Kursi Roda untuk Achmad

Jurnalis : Ronny Suyoto (Tzu Chi Surabaya), Fotografer : Ronny Suyoto (Tzu Chi Surabaya)
 
foto

Relawan Tzu Chi saat mengunjungi Achmad Affandi di rumahnya. Berkat bantuan kursi roda dari Tzu Chi, kini Achmad sudah dapat berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumahnya.

Tidak semua manusia terlahir beruntung di muka bumi ini. Ada yang terlahir di keluarga yang kaya, memiliki badan sehat dan sempurna serta hidup serba berkecukupan. Namun ada pula yang kurang beruntung kehidupannya, terlahir di keluarga yang tidak berpunya dan lahir dengan kondisi fisik yang cacat dan tidak sempurna.

Mungkin hal inilah yang harus dihadapi oleh Achmad Affandi, seorang pemuda yang lahir 24 tahun yang lalu. Karena menderita demam tinggi pada saat berusia 7 bulan, Achmad mengalami gangguan perkembangan otak. Sejak saat itu, kemampuan motoriknya terganggu dan tidak mampu berjalan seperti anak-anak lainnya. Kemana pun dia ingin pergi hanya bisa menyeret tubuhnya kesana-kemari.

“Bicaranya juga terganggu dan tidak jelas sehingga kadang sulit bagi kami sebagai orangtuanya,” kata Kumaiyah, ibunda Achmad Affandi. Untuk keperluan mandi dan buang air pun, Achmad harus dibantu keluarganya dengan menggendongnya ke kamar mandi. Sementara untuk makan juga harus dibantu dengan disuapi oleh orangtua maupun kakaknya.

Sementara keluarga ini pun hidup serba berkekurangan. Jangankan untuk membawa Achmad ke rumah sakit, untuk makan sehari-hari pun mereka juga kesulitan. Ayah Achmad telah meninggal dunia, sehingga kehidupan keluarga ini menjadi lebih sulit. Alhasil untuk menyambung hidup, anak-anaknya pun mencoba bekerja apa adanya.

foto  

Ket : - Karena menderita demam tinggi pada saat berusia 7 bulan, Achmad mengalami gangguan perkembangan
           otak. Sejak saat itu, kemampuan motoriknya terganggu dan tidak mampu berjalan seperti anak-anak lainnya.

Salah seorang anaknya sudah menikah dan hidup mandiri, sedangkan 1 kakak perempuannya telah menikah dan memiliki 2 anak, namun ditinggal pergi oleh suaminya. Untuk menghidupi kedua anaknya ini sang kakak, Fatmawati harus membanting tulang dengan bekerja di sebuah pabrik. Sedangkan seorang kakak laki-lakinya masih mengganggur. Sungguh berat penderitaan yang dialami oleh keluarga Achmad Affandi.

Beruntung kemudian ada seseorang yang mengenal Tzu Chi. Melalui perantara seseorang, kasus ini kemudian masuk ke kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Kantor Perwakilan Surabaya. Setelah melalui proses survei, kasus ini kemudian dinyatakan layak untuk menjadi penerima bantuan Tzu Chi. “Achmad Affandi juga membutuhkan bantuan kursi roda sehingga bisa lebih mandiri dan tidak terlalu merepotkan keluarga yang lainnya,” kata Robby, relawan Tzu Chi yang ikut menjadi menyurvei. Bulan berikutnya, relawan Tzu Chi dari Xie Li 2 pun mengunjungi keluarga ini di rumahnya, di kawasan Gunung Anyar, Surabaya dengan membawa bantuan kebutuhan pokok dan kursi roda yang dibutuhkan. Dengan senyum gembira Achmad menerima kursi roda yang sekarang menjadi teman terbaiknya ini. “Terima Kasih,” ucapnya terbata-bata, namun dengan wajah berseri-seri. Dengan bantuan kursi roda ini, semoga Achmad tidak lagi terisolir dari lingkungan sekitarnya dan bisa bersoliasisasi dengan teman-teman sebayanya.

 

Artikel Terkait

Jamban Sehat Tzu Chi, untuk Sanitasi yang Lebih Baik

Jamban Sehat Tzu Chi, untuk Sanitasi yang Lebih Baik

01 Maret 2022

Pembangunan jamban sehat di Banyumas dilakukan sebanyak 226 jamban di 24 desa. Program Jamban Sehat di Kabupaten Banyumas merupakan bagian dari Program Pembangunan 3.500 Jamban Sehat di Jawa Tengah.

Senyum Lebar Iqbal dan dr. Tonny

Senyum Lebar Iqbal dan dr. Tonny

19 Januari 2017

dr. Tonny Christianto begitu bahagia dan bersyukur melihat Iqbal Ramdani (17 tahun), pasien yang dulu pernah dirawatnya terlihat sangat sehat. Saat dr. Tonny, dr. Siska, perawat Yanto serta relawan Tzu Chi sampai juga di rumahnya, Iqbal bergegas mencium tangan mereka.

Menjadi Guru Humanis

Menjadi Guru Humanis

06 Juli 2015

Selama dua hari, yaitu 4 – 5 Juli 2015 mereka berkumpul untuk mengikuti “Pelatihan Pendidikan Guru Humanis” bersama enam guru dari Taiwan mengenai bagaimana mendidik murid dengan cinta kasih. Sebanyak 118 peserta dari Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng dan sekolah-sekolah yang tergabung dalam BKPBI (Badan Koordinasi Pendidikan Buddhis Indonesia), seperti Sekolah Triratna, Ehipassiko School, Sekolah Buddhis Silaparamita, dan Sekolah Maha Bodhi Vidya hadir dalam pelatihan ini.

Mampu melayani orang lain lebih beruntung daripada harus dilayani.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -