Selasa, 29 September 2026, pagi jam 07.00 semua penerima bantuan kaki palsu bersama pendamping sudah berkumpul di kantor Tzu Chi Medan dan akan berangkat ke Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya Pematang Siantar.
Bagi seseorang yang kehilangan anggota tubuhnya, mendapatkan kaki palsu bukan sekadar menerima sebuah alat bantu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali bergerak, berkarya, dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri. Semangat inilah yang hadir dalam kegiatan pemberian bantuan kaki palsu yang dilakukan Yayasan Buddha Tzu Chi Medan kepada para penerima bantuan di Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya, Pematang Siantar, pada Selasa, 29 September 2026.
Pada kegiatan ini, Tzu Chi memberikan bantuan kaki palsu kepada enam penerima bantuan dari komunitas He Qi Medan Deli dan komunitas He Qi Medan Jati, dengan berbagai latar belakang kisah yang membuat mereka harus kehilangan anggota tubuh. Dua penerima bantuan kehilangan kaki akibat kecelakaan kerja, satu karena kecelakaan kendaraan, sementara tiga penerima lainnya harus menjalani amputasi akibat menderita penyakit diabetes.
Kondisi tersebut tentu membawa perubahan besar dalam hidup mereka. Aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah, menjadi sebuah tantangan. Untuk kembali bergerak dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri, mereka membutuhkan alat bantu yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Di sinilah kaki palsu tidak hanya menjadi sebuah alat bantu, tetapi juga menjadi jembatan untuk membuka kembali kesempatan, menumbuhkan kepercayaan diri, dan melangkah menjalani hari-hari dengan lebih mandiri.
Monica Margaretta Br Pardosi sedang mencoba kaki palsu barunya. Monica dengan sukacita menyambut kaki palsunya dengan araan dan semangat baru.
Salah satu penerima bantuan kaki palsu adalah Monica Margaretta Br Pardosi (20 tahun). Monica merupakan anak ketiga dari enam bersaudara yang sudah kehilangan kedua orang tuanya. Hidupnya berubah ketika ia masih duduk di kelas 2 SD. Kecelakaan itu terjadi begitu cepat.
Saat itu, Monica pulang sekolah dengan menaiki becak. Tiba-tiba, kaki kirinya masuk ke rantai becak hingga rantai tersebut mengoyak kakinya dan membuatnya putus di bagian mata kaki. Kondisinya sangat parah. Dokter pun menyampaikan bahwa amputasi menjadi satu-satunya tindakan untuk menyelamatkan nyawanya. Singkat cerita, ketika tersadar, Monica mendapati kaki kirinya sudah tidak ada.
Belum selesai ujian yang harus dihadapi, saat duduk di kelas 3 SMP, Monica dan saudara-saudaranya kembali kehilangan sosok yang mereka cintai. Sang ibu jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Namun, melalui jalinan jodoh baik, secercah harapan hadir ketika Monica mengenal Tzu Chi dari seorang tetangga. “Dari perkenalan itulah, pintu cinta kasih terbuka untuk saya. Tzu Chi memberikan bantuan kaki palsu untuk saya,” kata Monica mengenang masa itu.
Sesudah memasang kaki palsu barunya, Monica mencoba berjalan dan merasakan apakah kaki palsu barunya nyaman dipakai.
Kini, beberapa tahun telah berlalu sejak pertama kali Monica menerima bantuan tersebut. Pada 29 September 2026, ia kembali menerima bantuan kaki palsu karena kaki palsu yang sebelumnya sudah terlalu kecil. Seiring pertumbuhannya, Monica telah menerima bantuan kaki palsu sebanyak tiga kali.
Bagi Monica, bantuan tersebut bukan sekadar alat untuk membantunya berjalan, tetapi juga wujud cinta kasih, perhatian, dan kepedulian yang telah mendampingi perjalanan hidupnya.
“Saya sangat bersyukur bisa mengenal Tzu Chi. Di setiap doa dan harapan pasti ada jalan yang Tuhan berikan. Dengan dibantu Tzu Chi, saya bisa menjalankan aktivitas dengan baik,” ujar Monica dengan mata berkaca-kaca.
Ia berharap dapat berbagi dengan orang lain apa yang telah diterimanya dari Tzu Chi. Jika memiliki kesempatan, Monica juga ingin turut bersumbangsih dan menjadi bagian dari ladang berkah Tzu Chi agar lebih banyak orang yang membutuhkan dapat merasakan cinta kasih yang sama. Sebagai seseorang yang telah merasakan langsung perhatian dan kepedulian Tzu Chi, Monica pun bertekad menghadirkan cinta kasih yang sama kepada orang-orang di sekitarnya, dimulai dari hal-hal kecil yang dapat ia lakukan.
Selain Monica, ada Daniel Simbolon (49 tahun), seorang satpam di sebuah perusahaan yang menjadi salah satu penerima bantuan kaki palsu. Daniel mengalami kecelakaan saat bekerja. Setelah mengalami musibah tersebut, Daniel mendapat bantuan dari perusahaan tempatnya bekerja untuk mendapatkan kaki palsu. Namun, setelah dua tahun digunakan, kaki palsu tersebut sudah rusak dan tidak layak pakai. Mendengar informasi dari tetangga, Daniel pun mengajukan permohonan bantuan kepada Tzu Chi.
“Saya sangat senang, akhirnya Tzu Chi memberikan bantuan kepada saya. Kaki palsu saya sudah hancur, sudah saya tempel-tempel dengan selotip. Hari ini saya benar-benar sangat senang, mendapatkan kaki yang baru. Semoga bisa beraktivitas lebih baik lagi. Terima kasih kepada Tzu Chi yang sudah membantu saya, semoga lebih banyak lagi orang-orang yang terbantu,” ujar Daniel penuh sukacita.
Dengan terharu dan dipenuhi sukacita, Daniel Simbolon mencoba kaki palsunya.
Enam orang, enam perjalanan kehidupan yang berbeda. Namun, ada satu harapan yang sama, yaitu dapat kembali melangkah dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri. Melalui bantuan kaki palsu ini, Tzu Chi berupaya memberikan kesempatan kepada para penerima bantuan untuk kembali melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Tzu Chi, membantu bukan hanya tentang memberikan sesuatu yang dibutuhkan, tetapi juga menghadirkan harapan dan semangat bagi para penerimanya. Sebuah kaki palsu mungkin hanya terlihat sebagai alat bantu, namun bagi seseorang yang kehilangan kaki, alat ini dapat berarti kesempatan untuk berdiri kembali, berjalan kembali, bekerja kembali, dan menjalani kehidupan dengan lebih percaya diri.
Setiap langkah yang mereka lakukan menjadi bagian dari perjalanan baru, perjalanan yang dipenuhi harapan, kemandirian, dan kesempatan untuk kembali memberikan manfaat bagi sesama. Satu langkah mungkin terlihat kecil, namun ketika langkah itu lahir dari cinta kasih, ia dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik.
Master selalu mengingatkan bahwa cinta kasih harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ketika melihat ada orang yang membutuhkan, kita tidak hanya bersimpati, tetapi juga berusaha mengulurkan tangan untuk membantu meringankan penderitaan mereka. Melalui bantuan sederhana seperti kaki palsu, cinta kasih itu pun hadir dalam bentuk nyata, menemani mereka untuk kembali melangkah dan menata kehidupan.
Editor: Metta Wulandari