Relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Mandala menggelar Kelas Membuat Kue Bawang, Kaligrafi dan Doodle Art dalam acara kepulangan penerima bantuan (Gan En Hu) dan anak asuh di Depo Pelestarian Lingkungan Mandala. Acara dibuka oleh relawan Tety selaku koordinator kegiatan.
Di era kemajuan teknologi sekarang ini, selain pengetahuan (knowledge), juga diperlukan keterampilan (skill) baik hardskill maupun softskill untuk meningkatkan daya saing dan kompetensi. Pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen berpesan untuk senantiasa mengembangkan potensi diri (mengupgrade diri) agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Untuk itu, pada Minggu, 1 Februari 2026, relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Mandala menggelar Kelas Membuat Kue Bawang, Kaligrafi dan Doodle Art dalam acara Kepulangan Penerima Bantuan Tzu Chi (Gan En Hu) dan Anak Asuh di Depo Pelestarian Lingkungan Mandala. Kegiatan ini diikuti oleh 37 Gan En Hu dewasa dan 73 anak asuh beserta pendamping dengan didukung 48 relawan. Gan En Hu dewasa mengikuti kelas membuat kue bawang di lantai 2 depo yang dibimbing oleh relawan Melinda, sedangkan kelas kaligrafi untuk anak asuh SMA dan SMK dan doodle art untuk anak asuh SD dan SMP di lantai 3 dengan dibimbing oleh pengajar dari Yayasan Wisma Remaja Indonesia. Dalam kesempatan ini, relawan juga memberikan bingkisan Imlek kepada gan en hu dan anak asuh yang beragama Buddha.
Kegiatan ini bertujuan membekali Gan En Hu dan anak asuh dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan potensi diri mereka. “Gan En Hu diajarkan membuat kue bawang dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh dan harga terjangkau sebagai bekal yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi mereka suatu hari nanti. Kebanyakan Gan En Hu tidak memiliki pekerjaan tetap karena kurang berpendidikan sehingga kondisi ekonomi mereka sangat memprihatinkan. Sedangkan anak asuh belajar kaligrafi dan doodle art untuk melatih kesabaran dan ketelitian, meningkatkan konsentrasi dan mengasah kreativitas. Diharapkan Gan En Hu dan anak asuh memperoleh pengetahuan dan manfaat positif dari kegiatan ini,” kata koordinator kegiatan, Tety.
Kelas Membuat Kue Bawang
Sekitar pukul 08.30, relawan dan gan en hu telah berkumpul di lantai 2 depo. Para Gan En Hu dibagi ke dalam 5 grup dan menempati meja yang telah ditentukan. Setiap grup beranggotakan 4-5 orang dan satu relawan pendamping yang bertugas membantu dan mengawasi jalannya kegiatan membuat kue. Peralatan dan bahan-bahan serta resep yang dibutuhkan telah disusun rapi di atas meja oleh relawan panitia sehari sebelumnya. Hari Minggu biasanya merupakan waktu untuk bersantai dan jalan-jalan, tapi relawan dan Gan En Hu tampak bersemangat dan bersungguh hati mengikuti kegiatan.
Gan En Hu dan relawan pendamping membuat kue bawang dengan sangat serius dan cekatan demi mencapai hasil yang terbaik.
Kegiatan dimulai pukul 9 tepat dan dibuka oleh relawan Tety selaku koordinator kegiatan yang menyambut kedatangan Gan En Hu dengan antusias kemudian memberikan pengarahan. Selanjutnya, relawan Melinda selaku pembimbing menjelaskan tentang bahan-bahan utama yang akan digunakan untuk membuat kue bawang, di antaranya tepung terigu, tepung kanji, santan kental, bawang merah, bawang putih, cabe merah dan mentega, kemudian memperagakan (demo) cara membuat kue bawang dan urutan bahan-bahan yang digunakan dengan dibantu relawan Ferry. Sepanjang demo diiringi dengan penjelasan langkah demi langkah yang diikuti oleh para peserta dengan arahan relawan pendamping.
Suasana yang semula hening langsung riuh. Baik Gan En Hu maupun relawan pendamping mengerjakan dengan sangat serius dan bersungguh hati demi mencapai hasil yang terbaik. Setiap grup sangat bersemangat dan cekatan, mulai dari mencampurkan semua bahan dan mengulen (membuat adonan), menggiling adonan sampai tipis dan mengirisnya menjadi potongan-potongan kecil hingga menggorengnya. Gan En Hu dan relawan pendamping saling bekerja sama. Gan En Hu membuat kue bawang, sedangkan relawan pendamping memperhatikan dan memastikan langkah demi langkah dilakukan dengan baik dan benar. Kerapian dan kebersihan meja juga tidak luput dari perhatian relawan pendamping. Kue bawang hasil karya setiap grup dicicipi bersama oleh relawan dan Gan En Hu dan boleh dibawa pulang.
Kelas Kaligrafi dan Doodle Art
Di lantai 3, anak asuh mengikuti kelas kaligrafi (menulis indah) dan doodle art (menggambar dengan gaya coretan bebas dan kreatif) yang dibimbing oleh pengajar dari Yayasan Wisma Remaja Indonesia. Kaligrafi untuk anak asuh SMA dan SMK, sedangkan doodle art untuk anak asuh SD dan SMP. Anak-anak terlebih dahulu dijelaskan mengenai apa itu kaligrafi dan doodle art dan manfaatnya serta langkah-langkahnya.
Pendiri Yayasan Wisma Remaja Indonesia, Stefri menjelaskan mengenai apa itu kaligrafi dan doodle art dan manfaatnya serta langkah-langkahnya.
Dalam kelas ini anak-anak mempelajari goresan dasar (basic strokes) yaitu goresan halus / tipis ke arah atas kemudian tebal ke arah bawah (overturn) dan goresan kasar / tebal ke arah bawah lalu tipis ke arah atas (underturn) menggunakan pena khusus kaligrafi kemudian menerapkannya dengan menulis huruf-huruf dalam abjad dan beberapa kata sederhana sesuai dengan contoh yang diberikan. Dalam kelas doodle art, anak-anak juga diberikan pola dan bentuk tertentu dan mereka bebas berimajinasi dan berkreasi melanjutkan pola-pola dan bentuk tersebut. Mereka boleh menambahkan ekspresi di dalamnya, seperti senang, ceria, sedih, kecewa dan lain-lain.
Anak-anak tampak sangat antusias dan berkonsentrasi terhadap tulisan dan gambar masing-masing. Para pengajar Yayasan Wisma Remaja Indonesia dengan sabar mengarahkan dan menunjukkan cara menulis dan menggambar yang benar. Sebagian relawan dan murid-murid Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen ikut membimbing anak-anak sehingga tercipta suasana kebersamaan antara relawan dan anak-anak. Kelas kaligrafi dan doodle art berlangsung selama satu jam dan ditutup dengan apresiasi kepada hasil karya terbaik dan penyerahan suvenir kepada Yayasan Wisma Remaja Indonesia lalu foto bersama. Anak-anak sangat puas dengan hasil karya masing-masing dan memperlihatkannya dengan bangga.

Anak-anak sangat antusias dan berkonsentrasi terhadap tulisan dan gambar masing-masing. Para pengajar Yayasan Wisma Remaja Indonesia dengan sabar mengarahkan dan menunjukkan cara menulis dan menggambar yang benar.
Stefri, pendiri Yayasan Wisma Remaja Indonesia menilai anak-anak zaman sekarang sangat rentan terhadap pengaruh negatif dari perkembangan teknologi digital. Sikap dan perilaku mental anak zaman sekarang jauh berbeda dengan anak zaman dahulu, seperti labil, tidak sabaran dan kritis. “Anak-anak memiliki banyak waktu luang. Kaligrafi dan doodle art bisa sebagai kegiatan positif untuk mengisi waktu mereka dan juga satu cara pengendalian diri. Tanpa disadari kesabaran dan konsentrasi mereka akan terlatih sekaligus menambah softskill mereka,” kata Stefri.
Ia berharap jalinan jodoh baik ini terus berkelanjutan ke depannya dan saling melakukan kunjungan untuk saling belajar dan berbagi hal-hal positif sehingga generasi muda bisa tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik. “Sangat bersyukur dan bersukacita diberikan kesempatan berbagi kepada anak-anak asuh Yayasan Buddha Tzu Chi. Semoga membawa manfaat yang baik dan pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak dan relawan,” ungkap Stefri.
Pembelajaran yang Positif
Para Gan En Hu memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari kegiatan ini. Salah satunya Tukiyem (61) yang dibantu Tzu Chi akhir tahun silam. Ia mengenal Tzu Chi dari tayangan DAAI TV. “Alhamdulillah, banyak terima kasih untuk Yayasan Buddha Tzu Chi. Setiap awal bulan diundang ke sini (depo), selalu ada pengalaman menarik yang didapat dan saya merasa senang bisa bertemu dengan teman-teman dan relawan yang baik hati dan ramah. Meskipun beda keyakinan, para relawan membantu dan merangkul dengan tulus. Harapannya Yayasan Buddha Tzu Chi semakin maju dan terus membantu orang-orang yang membutuhkan,” ujar Tukiyem antusias.
Tukiyem, salah satu Gan En Hu memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari kegiatan ini. Ia berharap Yayasan Buddha Tzu Chi semakin maju dan terus membantu orang-orang yang membutuhkan.
Salah satu anak asuh, Yelsi Aulia (18), juga mendapatkan pembelajaran dari kelas kaligrafi ini. “Saya mendapat pengetahuan dan wawasan, ternyata menulis juga ada seninya. Awalnya terasa susah karena belum terbiasa. Akhirnya bisa menulis dengan lumayan lancar. Sangat bermanfaat untuk melatih kesabaran dan konsentrasi karena saat menulis, perhatian terfokus pada apa yang ditulis dan tidak terpikir hal-hal lain. Semoga apa yang dipelajari hari ini dapat menjadi bekal yang berguna bagi masa depan saya,” kata Yelsi.
Kegiatan kepulangan Gan En Hu dan anak asuh tidak sekadar memberikan pelatihan keterampilan bagi mereka, melainkan bentuk perhatian agar kehidupan mereka lebih baik. “Dengan kegiatan ini, baik Gan En Hu maupun relawan diharapkan dapat menciptakan berkah bagi orang lain karena berkah itu nantinya akan kembali kepada kita sendiri,” tutup koordintor kegiatan, Tety.
Dalam kesempatan ini, relawan Tzu Chi juga memberikan bingkisan Imlek bagi Gan En Hu yang beragama Buddha.
Editor: Arimami Suryo A.