Dengan wajah tersenyum dan bertepuk tangan penuh semangat, relawan Tzu Chi menyambut kedatangan para tamu dari Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Utara, hadir bersama staf, tim media sosial, mahasiswa pariwisata Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Kesenian Jakarta (IKJ), serta kreator Jakut Hubdi lobi utama Aula Jing Si.
Senyum hangat dan tepuk tangan penuh semangat menyambut kedatangan para tamu di lobi utama Aula Jing Si, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Tujuh relawan Tzu Chi berdiri berjajar, menyapa dengan nyanyian ceria, menghadirkan suasana yang akrab sejak langkah pertama.
Siang itu, 31 Maret 2026, rombongan yang dipimpin oleh Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Utara, Restuning Dyah hadir bersama staf, tim media sosial, mahasiswa pariwisata Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Kesenian Jakarta (IKJ), serta kreator Jakut Hub. Kunjungan ini menjadi ruang belajar langsung untuk mengenal lebih dekat aktivitas kemanusiaan yang dijalankan relawan Tzu Chi.
Kunjungan ini juga merupakan bagian dari undangan Fenny Maria, Head of Tourism Development Agung Sedayu Group, dalam memperkenalkan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan hunian, wisata alam, dan wisata kuliner, tetapi juga wisata religius.
“Kita mengajak adik-adik sekalian untuk melihat langsung berbagai lokasi, seperti Riverwalk Island dengan pemandangan sunset yang indah. Di sini adik-adik bisa membuat konten-konten yang menarik,” tutur Fenny. Ia juga menambahkan bahwa kawasan PIK memiliki berbagai rumah ibadah yang ikonik seperti masjid, klenteng, dan gereja Katolik yang menjadi potensi pengembangan wisata religius ke depan.
Fenny Maria, Head of Tourism Development Agung Sedayu Group memperkenalkan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang bisa menjadi kunjungan wisata religius yang berada di Pantai Indah Kapuk. Selain Wisata kuliner dan alam kawasan PIK juga terdapat rumah-rumah ibadah yang ikonik dengan bangunan arsitektur yang indah.
Relawan Tzu Chi, Lo Hok Lay memperkenalkan Visi dan Misi Tzu Chi serta kegiatan relawan Tzu Chi Indonesia yang telah berkontribusi kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Bagi Restuning Dyah, kunjungan ini menjadi pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap arsitektur Tzu Chi Center, khususnya Aula Jing Si yang dinilai tidak hanya megah, tetapi juga sarat makna.
“Kesan pertama saat melihat dari luar, ini adalah ikon arsitektur yang luar biasa. Namun ketika masuk ke dalam, kita merasa lebih takjub lagi karena nilai-nilai yang diajarkan oleh Pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen benar-benar relevan dengan kehidupan sosial masyarakat,” ujar Restu.
Lebih dari itu, ia juga menyoroti bagaimana Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mampu menghadirkan kolaborasi nyata dalam membantu masyarakat. Baginya, kecepatan dan ketulusan para relawan Tzu Chi menjadi kekuatan utama dalam setiap aksi kemanusiaan.
“Yang paling berkesan adalah bagaimana Tzu Chi mengkolaborasikan berbagai pihak untuk membantu masyarakat yang sedang kesulitan atau terdampak bencana. Dari cerita relawan tadi, kita bisa merasakan ketulusan mereka saat terjun langsung ke masyarakat. Itu luar biasa,” ungkap Restu.
Johnny Chandrina, menjelaskan kepada Restuning Dyah dan para tamu dari Parekraf bangunan sekolah di Kota Padang. Bangunan SMA Negeri 1 Padang ini berdiri megah di bangun oleh Tzu Chi sebagai gedung pendidikan juga sebagai tempat krisis center bagi masyarakat Kota Padang.
Selama kunjungan, para tamu diajak menelusuri ruang Humanitarian Culture Exhibition Hall di lantai satu, yang menampilkan perjalanan Sejarah dan Misi Tzu Chi, baik di Taiwan maupun di Indonesia, melalui rangkaian poster yang tersusun kronologis. Perjalanan berlanjut ke lorong Fa Hua, di mana kisah penyebaran cinta kasih di Indonesia tergambar melalui visual dan narasi yang menyentuh.
Rombongan kemudian menuju ruang International Conference Hall di lantai tiga, ruang multifungsi yang digunakan untuk pelatihan relawan, seminar, hingga pertunjukan dan berbagi pengalaman dalam menjalankan Misi Tzu Chi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Perjalanan ditutup di lantai empat, di ruang utama Sutra Lecture Hall (Jiang Jing Tang), aula berkapasitas 1.600 orang yang menjadi pusat berbagai kegiatan besar. Ruangan ini bukan hanya menjadi simbol kemegahan bangunan, tetapi juga menjadi saksi lahirnya semangat pelayanan dan cinta kasih yang terus disebarkan.
Restuning Dyah (Hijab baju kuning) bersama peserta lainnya menyimak penjelasan dari Lo Hok Lay yang menjelaskan secara singkat kiprah Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dalam menjalankan Misi Amal Kemanusiaannya di Indonesia.
Kunjungan ini tidak hanya memperkenalkan Tzu Chi sebagai destinasi wisata religius, tetapi juga membuka ruang refleksi bahwa nilai kemanusiaan dapat dihadirkan secara nyata melalui tindakan. Dari setiap sudut yang dikunjungi, para tamu tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan bahwa kepedulian dapat tumbuh dan menginspirasi siapa saja.
Editor: Arimami Suryo A