Melihat dengan Hati

Jurnalis : Jacky Teguh (Tzu Chi Makassar), Fotografer : Jacky Teguh (Tzu Chi Makassar)
 
 

fotoPatmawati sedang memberikan roti kepada ibu Hauwiya.

Pada tanggal 25 November 2011, Waktu menunjukan pukul 07.30 WIB, barisan Bodhisatwa berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti kegiatan camp yang di adakan Tzu Ching Indonesia selama 3 hari. Pelaksanaan kegiatan camp berlokasi di RSKB Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng. Peserta berbaris di halaman parkiran RSKB dan mereka disambut dengan wajah yang penuh senyum. Tiba di ruang Aula RSKB, panitia menampilkan isyarat tangan di depan peserta.

Mengajak Bodhisatwa Muda Menjaga dan Melestarikan Lingkungan
Di hari pertama peserta di ajak untuk melestarikan lingkungan di Perumahan Cinta Kasih Cengkareng. Dengan membersihkan lingkunggan rusun warga yang telah di bagi kelompoknya di dampingi oleh Shigu dan Shibo, mereka di sini bukan cuma membersihkan lingkungan warga tetapi menjalin jodoh dengan mengajak warga turut bersama-sama membersihkan lingkungan. Komunikasi warga dan para bodhisatwa pun berlangsung, di mana mereka saling bahagia. Sehabis membersihkan rusun warga peserta juga diajak mengolah sampah menjadi barang kerajinan yang bermanfaat. Seperti mebuat Eco-Enzim dan sovenir dari botol bekas.

“Ternyata banyak peserta belum mengetahui bahwa barang yang dibuang dapat menjadi kerajinan yang indah dan bisa jadi usaha buat kita,” kata Benhur relawan Tzu Ching. Setelah waktu pembuatan kerajinan tangan yang diberikan habis masing-masing kelompok menampilkan hasil kerajinan tangan yang telah mereka buat kepada teman-teman yang lain. Hasil yang sangat luar biasa kita dapat melihat karya-karya dari kelompok lainnya.

Menebarkan Cinta Kasih Pada diri Sendiri
Sehabis kunjungan dari Sekolah Tzu Chi, peserta kembali ke RSKB berbaris dengan rapi naik ke ruang Aula RSKB. Tampaknya Wajah para peserta sangat bahagia, memasuki aula RSKB. Materi yang berikan pada hari ini adalah penjelasan kunjungan kasih –  Mengapa perlu kunjungan kasih dan sejak kapan Tzu Chi melakukan kunjungan kasih. Di sesi ini peserta tampaknya sangat memperhatikan materi-materi yang diberikan oleh panitia.  Tidak lupa mereka juga di ajak praktik lapangan alias berhubungan langsung dengan pasien yang ditangani oleh Tzu Chi. Saya mengkuti kelompok 8 menuju Tangerang, Banten. Dalam satu kelompok berjumlah tujuh orang termasuk shigu dan shibo.

Diperjalannan shigu menjelaskan pasien yang kita akan kunjungi namanya Hauwiya berumur 68 tahun menderita tumor di perut, awalnya ibu ini perutnya sangat besar sekali. Tumor yang telah dioperasi seberat kurang lebih 3 kilogram. Setiba di rumah ibu Hauwiya  kami bertemu dengan kakak dari ibu tersebut, mereka mengantarkan kita bertemu langsung dengan ibu Hauwiya. Canda tawa peserta dan pasien menghilangkan sedikit penderitaan yang dialami ibu tersebut. Interaksi peserta dan pasien terjadi dimana seorang peserta yang bernama Nathania tiba-tiba memeluk ibu tersebut seperti bagian dari keluarga mereka.

foto   foto

Keterangan :

  • Kondisi rumah Hauwija, yang nampak sesak dan kotor (kiri).
  • Canda-tawa bersama dengan pasien (kanan).

Nathania memegang dan mendoakan ibu tersebut agar cepat sembuh. Ibu tersebut sangat terharu dan meneteskan air mata. Ibu tersebut juga mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah banyak membantu. “Terima kasih juga kepada adek-adek yang telah datang berkunjunng, melihat rumah kami sangat kecil dan sempit,” ujar ibu Hauwiya.

Setelah selesai kunjungan kasih kami kembali ke RSKB, pada saat duduk di atas mobil, seorang Tzu Ching bernama Patmawati tiba-tiba melihat ada roti yang di berikannya dari panitia untuk bekal makan di jalan. Patmawati mengatakan kepada teman-temannya “Kasian tadi kita melihat ibu  tersebut bagaimana kalau roti kita berikan saja kepada ibu tersebut,”katanya. Teman-teman juga setuju, kami mengumpulkan roti-roti yang di berikan panitia kemudian kita kembali memberikan roti tersebut kepada ibu Hauyiwa.

Setiba di sana ibu hauwiya heran. Salah satu dari teman-teman secara spontan berkata, “Kita ada sedikit makanan yang bisa diberikan kepada ibu. Semoga ibu sehat sehat selalu. Sehabis berikan makanan teman-teman sangat bahagia melihat wajah ibu tersebut dapat tersenyum.

Rasa Cinta Kasih dan hubungan kekeluargaan tumbuh
Di hari ketiga, panitia meminta sharing dari bebepa peserta. Shella mengatakan, “Wo ai mama-papa. Ajaran Tzu Chi yang di ajarkan oleh Master Cheng Yen tidak memandang suku, agama, ras, maupun golongan. Saya ingin cepat-cepat pulang menyebarkan benih cinta kasih”. Peserta lainnya Handy juga menyampaikan kesan-kesannya selama mengikuti camp. “Awalnya saya kesini sudah mempersipkan baju terbaik, dengan jam tangan dan bersepatu agar terlihat keren di acara tersebut. Tetapi ternyata di hari hari pertama kita di suruh membersihkan  sampah  dan dilihat oleh banyak orang lagi. Awalnya saya malu dan ternyata di sini saya sadar bahwa barang mewah tidaklah penting, yang terpenting adalah rasa peduli terhadap sesama,”ucapnya. “Di sini saya pun dapat sahabat baru yang tidak pernah terlupakan baginya, yaitu Hok Lay shibo. Handy pun berpelukan dengan Hok Lay pada saat menyampaikan sharingnya.

Terakhir sharing dari Lynda shigu mengatakan,  “Berbahagialah kita berada di dunia ini, Tzu Ching memang hebat, Tzu Ching benar-benar hebat. Saya sangat terharu atas langkah-langkah Tzu Ching. Setiap langkah yang penuh dengan Dharma Master seperti pada saat Baksos yang diadakan Tzu Chi,Tzu Ching yang wanita pun ikut membantu memikul beras. Yang terpenting kalau mengetahui perbuatan kita salah kita harus berubah dan bertobat,” pesan Lynda shigu.

  
 

Artikel Terkait

Suara Kasih: Membangun Empat Ikrar Agung

Suara Kasih: Membangun Empat Ikrar Agung

22 Juli 2013 Ada banyak sekali orang yang membutuhkan pelayanan medis kita. Karena itu, kita harus membangkitkan Empat Ikrar Agung Bodhisatwa, yaitu ikrar untuk menyelamatkan semua makhluk yang tak terhingga.
Membantu Masyarakat di Pulau-pulau Terpencil

Membantu Masyarakat di Pulau-pulau Terpencil

03 Juni 2015 Sebagai negara kepulauan, Indonesia diuntungkan memiliki tiga  jenis wilayah: darat, laut, dan udara. Kondisi geografis seperti itu memiliki potensi sekaligus kelemahan. Potensi terbesarnya adalah sumber daya yang ada di dalamnya, sedangkan kelemahannya adalah masalah perhubungan antar pulau-pulau serta masalah keamanan, kedaulatan, dan kesejahteraan.
Terus Berkembang dengan Budaya Humanis yang Mengakar Kuat

Terus Berkembang dengan Budaya Humanis yang Mengakar Kuat

03 Oktober 2019

“Master Cheng Yen, ketika akan mendirikan Da Ai TV (Taiwan), walaupun membutuhkan sumber daya yang besar, beliau tetap yakin bahwa melalui teknologi dan TV, kebajikan bisa disebarkan lebih luas sampai ke rumah-rumah kita semua,” cerita Elisa Tsai, Deputy CEO DAAI TV Indonesia dalam kegiatan Training karyawan DAAI TV.


Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -