Menanam Kebiasaan Makan Sehat untuk Hidup Lebih Baik
Jurnalis : Yanti Yunita (Tzu Chi Medan), Fotografer : Gunawan Halim, Lim Hung Jeng (Tzu Chi Medan)
Tim dokter melayani pasien pada kegiatan Kepulangan Anak Asuh dan Gan En Hu. Sebanyak 39 pasien mendaftar di poli umum dan 20 pasien di poli gigi.
Setiap hari, tanpa kita sadari, tubuh bekerja tanpa henti. Di tengah kesibukan dan tuntutan hidup, makan kerap menjadi urusan belakangan, kebanyakan asal cepat dan kenyang dengan memilih makanan instan karena lelah, stres, atau sekadar ingin praktis. Banyak orang merasa makan sehat itu sulit dan berat. Terbayang aturan ketat, pantangan panjang, atau gaya hidup yang terasa tidak dapat dijalani dengan baik dan sempurna. Padahal pola makan sehat tidak menuntut kesempurnaan hanya mengajak kita untuk lebih peduli.
Mengingat pentingnya pengetahuan mengenai pola makan dan kesehatan, komunitas relawan Hu Ai Perintis, Medan bekerja sama dengan tim TIMA (Tzu Chi International Medical Association) menggelar edukasi mengenai hidup sehat dengan makanan sehat pada kegiatan Kepulangan Anak Asuh dan Gan En Hu Bantuan Rutin yang diadakan pada Minggu, 1 Februari 2026. Kegiatan ini dilakukan di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Komplek Grand Jati Junction, Medan. Kegiatan ini juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan degeneratif dan gigi.

Dokter Willey Elliot, ketua TIMA Sumatera Utara menyampaikan edukasi tentang pentingnya pengetahuan mengenai pola makan dan kesehatan.
Edukasi kesehatan kali ini menghadirkan seorang narasumber seorang dokter yang berpengalaman di bidang kesehatan sekaligus ketua TIMA Sumatera Utara yaitu dr. Willey Eliot, M.Kes, IBCLC, C.MBT.
Materi yang dibawakan dr. Willey berjudul “Hidup Sehat dengan Makanan Sehat” mengajak para peserta untuk lebih memilih makanan yang sehat seperti sayur, buah, telur, kacang-kacangan dan menghindari makanan olahan yang tinggi gula, garam, pengawet, pewarna. Peserta juga diajak untuk membawa dan memasak bekal untuk dibawa ke sekolah atau ke tempat bekerja.

Relawan membagikan makanan vegetaris, ditambah dengan pisang dan juga sohun kering untuk dibawa pulang oleh peserta kegiatan.
“Makanan sehat tidak harus yang mahal, tempe atau tahu sumber protein nabati murah bisa diolah menjadi makanan yang enak dan tidak hanya diolah dengan digoreng saja. Bisa diolah menjadi sate tempe, gulai tahu dan variasi masakan lainnya dengan sumber protein tersebut,” ujar dr. Willey. Beliau juga menambahkan, “buah-buah lokal yang mudah diperoleh seperti pisang, salak, semangka, belimbing dan lainnya juga bisa menjadi pilihan yang baik untuk mencukupi kebutuhan gizi harian.”
Masih selaras dengan materi yang disampaikan, pada akhir acara pembagian bantuan rutin, sekaligus dibagikan makanan vegetaris, ditambah dengan pisang dan juga sohun kering untuk dibawa pulang oleh peserta kegiatan.
Mendukung tema edukasi mengenai makanan sehat, tim relawan juga ada menampilkan peragaan isyarat tangan lagu “Ciak Chai Siong Kai Can” yang berarti bervegetaris adalah hal yang terbaik. Melalui peragaan isyarat tangan tersebut peserta diajak makan sayuran dan buah untuk hidup lebih sehat.

Relawan memperagakan isyarat tangan “Ciak Chai Siong Kai Can” yang berarti bervegetaris adalah hal yang terbaik.
Bervegetaris bukan sekadar ajakan tentang apa yang kita makan, tetapi refleksi tentang bagaimana kita memaknai hidup. Di balik pilihan untuk menyantap sayur dan biji-bijian, tersimpan kesadaran akan welas asih, keseimbangan, dan tanggung jawab terhadap tubuh, sesama makhluk hidup, serta alam. Jadi bervegetaris bukanlah masalah pantangan, tapi tentang menghargai kehidupan.
Master Cheng Yen dalam ceramahnya pernah mengungkapkan bahwa vegetaris adalah wujud cinta kasih kepada semua makhluk hidup dan juga wujud tanggung jawab manusia terhadap bumi. Bervegetaris merupakan cara sederhana untuk hidup lebih ramah lingkungan dan lebih peduli pada planet yang kita tinggali. Dengan sepiring makanan nabati, kita ikut menanam benih kebaikan untuk diri sendiri, untuk hewan, dan untuk bumi.

Dokter gigi memeriksa pasien dengan seksama.
Di sela-sela sesi acara sosialisasi, pemeriksaan kesehatan degeneratif dan gigi terus berjalan. Sebanyak 39 pasien mendaftar di poli umum dan 20 pasien di poli gigi. Dari 39 pasien poli umum, ada sekitar 12 orang yang menderita hipertensi dan diabetes, 22 orang ada yang menderita nyeri otot, infeksi saluran napas atas serta penyakit kulit, sedangkan sisanya 5 orang lagi dalam keadaan sehat.
Dokter Willey menuturkan penyakit degeneratif sering berkembang secara perlahan dan membutuhkan pemantauan serta penanganan jangka panjang. Makanya, kegiatan dengan pemeriksaan kesehatan ini, para peserta semakin paham dan diharapkan dapat memperoleh edukasi, pemeriksaan dini, serta konsultasi medis secara gratis.
Editor: Metta Wulandari
Artikel Terkait
Menanam Kebiasaan Makan Sehat untuk Hidup Lebih Baik
13 Februari 2026Mengingat pentingnya pengetahuan mengenai pola makan dan kesehatan, relawan Hu Ai Perintis Tzu Chi Medan menggelar edukasi mengenai hidup sehat bersama para gan en hu.
Penyuluhan Kesehatan dan Bersumbangsih Kepada Masyarakat
25 Juni 2018Sabtu, 23 juni 2018, relawan Tzu Chi Biak
mengadakan sosialisasi kesehatan dan SMAT (Sosialisasi Misi Amal Tzu Chi) bagi
warga Desa Dofyo Wafor. Selain sosialisasi, para warga desa juga mendapatkan
celengan bambu.
Sosialisasi Kesehatan dan Baksos Degeneratif di Lampung
15 November 2016Yayasan
Buddha Tzu Chi Lampung menggelar Bakti Sosial Kesehatan Degeneratif pertama
pada Minggu, 13 November 2016 untuk warga Gunung Sulah, Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way
Halim, Bandar Lampung. Sebanyak 361 pasien datang mengikuti baksos.







Sitemap