzu Chi, khususnya saat Training Relawan Abu Putih. Rasa penasaran tersebut akhirnya membawanya untuk ikut belajar secara langsung.
“Saya sering melihat penampilan Shou Yu dalam berbagai kegiatan Tzu Chi, khususnya saat Training Relawan Abu Putih, sehingga muncul rasa penasaran untuk mempelajarinya. Setelah mengikuti kelas ini, saya merasa senang karena tidak hanya belajar gerakan, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalam lagu dan gerakannya. Saya berharap dapat terus belajar dan mengikuti kelas-kelas berikutnya,” ungkap Andriani.
Peserta dan relawan panitia berfoto bersama setelah mengikuti pertemuan perdana Kelas Shou Yu sebagai upaya melestarikan budaya humanis Tzu Chi.
Melalui kelas ini, para peserta tidak hanya belajar teknik dan keselarasan gerakan, tetapi juga diajak menghayati pesan yang terkandung dalam lagu Cinta Kasih Universal, yaitu menumbuhkan kasih sayang yang melampaui perbedaan serta menebarkan kebaikan kepada semua makhluk.
Sejalan dengan kata-kata perenungan Master Cheng Yen, “Dengan cinta kasih, dunia menjadi indah; dengan rasa syukur, hidup menjadi bermakna.” Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam kegiatan kerelawanan.
Melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan, Kelas Shou Yu diharapkan dapat menjadi wadah untuk menumbuhkan generasi penerus yang mampu melestarikan budaya humanis Tzu Chi sekaligus menyebarkan semangat cinta kasih dan kebajikan kepada masyarakat luas.
Editor: Anand Yahya