Para relawan senior Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia berjalan dengan penuh ketenangan dan keanggunan menuju altar yang terletak di tengah lapangan teratai. Mereka memegang persembahan berupa pelita, air, dan bunga untuk prosesi Waisak.
Menjelang senja pada 10 Mei 2026, Lapangan Teratai kembali dipenuhi ribuan manusia yang bergerak dalam keheningan. Langkah demi langkah berjalan perlahan, tangan tertangkup rapi, sementara lantunan gatha dan doa mengalun di udara. Setelah 12 tahun, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kembali menggelar perayaan Waisak, hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia berskala besar di ruang terbuka, menghadirkan formasi ribuan peserta dalam tema Mo Wang Chu Xin (jangan melupakan tekad awal).
Bagi banyak orang, formasi itu mungkin terlihat sebagai susunan manusia yang indah dan tertata. Namun bagi panitia dan relawan yang terlibat di dalamnya, ada perjalanan batin yang jauh lebih dalam daripada apa yang tampak di mata.
Tekad Besar yang Berawal dari Langkah Kecil
Tahun ini menjadi momentum yang sangat istimewa. Selain memperingati Hari Raya Waisak, Tzu Chi Taiwan juga memasuki usia 60 tahun, 33 tahun di Indonesia, sekaligus peringatan 90 tahun Master Cheng Yen. Dalam perjalanan yang panjang itu, panitia merasa perlu menghadirkan sesuatu yang bukan hanya megah, tetapi juga mampu membawa setiap orang kembali merenungkan alasan awal mereka melangkah di jalan kebajikan.
“Karena memang sudah lama sekali tidak diadakan di outdoor, jadi kita ingin membuat Waisak ini menjadi sangat spesial untuk semua orang,” ujar Amelia Devina, tim korlap prosesi Waisak ini.
Dari sanalah formasi Mo Wang Chu Xin dipilih. Sebuah pengingat sederhana, tetapi sangat dalam yang mana secara harfiah berarti jangan melupakan tekad awal. Jangan melupakan niat pertama saat memutuskan menjadi relawan. Jangan melupakan alasan mengapa seseorang memilih tetap berjalan di Jalan Bodhisatwa hingga hari ini.
“Kenapa kita berada di Tzu Chi, kenapa kita memutuskan menjadi relawan, kenapa kita berniat menjalani Jalan Bodhisatwa. Semua itu diingat kembali,” kata Amelia.
Amelia Devina (tengah) bersama tim Sekretariat Tzu Chi berkoordinasi dengan seksama. Sudah sejak sebulan lalu, tim korlap terus meramu alur formasi demi kelancaran prosesi Waisak.
Tema itu terasa begitu relevan dengan perjalanan Tzu Chi selama enam dekade. Sebuah organisasi besar yang hari ini dikenal dunia ternyata berawal dari langkah kecil para ibu rumah tangga di Hualien yang menyisihkan uang belanja demi membantu orang lain. Demikian pula Tzu Chi Indonesia yang dahulu juga bertumbuh dari para ibu rumah tangga yang dari rumah ke rumah, dari pintu ke pintu, dari niat sederhana yang dijaga terus menerus hingga hari ini.
Kesederhanaan niat itulah yang justru paling sulit dijaga ketika waktu berjalan semakin lama. Karena itu, Waisak kali ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi tentang menghidupkan kembali tekad yang mungkin perlahan luntur oleh rutinitas, kesibukan, dan tantangan kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 1.500 peserta terlibat dalam formasi tahun ini. Jumlah yang besar itu tentu tidak dipersiapkan dengan mudah. Dalam waktu sekitar satu bulan, panitia harus mengoordinasikan peserta dari berbagai komunitas, sekolah, dan 11 He Qi dan komunitas Tzu Chi di wilayah Jabodetabek. Latihan dilakukan di komunitas masing-masing sebelum akhirnya seluruh peserta dipertemukan dalam gladi bersama.
Namun tantangan terbesar ternyata bukan sekadar teknis. Bukan hanya tentang garis formasi, koordinasi, atau ketepatan gerakan. Proses persiapannya justru menjadi latihan batin bagi semua orang yang terlibat.
“Bagaimana kita bisa saling bersabar, bertoleransi, bertenggang rasa untuk menyukseskan acara yang membutuhkan begitu banyak koordinasi lintas divisi,” ujar Amelia.
Rapat demi rapat berlangsung hampir setiap hari. Waktu, tenaga, perhatian, bahkan emosi dicurahkan untuk memastikan satu jam perayaan itu berjalan dengan baik. “Acara hanya satu jam, tapi meeting kami mungkin hampir 100 jam,” kata Amelia sambil tersenyum.
Di balik kelelahan itu, ada kesadaran bahwa semua orang sebenarnya sedang belajar. Belajar memahami satu sama lain. Belajar menahan diri. Belajar menerima ketidaksempurnaan. Karena sebagian besar panitia dan peserta pun baru pertama kali menghadirkan Waisak besar di ruang terbuka seperti ini.
Alih-alih menyalahkan, mereka memilih memaklumi. Sebab bahkan panitia sendiri membutuhkan waktu berjam-jam untuk memahami detail acara. Maka mereka sadar bahwa kesabaran juga merupakan bagian dari praktik Dharma itu sendiri.
Sufei Tan (depan, kanan) membantu proses gladi para relawan senior Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Pada gladi tersebut, mereka berlatih membawa persembahan dan berjalan sesuai dengan titik yang telah tersedia.
Puncak semua proses itu hadir ketika formasi akhirnya benar-benar terbentuk di Lapangan Teratai. Setelah berhari-hari dipenuhi rasa khawatir dan keraguan selama latihan, Sufei Tan yang juga menjadi bagian dari panitia mengaku terdiam ketika melihat formasi bulat besar tampil begitu rapi di layar.
“Wah, itu sangat indah. Saya sangat terharu lihat formasi tampil di layar LED. Sangat bagus sekali sampai bikin terharu. Jadi rasanya semua capek yang kemarin-kemarin itu langsung terasa terbayar,” kata Sufei bersemangat.
Keindahan itu bukan semata karena ribuan orang bergerak serempak. Ada sesuatu yang lebih dalam, dimana setiap orang rela menyesuaikan dirinya demi terciptanya harmoni bersama. “Kalau satu orang bisa menciptakan kerapihan seperti ini, suasananya jadi begitu khusyuk dan indah,” ujar Sufei.
Di tengah lantunan doa Waisak, prosesi pemandian Rupang Buddha, serta formasi yang bergerak dalam keheningan, panitia berharap para peserta tidak hanya datang untuk menyaksikan sebuah acara. Mereka berharap setiap orang pulang dengan hati yang sedikit lebih bersih, lebih tenang, dan lebih sadar terhadap makna kehidupan.
Nelley memberikan pengarahan kepada para relawan di lapangan demi kelancaran kegiatan.
“Mereka bisa merasakan kegembiraan, makna Waisak tertanam dalam diri mereka, Dharma bisa diresapi dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” timpal Nelley, bagian dari panitia Waisak.
Sufei pun sepakat dan menambahkan, Waisak di Tzu Chi bukan sekadar ritual tahunan. Air suci bukan hanya simbol penghormatan kepada Buddha, melainkan juga pengingat untuk membersihkan batin sendiri. Mengingat jasa Buddha, orang tua, guru, dan semua makhluk yang hadir dalam kehidupan manusia.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam Waisak tahunan ini, dimana setelah perjalanan panjang, setelah begitu banyak kesibukan dan perubahan zaman, manusia tetap perlu kembali pada satu titik paling awal, yakni kembali ke hati yang tulus saat pertama kali ingin berbuat baik kepada sesama.
Kehangatan yang Mendalam
Pengalaman para peserta yang mengikuti prosesi formasi Waisak juga memperlihatkan bagaimana semangat Mo Wang Chu Xin tidak hanya dirasakan oleh panitia, tetapi juga menyentuh hati mereka yang baru pertama kali terlibat langsung dalam perayaan ini.
Bill Maximillian menilai seluruh proses latihan membuatnya dapat merasakan bahwa Perayaan Waisak Tzu Chi 2026 dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan. Semangat para relawan pun menular padanya.
“Jujur, mengikuti prosesi formasi Waisak di Tzu Chi benar-benar menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan bagi saya. Saya merasa kagum melihat formasinya yang begitu rapi, mulai dari pergerakan di dalam gedung hingga seluruh relawan dapat menempati titik masing-masing dengan tertib di luar ruangan,” ungkap Bill Maximillian.
Bagi Bill, seluruh proses latihan membuatnya dapat merasakan bahwa Perayaan Waisak Tzu Chi 2026 dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan. Semangat para relawan yang terlibat juga terasa begitu kuat hingga menumbuhkan semangat dalam dirinya untuk ikut memberikan yang terbaik.
“Pengalaman ini juga membuat saya semakin tertarik untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan Tzu Chi selanjutnya,” lanjutnya.
Kesan hangat serupa juga dirasakan Renika, relawan abu putih yang baru bergabung pada awal tahun 2026. Baginya, mengikuti prosesi formasi sekaligus persembahan Waisak menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangun rasa percaya diri.
“Latihan bersama membuat kami semakin kompak dan saling mendukung. Semua proses dijalani dengan sukacita, sehingga suasana kebersamaan benar-benar terasa hangat,” ujarnya.
Renika juga merasa seluruh persiapan tersebut akan menghadirkan suasana Waisak yang lebih sakral, tertata, dan menyentuh hati setiap orang yang hadir.
Susanti Metta yang datang dari Tzu Chi Jambi tampak sangat bersukacita karena keinginannya untuk ikut serta dalam formasi Waisak bisa terlaksana.
Ada pula Susanti Metta yang datang jauh dari Tzu Chi Jambi bersama tiga relawan lainnya untuk mengikuti prosesi formasi Waisak Tzu Chi 2026 di Tzu Chi Center Jakarta. Susanti, yang bergabung dengan Tzu Chi sejak tahun 2019 dan dilantik menjadi relawan Komite Tzu Chi pada tahun 2025, mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali melihat perayaan Waisak Tzu Chi melalui media sosial Tzu Chi Indonesia. Sejak saat itu, ia menyimpan harapan untuk suatu hari dapat mengikuti perayaan Waisak di Tzu Chi Center Jakarta secara langsung.
Ketika mengetahui Tzu Chi Indonesia kembali mengadakan perayaan Waisak besar di Jakarta, ia pun segera mendaftarkan diri untuk ikut berpartisipasi. Setelah mengikuti seluruh prosesi formasi, Susanti semakin kagum melihat setiap tahapan dipersiapkan dengan sangat matang dan tertata rapi. Suasana latihan yang hangat dan penuh keharmonisan juga membuatnya semakin merasakan ketulusan dalam melayani bersama.
Di tengah seluruh rangkaian persiapan itu, Susanti mengaku merasakan haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Harapan yang selama ini ia simpan akhirnya dapat terwujud, bukan hanya untuk menyaksikan Waisak di Tzu Chi Center Jakarta, tetapi juga menjadi bagian langsung di dalamnya.
Melalui pengalaman-pengalaman sederhana itulah, makna Mo Wang Chu Xin terasa hidup. Bahwa di tengah ribuan langkah yang bergerak, setiap orang sesungguhnya sedang kembali mengingat hati awal mereka ketika pertama kali ingin berjalan di jalan kebajikan.
Sebanyak 98 anggota Sangha Theravada, Mahayana, juga Vajrayana, serta 12 orang tokoh masyarakat dan pemuka agama turut hadir memberikan doa dalam perayaan tiga hari besar bersama Tzu Chi.
Perayaan tiga hari besar ini pun tidak hanya menghadirkan 1.500 peserta formasi di Lapangan Teratai, tetapi juga dihadiri 1.535 masyarakat umum di lantai 4 Aula Jing Si, 98 anggota Sangha dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, serta 12 tokoh masyarakat dan pemuka agama. Kehadiran ribuan insan dari berbagai latar belakang itu menghadirkan suasana Waisak yang penuh kekhidmatan, keharmonisan, sekaligus menjadi cerminan semangat kebajikan yang tumbuh bersama dalam ketulusan hati.
Editor: Arimami Suryo A.