Mengenang Budi Luhur Buddha, Orang Tua dan Semua Makhluk

Jurnalis : Liani, Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan), Fotografer : Liani, Kamin, Lily Hermanto, Lim Hung Jeng, Soit, Gunawan (Tzu Chi Medan)

Sebanyak 1.312 peserta yang terdiri dari relawan, donatur, murid sekolah, dan masyarakat umum mengikuti perayaan Waisak dan membentuk formasi TC 60 yang diselenggarakan Tzu Chi Medan di Sekolah Cinta Budaya Medan.

Waktu seakan berhenti saat tabuhan genderang menggema di aula lantai lima, Sekolah Cinta Budaya yang berlokasi di Komplek MMTC, Medan pada Minggu, 10 Mei 2026. Dalam suasana penuh keheningan, ribuan mata peserta tertuju kepada penampilan zhong gu (genta dan genderang) berjudul Ikrar Agung Bhaisajyaguru Buddha yang dibawakan oleh relawan, Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi), Tzu Shao (murid Kelas Budi Pekerti) dan anggota TIMA Medan. Pementasan ini mengawali rangkaian acara Peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi (Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia) serta Doa Bersama Waisak tahun 2026.  

Kegiatan ini dihadiri 1.312 peserta dari berbagai kalangan seperti relawan, Sangha, donatur, guru, pelajar dan masyarakat umum untuk berdoa bersama. Tujuan dari kegiatan ini sendiri adalah untuk mengenang dan berterima kasih atas budi luhur Buddha, orang tua dan semua makhluk. Waisak mengenang tiga peristiwa utama dalam kehidupan Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan dan wafat serta momen bersyukur atas budi jasa Buddha yang telah datang ke dunia sebagai penuntun jalan kebenaran bagi semua makhluk. Hari Ibu mengenang budi luhur orang tua yang telah melahirkan dan membimbing kita dengan kasih sayang dan cinta yang sejalan dengan ajaran Buddha. Hari Tzu Chi Sedunia memperingati hari lahir Pendiri Tzu Chi Master Cheng Yen, dan bersyukur atas budi jasa semua orang yang telah bersumbangsih demi semua makhluk yang menderita.

Dentuman genta dan genderang (Zhong Gu) yang membawakan “Ikrar Agung Bhaisajyaguru bergema menandai di mulainya Doa Bersama Waisak 2570 Buddhis Era yang penuh khidmat.

Perayaan kali ini sangat istimewa karena Tzu Chi telah memasuki usia ke-60 tahun. Sebanyak 175 relawan membentuk formasi TC 60 yang bermakna Tzu Chi 60 tahun. Dengan dipandu relawan Elsa Huang dan Tony Honkley, acara berlangsung khidmat melalui lantunan Gatha Pendupaan, Gatha Pujian Bagi Buddha, persembahan pelita, air wangi, dan bunga dilanjutkan prosesi pemandian rupang Buddha.  
  
Prosesi Waisak dan Puncak Berbakti yang Khidmat
Kehadiran anggota Sangha yang memimpin ritual pemandian rupang Buddha menambah keagungan prosesi pemandian rupang. Dengan arahan relawan melalui aba-aba Li Fo Zu (bersujud di kaki Buddha), Zhi Cheng Fa Yuan (berikrar dengan hati tulus di hadapan Buddha), Jie Fa Xiang (menerima harumnya Dharma) dan Zhu Fu Ji Xiang (semoga selalu dikaruniai keberuntungan).

Setelah prosesi prosesi pemandian rupang Buddha berjalan sempurna, dilanjutkan dengan melantunkan Cheng Xin Qi San Yuan (dengan hati tulus memanjatkan tiga ikrar), pelimpahan jasa dengan Gatha Pemandian Rupang Buddha, dan mengungkapkan rasa hormat paling tinggi melalui prosesi penghormatan paling tulus  kepada Buddha, orang tua, dan semua makhluk.

Relawan memberikan penghormatan kepada anggota Sangha yang memasuki ruangan untuk memimpin prosesi Waisak yang diadakan Tzu Chi Medan.

Ketua Pelaksana Tzu Chi Medan, Steel Edwin (depan) bersama sama dengan relawan melakukan prosesi pendupaan dengan lantunan Gatha Pendupaan dan memberikan persembahan kepada Buddha.

Puncak acara adalah sesi berbakti kepada orang tua yang dibuka dengan pembacaan puisi bahasa Mandarin berjudul Fu Mu En (Kasih Sayang Orang Tua) dengan sangat indah oleh murid Kelas Budi Pekerti Tzu Chi Medan, Chloe Winella. Puisi ini mengungkapkan kasih sayang dan cinta orang tua kepada anak-anaknya bagaikan samudera luas tanpa batas disertai ucapan terima kasih kepada orang tua.

Suasana khidmat berubah menjadi haru saat Chloe Winella membacakan puisi dengan penuh penghayatan. "Ayah adalah gunung yang melindungiku dari hujan... Ibu adalah sungai yang lembut membasahi hatiku... Mereka menyembunyikan cinta dalam kerja keras. Saya adalah pohon kecil, tumbuh dalam cinta. Terima kasih ayah dan ibu, selamanya mencintai rumah kalian," ungkap Chloe saat membacakan puisinya. Ia pun sangat senang dan bahagia bisa ikut acara pemandian rupang Buddha hari ini.

Diiringi lagu "Gan Xie" (terima Kasih), anak-anak bersimpuh mempersembahkan bunga anyelir dan pelukan kepada ibu mereka. Anak-anak Kelas Budi Pekerti (Qin Zi Ban), Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen (Jing Si Ban), dan Tzu Shao mempersembahkan sekuntum bunga carnation (anyelir) sambil memeluk dengan penuh kasih sayang. Para ibu juga mengucapkan doa yang terbaik bagi buah hati mereka. Suasana haru kemudian mengisi seluruh ruangan karena banyak peserta yang tidak sanggup menahan air mata pada sesi ini.

Suasana khidmat berubah menjadi haru saat sesi berbakti. Chloe Winella, murid kelas budi pekerti membacakan puisi Mandarin Fu Mu En (kasih sayang orang tua).

​Ketua Pelaksana Tzu Chi Medan, Steel Edwin juga memberikan pesan bahwa kegiatan ini menjadi momen untuk mengingat kembali perjalanan Yayasan Buddha Tzu Chi selama lebih dari 6 dekade mengabdikan diri untuk misi kemanusiaan di dunia. “Tzu Chi terus berkomitmen untuk bersama masyarakat merajut semangat bersumbangsih. Melalui berbagai aksi kemanusiaan seperti bantuan di Aceh, Tapanuli, hingga Sibolga, semangat "memberi" terus dikembangkan seiring bertambahnya perjalanan Tzu Chi. Semoga relawan Tzu Chi dapat terus menjalankan visi dan misi Tzu Chi,” jelasnya.

Saat melihat momen anak-anak melakukan bakti kepada orang tua, Steel Edwin sangat berbahagia. "Kita memberi kesempatan kepada anak-anak untuk menumbuhkan rasa sayang dan terima kasih kepada orang tua. Inilah inti dari ajaran kita," tuturnya.

Senada dengan itu, Rita yang menjadi koordinator kegiatan menekankan bahwa perayaan Waisak tahun ini terasa Istimewa karena bertepatan dengan hari Waisak, Hari Ibu International, dan peringatan 60 Tahun Tzu Chi Sedunia. “Kehadiran anggota Sangha (Bhikkhu/Bhikkhuni) menambah keagungan ritual prosesi Waisak yang bertujuan menyucikan hati dan meningkatkan rasa cinta kasih terhadap sesama manusia, serta  pembentukan formasi TC 60 untuk memperingati  hari jadi ke -60 Tzu Chi dan mengenang budi luhur orang tua,” jelas Rita.

Berbakti dengan Hati Tulus dan Penuh Syukur
Meskipun merupakan agenda tahunan yang selalu diadakan di minggu kedua bulan Mei, perayaan Waisak memberikan kesan batin yang berbeda-beda bagi peserta. Salah satunya Edy Wongaria, M. Pd., guru bidang studi Agama Buddha di Sekolah Brigjen Katamso 2 yang telah beberapa kali mengikuti prosesi Waisak di Tzu Chi. “Prosesi Waisak Tzu Chi berbeda dengan yang ada di vihara atau yayasan yang lain. Lebih sederhana dan fokus pada ajaran Buddha sebenarnya. Sangat teratur dan khusyuk sehingga kita dapat mengikuti dengan hati tulus dan jernih,” kata Edy.

Pada perayaan Waisak kali ini, Edy membawa serta 12 murid-murid SMP, SMA dan SMK Sekolah Brigjen Katamso 2 agar generasi muda dapat belajar hal baru dan meneladani makna Waisak secara lebih mendalam. “Dengan mengikuti prosesi, mereka dapat memaknai Waisak secara langsung dengan hati dan pikiran yang jernih, tidak hanya dari buku pelajaran Agama Buddha. Selain itu juga dapat mengembangkan welas asih dan sifat kebuddhaan dalam bathin mereka,” sambung Edy.

Heriyanto (Tu Pao Ko), Wakil Ketua Yayasan Sekolah Cinta Budaya sangat membuka tangan pelaksanaan perayaan Waisak di sekolahnya. Kehadiran Tzu Chi membawa berkah dan hal positif bagi lingkungan sekitarnya.

Perayaan Waisak yang diadakan Tzu Chi Medan ini juga diikuti oleh murid-murid dari lima sekolah di Kota Medan, yaitu Sekolah Putra Bangsa Berbudi, Sekolah Minggu Metta Jaya, Sekolah Methodist Tanjung Morawa, Sekolah Dharma Bakti Lubuk Pakam, dan Sekolah Cinta Budaya. Dukungan hangat juga datang dari Wakil Ketua Yayasan Sekolah Cinta Budaya, Heriyanto (Tu Pao Ko) yang sekolahnya menjadi tempat terselenggaranya rerayaan Waisak Tzu Chi.

“Jadi kebetulan kita bilang hari ini adalah hari bagus. Kalau penanggalan di kalender Tionghoa, tanggal 10 Mei itu bagus. Kita sangat gembira kedatangan relawan Tzu Chi dan para peserta. Dengan adanya perayaan Waisak di Sekolah Cinta Budaya ini tentu saja saya berharap umat Buddha, masyarakat umum, serta murid kita sebagai generasi muda tahu akar budayanya, tahu akan makna dan mengapa kita memperingati Waisak," tegas Heriyanto.

Perayaan Waisak yang diadakan Tzu Chi Medan diikuti oleh murid-murid dari lima sekolah di Kota Medan yaitu Sekolah Putra Bangsa Berbudi, Sekolah Minggu Metta Jaya, Sekolah Methodist Tanjung Morawa, Sekolah Dharma Bakti Lubuk Pakam, dan Sekolah Cinta Budaya.

​Hari Waisak tidak sekadar dirayakan, tapi hendaknya menjadi refleksi dalam setiap individu, mendalami makna dan menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pemandian rupang Buddha hanyalah sebuah simbolis dan hendaknya dimaknai dengan merefleksi diri, membersihkan batin dan melenyapkan kegelapan bathin serta membangkitkan sifat kebuddhaan dalam hati setiap orang. Master Cheng Yen senantiasa mengajak insan Tzu Chi dan semua orang untuk mengembangkan dan memunculkan sifat Buddha yang pada dasarnya ada dalam batin setiap orang, sesuai dengan kata perenungan Master Cheng Yen. “Hari Waisak bukan hanya memperingati kelahiran Buddha, tapi untuk membangkitkan sifat kebuddhaan dalam hati setiap orang. Kita harus menjadikan setiap hari sebagai Waisak dengan menjalani hidup penuh welas asih, kebijaksanaan dan ketulusan”.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel Terkait

Waisak Tzu Chi 2018: Rasa Syukur dan Ketulusan Berdoa yang Memancarkan Keagungan

Waisak Tzu Chi 2018: Rasa Syukur dan Ketulusan Berdoa yang Memancarkan Keagungan

14 Mei 2018
Doa jutaan insan Tzu Chi Pekanbaru dilaksanakan di Gedung SKA Co Ex (Convention & Exibixion Centre) yang dihadiri sekitar 1.000 orang.
Sepekan Jelang Perayaan Waisak Tzu Chi, Relawan Mulai Mempersiapkan Diri

Sepekan Jelang Perayaan Waisak Tzu Chi, Relawan Mulai Mempersiapkan Diri

08 Mei 2023

Menjelang pekan kedua bulan Mei, dimana setiap tahunnya Tzu Chi merayakan tiga hari besar di pekan itu, ratusan relawan Tzu Chi mulai bersiap. Perayaan Tiga Hari Besar Tzu Chi: Hari Raya Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia ini akan dilakukan pekan depan, yakni hari Minggu, 14 Mei 2023 pukul 14.00 hingga 16.00 WIB.

Waisak Tzu Chi 2018: Peringatan Hari Waisak di Rumah Baru

Waisak Tzu Chi 2018: Peringatan Hari Waisak di Rumah Baru

14 Mei 2018

Tahun ini, peringatan Hari Waisak, Hari Ibu, dan Hari Tzu Chi Sedunia dirayakan serentak oleh insan Tzu Chi di seluruh dunia pada Minggu 13 Mei 2018. Yayasan Buddha Tzu Chi Batam sangat bersyukur karena untuk pertama kalinya, perayaan tiga hari besar ini diadakan di ruangan ‘Jiang Jing Tang’, lantai 5 Aula Jing Si Batam yang baru rampung.

Memberikan sumbangsih tanpa mengenal lelah adalah "welas asih".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -