Mengajak Warga Kenali Sampah Lewat Workshop Pelestarian Lingkungan

Jurnalis : Lim Hung Jeng (Tzu Chi Medan), Fotografer : Lim Hung Jeng, Mellisa Sim (Tzu Chi Medan)

Relawan melakukan praktek untuk pemilahan barang daur ulang berdasarkan jenisnya dalam Workshop Pelestarian Lingkungan pada Minggu, 16 Agustus 2026 di Titik Pemilahan Daur Ulang Tzu Chi, Komplek Gama City, Citraland Medan.

Sampah masih menjadi salah satu persoalan lingkungan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Volume sampah terus menumpuk seiring pertambahan jumlah penduduk, tingginya konsumsi barang berbahan plastik sekali pakai, serta minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah membuat tempat pembuangan akhir kian penuh dan lingkungan pun semakin tertekan.

Berangkat dari keprihatinan itu, relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Perintis menggelar Workshop Pelestarian Lingkungan pada Minggu, 16 Agustus 2026 di Titik Pemilahan Daur Ulang Tzu Chi, Komplek Gama City, Citraland Medan. Mengusung tema "Pengenalan Jenis Barang Daur Ulang", kegiatan ini menghadirkan praktik langsung pemilahan barang dari para donatur, sekaligus permainan edukatif bertajuk "Semangat Merdeka & Peduli Bumi" dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Acara ini diikuti oleh 50 relawan Tzu Chi dan 57 donatur yang turut menyerahkan barang daur ulang.

Menumbuhkan Kesadaran, Bukan Sekadar Memilah
Workshop ini bertujuan membekali para relawan, khususnya relawan baru, dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai visi, misi, dan tujuan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi. Harapannya, pemahaman tersebut dapat menumbuhkan niat, tekad, dan ketulusan hati untuk konsisten menerapkan konsep pelestarian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Para donatur pun mendapat edukasi lebih rinci mengenai jenis-jenis barang daur ulang, mulai dari botol plastik PET, kemasan plastik HDPE, gelas cup PP, kantong plastik PE, pipa PVC, tray telur, botol kaca, kertas, karton, pakaian layak pakai, kaleng, logam, hingga barang elektronik.

"Barang plastik tidak bisa disamakan, banyak jenisnya. Demikian juga jenis kertas, karton, dan bahan logam. Dengan lebih mengenal, kita akan lebih mudah memilah untuk didaur ulang. Kondisi bumi yang tidak baik butuh tindakan nyata. Dengan memulai dari diri kita sendiri, kita akan bisa menginspirasi orang lain untuk turut melakukan upaya pelestarian lingkungan," papar relawan Tzu Chi Medan, Budi Dharmawan dalam workshop tersebut.

Relawan Tzu Chi Medan, Budi Dharmawan memberikan penjelasan jenis-jenis plastik untuk daur ulang.

Melalui kegiatan pemilahan ini, Tzu Chi berharap masyarakat dapat melakukan transisi pola pikir dan tindakan, dari sekadar "kumpul-angkut-buang" menjadi "kurangi-pilah-olah", sehingga persoalan penumpukan dan pembuangan sampah dapat berkurang secara signifikan.

Nuansa perayaan Hari Kemerdekaan RI juga turut mewarnai kegiatan ini lewat perlombaan yang dikemas berbeda terdapat 5 jenis permainan edukatif. Jika biasanya lomba 17 Agustus identik dengan bakiak dan balap karung, kali ini peserta diajak berlomba sambil mencari barang daur ulang yang telah ditentukan untuk masing-masing tim. Tim yang lebih dulu mencapai garis akhir dengan membawa barang daur ulang lengkap dinyatakan sebagai pemenang.

Selain memperkenalkan jenis-jenis barang daur ulang secara lebih akrab, permainan ini juga sarat makna: sebuah ajakan untuk terus melangkah maju, selaras dengan visi, misi, dan tujuan melindungi bumi melalui misi pelestarian lingkungan.

Napak Tilas Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi
Workshop ini juga turut menjadi bagian dari peringatan 36 tahun perjalanan Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, yang bermula dari Ceramah Master Cheng Yen pada 23 Agustus 1990 di Taichung, Taiwan. Rangkaian kegiatan hari ini pun dilajutkan di Kantor Tzu Chi Medan yang dibuka dengan materi Tentang Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi oleh Budi Dharmawan, yang mengisahkan bagaimana sebuah langkah sederhana dari satu orang, yang dilandasi ketulusan hati, mampu menginspirasi begitu banyak orang untuk melaksanakan pelestarian lingkungan.

"Pelestarian lingkungan itu bukan sebatas sampah, tapi bagaimana kita mengubah hati, menjadikan hati kita yang empati peduli akan bumi, dan membangkitkan cinta kasih untuk melindungi kehidupan semua makhluk," tutur Budi Dharmawan.

Selain workshop juga diadakan perlombaan balap karung pengenalan barang daur ulang untuk memperingati HUT Kemerdekan RI ke-81.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Jusni Lina yang membawakan tema "Teladan Inspiratif (Pelestarian Lingkungan) di Griya Jingsi". Topik ini menyoroti bagaimana para shifu di Griya Jingsi mempraktikkan konsep 5R (Rethink, Reduce, Reuse, Repair, dan Recycle) dengan disiplin tinggi dalam keseharian mereka. Mulai dari pemanfaatan air hujan yang ditampung untuk keperluan mencuci, pembuatan pupuk kompos dari sisa bahan organik, pembuatan eco-enzyme dari kulit nanas dan buah-buahan, hingga upaya tidak membuang makanan serta memperbaiki dan memanfaatkan kembali barang untuk menghasilkan produk baru, termasuk pakaian.

"Shifu-shifu di Griya Jingsi sangat telaten dalam pengerjaan repair. Baju yang koyak bukan diganti, melainkan ditempel agar tetap bisa dipakai kembali. Jika tidak dilihat dengan teliti, hampir tidak terlihat adanya tempelan," ujar Jusni Lina. Ia juga mengapresiasi ketekunan para shifu dalam pekerjaan repair yang bekerja dengan hati, demi menciptakan lingkungan yang bersih dan harmonis.

Hendrik, seorang calon relawan yang juga pemerhati lingkungan, mengaku sangat gembira dapat mengikuti workshop ini. Menurutnya, banyak pengetahuan baru yang ia peroleh seputar pelestarian lingkungan dan daur ulang. "Biasanya kami hanya mengetahui plastik secara umum, tetapi di Tzu Chi ternyata masih dibagi lagi berdasarkan jenis plastiknya, lebih detail," ungkap Hendrik. Ia pun menambahkan, "Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi ternyata tidak hanya sebatas pada pemanfaatan barang daur ulang dan menjaga lingkungan, tapi juga daur ulang hati, atau pembinaan batin."

Workshop pelestarian lingkungan juga diadakan di Kantor Tzu Chi Medan.

Workshop Pelestarian Lingkungan Tzu Chi bukan sekadar mengajarkan cara memilah botol plastik atau menumpuk kardus bekas, melainkan menanamkan sebuah cara pandang baru bahwa bumi yang lestari dimulai dari kesadaran diri yang tulus. Seperti benih yang ditabur Master Cheng Yen 36 tahun silam, gerakan ini membuktikan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang konsisten. Dan pada akhirnya, merawat bumi bukan hanya soal mengelola sampah, tetapi juga tentang mengelola hati, menumbuhkan cinta kasih, serta menjaga kehidupan semua makhluk yang berbagi rumah yang sama.

Editor: Arimami Suryo A

Artikel Terkait

Berita Internasional: Gaya Hidup Pelestarian Lingkungan di Griya Jing Si

Berita Internasional: Gaya Hidup Pelestarian Lingkungan di Griya Jing Si

19 Oktober 2021

Kebiasaan berhemat dan melestarikan lingkungan terjalin dalam kehidupan sehari-hari di Griya Jing Si. Sudah ada sejak pertama didirikan. Sumber daya sangat langka ketika Master Cheng Yen mendirikan tempat tinggal pertama di Hualien, Taiwan.

Pelestarian Lingkungan 30 Ibu Rumah tangga

Pelestarian Lingkungan 30 Ibu Rumah tangga

06 Oktober 2010 Oleh karena itu pada tanggal 25 Sep 2010, jam 7 pagi diadakan ramah tamah Yayasan Buddha Tzu Chi dengan warga Kompleks Perumahan Grawisa Jakarta Barat. Dalam acara ramah tamah ini disampaikan pentingnya memilah sampah untuk didaur ulang.
Festival Pelestarian Lingkungan

Festival Pelestarian Lingkungan

12 Desember 2011 Sabtu, 3 Desember 2011, sebelum festival ini dimulai, para relawan berkumpul bersama dan melakukan doa bersama. Pada hari pertama festival ini ditampilkan salah satu budaya humanis Tzu Chi, yaitu peragaan isyarat tangan oleh relawan, mulai dari anak-anak Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, Tzu Ching, hingga relawan He Qi Barat.
Genggamlah kesempatan untuk berbuat kebajikan. Jangan menunggu sehingga terlambat untuk melakukannya!
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -