Kunjungan Kasih untuk Lansia di Pinggir Sungai Kapuas

Jurnalis : Machairiyah (Tzu Chi Cabang Sinar Mas), Fotografer : Rafika Sohana Lubis, Ikhdina Arbi (Tzu Chi Cabang Sinar Mas)

Medan menantang harus dilewati relawan menuju rumah para lansia di desa-desa di Marsedan Raya, Kecamatan Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Welas asih adalah kesediaan bersumbangsih tanpa memikirkan kesulitan dan jerih payah yang harus dihadapi
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)

Sabtu pagi (24/10/26) yang cerah relawan Xie Li Semitau dari Unit Muara Tawang menuju Desa Marsedan untuk melakukan kunjungan kasih kepada 30 orang lansia kurang mampu. Relawan membawa 30 paket sembako berisi beras, minyak goreng, telur, dan gula. Relawan bersama tim kesehatan kebun juga melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap lansia.

Kegiatan ini yang diikuti 10 orang relawan ini dipimpin Eko Kuswoyo. Sejak pukul 07.00 WIB relawan berkumpul dan berkoordinasi sebelum menuju ke Desa Marsedan. Eko memaparkan jika tujuan kunjungan kasih ini ke beberapa lansia yang tinggal di lanting (rumah apung) di pinggiran Sungai Kapuas, Kecamatan Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimatan Barat.

“Shixiong shijie, kunjungan kasih kali ini medannya cukup menantang karena kita akan mengunjungi para lansia yang tinggal di rumah apung di pinggir Sungai Kapuas. Jadi tolong hati-hati terutama saat melewati titian papan seadanya yang digunakan sebagai jalan,” pesan Eko Kuswoyo.

Tak lama relawan segera bergerak menuju Desa Marsedan Raya. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah kantor Desa Marsedan Raya. Dina Oktri Purwanti, Kepala Desa (Kades) Marsedan Raya dan 3 orang perangkat desa menyambut relawan. Ibu Kades ikut mendampingi relawan menuju rumah lansia penerima bantuan. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian relawan terhadap lansia kurang mampu di desanya dan berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagian kecil bagi para lansia.

Nenek Julianti (berkerudung hijau) menerima bantuan dari relawan.

Syarifah Aminah (81 tahun), nenek pertama yang dikunjungi relawan. Nenek Aminah menyambut relawan dengan sikap ramah dan senyum indahnya. Di usia lanjutnya, kecantikannya masih terlihat. Secara fisik Nenek Aminah terlihat sehat, penglihatan dan pendengarannya maseh normal. Ia juga menceritakan kesehariannya sendiri di rumah dan kerinduannya terhadap anak dan cucunya.

Fiky, bidan kebun yang dibawa relawan segera memeriksa kesehatan Nenek Aminah. Dari pemeriksaan ini tekanan darah, kadar gula, kolesterol dan asam urat Nenek Aminah cukup tinggi. Bidan meminta nenek untuk rutin meminum obatnya dan jika terasa tidak nyaman dengan tubuhnya, nenek harus segera pergi ke puskesmas.

Julianti (65 tahun) tinggal berdua dengan ibunya yang berusia 90 tahun yang terbaring di tempat tidur. Di tengah kondisi kesehatannya yang mulai menurun, Julianti tetap merawat sang ibu dengan penuh kasih sayang. Kisah ini mengundang haru para relawan yang berkunjung.

Saat pemeriksaan, Julianti mengeluhkan kaki yang sering sakit dan pusing. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya mencapai 203/102 mmHg. Bidan memberikan obat dan menyarankan agar ia kembali ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lanjutan setelah obatnya habis. Komunikasi antara relawan dan Julianti pun dibantu oleh Ibu Kepala Desa karena Julianti menggunakan bahasa daerah.

Relawan menyerahkan bingkisan sembako untuk Kakek Abdul Halim yang menderita parkinson.

Relawan melanjutkan perjalanan ke rumah Abdul Halim (68 tahun). Empat tahun terakhir Kakek Abdul Hakim menderita parkinson. Relawan mendengarkan cerita hidupnya dan melihat sendiri bagaimana tangan Kakek Abdul Hakim terus bergetar tanpa bisa dikendalikan sang kakek. Ia pasrah dan ikhlas menerima keadaannya dan tetap bersyukur karena masih kuat mengerjakan kegiatannya sehari-hari secara perlahan.

Suparman, seorang kakek yang tak lagi mengingat pasti usianya, hidup seorang diri di pinggir Sungai Kapuas. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia membuka kios kecil di dekat penyeberangan ponton. Meski secara fisik tampak sehat, Suparman mengungkapkan bahwa selama dua tahun terakhir ia kerap buang air besar hingga belasan kali sehari. Apa pun yang dimakannya seolah langsung keluar kembali dalam waktu singkat.

Mendengar keluhan tersebut, bidan menyarankan Suparman untuk segera menjalani pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit. Ibu Kepala Desa pun menyatakan kesediaannya untuk membantu memfasilitasi keberangkatan Suparman agar ia bisa mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan.

Setelah melewati beberapa rumah, Ibu Kades mengarahkan relawan menuju lanting atau rumah apung di tepian Sungai Kapuas. Perjalanan semakin menantang ketika mereka harus menuruni tanah yang curam dan melewati anak tangga kayu sederhana. Dengan langkah hati-hati, para relawan dan bidan berusaha melewati jalur tersebut meski rasa takut dan khawatir mulai terasa. Saling berpegangan tangan, mereka membantu satu sama lain agar bisa turun dengan aman. “Tanganku gemetar, guys,” ujar Esterida, salah satu relawan Dharma Wanita saat menuruni anak tangga kayu itu. Meski perjalanan terasa melelahkan dan menegangkan, semangat mereka untuk menjangkau warga yang membutuhkan tetap tak surut.

Keluarga Marhaban yang tinggal di tepian Sungai Kapuas.

Setelah itu, relawan harus melewati jembatan kayu kecil yang hanya muat dan kuat dilewati satu-satu secara bergantian. Ada relawan Dharma Wanita yang tidak berani menyeberang karena saat melewati akan merasa ada goncangan kecil akibat arus sungai.

Di antara rumah-rumah lanting yang dikunjungi relawan, terdapat rumah Marhaban (56 tahun). Ia tinggal bersama istri dan seorang anaknya yang masih bersekolah. Dua anaknya yang lain telah bekerja, tetapi kondisi ekonomi mereka pun tidak jauh berbeda dari keluarganya.

Di rumah lanting yang sederhana itu, Marhaban menceritakan kesehariannya kepada relawan. Rizansyah, salah satu relawan harus berbicara dengan suara agak keras karena Marhaban mengalami gangguan pendengaran. Meski dengan segala keterbatasannya, ia tetap berusaha mencari nafkah dengan menangkap ikan di Sungai Kapuas menggunakan sampan kecil. Hasil tangkapannya kemudian dijual ke Pasar Semitau dengan bantuan sang istri.

Selama 14 tahun tinggal di rumah lanting, Marhaban menyimpan harapan untuk suatu hari bisa memiliki rumah di darat. Namun, harga tanah yang semakin mahal membuat impian itu terasa sulit diwujudkan.

“Apa dayaku, Pak… tanah semakin lama semakin mahal,” ucap Marhaban dengan suara bergetar.

Ia juga menceritakan kesulitan yang dihadapinya saat musim kemarau tiba. Rumah lanting mereka bisa bergeser semakin ke tengah sungai, sehingga untuk menuju daratan, mereka harus meminta bantuan sampan. Sambil menunduk sedih, ia mengungkapkan betapa sulitnya menjalani aktivitas sehari-hari dalam kondisi tersebut.

Perjalanan relawan menyusuri rumah-rumah lanting pun terus berlanjut. Terik matahari, keringat, dan rasa haus mulai terasa setelah berkali-kali turun dan naik melalui jalur menuju sungai. Di tengah perjalanan, relawan sempat singgah di sebuah kios di pinggir jalan desa untuk beristirahat sejenak dan melepas dahaga sebelum kembali melanjutkan kunjungan.

Relawan menyerahkan bingkisan sembako untuk keluarga Marhaban.

Dari satu rumah ke rumah lainnya, relawan tidak hanya bertemu dengan warga yang membutuhkan bantuan, tetapi juga mendengarkan kisah tentang perjuangan hidup, kerinduan, dan kesepian yang selama ini mereka rasakan. Para lansia menyambut kedatangan relawan dengan senyum dan ucapan terima kasih. Ada pula yang tak kuasa menahan haru saat menceritakan kehidupannya.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi para relawan akan pentingnya berbakti kepada orang tua dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Di balik wajah yang tampak tegar, orang tua juga menyimpan kerinduan dan harapan sederhana, seperti ingin dikunjungi, ditemani, atau sekadar mendengar suara anak-anaknya.

Sering kali, orang tua memilih mengatakan bahwa mereka baik-baik saja karena tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Bahkan, untuk mengungkapkan rasa rindu, mereka terkadang menahannya karena khawatir akan membebani orang yang mereka sayangi. Padahal, perhatian sederhana, seperti menanyakan kabar melalui telepon atau meluangkan waktu untuk berkunjung, dapat menjadi kebahagiaan yang begitu berarti bagi mereka.

Sebagaimana pesan perenungan Master Cheng Yen, berbakti kepada orang tua bukan sekadar mematuhi mereka, tetapi juga bersikap riang, lemah lembut, dan berusaha membahagiakan hati mereka. Kita hendaknya senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada orang tua serta semua makhluk hidup, serta tidak mengecewakan mereka sepanjang hayat. Sebab, bagi orang tua, kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Terkadang, kehadiran, perhatian, dan kasih sayang yang tulus sudah cukup untuk membuat mereka merasa dicintai dan tidak sendirian.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Kunjungan Kasih ke Rumah Lansia Desa Rantau Panjang

Kunjungan Kasih ke Rumah Lansia Desa Rantau Panjang

07 November 2024

Memperingati Hari Lansia Internasional yang jatuh pada 1 Oktober 2024, relawan Tzu Chi Sinar Mas komunitas Xie Li Kalimantan Timur 2 dari Unit Rantau Panjang Mill melakukan kunjungan kasih ke rumah Lansia di Desa Rantau Panjang.

Akhir Tahun yang Bermakna, Sebarkan Kasih untuk Para Lansia

Akhir Tahun yang Bermakna, Sebarkan Kasih untuk Para Lansia

09 Januari 2026

Kunjungan kasih untuk para lansia penerima bantuan operasi katarak dilakukan relawan Xie Li Kalimantan Timur 1 tepat di hari terakhir tahun 2025. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian yang berkelanjutan.

Kunjungan Kasih untuk Lansia

Kunjungan Kasih untuk Lansia

27 Maret 2025

Relawan Tzu Chi di Xie Li Pati melakukan kunjungan kasih untuk 10 lansia di Kecamatan Cluwak, Pati, Jawa Tengah. Kunjungan ini juga disertai dengan membantu membersihkan rumah lansia yang tinggal sendiri.

Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -