Mengaktifkan Pertanian Amal dengan Pelatihan Pembuatan Pupuk Hayati

Jurnalis : Bambang M. (Tzu Chi Singkawang), Fotografer : Jakpo (Tzu Chi Singkawang)

Ir. Marudut Sinambela menjelaskan cara pembuatan pupuk hayati cair kepada petani di Dusun Pakan, Desa Caokng, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak.

Program Pertanian Amal Desa Binaan Tzu Chi Singkawang mulai diaktifkan kembali setelah sempat terhenti pada masa pandemi. Dengan dilatarbelakangi oleh harga pupuk yang tinggi, relawan Tzu Chi Singkawang bersama Ir. Marudut Sinambela, MP, dosen pertanian yang tinggal di Pontianak, memprogramkan untuk mengaktifkan kembali pertanian amal. Pelatihan kali ini berfokus pada pembuatan pupuk hayati yang dilakukan secara bertahap dari satu desa ke desa lainnya.

Pada Rabu, 30 Maret 2022 pelatihan pembuatan pupuk hayati dilaksanakan di rumah Indratmo, di Dusun Pakan, Desa Caokng, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak sebagai permulaan pelatihan.

Ir. Marudut Sinambela menjelaskan kepada para petani bahwa, Fungsi dari Pupuk Hayati dengan aktivator trichoderma selain menyuburkan tanaman karena memberi nutrisi pada tanah dan tanaman, ia juga berfungsi sebagai pembasmi penyakit tanaman yang disebabkan jamur (fungisida alami).

Berbagai metode pembuatan pupuk ini diharapkan dapat membantu para petani agar dapat memperoleh pupuk yang murah dan berkualitas.

Cara membuatnya adalah bahan-bahan yang terdiri dari limbah kecap, ampas tahu, bekatul, dan tepung jagung dicampur dalam air dan direbus. Setelah dingin, bahan itu dicampur dengan bahan-bahan lain seperti telur mentah, agar-agar, air kelapa muda, kapur pertanian/dolomite, dan TSP. Baru setelah itu ditambahkan air mineral sehingga volume adonan menjadi sekitar 200 liter. Namun Ir. Marudut Sinambela menambahkan, seluruh bahan tersebut tidak boleh terlalu penuh, karena setelah bioaktivator berupa bakteri trichoderma dimasukkan, maka tandon akan ditutup rapat untuk mengalami proses fermentasi. Untuk antisipasi terkumpulnya udara hasil fermentasi maka disalurkan dengan pipa yang diteruskan ke dalam tabung pembuangan berupa botol air mineral yang diisi air kapur.

Menurut penuturan Ir. Marudut Sinambela, pupuk hayati ini akan berfungsi pada hari ke-15. “Minimal 14 hari dari tanggal pembuatan maka proses fermentasi telah selesai dan hasilnya bisa diaplikaskan untuk menyemprot tanaman padi dengan terlebih dahulu diencerkan,” ungkapnya.

Ir. Marudut Sinambela menjelaskan cara pembuatan pupuk kompos dengan Jerami.

Setelah Pembuatan Pupuk Hayati selesai, pelatihan dilanjutkan pembuatan kompos dengan bahan dasar jeram padi. Prinsipnya membuat tumpukan jerami empat lapis hingga mencapai ketinggian minimal satu meter, dengan lapisan yang ditaburi bahan-bahan; limbah kecap, ampas tahu, dedek, telur, cacahan rebung, bioaktivator Tricoderma kering dan kotoran sapi. Agar terjadi proses fermentasi tumpukan jerami ditutup rapat dengan terpal plastik. Satu bulan ke depan jerami akan menjadi bahan organik yang kaya akan mikroba dan unsur hara. Aplikasinya, jerami yang sudah hancur ditabur-taburkan pada lahan sebelum pengolahan lahan.

Berbagai metode pembuatan pupuk ini diharapkan dapat membantu para petani agar dapat memperoleh pupuk yang murah dan berkualitas sehingga dapat menghasilkan panen yang berkualitas pula.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Mengaktifkan Pertanian Amal dengan Pelatihan Pembuatan Pupuk Hayati

Mengaktifkan Pertanian Amal dengan Pelatihan Pembuatan Pupuk Hayati

04 April 2022

Tzu Chi Singkawang menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pembuatan Pupuk Hayati di Desa Binaan Tzu Chi Singkawang, Rabu, 30 Maret 2022.

Hanya dengan mengenal puas dan tahu bersyukur, kehidupan manusia akan bisa berbahagia.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -