Menciptakan Kehidupan Yang Bermakna

Jurnalis : Mettayani (Tzu Chi Pekanbaru), Fotografer : Tomy (Tzu Chi Pekanbaru)

Pada pelatihan hari itu, sebanyak 10 relawan dilantik menjadi Relawan Abu Putih dan 6 relawan dilantik menjadi Tzu Ching sebagai bagian dari bertambahnya barisan relawan Tzu Chi Pekanbaru.

”Kehidupan memiliki nilai dan makna ketika kita sanggup bertahan terhadap cobaan dalam berbagai keadaan”
-Master Cheng Yen-

Untuk menjaga agar misi kemanusiaan Tzu Chi terus berjalan, dibutuhkan relawan-relawan yang memiliki kesatuan hati, semangat pelayanan, serta tekad untuk terus menebarkan cinta kasih. Karena itu, Tzu Chi Pekanbaru secara rutin mengadakan Pelatihan dan Pelantikan Relawan Abu Putih dan Tzu Ching sebagai upaya memperpanjang barisan cinta kasih ini. Pada kesempatan kali ini, pelatihan ke-2 dari total empat pelatihan tahunan kembali digelar pada 26 April 2026 di Kantor Tzu Chi Pekanbaru, Jalan Rajawali, pukul 08.00–13.00 WIB.

Sejak pagi, para relawan telah hadir dengan penuh antusias. Peserta yang mengikuti pelatihan berjumlah 93 orang, terdiri dari relawan Abu Putih, Abu Logo, Komite, dan Tzu Ching. Kolaborasi antara tim pelatihan, Jing Jin, serta berbagai koordinator bidang membuat persiapan kegiatan kali ini terasa lebih terarah dan matang. Semangat hehehexie pun begitu terasa, meski evaluasi dan pengembangan tetap diperlukan sebagai bagian dari continuous improvement.

Materi pertama dibawakan oleh Mettayani dengan tema “Semangat Keluarga Jing Si”. Ia menjelaskan bahwa “Jing Si” merupakan nama yang diberikan Master Cheng Yen bagi dirinya sendiri saat meninggalkan keluarga sebelum resmi menjadi bhiksuni. Jing Si memiliki makna “Dengan hati yang hening dan tenang, merenungkan prinsip kebenaran sejati di alam semesta hingga kembali pada kemurnian hakiki.”

Dari materi yang disampaikan, peserta diajak memahami kehidupan sederhana para murid Master di Griya Jing Si, tempat tinggal Master Cheng Yen dan para murid di Hualien, Taiwan. Prinsip kemandirian yang dipegang di Griya Jing Si adalah “Sehari tidak bekerja, sehari tidak makan,” dan prinsip tersebut tetap dijalankan hingga saat ini. Mereka memegang teguh Silsilah Dharma Jing Si: mengendalikan diri, rajin, hemat, dan tahan derita, serta berpedoman pada “Hati Buddha, Tekad Guru” untuk menjadi tulang punggung dan benteng pertahanan keluarga besar Tzu Chi.

Peserta penuh antusias untuk mengikuti rangkaian kegiatan Pelatihan dan Pelantikan Relawan Tzu Chi Pekanbaru. Mereka dengan saksama mencatat materi yang disampaikan selama kegiatan berlangsung sebagai bekal dalam menjalankan misi Tzu Chi.

Semua mengandalkan kerja keras untuk menopang kehidupan. Para murid memiliki semangat mengatasi kesulitan dan tahan derita, menjalani kesabaran yang tidak mudah dijalani kebanyakan orang, serta menopang kelelahan jasmani dengan semangat dan keuletan. Bahkan dalam kondisi sulit, mereka tetap menjalankan misi amal. Dari semangat inilah Tzu Chi lahir dan berkembang hingga saat ini.

Para peserta juga diajak mengembangkan semangat silsilah ajaran Jing Si dengan turun langsung ke tengah masyarakat. Tidak hanya mengendalikan diri, tetapi juga rajin, tulus mendedikasikan diri, serta mengajak lebih banyak orang bergabung dalam kegiatan Tzu Chi untuk menggalang Bodhisatw. Dengan demikian, misi kemanusiaan dan kebajikan dapat terus bergulir bagaikan bola salju dan membawa lebih banyak makhluk menuju kebahagiaan. Semangat hemat dan tahan derita juga menjadi pengingat untuk menjaga sumber daya bumi. Master Cheng Yen senantiasa mengajarkan bahwa berkah harus digarap bersama, termasuk saat memperluas Griya Jing Si, di mana setiap orang memiliki andil membangun “rumahnya” sendiri.

Selanjutnya, Asnani kembali mengingatkan para relawan tentang budaya humanis Tzu Chi, mulai dari tata cara berbusana, etika makan, hingga sikap dan kesepakatan saat mengenakan seragam Tzu Chi. Dengan menerapkan tata krama yang baik, insan Tzu Chi akan terlihat rapi, sopan, dan mengagumkan.

Talk show “Galang Hati, Galang Dana” bersama Lina A, Lina Chen, dan Valentina yang dipandu Yuliana (dari kanan ke kiri), berbagi pengalaman menumbuhkan cinta kasih di tengah masyarakat.

Setelah jeda sejenak, pelatihan dilanjutkan dengan sesi talk show bertema “Galang Hati, Galang Dana” yang menghadirkan relawan-relawan “penggali sumur”, yakni mereka yang menyebarkan dan membangkitkan cinta kasih di hati banyak orang. Hadir sebagai narasumber Relawan Lina Chen, Valentina, dan Lina A, dengan dipandu Yuliana.

Saat ditanya mengenai alasan tergerak menggalang dana dan tantangannya, Lina mengatakan bahwa ketika menjalankan misi amal di masyarakat, dibutuhkan dana agar dapat membantu lebih banyak orang. Menurutnya, kesulitan terbesar dalam menggalang dana justru ada pada diri sendiri. Relawan harus mampu bercerita tentang Tzu Chi agar calon donatur memahami bahwa donasi mereka disalurkan dengan baik, sehingga tumbuh keyakinan dan keinginan untuk membantu sesama.

Valentina juga aktif menggalang hati dan dana dengan cara memperkenalkan Tzu Chi kepada setiap orang yang ditemuinya. Ia membagikan informasi kegiatan, mengajak orang terlibat langsung, serta mendorong mereka untuk bersumbangsih, baik dalam bentuk dana, tenaga, maupun barang. Ia juga mendampingi dan memotivasi “anak ayamnya” untuk memulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga, saudara, dan teman. Mengutip pesan Master Cheng Yen, ia menyampaikan bahwa tidak cukup hanya mengajak 50 orang, tetapi semangat ini harus diwariskan hingga 50 generasi agar Silsilah Dharma dan Mazhab Tzu Chi terus berlanjut.

Sementara itu, Lina Chen memandang galang hati dan galang dana sebagai kesempatan menjalin jodoh baik dengan banyak orang sekaligus mendukung tercapainya visi dan misi Tzu Chi. Ia menyisihkan satu hari setiap bulan untuk mengunjungi donatur, mengumpulkan dana cinta kasih, dan membagikan buletin Tzu Chi. Dari ketekunannya, jumlah donatur di dua kantor berkembang dari dua orang menjadi 30 orang dalam kurun sekitar 10 tahun, dan dari satu orang menjadi 20 orang dalam waktu sekitar enam tahun. Bahkan, beberapa donatur kemudian memperkenalkan teman dan kerabat mereka untuk ikut menjadi donatur Tzu Chi.

Aksi nyata yang dilihat masyarakat membuat banyak orang semakin yakin dan percaya untuk berdonasi kepada Tzu Chi. Karena itu, dalam galang hati dan galang dana, yang terpenting adalah memberikan pemahaman terlebih dahulu agar tumbuh keyakinan untuk bersumbangsih. Para relawan pun diajak terus bersemangat menjadi “penggali sumur” agar semakin banyak tangan terulur membantu mereka yang menderita.

Ketua He Qi, Mulyady Salim, menyampaikan pesan cinta kasih dan semangat kepada para peserta agar terus melangkah di Jalan Bodhisattva.

Suasana pelatihan semakin hangat saat tim isyarat tangan menampilkan lagu “Menggambar Kehidupan yang Penuh Warna”. Penampilan yang memadukan isyarat tangan dengan tabuhan genderang dan lonceng tersebut sukses menghadirkan decak kagum dari para peserta.

Sesuai tema pelatihan hari itu, “Menciptakan Kehidupan yang Bermakna”, peserta juga mendengarkan kisah Yanti, seorang relawan komite yang dikenal berdedikasi tinggi di Tzu Chi. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak pernah menolak berkah, meski pada awalnya belum memahami tugas yang diberikan. Dengan ketulusan hati, ia terus belajar dan menjalankan berbagai misi di Tzu Chi, mulai dari misi pendidikan, menjalankan tugas 4 in 1 sebagai ketua Xie Li dan Hu Ai, hingga menjadi koordinator bidang amal dan pelestarian lingkungan.

Pada November 2024, Yanti divonis menderita kanker. Awalnya ia sempat diliputi kegalauan, namun Dharma Master senantiasa menemani selama menjalani pengobatan sehingga batinnya perlahan menjadi lebih tenang. Ia belajar menerima karma buruk yang sedang berbuah dengan ikhlas dan rela. Ia juga selalu mengingat pesan Dharma Master bahwa tubuh yang sakit diserahkan kepada dokter, sementara batin harus tetap dijaga agar tenang.

Bahkan sebelum menjalani pengobatan, ia masih tetap hadir mengikuti latihan Persamuhan Dharma. Cinta kasih dari saudara sedharma yang rela terbang ke Kuala Lumpur untuk menemaninya pulang ke Pekanbaru menjadi kekuatan tersendiri baginya. Ia merasa sangat disayangi dan bertekad, selama masih mampu bersumbangsih, ia akan terus hadir menjalankan misi Tzu Chi. Ia juga ingin semakin aktif di Jing Jin agar dapat lebih memahami Dharma Master.

Banyak peserta pelatihan yang terharu hingga meneteskan air mata mendengar kisah Yanti. Semangat dan dedikasinya dalam menapaki Jalan Bodhisatwa menjadi motivasi bagi semua yang hadir. Seperti kata perenungan Master Cheng Yen, “Kita tidak tahu ketidakkekalan yang datang lebih dahulu atau hari esok yang datang lebih dahulu.” Karena itu, setiap orang diajak menggenggam waktu dan kesempatan sebaik mungkin agar tidak meninggalkan penyesalan di kemudian hari.

Pricilia membagikan perubahan positif yang dirasakan pada diri mamanya, Yanti, setelah bergabung dan aktif menjalankan misi Tzu Chi.

Selanjutnya, Pricilia, putri Yanti, membagikan perubahan yang ia lihat pada diri sang mama setelah bergabung di Tzu Chi. Wismina, sebagai mitra bajik, juga menceritakan keteguhan Yanti dalam menjalankan setiap misi Tzu Chi yang dipercayakan kepadanya tanpa pernah menolak berkah.

Pada pelatihan hari itu, sebanyak 10 relawan dilantik menjadi Relawan Abu Putih dan enam relawan dilantik menjadi Tzu Ching. Semoga bertambahnya barisan relawan ini semakin menambah kekuatan untuk berbuat lebih banyak bagi sesama.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Pelatihan Relawan Calon Komite : Makna dari Logo Baru

Pelatihan Relawan Calon Komite : Makna dari Logo Baru

21 Oktober 2016

Senin, 17 Oktober 2016, insan Tzu Chi Batam mengadakan pelatihan singkat kepada 70 relawan calon komite. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan seragam baru di dalam sistem jenjang relawan Tzu Chi, yakni Seragam Abu Berlogo.

Ada Tekad, Baru Ada Kekuatan

Ada Tekad, Baru Ada Kekuatan

30 November 2023

Tzu Chi Medan mengadakan pelatihan relawan Abu Putih I. Pelatihan ini bertujuan memperkuat tekad dan keyakinan para relawan menjadi seorang yang penuh berkah dengan terjun di tengah masyarakat menebar benih-benih kebajikan serta memupuk akar-akar kebijaksanaan.

Belajar dari Kampus Kehidupan

Belajar dari Kampus Kehidupan

14 Maret 2019

Relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Pusat, Hu Ai Pusat Sehati, Xie Lie Cikarang bersama dengan Xie Lie Bekasi kembali mengikuti Pelatihan Relawan Abu Putih pada hari Minggu, 24 Febuari 2019 yang diikuti oleh 36 relawan di Aula RS Sentra Medika, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -