Relawan Tzu Chi Sinar Mas dan Paguyuban Sinar Mas Yogyakarta membagikan bantuan kepada Sekolah Dasar Negeri Kenteng 2 yang berada di Pedukuhan Bendo, Kelurahan Kenteng, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Menggenggam masa sekarang sama artinya dengan menggenggam masa depan.”
-Kata Perenungan Master Cheng Yen-
Di balik deretan perbukitan dengan jalan terjal berkelok-kelok, ada suara riuh tawa anak-anak SD berlarian menyambut kedatangan dengan mencium tangan tim relawan, Senin (3/8/26). Hari itu, relawan Tzu Chi Sinar Mas bersama Paguyuban Sinar Mas Yogyakarta hadir ke Sekolah Dasar Negeri Kenteng 2 berada di Pedukuhan Bendo, Kelurahan Kenteng, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sekolah sederhana yang terletak cukup jauh dari pusat kota ini menjadi tujuan anak-anak desa sekitarnya untuk mengenyam pendidikan. Berdiri sejak tahun 1981 hingga sekarang sudah mempunyai fasilitas lumayan lengkap, mempunyai 6 ruang kelas, 8 kamar mandi, kantor Kepala Sekolah, ruang guru, perpustakaan, gedung IT, musola, serta lapangan. Terdata 71 murid bersekolah di sini dengan 8 orang sebagai tenaga pendidik.
Relawan hadir di sana untuk memberikan bantuan peralatan sekolah berupa sepatu, kaos kaki, alat tulis, buku mewarnai dan celengan kepada 71 murid. Marini Rohmawati, S.Ag, M.Pd (51), kepala sekolah merasa sangat bersyukur sekali, berterima kasih dan bangga karena SD Negeri Kenteng 2 telah mendapatkan perhatian dalam bentuk bantuan peralatan sekolah.
Andre Julian Hutama (10) murid kelas 4 dengan wajah berbinar dan kagum ketika membuka kotak sepatu yang baru ia terima. “Wehhh apik tenan jee sepatune, nggonan mu podo thoo, apik yoo (wah bagus sekali sepatunya, punyamu sama juga kan, bagus ya -red),” celotehnya riang.
Selama kegiatan berlangsung, relawan memang sempat heran melihat sebagian murid tidak mengenakan sepatu, berjalan berlarian tanpa alas kaki meskipun hari itu lapangan terasa panas. Ternyata alasannya karena mereka tidak mempunyai sepatu.
Canggih Rizki Nugroho, perwakilan relawan Tzu Chi Sinarmas memberikan bantuan secara simbolis kepada Marini Rohmawati, S.Ag, M.Pd (51) selaku Kepala Sekolah SD Negeri Kenteng 2 Bendo, Kenteng, Kapanewon Ponjong, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mayoritas warga di sini bermatapencaharian sebagai buruh tani yang menggarap, mengolah, dan merawat lahan milik orang lain dengan sistem upah ataupun bagi hasil panenan. Keterbatasan penghasilan sebagai petani seringkali membuat orang tua belum mampu memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah anaknya, ya salah satunya sepatu. Makanya setiap hari beberapa anak harus berjalan kaki agak jauh menuju ke sekolah tanpa sepatu. Tak heran bantuan peralatan sekolah memang sangat diperlukan.
“Dengan adanya bantuan ini, kalau dulu ibaratnya anak-anak dengan alat tulis tiga sentimeter saja masih terus dipakai, sekarang menjadi lebih mudah menulis sehingga dapat mengukir prestasi setinggi-tingginya. Begitu pula dengan sepatu baru, semoga membuat langkah anak-anak semakin kokoh meraih cita-citanya setinggi langit sehingga nantinya bisa bersinar seperti perusahaan Sinar Mas ini,” terang Marini.
Sebagai kepala sekolah, Marini mempunyai harapan besar terhadap para murid, “Meskipun anak-anak bersekolah di pinggiran, (semoga) tidak gaptek, tidak kalah dengan yang bersekolah di kota. Terima kasih pada Yayasan dan Perusahaan Sinar Mas semoga kerja sama ini akan terus berkelanjutan.”
Dukungan Besar untuk Anak-Anak
SD Negeri Kenteng 2 sempat mendapatkan sorotan luas dari publik dan media nasional. Bukan tanpa sebab, dedikasi kepala sekolah serta para guru dan pengajarnya dalam memajukan pendidikan di wilayah pedesaan Gunung Kidul lah yang menjadi latar belakang. Salah satunya karena kisah inspiratif pelayanan antar-jemput siswa menggunakan kendaraan pribadi demi memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah menuntut ilmu dengan baik.
Sri Sumartini, S.Pd, Aud (59) guru kelas 1 SD yang sudah mengajar selama 18 tahun di SD Negeri Kenteng 2 mengutarakan bahwa akses jalan masih menjadi kendala bagi anak-anak. Tahun 2007 anak yang bersekolah di SD ini masih sangat sedikit jumlahnya, hanya 48 murid. Untuk memajukan sekolah supaya jumlah muridnya bertambah, Kepala Sekolah beserta para guru berinisiatif menjemput anak dari satu rumah ke rumah lainnya.
“Waktu itu satu guru mengendarai motor ceng-pat Bu (boncengan empat orang), satu anak dibonceng di depan dan dua anak di belakang, melewati jalan berbatu naik turun karena daerah perbukitan. Kami mencari jalan alternatif yang lebih dekat menuju sekolah, pokoknya waktu itu perjuangan sekali lah, Bu.” kenangnya.
Suasana ruangan ketika perkenalan relawan bersama para guru dam murid-murid SD Negeri Kenteng 2 Bendo, Kenteng, Kapanewon Ponjong, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Wakiman yang bekerja sebagai tukang kebun, iseng membuat vidio kemudian upload di medsos hingga viral dan akhirnya tahun 2020 mendapatkan bantuan satu unit mobil dari DAAI TV melalui program Mimpi Jadi Nyata. Sejak saat itulah sekolah ini mempunyai mobil antar jemput untuk muridnya, tetapi masih ada beberapa anak memilih berjalan kaki karena rumahnya dekat.
Sebagian besar anak-anak memakai sepatunya hanya pada hari Senin ketika upacara saja bahkan ketika bermain bola mereka lebih memilih tanpa alas kaki.
“Kalau saya tanya kenapa, nanti kalau kakinya tersandung atau sakit gimana, jawabnya eman-eman sepatune bu (sayang sepatunya bu), kalau belum sempit sekali atau jebol (rusak) ya belum diganti, maklum lah di sini sepatu harga seratus atau dua ratus ribu sudah terasa mahal, Bu. Jadi anak-anak lebih sering tanpa alas kaki. Alhamdulillah hari ini anak-anak mendapatkan bantuan sepatu dari Tzu Chi,” sambungnya penuh haru.
Keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan langkah anak-anak dalam menuntut ilmu. Salah satunya Seyla Auryn R (10) dari kelas 1 hingga kelas 4 SD selalu mendapatkan rangking satu di kelasnya. Setiap hari jam empat pagi sudah bangun untuk bersiap karena rumahnya agak jauh dan jalanya susah maka jam enam pagi sudah harus menunggu di titik penjemputan mobil menuju sekolahnya.
Seyla merupakan anak tunggal, ayahnya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik pembuatan pasir kucing sedangkan ibunya berjualan kue dan menerima pesanan ketering. Bahagia ini kali pertamanya mendapatkan bantuan peralatan sekolah.
“Senang sekali Bu dan pastinya jadi tambah semangat belajar, aku cita-citanya mau jadi atlet voli nasional biar bisa mengharumkan nama sekolahku. Aku senang sekolah di sini karena fasilitasnya bagus, gurunya baik-baik dan temennya baik-baik juga,” tuturnya penuh semangat.

Senyum Kristina Diana bersama salah seorang guru ketika melihat wajah bahagia anak-anak membuka kotak sepatu.
Semangat yang sama dirasakan salah satu anak berkebutuhan khusus, Selina Saputri (8) yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai penggembala kambing milik orang lain sedangkan ibunya, Enisa Putri, hanya di rumah saja. Komunikasi masih menjadi kendala bagi Nuri Fatimah, S.Pd (32) guru wali kelas 2.
“Selama ini kalau saya sapa anaknya menutup diri, jilbabnya selalu ditarik maju menutupi wajah, tidak mau bertatap muka dengan saya. Jadi setiap hari masih terus berusaha komunikasi, mengajak berteman Selina,” ungkap Nuri Fatimah.
Meskipun lebih lambat dibandingkan teman-temannya, Selina mempunyai motavisi untuk belajar yang tinggi seperti membuat huruf dan angka atau mewarnai gambar. Hal itulah membuat sang ibu rela setiap hari berjalan kaki mengantarkan serta menunggu anaknya seharian di sekolah.
“Kulo pingin anak kulo niku pinter kados anak liyanipun Bu, meski tiyang mboten gadah tapi Selina kepingin dados guru. Maturnuwun kagem bapak-ibu, kagem bantuan ini njih Bu, Selina pasti tambah semangat sinau. (Saya ingin anak saya pintar seperti anak lainnya, meskipun orang tidak punya tapi Selina bercita-cita ingin menjadi guru. Terima kasih untuk bantuan dari Bapak Ibu ini ya, Selina pasti tambah bersemangat belajar -red),” tuturnya dengan santun.
Citra Wijaya (49) selaku Lurah Desa Kenteng berterima kasih karena sudah kali kedua Tzu Chi Sinar Mas memberikan bantuan. Pertama bantuan air bersih di Pedukuhan Bendo dan Bentar, kemudian yang kedua bantuan peralatan sekolah untuk murid-murid di SD Negeri Kenteng 2 ini.
“Bersyukur sekali desa kami mendapatkan perhatian dari perusahaan Sinar Mas, semoga bantuan seperti ini terus mengalir karena memberikan dampak yang positif bisa langsung dirasakan manfaatnya,” ucapnya.
Harapan ke depan bagi anak-anak juga menjadi perhatiannya, “Semoga dengan bantuan ini anak-anak lebih termotivasi, terpacu belajarnya, dapat mempunyai mimpi, cita-cita yang tinggi sehingga setelah lulus dari SMA dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi,” sambungnya.
Kolaborasi dalam Kebaikan
Bantuan peralatan sekolah untuk SD Negeri Kenteng 2 kali ini merupakan hasil kolaborasi antara Tzu Chi Sinar Mas dengan Paguyuban Sinar Mas yang berada di Yogyakarta. Paguyuban ini terbentuk sejak tahun 2013 terdiri dari seluruh karyawan unit usaha dan pilar usaha meliputi Sinar Mas Finansial Services, Sinar Mas Communication and Technology serta Sinar Mas Agribusines and Food yang ada di Yogyakarta mencakup juga wilayah Solo dan Magelang.
Meski sudah mendapatkan bantuan, anak-anak terlihat tetap tidak mengenakan alas kaki saat pulang sekolah karena eman-eman (sayang) dengan sepatunya.
Eerste Hevalianda (52) Ketua Paguyuban Sinar Mas Yogyakarta sekaligus Area Manajer Asuransi Sinar Mas merasa senang sekali setiap kegiatan Tzu Chi selalu dilibatkan sehingga dapat bersinergi, bersama-sama saling support terutama dalam berbuat kebaikan.
“Tentu saja saya sangat antusias sekali, kalau yang namanya relawan jiwa sosialnya itu tinggi. Bagaimana kita bisa membantu meringankan beban orang lain dengan tulus Ikhlas, bagaimana kita bisa bekerja sama sehingga munculah teamwork,” jelasnya.
Di zaman yang semakin modern ini, anak-anak yang bersekolah jauh dari pusat kota pun dapat sadar akan pendidikan dan teknologi. “Tidak hanya itu saja, harapannya dengan bantuan ini semoga dapat menjadi generasi sukses, mempunyai dedikasi tinggi dan terutama moral yang baik,” sambungnya.
Sementara itu Canggih Rizki Nugroho, relawan Tzu Chi Sinar Mas mengatakan jika bantuan ini merupakan wujud kepedulian dalam misi pendidikan khususnya bantuan untuk sekolah dengan akses terbatas seperti di desa-desa dengan kondisi ekonomi mayoritas warganya berada pada tingkat menengah ke bawah. Dengan adanya bantuan peralatan sekolah dapat meringankan beban ekonomi orang tua dalam memenuhi kebutuhan pendidikan sehingga anak-anak tetap memiliki motivasi balajar.
“Sangat bersyukur sekali hari ini bisa hadir memberikan bantuan merupakan pengalaman berharga bagi saya pribadi. Bahagia saat melihat senyum ceria adik-adik kita saat menerima bantuan tadi dan langsung mencoba sepatu barunya,” ujar Canggih.
Dengan keceriaan relawan bersama anak-anak, rasa lelah karena perjalanan yang jauh berubah menjadi canda tawa.
Kunjungan kali ini pun membawa kesan tersendiri bagi Herman Teguh Wibowo. Rasa lelah menjadi hilang ketika melihat wajah bahagia anak-anak langsung mencoba sepatu barunya. Relawan Tzu Chi yang aktif sejak tahun 2016 ini menambahkan selama tinggal di Yogya, relawan sudah beberapa kali membantu kegiatan sosialisasi celengan bambu dan sekarang diberikan kesempatan ikut serta ke Gunung Kidul.
“Sungguh antusias sekali karena kali ini lokasinya cukup jauh, luar biasa uforia anak-anak tadi menyambut kedatangan kami, guru-gurunya ramah dan menambah relasi pertemanan relawan dari Paguyuban. Tentunya sangat berkesan sekali, capek di perjalanan langsung hilang,” ujarnya tersenyum.
Relawan yang penuh haru lainnya adalah Kristiana Sulasmi. Ia menuturkan ada harapan yang sangat besar ketika melihat anak-anak bersukacita. “Bantuan itu bukan hanya soal memberi tetapi melihat langkah kaki anak-anak sukacita menyambut kedatangan kami tadi beberapanya tidak mengenakan alas kaki, tiba-tiba sadar bahwa kami sedang mengantarkan harapan bagi mereka. Sungguh pengalaman berharga bagi saya,” kata Kristiana penuh haru.
Semoga setiap langkah yang menjadi perjuangan melawan jarak, perjuangan melawan keterbatasan, dapat menumbuhkan perjuangan dalam menggapai cita-cita setinggi langit meskipun itu datangnya dari balik bukit.
Editor: Metta Wulandari