Menanamkan Budi Pekerti Sejak Dini

Jurnalis : Wentina Magdalena (DAAI TV Medan), Fotografer : Sheryl (Tzu Chi Medan)

Sebelum memulai Kelas Budi Pekerti, para murid Kelas Budi Pekerti mengantre untuk bersumbangsih dengan menuang celengan bambu masing-masing.

Seorang ayah berkata bahwa belum saatnya bagi Fiona, anak perempuannya, untuk berhenti belajar di Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen. “Fiona masih harus banyak belajar lagi,” ucapnya di depan para hadirin Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen. Sudah setahun Fiona berada di kelas ini, belajar bagaimana menerapkan berbudi pekerti dengan baik di lingkungan dan sesama.

Semakin berkembangnya zaman, kita semakin sadar bahwa budi pekerti adalah esensi penting dalam menjalani hidup. Menyadari pentingnya penerapan budi pekerti, para orang tua pun mengikutsertakan anak-anak mereka di Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen atau biasa disebut Kelas Budi Pekerti. Anak-anak ini mendapatkan bimbingan dari para guru untuk bersikap humanis dan melaksanakan budi pekerti yang baik.

Sama seperti pada penutupan Kelas Budi Pekerti yang diadakan di Depo Pelestarian Lingkungan Mandala, Tzu Chi Medan kali ini mengambil tema “Berterimakasih, Menghargai Bumi, dan Menghargai Berkah”. Di sana, para murid terlebih dahulu diajak untuk bersumbangsih melalui penuangan celengan bambu lalu menonton ceramah Master Cheng Yen.

Dengan kepiawaian mereka, para murid Kelas Budi Pekerti menampilkan sebuah drama tentang tiga kantung beras.

Sesuai dengan rangkaian acara, para murid menampilkan sebuah drama tentang tiga kantung beras yang menceritakan bagaimana perjuangan seorang ibu dalam menyekolahkan anaknya. Mereka terlihat piawai memerankan peran masing-masing.

Sebagai bentuk penghargaan, para guru juga memberikan hadiah kepada murid yang berprestasi. Contohnya saja Jocelyn (11), yang mendapat penghargaan atas kemajuan yang cepat. Nilai indikator penilaian bukan berdasar kepada kepintaran melainkan kemampuan anak dalam menerapkan nilai-nilai budi pekerti di dalam kelas.

Jocelyn bercerita bahwa ia mengetahui berbagai nilai humanis seperti menolong sesama teman, sopan santun, dan duduk yang benar dari Kelas Budi Pekerti. Ia juga mengaku sudah mempraktikkan nilai-nilai itu di rumahnya. “Membantu orang tua, memasak, menyapu lantai, dan menjaga adik,” ucapnya malu-malu.

Kekompakkan guru dan anak juga dapat dilihat dari penampilan isyarat tangan. Mereka bergandengan tangan dan dengan selaras memeragakan pesan cinta kasih. Salah satunya Paulina Kwok (31) yang dengan serentak memperagakan isyarat tangan. Keberadaanya sebagai koordinator kegiatan di acara ini memiliki harapan agar anak-anak bisa memahami nilai-nilai humanis yang diajarkan melalui perenungan Master Cheng Yen. “Tujuan dan harapan ke depannya, mereka lebih menghargai yang orang tua lakukan dan apa yang guru lakukan, lebih bersosialisasi dengan masyarakat biar pengetahuannya lebih dalam,” tukasnya.

Para murid memberikan bunga kepada guru-guru yang telah mengajar sebagai ungkapan terima kasih.

Hal yang paling mengharukan adalah saat para murid memberikan bunga kepada guru-guru yang telah mengajar. Bunga dengan warna warna cerah menghiasi tangan-tangan mungil mereka saat memberikan bunga kepada para guru. Dengan haru, para guru menerima bunga dan memeluk para anak yang telah dianggap seperti anaknya sendiri. Momen ini ditangkap sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah menjadi orang tua yang mendidik anak selain orang tua kandung.

Karakter budi pekerti ini sudah seharusnya dibangun sejak dini dalam mewujudkan cinta kasih kepada sesama dan lingkungan. Seperti Kata Perenungan Master Cheng Yen, “Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah, bila tidak ditanami dengan bibit yang baik, tidak akan bisa menuai hasil yang baik”.


Editor: Metta Wulandari


Artikel Terkait

Penutupan Kelas Budi Pekerti Tzu Shao Medan

Penutupan Kelas Budi Pekerti Tzu Shao Medan

24 November 2017
Saat anak-anak Tzu Shao di Tzu Chi Medan menyuapi orang tua mereka, air mata pun mulai menetes baik orang tua maupun anak. Sang MC pun mengarahkan anak-anak untuk memeluk orang tua mereka dan mengatakan “Saya sayang mama papa, maafkan kesalahan yang saya perbuat selama ini”.
Penutupan Kelas Budi Pekerti Er Tong Ban

Penutupan Kelas Budi Pekerti Er Tong Ban

04 Oktober 2016

Anak-anak Kelas Budi Pekerti Er Tong Ban menutup tahun dengan keceriaan. Mereka berpacu, saling bekerja sama dalam sebuah permainan yang menantang namun mengandung pesan moral.

Melepas Rindu di Udara

Melepas Rindu di Udara

17 Juli 2020

Sekitar lima bulan tidak bertemu membuat murid-murid dan para dui fu (mentor) saling memendam kerinduan, kerinduan bisa berkumpul bersama, kerinduan merasakan kebersamaan dan kehangatan dalam kegiatan kelas Budi Pekerti. Ketika kelas online dimulai, hati para mentor begitu bahagia melihat para murid dengan kepolosan duduk manis didampingi orang tua di depan telepon seluler atau komputer mengikuti kegiatan.  Dalam sekejap, kerinduan serasa terobati.

Orang yang selalu bersumbangsih akan senantiasa diliputi sukacita. Orang yang selalu bersyukur akan senantiasa dilimpahi berkah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -