Meditasi Berjalan Sambut Hari Waisak

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari, Edi, Charlie, Raymond (He Qi Jakarta Utara 2), Mery Hasan (He Qi Barat 2)

Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengadakan kegiatan Chao Shan (meditasi berjalan) di Lapangan Teratai, Tzu Chi Center, sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Waisak dan Hari Tzu Chi Sedunia.

Fajar belum sepenuhnya merekah ketika langkah-langkah hening mulai menyatu di Lapangan Teratai, Tzu Chi Center, Minggu, 3 Mei 2026. Dalam suasana pagi yang sejuk, para peserta berjalan perlahan, menapaki setiap langkah dengan penuh kesadaran melalui kegiatan Chao Shan atau meditasi berjalan. Ritme langkah yang selaras, gerakan yang sederhana, serta keheningan yang terjaga menghadirkan ketenangan sekaligus melatih kesadaran, mengajak setiap orang untuk kembali pada diri sendiri.

Kegiatan Chao Shan yang digelar oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Waisak dan Hari Tzu Chi Sedunia. Tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan 60 tahun perjalanan Tzu Chi di dunia, sebuah perjalanan panjang yang dibangun dari langkah-langkah kecil yang konsisten dalam menebarkan cinta kasih.

Suasana hening itu tidak hanya diikuti oleh para relawan, tetapi juga masyarakat umum. Tercatat sebanyak 241 peserta ikut serta. Di antara mereka terdapat keluarga Yento Bhakti dan Yenni Wati yang datang bersama kedua anak mereka. Berbekal informasi dari Instagram Tzu Chi Indonesia, Yenni mengajak keluarganya untuk hadir.

Berangkat sejak hari masih fajar dari rumah mereka di Jelambar, keluarga kecil ini menjadikan momen Chao Shan sebagai ruang belajar bersama. Sebelumnya, Yenni hanya mengenal Tzu Chi dari tempat kerjanya terdahulu yang pernah mengajak karyawan untuk tur Aula Jing Si. Setelah itu, melalui kegiatan meditasi berjalan ini, ia kembali berjodoh dengan Tzu Chi.

Sebanyak 241 relawan dan masyarakat umum turt serta hadir mewarnai keheningan dan ketenangan Chao Shan. Di antara mereka ada Yenni Wati (baju putih, rambut pendek) yang datang bersama suami dan anak-anaknya (salah satu anak laki-lakinya, baju putih dan celana hitam).

Yenni Wati bersama putrinya tampak khusyuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ia mengaku merasakan ketenangan dan menikmati setiap momen dalam meditasi berjalan ini.

Yenni mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini karena memiliki minat dalam meditasi. Kebetulan kegiatan ini terbuka untuk umum, sehingga ia bersemangat dan langsung memutuskan untuk hadir. Baginya, meditasi, baik duduk maupun berjalan, menjadi salah satu cara melatih kesadaran dalam menjalani kehidupan. Ia memaknai setiap langkah sebagai simbol arah hidup bagaimana seseorang berjalan dengan tujuan yang jelas dan penuh perhatian.

“Saya memang ingin ikut meditasi berjalan dan mengajak keluarga, supaya kami benar-benar bisa belajar berkesadaran dalam setiap langkah dan tahu arah langkah kita ke mana,” ucapnya sumringah.

Antusiasme pun datang dari anak-anaknya, Ryo Bhakti dan Jolin Bhakti. Mereka bangun sendiri tanpa diminta sejak pukul 04.00 pagi, lalu mengikuti kegiatan dengan tenang hingga selesai tanpa keluhan. Pengalaman ini menjadi sesuatu yang berkesan bagi keluarga tersebut.

Lebih dari itu, Yenni melihat kegiatan ini sebagai cara menanamkan nilai-nilai positif sejak dini. Dalam suasana yang tenang, anak-anak belajar fokus, disiplin, serta bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan.

“Kami ingin anak-anak belajar melakukan kegiatan yang positif, supaya mereka juga bisa lebih fokus, berkesadaran, dan bertanggung jawab,” ucap Yenni dengan penuh sukacita.

Kesan damai yang dirasakan pun begitu kuat. Tanpa terasa lelah, mereka justru menikmati setiap momen yang dijalani bersama. Pengalaman ini menjadi sesuatu yang ingin ia bagikan kepada lebih banyak orang.

“Karena saya sendiri merasa batin itu damai, tenang. Jadi, semoga nanti kalau ada kesempatan lagi, ada lebih banyak masyarakat yang ikut dan merasakan hal yang sama seperti saya,” harap Yenni.

Selama sekitar satu jam, para peserta berjalan perlahan dari lobi Aula Jing Si menuju Lapangan Teratai dan kembali ke titik semula. Dalam keheningan yang terjaga itu, barisan peserta tampak rapi dan selaras, menghadirkan harmoni gerak yang sederhana namun penuh makna.

Usman Sutanto (depan kanan) memimpin barisan dalam kegiatan Chao Shan bersama relawan lainnya. Peran ini menjadi kesempatan baginya untuk melatih konsentrasi, menjaga ritme langkah, serta menjadi teladan bagi peserta lain.

Di sisi lain, bagi relawan seperti Usman Sutanto yang berada di barisan paling depan bersama beberapa relawan lain, kegiatan ini juga menghadirkan pembelajaran yang dapat ia praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Memimpin barisan, baginya, bukan sekadar berjalan di depan, tetapi juga menjaga keselarasan seluruh peserta. Ia harus memastikan langkah tetap rapi, ritme terjaga, dan semua berjalan dalam harmoni. Dari sana, ia belajar tentang tanggung jawab dan keteladanan nilai yang juga ia terapkan dalam kehidupan berkomunitas.

“Saat membawa barisan, kita harus memperhatikan yang di samping dan di belakang, memastikan semuanya tetap rapi dan seimbang,” ucap Usman. “Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat sekitar kita depan, samping, dan belakang agar semua harmonis dan bisa berjalan selaras bersama.”

Pengalaman ini sekaligus menjadi wadah pembelajaran tentang kepemimpinan, di mana para relawan senior diharapkan dapat memberikan pendampingan, bimbingan, dan teladan, terutama bagi relawan junior. Kesempatan kecil seperti ini, menurutnya, bisa menjadi awal dari proses pembelajaran yang lebih besar ke depannya.

Chao Shan berlangsung sejak pukul 05.30 hingga 07.00 WIB di Tzu Chi Center. Para peserta telah hadir sejak fajar, saat suasana masih gelap, untuk mengikuti kegiatan dengan penuh ketenangan.

Sementara itu, panitia kegiatan, Livia Tjin, melihat Chao Shan sebagai bagian dari pelatihan diri yang penting di tengah kehidupan yang berjalan sangat cepat. Ia menggambarkan meditasi berjalan sebagai pengingat bahwa setiap langkah perlu dijalani dengan kesadaran dan arah yang jelas.

Menurut Livia, praktik ini membantu seseorang untuk kembali fokus, memahami diri sendiri, serta memperlakukan orang lain dengan lebih baik, hingga mampu menghadapi permasalahan dengan pikiran yang lebih jernih. Nilai-nilai inilah yang selama puluhan tahun terus dilatih dalam perjalanan Tzu Chi.

Menariknya, kegiatan ini juga menjadi jembatan bagi masyarakat untuk mengenal Yayasan Tzu Chi lebih dekat. Antusiasme peserta, termasuk mereka yang mengetahui informasi dari media sosial, menjadi tanda bahwa semakin banyak orang mulai tertarik merasakan langsung nilai-nilai yang dibawa.

Livia Tjin (tengah) memberikan arahan kepada panitia sebelum kegiatan dimulai, ia memastikan seluruh rangkaian Chao Shan berjalan dengan tertib dan khidmat.

Momentum 60 tahun Tzu Chi pun menjadi refleksi tersendiri. Bagi Livia, perjalanan panjang ini bukan sekadar tentang waktu, melainkan tentang konsistensi dalam melatih diri dan menebarkan cinta kasih.

“Bisa mengikuti perjalanan Tzu Chi hingga 60 tahun adalah berkah yang luar biasa,” ucapnya haru. “Menurut saya, Tzu Chi merupakan salah satu organisasi dengan sistem yang baik, yang menjadikan cinta kasih sebagai landasan, serta menjadikan sila sebagai pedoman, di mana semua relawan bersama-sama melatih diri.”

Lebih lanjut, Livia menuturkan bahwa tidak semua orang dapat bertemu dan berjodoh dengan Tzu Chi maupun Master Cheng Yen. “Sehingga kita (relawan) ini sangat penuh berkah bisa bertemu dan mengikuti Master hingga Tzu Chi Taiwan berusia 60 tahun. Saya sangat senang, bersukacita, dan merasa luar biasa. Penuh berkah sekali bisa menjadi murid Master Cheng Yen,” tutup Livia.

Dari sana, Livia berharap setiap relawan dapat menggenggam dan memanfaatkan jalinan jodoh baik ini dalam berbagai kesempatan dan kegiatan, termasuk melalui praktik Dharma yang sarat makna seperti meditasi berjalan. Lewat kegiatan inilah, nilai-nilai kebaikan terus diwariskan—dari satu langkah ke langkah berikutnya, dari satu hati ke hati lainnya.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Datang Dengan Hati yang Tulus

Datang Dengan Hati yang Tulus

29 April 2019

Diiringi lantunan Namo Ben Shi Shi Jia Mou Ni Fo, Lie Soi Eng dan ratusan relawan Tzu Chi lainnya berjalan tiga langkah secara perlahan kemudian dilanjutkan satu kali bernamaskara. Begitu seterusnya mengelilingi lapangan teratai Tzu Chi dan kembali ke tempat semula.

Meditasi Berjalan Sambut Hari Waisak

Meditasi Berjalan Sambut Hari Waisak

04 Mei 2026

Sebanyak 241 peserta, relawan dan masyarakat umum melangkah hening, bersama-sama menenangkan diri dan melatih kesadaran dalam kegiatan Meditasi Berjalan yang diadakan untuk menyambut Hari Waisak.

Menjernihkan Hati, Kembali Pada Hakikat Diri

Menjernihkan Hati, Kembali Pada Hakikat Diri

02 Mei 2017

Dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak, relawan Tzu Chi mengadakan kegiatan Chao Shan berupa ritual NamaskaraSan bu yi bai”, tiga langkah satu sujud. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 30 April 2017 pukul 05:00 WIB di lapangan Teratai Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Tak perlu khawatir bila kita belum memperoleh kemajuan, yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita tidak pernah melangkah untuk meraihnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -