Mari Menabung Berkah

Jurnalis : Veronika Usha, Fotografer : Veronika Usha
 
 

fotoUntuk mengurangi ketegangan, para relawan Tzu Chi juga memberikan pendampingan kepada para pendonor, terutama bagi mereka yang baru pertama kali melakukan donor darah.

Sejumlah orang dengan antusias menyumbangkan darahnya ke dalam kantong-kantong berukuran 250-350 ml. Tidak hanya seorang sendiri, banyak dari mereka juga datang dengan membawa teman maupun sanak keluarganya

Beramal Sambil Menjaga Kesehatan
Ini sudah kali keempat Liem Cun Bie pergi mendonorkan darah ke Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Perwakilan Tangerang. Sebelumnya ia juga pernah melakukan hal serupa saat mengantarkan sang istri melahirkan anak kedua, namun setelah itu karena pekerjaan Cun Bie mengaku jarang mendonorkan darahnya lagi. “Tapi setelah di Tzu Chi Tangerang rutin diadakan kegiatan donor darah setiap tiga bulan sekali, saya jadi rajin mendonorkan darah di sini,” ucap Cun Bie.

Tidak hanya sendiri, Cun Bie juga selalu mengajak istri serta anak keduanya (Theresia) yang pernah mendapatkan bantuan pengobatan dari Tzu Chi. “Kalau inget dulu (ketika anaknya dibantu Tzu Chi-red), rasanya apa yang sudah kami lakukan ini tidak ada apa-apanya,” tutur Kang Mi Lan, sang istri. Ia menambahkan, selain membalas budi, Mi Lan mengaku merasa bahagia bisa membantu sesama dengan sedikit darah yang ia miliki. “Darah itu kan sesuatu yang penting, Mbak. Siapa tahu darah kita bisa menyelamatkan seseorang yang tadinya akan meninggal, itu kan rasanya bahagia sekali,” ungkapnya.

Selain bisa membantu orang lain, Cun Bie dan istri juga merasa lebih sehat setelah rutin melakukan donor darah. Kalau biasanya sang istri sering mengeluh pegal-pegal dan tidak enak badan, kini hal tersebut sudah tidak lagi ia keluhkan. Bahkan Theresia, buah hati mereka, juga memiliki keinginan serupa apabila sudah cukup umur. “Sebenarnya saya takut jarum. Tapi kalau sudah besar nanti, saya tidak boleh lagi takut jarum, jadi bisa donor darah seperti papa dan mama,” tekadnya. Bukan hanya Cun Bie dan keluarga yang merasakan manfaat dari kegiatan donor darah, Hardi Gozali, pria berumur 64 tahun ini mengaku menjadi lebih fit sesudah menyumbangkan darahnya. Sekitar tahun 1996, Hardi sudah mulai melakukan donor darah. “Sejak itu saya selalu rutin menyumbangkan darah, karena saya merasakan sendiri badan menjadi lebih ringan dan segar,” ungkap Hardi.

Ia pun menceritakan pengalamannya saat membutuhkan darah. “Ketika itu saya sedang membutuhkan darah untuk keponakan saya. Kondisinya benar-benar gawat. Untung saja saya memiliki kartu donor darah, sehingga bisa memperoleh darah dengan mudah, tanpa biaya sedikit pun,” terangnya. Oleh karena itu, Hardi tahu betul betapa berharganya setetes darah bagi mereka yang membutuhkan, “Selama kita sehat kenapa tidak menyumbangkan darah untuk sesama? Toh selain beramal kita juga jadi sehat,” tambahnya.

 

foto  foto

Ket : - Kepedulian terhadap sesama yang diwujudkan dalam kegiatan donor darah juga harus ditularkan               kepada para generasi muda.(kiri)
         - Para relawan Tzu Chi Tangerang juga tidak mau ketinggalan untuk menyalurkan cinta kasih                mereka. (kanan)

Gan En
Kegiatan donor darah yang diadakan di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Perwakilan Tangerang, 19 Juni 2010 ini diikuti oleh lebih kurang 60 calon pendonor. Namun tidak semua pendonor bisa mendonorkan darahnya karena beberapa alasan medis. Akhirnya dari 60 pendaftar, terkumpul 52 kantong darah.

“Ini merupakan kegiatan donor darah kelima, yang kami buat. Kami melihat setetes darah itu bisa membantu orang yang membutuhkan, oleh karena itu kami mencoba untuk menggalang hati melalui kegiatan donor darah ini,” ucap Melti, selaku koordinator kegiatan.
Melti menjelaskan, para donor terdiri dari teman-teman relawan, karyawan di pabrik milik relawan Tzu Chi, maupun para mantan pasien Tzu Chi yang sudah sembuh. Ia berkata, “Kami biasanya menghubungi calon pendonor dari mulut ke mulut. Bahkan, banyak karyawan dari PT Kuanglin Ceramik Industri (salah satu perusahaan milik relawan Tzu Chi-red) yang rutin mendonorkan darah mereka.”

foto  foto

Ket : - Tidak hanya mendonorkan darah, Lie Cun Bie-seorang penerima bantuan Tzu Chi- juga menyerahkan             celengan bambu sebagai salah satu bentuk rasa syukurnya. (kiri)
         - Masih dalam rangka bulan bacang, para pendonor mendapatkan bacang cinta kasih dengan gantungan             teratai manik lengkap dengan kata perenungan. (kanan)

Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada para donor, relawan Tzu Chi memberikan suvenir cantik berupa bacang cinta kasih. Selain dibungkus dengan kertas kado, juga diselipkan Kata Perenungan Master Cheng Yen dengan bunga teratai cantik sebagai penghiasnya. “Bacang-bacang ini adalah bentuk cinta kasih dari relawan untuk para pendonor. Lebih kurang 15 relawan bekerja sama membuat lebih kurang 200 bacang, di Posko Daur Ulang Tangerang,” tambah Melti.

Tidak hanya itu, gantungan teratai cantik yang menghiasi bacang cinta kasih itu juga merupakan hasil karya dari para relawan. Mariani, salah satu relawan yang membuat teratai manik-manik itu menjelaskan beberapa kesulitan yang dihadapi para relawan. “Mayoritas relawan yang membuat teratai ini adalah mereka yang sudah berumur. Sehingga, dengan menggunakan kacamata mereka membuat teratai ini dengan penuh kesabaran. Kadang lucu juga melihat mereka membongkar teratai itu beberapa kali, tapi karena semua relawan membuatnya dengan cinta kasih, jadi tetap terasa menyenangkan.”

Teratai adalah sebuah bunga yang hidup di air yang keruh, namun meskipun demikian dia tetap terlihat indah dan cantik, dan hal inilah yang diharapkan oleh relawan Tzu Chi. “Semoga saja, mereka bisa seperti teratai ini,” tambah Mariani.

  
 
 

Artikel Terkait

Mencegah Erosi dan Abrasi Lewat Penanaman Mangrove

Mencegah Erosi dan Abrasi Lewat Penanaman Mangrove

22 November 2017
Dengan sangat antusias, relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun bersama anggota TNI dan masyarakat menanam pohon mangrove di Pantai Pelawan. Tanam mangrove merupakan salah satu bentuk nyata menyayangi bumi.
Bingkisan untuk Nenek Usun

Bingkisan untuk Nenek Usun

15 April 2025

Nek Usun tak asing bagi relawan. Sudah beberapa kali relawan melakukan kunjungan kasih ke rumahnya. Namun kali ini, ada ekspresi kebingungan dan seolah lupa terlihat ketika para relawan berkunjung ke rumah Nek Usun pada Sabtu, 29 Maret 2025.

Tangan Kita yang Menyelamatkan

Tangan Kita yang Menyelamatkan

26 Juni 2009 Meskipun sudah sering menjadi buah bibir di beberapa seminar, dan menghiasi sampul muka (headline) beberapa media massa di Indonesia, pada kenyataanya pengetahuan akan dampak buruk sampah dan pengolahannya masih belum dapat tersosialisasikan dengan baik.
Seulas senyuman mampu menenteramkan hati yang cemas.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -