Mengenal Dunia Anak

Jurnalis : Yuliana Widjaja (He Qi Utara), Fotografer : Karim Baharuddin (He Qi Utara)
 
 

foto

Sebanyak 25 anak mengikuti kegiatan Kelas Budi Pekerti (Qin Zi Ban) yang diadakan pada tanggal 8 April 2012 di salah satu ruangan di Sekolah Tzu Chi PIK, Jakarta Utara.

“Kita harus sadar akan berkah, menghargai berkah serta menciptakan kembali berkah.”
Kata Perenungan Master Cheng Yen

 

 

 

 

 

Di akhir libur pekan yang panjang, 8 April 2012, Kelas Qin Zi Ban diadakan kembali di Sekolah Tzu Chi. Dengan penuh keceriaan, anak-anak diajak untuk mengenal dunia secara luas karena mereka adalah bagian dari dunia dan ada anak-anak dari belahan dunia lain namun hidup dalam kondisi yang berbeda. Beberapa dari mereka telah dapat mengenal beberapa negara, seperti Singapura, China, Eropa, dan Amerika.

Setelah menonton video cuplikan bersama yang menggambarkan bagaimana anak-anak yang hidup di antara tumpukan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantar Gebang dan di sekitar Kali Angke, serta melihat anak-anak dari negara lain yang kekurangan makan, anak Kelas Qin Zi Ban kemudian diajak untuk bermain satu permainan untuk merasakan bagaimana anak-anak tidak mampu dan tidak mempunyai sepatu atau alas kaki lain. Dalam permainan ini mereka diharuskan memakai alas kaki dari botol minuman bekas, membawa kardus bekas sebagai tas di punggung mereka, lalu berjalan mencari sisa-sisa sampah dan memilih barang-barang yang dapat dipergunakan kembali. Anak-anak dapat merasakan bagaimana sakitnya jika kaki kita hanya beralaskan seperti itu dan jika terinjak batu atau benda tajam akan langsung terluka. Beruntung saat ini kita mempunyai sandal dan sepatu.

foto   foto

Keterangan :

  • Relawan Tzu Chi berbagi keceriaan bersama anak-anak dan orangtua mereka dengan mengenalkan dunia secara luas (kiri).
  • Anak Kelas Qin Zi Ban diajak untuk merasakan bagaimana menjalani kehidupan anak-anak tidak mampu melalui berbagai aktivitas (kanan).

Topik pelajaran hari ini adalah mengajak anak-anak merasakan bahwa kita beruntung saat ini hidup dalam keluarga bahagia, makan makanan bergizi, bersih, dan sehat. Kita sadar akan berkah saat ini, bersyukur atas berkah yang kita dapat, dan kita ciptakan berkah lagi dengan membantu orang lain. Bagaimana anak-anak lain yang makan makanan dari sisa-sisa makanan, tidak mempunyai baju dan tidak mempunyai rumah untuk berteduh? Bagaimana dengan anak-anak yang hidup ditengah peperangan? Apakah mereka semua sama? Diantara kalian ada beberapa orang yang sedang berpikir, akan tetapi banyak anak-anak yang hanya berpikir satu hal yaitu bagaimana agar hari ini dapat bertahan hidup.

Xiao Phu Sa (Bodhisatwa Kecil), saat ini hal apa yang paling ingin kalian kerjakan? Maukah kalian membantu mereka? Ternyata anak-anak dapat bersyukur atas semua yang mereka miliki, dan diajak untuk menyisihkan sebagian uang jajan untuk disumbangkan kepada mereka yang tidak mampu. Dengan mengumpulkan dalam celengan bambu yang dibagikan pada setiap anak yang hadir.

  
 

Artikel Terkait

Uluran Kasih Relawan untuk Korban Kebakaran di Pekanbaru

Uluran Kasih Relawan untuk Korban Kebakaran di Pekanbaru

26 September 2025

Enam rumah di Jl. Pepaya, Pekanbaru terbakar. Relawan Tzu Chi menyalurkan bantuan darurat berupa ranjang lipat, pakaian, peralatan rumah tangga, dan dana tunai untuk lima keluarga terdampak pada Senin, 22 September 2025.

Celengan Bambu: Memupuk Berkah dan Meneruskan Cinta Kasih

Celengan Bambu: Memupuk Berkah dan Meneruskan Cinta Kasih

08 Juni 2022

Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak aktifitas Misi Amal Tzu Chi di Batam harus dilaksanakan secara daring. Setelah 2,5 tahun, Tzu Chi Batam akhirnya dapat kembali mengadakan Gathering Gan En Hu.

Belajar Banyak di Indonesia

Belajar Banyak di Indonesia

13 Agustus 2018
Suara tawa terdengar bersahutan di dalam rumah Siti dan Simon. Pintu rumah sepasang tunanetra yang berlapis kawat itu memang tidak tertutup rapat hingga tawa terdengar cukup keras di sepanjang gang di depan rumah mereka. Ada beberapa mahasiswa asal Taiwan di dalamnya yang mendapatkan pijat cuma-cuma secara bergiliran.
Hadiah paling berharga di dunia yang fana ini adalah memaafkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -