Ketika Cinta Kasih Menyusuri Lorong Sunter Muara

Jurnalis : Rosy Velly Salim (He Qi Jakarta Pusat), Fotografer : Rosy Velly Salim, Indrawati (He Qi Jakarta Pusat)

Di tengah gerimis, relawan menyusuri pemukiman di Sunter Muara, untuk membagikan kupon Beras Cinta Kasih Tzu Chi kepada warga prasejahtera.

Hujan telah turun sejak pagi pada Minggu, 8 Maret 2026. Namun, rintiknya tak sedikit pun menyurutkan langkah para relawan Tzu Chi untuk menyusuri lorong-lorong sempit permukiman warga di Sunter Muara, Jakarta Utara. Jam menunjukan pukul tujuh pagi, relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Padumuttara bagian dari He Qi Jakarta Pusat, bersama anggota PPSU, para Ibu Dawis, dan pengurus RT setempat bergerak menyusuri wilayah RW 01 hingga RW 07.

Di tengah gerimis yang terus membasahi jalan, mereka membawa sesuatu yang tampak sederhana tetapi sarat makna, yaitu kupon beras cinta kasih. Sebuah undangan kecil yang menghadirkan kepedulian, disampaikan dengan tulus kepada warga yang membutuhkan.

Di RW 05, Sunter Muara, tinggal seorang perempuan bernama Soleha (58), yang akrab disapa. Ia menjalani hidup sederhana di sebuah gubuk kecil berukuran sekitar tiga meter, berdinding triplek yang telah lapuk dimakan usia. Rumah itu berdiri tak jauh dari kediaman kakaknya, menjadi saksi bisu perjalanan hidup yang ia jalani dengan penuh ketabahan.

Relawan Tzu Chi mengunjungi rumah Soleha di Sunter Muara untuk menyerahkan kupon Beras Cinta Kasih. Kunjungan ini menjadi wujud kepedulian relawan yang selalu menyapa langsung warga.

Setiap hari, Soleha mencari nafkah dengan mengumpulkan botol plastik bekas di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Satu per satu botol itu ia kumpulkan, lalu dipilah dengan telaten: labelnya dilepas, botolnya diremas agar lebih mudah disimpan, hingga akhirnya terkumpul karung demi karung.

Dari kerja keras kedua tangannya, ia menjual botol plastik bekas kepada pengepul dengan harga lebih kurang Rp3.500 per kilogram. Penghasilan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar seperti membeli gas, minyak goreng, beras, dan air untuk memasak.

“Yang penting bisa menyambung hidup saja. Jalani saja,” tuturnya dengan senyum yang tulus.

Di rumah sederhananya, beras biasanya disimpan dalam gentong lama, lalu dimasak dengan panci seadanya. Hari itu, wajah Soleha tampak lebih cerah saat menerima Beras Cinta Kasih Tzu Chi sebanyak 10 kg.

“Senang sekali. Alhamdulillah, bisa buat makan sehari-hari. Terima kasih, saya bersyukur,” ujarnya dengan mata berbinar. Meski tengah menjalankan ibadah puasa, Soleha tetap menjalani hari-harinya dengan tabah, tanpa keluhan.

PIC kegiatan, Fonny, menyerahkan secara simbolis beras cinta kasih dari Yayasan Buddha Tzu Chi kepada Ibu Soleha di gubuk kecilnya yang sederhana.

Kehadiran bantuan tersebut juga mendapat apresiasi dari Lurah Sunter Agung, Teguh Subroto, S.STP. Ia menyampaikan rasa syukur atas kepedulian yang terus dihadirkan bagi warganya.

“Perasaan kami tentu senang. Alhamdulillah, ada warga yang mendapatkan bantuan paket beras ini. Semoga dapat dimanfaatkan dengan baik, terutama menjelang hari raya. Beras 10 kg ini tentu sangat berarti bagi warga. Kita juga memahami bahwa Yayasan Buddha Tzu Chi selalu hadir tanpa membedakan lapisan masyarakat, terus menebarkan cinta kasih dan kebaikan universal bagi masyarakat,” ujarnya.

Di bawah tenda kegiatan, Armi, penerima manfaat dituntun dengan penuh perhatian oleh relawan Kembang Tzu Chi, setelah menerima Beras Cinta Kasih.

Sepekan kemudian, pada Minggu, 15 Maret 2026, kisah haru kembali hadir di lokasi penukaran kupon beras. Armi (57), warga RW 07, datang dengan menumpang bajaj untuk menukarkan kuponnya dengan Beras Cinta Kasih.

Dengan suara yang bergetar menahan haru, ia menceritakan kondisi keluarganya.

Alhamdulillah, ada relawan yang datang ke rumah Ibu RT untuk memberikan kupon beras. Saya mendapat beras dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Kebetulan suami saya sudah sakit selama 11 bulan, dan saya juga mengalami retak tulang, terimakasih” tuturnya perlahan.

Relawan Tzu Chi bersama  Lurah Sunter Agung, Teguh Subroto, S. menyampaikan pesan penuh makna sebelum pembagian Beras Cinta Kasih kepada warga.

Ucapan syukur yang ia panjatkan terasa begitu tulus, diiringi mata yang berkaca-kaca. Di tengah ujian kesehatan yang menimpa dirinya dan sang suami, bantuan sederhana itu menjadi secercah kebahagiaan yang menguatkan langkahnya.

Di Sunter Muara, butiran beras mungkin tampak kecil dan sederhana. Namun, di tangan mereka yang membutuhkan, butiran itu menjelma menjadi harapan. Sebuah pengingat bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada kepedulian yang menyusuri lorong-lorong sempit, membawa pesan kemanusiaan yang tak mengenal batas.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Paket Cinta Kasih Lebaran: 890 Paket Beras Bagi Warga Gunung Sahari Utara

Paket Cinta Kasih Lebaran: 890 Paket Beras Bagi Warga Gunung Sahari Utara

13 Maret 2026

Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat (Hu Ai Sawah Besar) membagikan 890 Paket Cinta Kasih Lebaran berupa beras 10 kg kepada warga Gunung Sahari Utara.

Berbagi Kebahagiaan dengan Petugas Keamanan dan Lingkungan

Berbagi Kebahagiaan dengan Petugas Keamanan dan Lingkungan

11 Maret 2026

Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1 menyalurkan 375 Paket Lebaran kepada petugas keamanan dan lingkungan di wilayah Hu Ai Surya Palem, Citra 5, dan Citra 2 sebagai wujud kepedulian, kebersamaan menjelang Hari Raya.

Sambut Ramadan Dengan Toleransi dan Bersumbangsih Kepada Warga Glodok

Sambut Ramadan Dengan Toleransi dan Bersumbangsih Kepada Warga Glodok

16 Maret 2026

Menjelang Idul Fitri, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengadakan pembagian 500 Paket Cinta Kasih Lebaran berupa beras berukuran 10 kg di Kantor Kelurahan Glodok, Jakarta Barat.

Lebih mudah sadar dari kesalahan yang besar; sangat sulit menghilangkan kebiasaan kecil yang buruk.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -