Memaknai Kasih Sayang Ayah
Jurnalis : Nadia (He Qi Jakarta Barat 1), Fotografer : Bobby, Nadia (He Qi Jakarta Barat 1)
Linda Budiman menyampaikan pesan tentang pentingnya memanfaatkan waktu untuk berbakti kepada orang tua selagi kesempatan masih ada.
Kehangatan dan rasa haru menyelimuti Ruang Budaya Humanis, Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng pada Minggu, 9 Agustus 2026. Sebanyak 43 relawan berkumpul sejak pukul 06.20 WIB untuk mengikuti kegiatan Xun Fa Xiang. Mengusung tema “Ayah Mencari Anak”, pertemuan ini menjadi momen refleksi diri yang mendalam tentang cinta kasih orang tua, ketidakkekalan hidup, serta pentingnya menghargai setiap jalinan jodoh.
Acara dipandu oleh Suhermin selaku MC dan dikoordinasikan oleh Yuni Gunawan sebagai PIC. Sesi kebersamaan kali ini terasa kian istimewa berkat arahan Linda Budiman yang bertindak sebagai moderator.
Linda menuturkan bahwa pemilihan tema ini bertepatan dengan momen Hari Ayah yang diperingati setiap tanggal 8 Agustus di Taiwan. Berbeda dari biasanya yang sering mengulas peran ibu, sesi kali ini dirancang khusus untuk mengapresiasi sosok ayah yang kasih sayangnya seluas samudera.
Untuk menyajikan pesan yang dalam, Linda melakukan persiapan matang dengan mendalami materi Dharma dan berlatih sebelum tampil. Ia mengaitkan tema ini dengan ceramah Master Cheng Yen mengenai hukum sebab-akibat dan jalinan jodoh, “Manusia terlahir ke dunia membawa jalinan jodoh masing-masing, memegang peran yang berganti-ganti dari kehidupan ke kehidupan, serta sering kali terbelenggu oleh ikatan cinta, benci, maupun dendam.”
Pesan tersebut kemudian mengajak peserta melihat kembali hubungan mereka dengan orang tua. Melalui ulasan tersebut, peserta diajak menyadari bahwa ketika jalinan jodoh telah usai, hendaknya kita melepaskan kemelekatan agar batin terbebas dari penderitaan. Linda berharap para relawan dapat menggenggam kesempatan untuk berbakti kepada orang tua selagi waktu masih berpihak.
Makna Sejati Sebuah Kekayaan
Refleksi tentang kasih sayang orang tua kemudian dilanjutkan melalui sebuah film pendek berjudul "Gift". Suasana haru kian melingkupi ruangan saat film tersebut diputar. Film ini mengisahkan dinamika hubungan seorang anak laki-laki yang sempat merasa malu dan menganggap ayahnya miskin. Namun seiring waktu, sang anak akhirnya menyadari hakikat kekayaan sejati yang senantiasa diajarkan oleh ayahnya.
"Kekayaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa banyak yang bisa kita bagikan kepada orang lain." Pesan moral yang kuat itu tak pelak membuat beberapa relawan meneteskan air mata. Kisah sederhana tersebut seolah mengajak setiap orang untuk kembali melihat cinta yang selama ini mungkin hadir dalam bentuk yang tidak selalu mereka sadari.

Gianny Trixie mengenang sosok ayah dan berkata, “Pelukan papa adalah pelukan terhangat yang pernah saya rasakan.”
Suasana yang masih dipenuhi haru kemudian berlanjut dalam sesi sharing yang menjadi ruang bagi para relawan untuk mengungkapkan perasaan dan pengalaman masing-masing, sesi ini juga menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh. Sejumlah relawan, di antaranya Daniel Budianto, Sumiyati, Gianny Trixie, Suhermin, Surya Kheng, Tjandra Lianto, dan Indra Dewi, turut membagikan perenungan pribadi mereka.
Gianny Trixie dengan jujur mengenang masa kecilnya yang diwarnai kemarahan akibat sikap ayahnya yang keras. Namun, ketika kesadaran untuk berbakti timbul, kesempatan itu telah sirna karena sang ayah lebih dahulu berpulang. Gianny menuturkan, “Pelukan papa adalah pelukan terhangat yang pernah saya rasakan.” Kini, ia hanya bisa menyimpan kerinduan terhadap pelukan ayahnya, sebuah pelukan yang begitu hangat dan meninggalkan kesan mendalam dalam hidupnya
Dari kisah-kisah yang dibagikan, terselip satu pesan yang sama dimana kesempatan untuk menyayangi dan berbakti kepada orang tua tidak selalu datang dua kali. Karena itu, selama jalinan jodoh masih ada, kasih sayang sebaiknya tidak hanya disimpan dalam hati, tetapi diwujudkan melalui tindakan sederhana setiap hari.
Rangkaian kegiatan Xun Fa Xiang hari itu kemudian ditutup dengan menyanyikan bersama lagu "Senyuman Terindah". Setelah mengabadikan momen melalui foto bersama, para peserta mengakhiri kebersamaan pagi itu dengan menikmati hidangan ramah tamah yang telah disiapkan. Mereka melangkah pulang membawa kenangan indah serta tekad baru untuk lebih menyayangi keluarga dan sesama.
Editor: Metta Wulandari
Artikel Terkait
Menumbuhkan Welas Asih Setelah Menghirup Harumnya Dharma
31 Juli 2026Relawan dari He Qi Medan Jati, Komunitas Hu Ai Perintis mengadakan Xun Fa Xiang (menghirup harumnya Dharma) di Jingsi Books & Café Komplek Grand Jati Junction, Medan untuk semakin mendalami Dharma.
Memaknai Kasih Sayang Ayah
20 Agustus 2026Kebersamaan Xun Fa Xiang di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng menjadi ruang perenungan tentang kasih sayang orang tua, khususnya sosok ayah. Melalui Dharma, film pendek, dan sharing pengalaman, para relawan diajak menyadari arti berbakti serta menghargai jalinan jodoh.







Sitemap