Tiga siswi Primary Tzu Chi School yaitu Claire Widjaja, Hillary Nirmala Xu, dan Jesslyn Faith Tjai, menyerahkan karya lukisan lelang amal “Melukis untuk Menguatkan Harapan” kepada pemenang lelang (diwakilkan).
Tzu Chi School dan Tzu Chi Hospital berkolaborasi dengan Yayasan Anyo Indonesia (YAI) dengan menggalang lelang amal “Melukis untuk Menguatkan Harapan”, sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak pejuang kanker di Indonesia. Penggalangan donasi dilakukan dengan pelelangan lukisan karya siswa-siswi Tzu Chi Shcool pada 19-21 Februari 2026. Dari hasil lelang amal ini terkumpul dana Rp 7 Juta dari 34 karya lukisan yang diserahkan pada Jumat, 27 Februari 2026, di Tzu Chi School, PIK, Jakarta Utara.
Kegiatan kolaborasi ini dilakukan untuk memperingati Hari Kanker Anak Sedunia. Penyerahan donasi diterima langsung oleh, Ketua Yayasan Anyo Indonesia, Pinta Manulang Panggabean. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk meringankan keluarga yang anaknya pejuang kanker.
“Melalui dr. Edi Setiawan Tehuteru, waktu itu ada seorang anak pascatransplantasi, jadi idealnya tidak tingga di rumah sakit dan tinggal tidak jauh dari rumah sakit. Jadi Tzu Chi mengecek kondisi Rumah Anyo dan dinilai layak untuk ditempati. Jadi Rumah Anyo adalah rumah sementara yang disediakan secara gratis bagi pasien dan pendampingnya,” ungkapnya.
Tzu Chi Secondary School Principal, Caroline Widjanarko bersama Direktur Medis Tzu Chi Hospital, dr. Suriyanto, menyerahkan donasi hasil lelang lukisan yang terkumpul untuk anak-anak pejuang kanker kepada Ketua Yayasan Anyo Indonesia, Pinta Manulang Panggabean.
Direktur Medis Tzu Chi Hospital, dr. Suriyanto, menyampaikan rasa kagumnya terhadap siswa-siswi Tzu Chi School atas sumbangsih yang telah diberikan.
Pinta Manulang Panggabean juga mengapresiasi kegiatan yang penuh manfaat ini serta berharap kolaborasi ini dapat terus terjalin. “Kita senang sekali hadir dan menerima perhatian, acara hari ini sangat spesial supaya campaign ini bisa ikut digaungkan. Semoga ini bisa menjadi pemicu semangat dalam bentuk atau karya-karya yang lain dari siswa-siswi Tzu Chi School. Bahkan tadi ada yang bercerita tentang lukisannya, ternyata sedalem itu, salut juga untuk para guru Tzu Chi Scholl,” tambahnya.
Direktur Medis Tzu Chi Hospital, dr. Suriyanto, menyampaikan rasa kagumnya terhadap siswa-siswi Tzu Chi School atas sumbangsih yang telah diberikan. “Kalau melihat kanker anak sekarang ini dari segi pembiayaan masih menjadi tantangan bagi dunia kesehatan di Indonesia. Jadi langkah kecil ini, yang membuat saya kaget dari tim marketing presentasi ke kita bahwa ada program lelang. Jadi saya pikir apa yang di lelang? Ternyata lukisan, siapa yang melukis? Oh, jadi ini karya anak Tzu Chi Scholl, dan ternyata yang melukis adalah siswa-siswi SD dan SMP, itu luar biasa,” tuturnya.
Salah satu siswi Primary Tzu Chi School, Jesslyn Faith Tjai menceritakan hasil karya lukisannya kepada tamu yang hadir dalam kegiatan penyerahan lukisan lelalng amal.
Tiga siswi Primary Tzu Chi School yaitu Claire Widjaja (tengah), Hillary Nirmala Xu (kiri), dan Jesslyn Faith Tjai (kanan), menerima sertifikat penghargaan dari Tzu Chi Hospital dan Tzu Chi School atas sumbangsih yang telah diberikan.
Sebagai siswa-siswi yang tugas utamanya adalah belajar akademik, di dalam kelas Tzu Chi School juga diajarkan rasa kepedulian terhadap sesama dalam berbagai bentuk kegiatan sosial. Rasa kepedulian itu tumbuh pada diri Jesselyn Faith Tjai, siswi kelas 5 Primary Tzu Chi School, melalui hasil karya lukisannya ia berharap dapat membantu anak-anak pejuang kanker.
“Aku mau menolong semua anak-anak pejuang kanker, tapi aku tahu aku masih anak-anak, maka dari itu in my power aku cuma bisa gambar, jadi aku membuat lukisan untuk mereka. Seneng banget hari ini mewakil penyerahan lukisan, padahal agak nervous sedikit karena pertama kali,” ungkapnya.
Lelang amal lukisan ini bukan sekadar ajang apresiasi karya seni, melainkan wujud nyata dari tumbuhnya empati dan kepedulian sejak usia dini. Setiap goresan warna yang dihadirkan oleh para siswa-siswi Tzu Chi School mengandung harapan, doa, dan cinta kasih yang tulus bagi anak-anak pejuang kanker.
Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya belajar tentang seni, tetapi juga memahami makna berbagi terhadap sesama. Semangat ini sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang terus ditanamkan kepada mereka, bahwa sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan akan membawa dampak yang berarti.
Editor: Metta Wulandari