Kembali Melihat Terang, Kembali Mengajar Mengaji

Jurnalis : Dian Aprilianti (Tzu Chi Cabang Sinar Mas), Fotografer : Yoga Christianto (Tzu Chi Cabang Sinar Mas)

Siti Khodijah kembali mulai dapat melakukan aktivitas sehari-harinya termasuk mengajar mengaji usai dua pekan menjalani operasi katarak di matanya.

“Sumbangsih dengan cinta kasih yang tulus-ikhlas dari semua orang akan menyalakan pelita harapan di berbagai sudut gelap dunia.”
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)

Di usia 61 tahun, Siti Khodijah menjalani hari-harinya dengan penuh keteguhan. Selain menjadi seorang ibu, ia juga dikenal sebagai guru mengaji bagi anak-anak hingga ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya. Mengajarkan Al-Quran telah menjadi bagian dari kesehariannya, sekaligus cara baginya untuk berbagi kebaikan dengan orang-orang di sekitarnya.

Pada tahun 2024 lalu, suaminya meninggal dan sejak awal 2025, penglihatannya perlahan mulai kabur. Awalnya Siti mengira kondisi tersebut hanya bagian dari proses penuaan. Namun aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan mulai terasa sulit. Setelah memeriksakan mata di Grand Optik Kencong, Jember, Jawa Timur, pada November 2025, ia mengetahui bahwa dirinya mengalami katarak pada mata kanan dan pterigyum pada mata kiri.

Relawan Tzu Chi mendampingi seluruh proses pemeriksaan dari mulai screening hingga operasi Siti Khodijah, pendampingan inilah yang membuatnya tak lagi merasa ketakutan dalam menghadapi tindakan medis.

Mengetahui harus menjalani operasi, Siti justru diliputi rasa takut. Ia memilih bertahan dengan kondisi penglihatannya yang semakin tidak jelas. Hingga akhirnya, keterbatasan tersebut membuatnya harus menghentikan aktivitas mengajar mengaji pada Ramadan 2026.

Bagi Siti, penglihatan bukan sekadar kemampuan untuk melihat. Dengan penglihatan yang jelas, ia dapat membaca Al-Quran dan membimbing murid-muridnya dengan baik. Ia bahkan khawatir mengajarkan bacaan yang keliru karena tidak dapat melihat dengan jelas.

Keberanian yang Tumbuh dari Pendampingan
Harapan datang ketika Siti mengetahui adanya bakti sosial kesehatan yang diselenggarakan Yayasan Buddha Tzu Chi di Pekanbaru. Kegiatan tersebut memberikan layanan operasi bagi masyarakat dengan katarak, hernia, benjolan, dan bibir sumbing.

Anak dan para murid mengajinya pun terus menyemangati Siti agar berani mengikuti operasi. Setelah beberapa kali menolak karena takut, akhirnya ia memberanikan diri mengikuti screening pada 1 Agustus 2026. Sejak proses screening, relawan Xie Li Kampar 1 mendampingi Siti di setiap tahapan. Kehadiran mereka membuat Siti merasa lebih tenang.

Walaupun sempat merasa takut dan khawatir, Siti Khodijah berhasil melewati proses operasi dengan lancar. Relawan pun tak henti mendampinginya.

Pada 8 Agustus 2026, Siti menjalani operasi dengan didampingi anaknya dan relawan pada kegiatan Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-155 di RS Awal Bros Pekanbaru. Sebelum memasuki ruang operasi, relawan terus memberikan semangat. Tangan Siti pun digenggam erat hingga ia tiba di depan ruang operasi.

Tak lama kemudian, operasi selesai. Ketika bertemu kembali dengan relawan, rasa takut yang masih terlihat di wajah Siti perlahan berubah menjadi senyum. Ia mulai membayangkan satu hal sederhana yang selama ini sangat dirindukannya yaitu kembali membaca Alquran dengan pandangan yang lebih jelas.

Sabtu, 15 Agustus 2026, perban mata Siti dibuka saat kontrol kedua pascaoperasi. Senyum lebar terpancar dari wajahnya. Penglihatan yang sebelumnya buram kini terasa jauh lebih terang. Bagi sebagian orang, kemampuan melihat dengan jelas mungkin terasa biasa. Namun bagi Siti, perubahan itu berarti kesempatan untuk kembali menjalani peran yang begitu berarti dalam hidupnya. Ia pun bertekad untuk lebih sering membaca dan mengkhatamkan Al-Quran.

Sebuah kebahagiaan karena mata Siti Khodijah kembali bisa melihat dengan jelas hingga membuatnya bisa kembali mengajar mengaji.

Sabtu (22/8/26), dua minggu setelah operasi, Siti mulai kembali mengajar mengaji. Beberapa tetangga yang sebelumnya tidak lagi belajar dengannya perlahan kembali datang. “Terima kasih,” menjadi ungkapan sederhana yang menyertai rasa syukurnya. Bukan hanya karena kini ia dapat melihat lebih jelas, tetapi karena kesempatan itu membawanya kembali kepada aktivitas yang dicintainya.

Dari Kesembuhan Ibu, Tumbuh Benih Kebaikan Anak
Pengalaman selama mengikuti proses operasi ternyata tidak hanya membawa perubahan bagi Siti. Kebaikan yang ia terima juga menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri anak bungsunya, Ahmad Nur Shohib. Ahmad melihat sendiri bagaimana relawan Tzu Chi hadir mendampingi ibunya. Bukan hanya saat proses pemeriksaan dan operasi, tetapi juga melalui perhatian, ketenangan, dan semangat yang terus diberikan kepada Siti.

Dian Aprilianti menyerahkan celengan bambu kepada Ahmad Nur Shohib yang terinspirasi dengan cara relawan memberikan bantuan kepada ibunya dan masyarakat lainnya, ia pun ingin bisa membantu orang lain melalui celengan bambu.

Setelah mencari tahu lebih banyak tentang Tzu Chi melalui media sosial dan berbincang dengan relawan Xie Li Kampar 1, Ahmad pun tertarik untuk mengenal lebih jauh nilai-nilai yang dijalankan Tzu Chi. Ia kemudian menyampaikan keinginannya untuk ikut berbagi melalui celengan bambu. Saat relawan berkunjung kembali ke rumah Siti, sebuah celengan bambu pun diberikan kepadanya.

Dari mata seorang ibu yang kembali melihat terang, tumbuh pula langkah kebaikan seorang anak. Kesembuhan Siti bukan hanya mengembalikan penglihatannya, tetapi juga membuka jalan bagi kebaikan baru untuk terus tumbuh dan diteruskan.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Baksos Kesehatan Mata untuk Masyarakat Singkawang

Baksos Kesehatan Mata untuk Masyarakat Singkawang

09 Agustus 2016

Wajah-wajah penuh syukur memenuhi Kantor Pemerintah Kota Singkawang pagi itu, 6 dan 7 Agustus 2016. Wajah itu milik warga Kota Singkawang dan sekitarnya usai menjalani pembukaan perban pasca operasi katarak dan pterygium.

Membawa Kebahagiaan untuk Pasien Katarak

Membawa Kebahagiaan untuk Pasien Katarak

05 Juli 2022

Penglihatan yang sempurna adalah dambaan setiap orang. Namun karena berbagai faktor, masih banyak saudara kita yang mengalami gangguan penglihatan. Salah satunya penyakit katarak.

Kembali Melihat Terang, Kembali Mengajar Mengaji

Kembali Melihat Terang, Kembali Mengajar Mengaji

04 September 2026

Penglihatan Siti Khodijah berangsur membaik setelah menjalani operasi katarak yang digelar Tzu Chi di Pekanbaru. Usai menjalani kontrol kedua, Siti kini dapat kembali mengajar mengaji di rumahnya dengan lebih nyaman.

Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -