Memberi Perhatian Lebih Untuk Surianto

Jurnalis : Budi Handoyo (Tzu Chi Singkawang), Fotografer : Lie Se Jan, Bambang Mulyantono (Tzu Chi Singkawang)

Menghibur Surianto dengan isyarat tangan ‘Satu Keluarga’. Menjalin kehangatan dengan bergandengan tangan

Surianto yang mengalami kelumpuhan pada sebagian tubuhnya (dari pinggang hingga ujung kaki) merupakan salah satu penerima bantuan Tzu Chi. Kesehariannya hanya dihabiskan di dalam rumahnya yang seluas 24 meter persegi. Untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang ringan saja, Surianto selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Kondisinya yang memprihatinkan membuat insan Tzu Chi di Singkawang tersentuh hati untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepadanya. Pada tanggal 19 Oktober 2014, sebanyak 18 relawan Tzu Chi menempuh jarak selama 2 jam menuju tempat tinggal Surianto di Seranggam, Sambas. Tekstur jalan yang tidak rata dan teriknya sinar matahari tidak dihiraukan oleh relawan, terlebih ketika Surianto menyambut relawan dengan gembira di kediamannya.

Kondisi yang tidak terduga

Tiga tahun yang lalu, Surianto mengalami kecelakaan saat bekerja. Kejadian tersebut mencederai syaraf punggungnya sehingga mengakibatkan sebagian tubuhnya menjadi tidak berfungsi. Untuk buang air kecil saja, Surianto harus mengandalkan drainage bag (kantong penampung urin) yang harganya tentu tidak murah. Uang yang dimilikinya tidaklah seberapa, atasan di tempatnya bekerja juga tidak bersedia untuk bertanggungjawab, sehingga hanya bisa mengharapkan kesembuhan di RS Abdul Aziz Singkawang. Keuangan yang semakin menipis dari hari ke hari memaksa Surianto untuk mencari bantuan biaya pengobatan, hingga akhirnya mendengar tentang Yayasan Buddha Tzu Chi dari suster yang merawatnya. “Waktu itu saudara saya yang bantu mengajukan permohonan. Saya sendiri tidak leluasa bergerak karena kondisi demikian. Setelah permohonan bantuan disetujui, semua biaya pengobatan kemudian ditanggung oleh pihak Tzu Chi,” papar pria berusia 26 tahun ini.

Relawan berbaris rapi menuju tempat tinggal Surianto

Hingga kini, Surianto masih tidak kehilangan harapan. Perawatan rutin masih dijalaninya, seperti suntikan dari mantri setempat di setiap bulannya, mengonsumsi obat antibiotik, dan mengoleskan salep pada bagian tubuh yang sakit. “Walau dokter yang melakukan pemeriksaan di Pontianak menyatakan penyakit saya sudah tidak mungkin disembuhkan, saya cari cara pengobatan lain. Pernah juga menjalani fisioterapi di Singkawang, sampai-sampai juga pernah mengunjungi paranormal. Namanya ya berobat, tentu berharap kesembuhan,” imbuhnya.

Anugerah dalam hidup

Di balik penderitaannya, Surianto memiliki anugerah yang tak ternilai harganya. Istrinya yang bernama Lita senantiasa setia mendampingi suaminya melewati peliknya kehidupan. Ketabahannya benar-benar diuji, baik di saat mengetahui suaminya mengalami kecelakaan, maupun hingga detik ini. Selama ini pula, Lita yang menjadi tula ng punggung keluarga dengan bertani. Ketika menceritakan perjuangan suaminya demi kesembuhan, matanya selalu berkaca-kaca. “Alhamdulillah kondisi Bapak sekarang sudah semakin membaik. Sudah lama dalam keadaan begini, jadi sudah terbiasa. Sebagai umat yang taqwa, tentunya saya mengharapkan mukjizat supaya Bapak bisa kembali normal,” papar Lita.

Lita (tengah) sedang berusaha mengusap air matanya ketika menceritakan perjuangan suaminya demi kesembuhan

Selain seorang istri yang tabah dan setia, Surianto juga dianugerahi satu malaikat kecil bernama Dhika, anak semata wayangnya yang kini berumur 5 tahun. Meskipun masih kecil, Dhika sudah bisa berbakti kepada ayahnya. Seakan mengerti keterbatasan fisik sang ayah, bocah cilik ini senantiasa menemani ayahnya mengusir kejenuhan melewati hari. Dhika juga merupakan seorang anak yang dapat diandalkan. Ketika Surianto ingin mengambil barang yang sulit dijangkauan tangannya, Dhika akan mengambilkan barang tersebut ke tangan ayahnya.

Mensyukuri berkah

Sudah bukan saatnya lagi bagi Surianto untuk bersedih meratapi kekurangan. Seiring waktu, Surianto semakin berusaha tegar menjalani kehidupan. Mensyukuri anugerah karena ada istri dan anak yang bersedia mendampinginya. Mensyukuri berkah, karena ketika orang yang pernah dekat dengan dia berusaha menjauhinya, masih ada orang yang bersedia memberikan bantuan. “Saya tidak bisa ngomong panjang lebar. Hanya saja, saya berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang masih mau menolong saya. Saya bersyukur, Bapak dan Ibu mau berbagi di pondok saya. Orang-orang pada takut untuk mendekati saya, tapi Bapak dan Ibu malah jauh-jauh datang untuk melihat saya. Kita beda suku beda agama, tapi kalian bersedia menaiki pondok saya. Saya sungguh bersyukur kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang tidak memilih-milih dalam membagikan kasih,” ungkap Surianto.

Tidak hanya pengobatan fisik, relawan Tzu Chi juga berusaha mengobati batin dari setiap penerima bantuan

Surianto memang seorang pejuang yang tangguh. Tiga tahun berjuang mencari kesembuhan, tetapi masih belum menyerah hingga saat ini. Melihat perjuangan Surianto, terkandung sebuah makna bahwa menyerah bukanlah sebuah pilihan dalam melewati lautan penderitaan. Penderitaan juga bukanlah hal yang sangat buruk, karena di balik penderitaan, pasti ada anugerah dan berkah yang mengiringi.


Artikel Terkait

Pembangunan Rumah Impian

Pembangunan Rumah Impian

30 Agustus 2016

Yayasan Buddha Tzu Chi memulai pembangunan 11 rumah di Kampung Pabuaran, Desa jagabita, Parung Panjang, Bogor pada tanggal 23 Juli 2016. Kini rumah-rumah tersebut masih dalam proses pengerjaan yang direncanakan akan selesai dalam waktu 1,5 bulan. 

Menabung untuk Membantu Orang yang Membutuhkan

Menabung untuk Membantu Orang yang Membutuhkan

19 November 2015

Pada Rabu,  18 November 2015, relawan Tzu Chi mengunjungi SMP dan SMK Pariwisata Citayam dan mengadakan acara tuang celengan bambu Tzu Chi untuk pertama kalinya di sekolah tersebut. Salah satu cara mendidik generasi yang peduli sesama.

Suara Kasih : Misi Amal dan Kesehatan Tzu Chi

Suara Kasih : Misi Amal dan Kesehatan Tzu Chi

08 Desember 2010
Melihat sejarah Tzu Chi, semua hal terjadi karena adanya jalinan jodoh. Saat melihat dan merasakan penderitaan orang lain, kita pun bertekad untuk menolong mereka. Saya sering berpikir bahwa orang-orang yang menderita yang telah menginspirasi kita untuk berjalan di jalan Bodhisatwa.
Apa yang kita lakukan hari ini adalah sejarah untuk hari esok.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -