Membuka Pintu Menuju Pagoda Impian

Jurnalis : Supardi (Tzu Chi Batam), Fotografer : Supardi (Tzu Chi Batam)
Tzu Chi Batam untuk pertama kalinya sejak pandemi mengadakan kegiatan Sosialisasi Relawan Baru secara offline.

Setiap tahun demi menggalang Bodhisatwa dunia untuk bergabung dalam barisan relawan Tzu Chi, Tim Pelatihan Tzu Chi Batam mengadakan 3 kali kegiatan Sosialisasi Relawan Baru. Namun karena dampak dari pandemi, kegiatan perekrutan relawan tersebut terpaksa ditiadakan.

Seiring dengan membaiknya kondisi pandemi di Kota Batam, Tim Pelatihan pun memberanikan diri untuk mengundang masyarakat umum dan sukarelawan vaksinasi mengikuti Kegiatan Sosialisasi Relawan Baru secara tatap muka pada 14 November 2021. Karena banyaknya peserta yang mendaftar, panitia memutuskan untuk mengadakan kegiatan tersebut di Area Galeri, lantai 4, Aula Jing Si Batam. Area Galeri dikelilingi poster sejarah dan misi Tzu Chi. Sambil menanti waktu dimulainya kegiatan, relawan mengajak para peserta untuk menyelami jejak cinta kasih Tzu Chi selama 5 dekade.

“Kali ini yang mendaftar ada yang secara online, ada yang diajak sama relawan. Ternyata banyak sekali yang antusias. Yang daftar semuanya datang, bahkan melebihi. Ada yang tidak daftar juga datang. Dari pendaftaran, saya lihat ada yang mengenal Tzu Chi lewat medsos,” terang Elly, Koordinator Kegiatan.

Relawan menjelasan asal-usul Tzu Chi melalui poster di Area Galeri.

Saat waktu menunjukkan pukul 9.15 WIB, sosialisasi yang berdurasi 2 jam ini pun dimulai. Bun Hiong selaku pembawa acara membimbing peserta untuk memberikan penghormatan kepada Tuhan YME dan kepada Master Cheng Yen, Pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi. Bun Hiong juga dengan tulus menyambut dan berterima kasih atas kehadiran para peserta.

Materi pertama kali ini dibawakan oleh Joice, relawan Komite Tzu Chi Batam. Dalam materinya, Joice menuturkan kisah Master Cheng Yen, asal-usul berdirinya yayasan amal Tzu Chi dan visi-misi yang dijalani oleh insan Tzu Chi di berbagai penjuru dunia. Kisah bagaimana Tzu Chi bermula dari sebuah gubuk dan 30 celengan bambu meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Salah satunya Liana Novita, sukarelawan saat vaksinasi Tzu Chi.

Ketua regu membangun hubungan dengan anggotanya sekaligus memperkenalkan Tzu Chi.

“Saya merasa kita di Tzu Chi mulai dari hal kecil, menengah sampai hal yang besar. Dari yang Master Cheng Yen ajarkan mulai dari 30 murid pertama yang minta Master Cheng Yen untuk menetap di Hua Lien. Bermula dari pikiran yang benar, pikiran yang mulia ingin berbuat baik dan tekad. Kemudian ucapan dan perbuatan sampai dengan hari ini. Semua dimulai dari hal yang kecil”, jawab Liana saat ditanyakan pembelajaran terbesar yang ia dapati lewat sosialiasi hari ini.

Pembawa materi kedua, Stella kemudian memaparkan Budaya Humanis Tzu Chi. Berbeda dengan yayasan amal pada umumnya, Tzu Chi menitikberatkan pada pelatihan diri para relawan. Demi mengembangkan karakter atau keindahan batin, Tzu Chi berharap relawan dapat berpegang teguh pada budaya humanis (bersyukur 感恩, menghormati 尊重 dan cinta kasih 愛) dalam menjalani berbagai kegiatan. Budaya humanis tersebut dapat terpancar lewat setiap ucapan, gerak-gerik dan juga ekspresi. Tata krama berseragam juga merupakan wujud dari budaya humanis Tzu Chi.

Aura ketenangan Tzu Chi menarik Liana untuk melepas pekerjaannya demi mengikuti kegiatan sosialisasi Tzu Chi.

Kegiatan selanjutnya adalah peragaan isyarat tangan Satu Keluarga oleh belasan relawan dari berbagai jenjang. Para ketua regu juga mengajak peserta untuk berdiri dan bersama-sama memperagakan isyarat tangan tersebut. Setelah sharing peserta dan pesan cinta kasih, para peserta kemudian diajak bersama-sama menyaksikan Ceramah Master Cheng Yen. Kegiatan pun ditutup dengan penghormatan.

Di antara 73 relawan baru yang mengikuti sosialisasi, terdapat Caven yang baru pertama kali mengikuti kegiatan Tzu Chi. Walau sudah lama mengetahui tentang Tzu Chi dan berkeinginan bergabung, namun baru kali ini ia menemukan jalur untuk bergabung ke barisan relawan Tzu Chi. Caven pun terdorong untuk mengajak istri dan kerabat untuk bersama-sama mengikuti kegiatan kali ini.

Tata Krama Berseragam merupakan salah satu wujud nyata Budaya Humanis Tzu Chi.

“Saya rasa ada banyak orang luar yang ingin ikut serta dalam kebajikan, tapi mereka kadang tidak mendapatkan informasi atau tidak mendapatkan caranya untuk masuk ke dalam itu bagaimana. Dan kebetulan saya mendapatkan info ini, saya coba mengajak beberapa teman dan ada yang ikut. Dan teman itu pun coba mengajak teman yang lain lagi dan mereka juga ada yang ikut. Itu membuktikan bahwa banyak orang yang berminat untuk join ke organisasi Tzu Chi tapi belum mendapatkan infonya mungkin,” tutur Caven.

Seperti yang diutarakan oleh Caven, banyak orang di luar sana yang rindu untuk melakukan kebajikan namun tidak mengetahui caranya. Dengan kembali mengadakan kegiatan Sosialiasi Relawan Baru, Tzu Chi telah membuka pintu bagi masyarakat untuk bersama-sama menggarap ladang berkah. Dengan sebuah celengan bambu dan hati yang tulus bersumbangsih, maka insan Tzu Chi dapat terus mengadakan perubahan positif bagi masyarakat.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Berseminya Bodhisatwa Baru di Tanjung Morawa

Berseminya Bodhisatwa Baru di Tanjung Morawa

19 Desember 2017

Semangat serta antusias yang membara membawa 8 orang relawan Tzu Chi Medan menuju Tanjung Morawa untuk memberikan sharing kepada Bodhistwa (relawan –red) baru di sana. Walaupun menempuh perjalanan selama satu jam di malam hari, relawan tetap semangat membagikan kisah inspiratif untuk 26 relawan baru di Tanjung Morawa.

Sosialisasi Relawan Baru Tzu Chi Batam 2017

Sosialisasi Relawan Baru Tzu Chi Batam 2017

27 Juli 2017

Minggu, 23 Juli 2017 Tzu Chi Batam mengadakan kegiatan sosialisasi relawan baru yang kedua di tahun 2017. Sosialisasi ini diikuti oleh 94 peserta dari berbagai wilayah di Batam.

Sosialisasi Relawan Baru di Batam

Sosialisasi Relawan Baru di Batam

28 Januari 2019

Tzu Chi Batam mengadakan Sosialisasi Relawan Baru yang pertama di tahun 2019, pada Sabtu, 19 Januari 2019. Bertempat di Ruang Shou Yu, Aula Jing Si Batam, kegiatan kali ini dihadiri oleh sebanyak 28 orang peserta.

Kerisauan dalam kehidupan manusia disebabkan dan bersumber pada tiga racun dunia, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -