Meluaskan Budaya Humanis di Lingkungan Pendidikan

Jurnalis : Noni Kumala Sari (Tzu Chi Cabang Sinar Mas), Fotografer : 3in1 Xie Li Semitau

Relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Semitau, memberikan semangat kepada para peserrta yang akan mengikuti Lomba Budaya Humanis yang diadakan di TK Ganesha Talino Pamita, Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

“Berlombalah demi kebaikan di dalam kehidupan, manfaatkanlah setiap detik dengan sebaik baiknya,”
 Kata perenungan Master Cheng Yen

Cuaca pagi hari yang cerah di Club House Belian Estate tampak begitu menawan dengan suasana sejuk dan asri setelah diguyur hujan deras pada Senin sore sebelumnya. Sisa-sisa air hujan terlihat membasahi dedaunan di sekitar area gedung.

Angin sepoi-sepoi yang berembus lembut membawa kesegaran alami ke dalam ruangan, menciptakan atmosfer yang sangat mendukung ketenangan batin. Kondisi lingkungan yang teduh ini menjadi pendukung yang sempurna bagi 34 relawan Tzu Chi, 20 guru, dan 27 peserta yang mulai berdatangan dalam kegiatan Lomba Budaya Humanis yang diadakan pada Minggu, 27 September 2026 di TK Ganesha Talino Pamita, Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Kesejukan udara pagi itu pasca-hujan seakan menyatu dengan kehangatan senyuman para relawan yang menyambut setiap kehadiran para peserta dengan penuh cinta kasih, membuat siapa pun yang melangkah masuk ke dalam Club House langsung merasakan kedamaian. Tepat pukul 07.45 WIB acara dimulai dengan sangat khidmat melalui prosesi Pradaksina.

Kegiatan dipandu oleh Bapak Hery S. bersama Nesya, siswi SDS Eka Tjipta Belian. Acara diawali dengan doa pembuka, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Sinar Mas. Suasana semakin hangat ketika seluruh hadirin bersama-sama memperagakan isyarat tangan satu keluarga dan bergandengan tangan yang melambangkan persatuan dan kebersamaan tanpa memandang perbedaan.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Dwi Meiko, yang hadir juga memberikan semangat kepada para generasi muda, "Tetap semangat untuk semua peserta lomba hari ini, tampilkan yang terbaik hari ini," ujarnya memotivasi.

Sama dengan hal tersebut, relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Semitau, Agung Tri Wahyudi juga menekankan pentingnya totalitas dan ketenangan dalam berkompetisi. "Di manapun kita, siapapun kita, kita harus berkegiatan sebaik-baiknya. Dalam lomba ini kita harus serius, jangan tegang dan merasa takut. Semua tata cara sama dengan di Jing Si, terima kasih atas kontribusi semua peserta", ucap Agung Tri Wahyudi.

Kehangatan Dalam Budaya Humanis
Kegiatan lomba ini dilakukan secara terpisah di dua tempat, yaitu Club house dan TK Ganesha Talino Pamita. Kemeriahan perlombaan bukan sekadar riuh tepuk tangan atas kemenangan, melainkan juga tentang indahnya harmoni yang tercipta dalam setiap kategori lomba. Ketajaman hati dan pikiran diasah melalui Lomba Cepat Tepat 108 Kata Perenungan Master Cheng Yen, lomba bercerita, lomba menggambar, dan lomba guru inspiratif yang menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi para pelita bangsa.

Tampak bersemangat, para peserta lomba mewarnai focus menuangkan kreativitas mereka untuk menghasikjan karya terbaik, didamping relawan Tzu Chi.

Dengan penuh perhatian, para peserta lomba cepat tepat tampak menyimak pertanyaan yang diberikan oleh panita.

Ketegangan begitu terasa di setiap detiknya ketika pembawa acara membacakan soal demi soal. Keheningan sesaat yang mencekam menyelimuti ruangan, di mana hanya terdengar suara napas tertahan dari para peserta dan detak jam dinding yang terus berputar. Semua mata penonton, termasuk guru dan para relawan, tertuju pada para peserta, seraya ikut merasakan debaran jantung para peserta yang sedang beradu konsentrasi tinggi.

Suasana semakin menegangkan saat para peserta mulai menekan tombol bel untuk menjawab pertanyaan. Bunyi bel yang nyaring berulang kali memecah keheningan, disusul adu cepat dalam memberikan jawaban. Perolehan skor pun saling kejar-mengejar, membuat persaingan semakin seru hingga akhir perlombaan.

Ketegangan memuncak di babak perebutan, di mana konsentrasi penuh dan kecepatan tangan menjadi penentu utama. Di tengah ketatnya persaingan yang mendebarkan tersebut, Aqila Sasakirana Arundati dari SDS Eka Tjipta Sungai Beran akhirnya berhasil keluar sebagai Juara 1 setelah mengumpulkan skor fantastis sebesar 800 poin. 

Berbanding terbalik dengan riuhnya persaingan dalam lomba cepat tepat, suasana di TK Ganesha Talino Palmita berubah menjadi hening dan syahdu saat Lomba Menggambar dimulai. Ruangan yang semula di penuhi keceriaan perlahan mendadak sunyi, menyisakan ruang bagi para peserta menuangkan imajinasi dan kreativitas mereka. Dalam keheningan itu, nilai budaya humanis hadir sebagai ketenangan batin dan harapan akan dunia yang penuh kedamaian.

Di antara sembilan karya yang dikumpulkan, gambar milik Myesha Rifdatul Hafizah dari SDS Eka Tjipta Belian tampil paling menarik. Ia mengombinasikan warna alam semesta yang ceria dipadu dengan gambar anak-anak saling bergandengan tangan. Dengan teknik gradasi krayon yang sangat rapi, padat, dan bersih. Detail kreativitas Myesha, membuatnya meraih nilai tertinggi dari tim juri.

"Rata-rata semua hasil karya anak-anak itu bagus-bagus, apalagi mereka menggunakan berbagai teknik mewarnai sehingga saya pun kesulitan untuk memilih pemenangnya," ungkap Bestari salah satu juri menggambar.

Salah satu hasil karya terbaik lomba mewarnai, Myesha Rifdatul Hafizah yang memenangkan lomba tersebut.

Setelah jeda makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan lomba bercerita yang digelar sebagai pamungkas. Suasana panggung terasa menenangkan dengan dekorasi dan berjajar properti kreatif buatan mandiri seperti boneka, gambar ukuran besar, hingga pakaian adat yang siap menghidupkan cerita. Sementara itu, di deretan kursi peserta, tampak pemandangan menggemaskan anak-anak yang tengah berjuang mengatasi rasa gugup. Jemari tangan saling meremas, serta bibir yang bergerak pelan mengulang teks yang telah mereka hafalkan, bersiap menyampaikan cerita terbaik di hadapan para juri.

Kemudian, para peserta satu persatu menampilkan penampilan terbaiknya, salah satunya dengan mengubah suara mereka seperti meniru tokoh jenaka hingga rintihan sedih dengan gerakan tubuh yang ekspresif. Saat kisah menyentuh tema bakti atau memaafkan, ruangan menjadi lebih sendu hingga membuat juri dan orang tua yang menyimak dengan mata berkaca-kaca.

Setiap cerita yang berhasil dibawakan para peserta, ruangan tersebut seketika langsung pecah oleh gemuruh tepuk tangan kebanggaan. Peserta turun panggung dengan senyum lebar setelah memberikan salam humanis yang sopan. Lomba ini membuktikan bahwa melalui suara jujur anak-anak, nilai kemanusiaan dapat meresap indah ke dalam jiwa. Atas nama Alvaro Gavriel dari SDS Eka Tjipta Kapuas Hulu keluar sebagai juara pertama kategori lomba bercerita.

Rasa senang dan tak percaya terpancar dari wajah Gavriel saat Namanya diumumkan sebagai juara pertama. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku sempat pesimis melihat penampilan peserta lain yang luar biasa. "Saat nama saya disebut sebagai Juara pertama, rasanya seperti mimpi. Saya langsung meloncat kegirangan. Saya sama sekali tidak menyangka karena penampilan teman-teman yang lain bagus sekali," ungkap Gavriel dengan penuh kebahagiaan.

Kemenangan ini menjadi kejutan manis baginya, sekaligus buah dari kerja keras dan persiapan yang telah ia lakukan selama ini.

Suasana lomba bercerita berlangsung dengan sukacita dan penuh kehangatan.

Kepala Sekolah SDS Eka Tjipta Belian, Alfiansyah, dengan penuh sukacita merasakan bahwa kegiatan yang dilakukan secara rutin ini sangat memberikan dampak positif bagi anak-anak, "Dari tadi pagi sampai siang ini, semua peserta tampak sangat bersemangat dan antusias dalam berkompetisi meraih prestasi," tutur Alfiansya.

Ia juga menambahkan bahwa melalui kegiatan rutin ini, pihak sekolah berharap ke depannya para siswa dapat terus saling bekerja sama, pantang menyerah dalam menggapai prestasi, serta senantiasa saling menghargai baik dalam kemenangan maupun kekalahan.

Bagi para relawan dan pihak sekolah, perlombaan budaya humanis ini bukan sekadar kompetisi musiman, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk masa depan. Di sini, anak-anak diajarkan bahwa menang atau kalah bukanlah tujuan utama. Jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana mereka belajar membagikan cinta kasih kepada sesama.

Editor: Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Belajar Memahami Kehidupan Lewat Karya dan Kata Perenungan Master Chen Yen

Belajar Memahami Kehidupan Lewat Karya dan Kata Perenungan Master Chen Yen

16 Desember 2025

Riuh tawa dan kreativitas mewarnai Aula Bunut, PT Indah Kiat Pulp and Paper Perawang, saat ratusan siswa YPPI Perawang dari tingkat TK hingga SMK mengikuti Lomba Budaya Humanis.

Semangat Cinta Kasih di Lomba Budaya Humanis

Semangat Cinta Kasih di Lomba Budaya Humanis

12 April 2019

Kali pertama Lomba Budaya Humanis yang bertajuk Festival Budi Pekerti dilaksanakan oleh relawan dari Xie Li Kalimantan Timur 1 dan Xie Li Kalimantan Timur 2. Kegiatan ini diikuti oleh SMP Eka Tjipta Jak Luay, juga diikuti pula SMP Eka Tjipta Kong Beng serta SD Eka Tjipta Rantau Panjang.

Meluaskan Budaya Humanis di Lingkungan Pendidikan

Meluaskan Budaya Humanis di Lingkungan Pendidikan

09 Oktober 2026

Cinta kasih yang ditanamkan sejak dini dapat membentuk lingkungan sekolah harmonis dan penuh kehangatan. Untuk memperkuat budaya humanis di lingkungan pendidikan, relawan Tzu Chi mengadakan lomba budaya humanis.

Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -